Bab 2
Di kota kelahiran Sang Bapak Teknologi, BJ Habibie inilah, aku dan Marta melewati masa remaja dan indahnya sebuah persahabatan.
Hampir setiap malam menikmati debur ombak di pantai Senggol, sambil mencicipi kuliner khas daerah Bugis. Dan sebelum pulang, tak pernah alpa ke lapangan Andi Makkasau.
Di sudut pusat tempat acara-acara daerah itulah patung Bapak Teknologi beserta sang istri tercinta ibu Ainun, kokoh berdiri di tengah kolam dikelilingi air mancur dengan senyum penuh wibawa, dipercantik berjenis lampu-lampu hias berkilauan.
Sungguh cinta beliau pada pasangan sangat pantas ditiru. Rasanya ada yang kurang mengakhiri jalan-jalan tanpa menginjak ikon kotaku itu.
Sayang sekali, buku kisah cintaku ini tak akan pernah menyamai beliau meski hanya sampulnya saja.
Di tingkat perkuliahan aku dan Marta memilih jurusan yang sama, walau berbeda universitas. Aku melanjutkan kuliah di kampus berbasis agama yang terletak di Lembah Harapan, sedangkan Marta di kampus tengah kota. Hubungan kami tetap harmonis. Sering mengunjungi perpustakaan Bapak Teknologi untuk mencari literatur.
Mungkinkah aku yang menghancurkan masa-masa itu? Bukankah jodoh tidak ditentukan dari adanya istilah pacaran? Bukankah setiap yang bernyawa sudah ditentukan takdirnya masing-masing?
Akhir-akhir ini begitu enggan pulang ke rumah. Masa salat magrib dan isya aku laksanakan di masjid Raya depan tugu makam pahlawan empat puluh ribu jiwa. Di tempat inilah paling sering menghitung jam-jam berlalu, apalagi saat gundah seperti sekarang.
Entah kenapa aku merasa asing dan tersesat di kota yang membesarkanku. Apa karena diri ini orangnya introver? Atau karena tak berdaya dengan pernikahan bodoh yang dikatakan Mas Rio? Ah, kenapa otak ini seakan buntu untuk berpikir.
“Kenapa HP kamu nonaktifin?” Sosok Mas Rio muncul saat tangan ini memasukkan anak kunci ke kamarku, jam sudah menunjuk angka sembilan malam. Kali ini ada amarah di balik nada suaranya.
Terus melanjutkan pergerakan tangan. Toh, sepuluh harian sejak kehadiran Marta, aku tak pernah dianggap ada. Buat apa meladeninya? Paling hanya diajak ribut saja.
“Punya telinga nggak?”
Sama. Aku tak menjawab, membiarkan lelaki itu berbicara dengan makhluk astral seperti yang dia lakukan padaku adalah pilihan terbaik, hitung-hitung memberi pelajaran bagaimana sakitnya tak dianggap sekaligus melampiaskan bentuk kekesalan yang mendesak di d**a.
Sebenarnya aku bukan wanita pembangkang. Ibu yang melahirkanku dulunya seorang guru ngaji anak-anak TPA dekat rumah, selalu mengajarkan akan perbuatan baik meski orang lain menyakiti. Sungguh, amalan itu sangat berat dilakukan saat amarah memenuhi otak.
Sebelum pintu kamar kututup sempurna, jantung ini kaget saat tangan kekar lelaki beku itu menahannya.
“Bikinin aku makanan, sekarang!” titahnya dengan wajah kacau.
What? Apa dia lupa dengan kata-katanya? Apa saja yang dilakukan istri tercintanya? Pertanyaan ini kusimpan dalam hati sambil menilik gesturnya dan menelusuri seluruh ruangan dengan bola mata mencari wujud wanita idamannya.
“Masakan setan tak dapat dimakan manusia. Beli aja di luar, biasanya juga gitu,” jawabku ketus membuang asal pandangan sekaligus mengingatkan perlakuannya padaku.
“Itulah kenapa akhir-akhir ini maagku kambuh. Aku tak biasa makan makanan luar.” Nadanya mulai melemah, malah terdengar curhatan. Apa dia kira aku Mama Dedeh?
“Marta mana?” tanyaku masih protes.
“Bukannya kamu telah diberi tahu tentang kelemahanku yang nggak bisa makan di luaran sama mama?” sanggahnya tak menjawab penasaranku ke mana perginya Marta.
Sungguh aneh pria di depanku ini. Wejangan yang menyangkut tentang kebaikan dan kesehatannya ia ingat. Namun, lupa wejangan bagaimana menjaga dan membahagiakan istri. Egois level tiga puluh memang.
Meski dongkol tetap jua kuikuti keinginannya. Andai dia tidak menyebut mamanya, yang kini mertuaku. Hati ini ridho dia kelaparan.
Memang aku tak pernah sanggup menolak keinginan wanita bijak dan dermawan itu, apalagi papa mertuaku. Kebaikannya yang tulus menghipnotis setiap orang. Sungguh berbanding terbalik dengan putranya.
Makanan Mas Rio sebenarnya tidak ribet. Kol, wortel, daun sop, dan bawang goreng ditumis dengan sedikit air sebagai sayur, sedangkan lauknya cukup menggoreng ikan jenis apa saja yang disiram jeruk nipis dan kemangi. Maka dia akan melahapnya tanpa sisa.
Setelah menata di atas meja, aku menuju ke kamar. Masih sempat meliriknya duduk depan laptop di ruang keluarga.
Sebulan lebih seatap dengannya, kuakui dia tipe pria pekerja ulet. Ditambah posisi strategisnya menjadi incaran semua karyawan di sebuah show room mobil, NV. H. Kalla, yang pemiliknya salah satu keluarga yang pernah menjabat sebagai wakil presiden negeri tercinta ini. Menuntutnya lebih kreatif, inovatif, dan cerdas.
Lalu ke mana Marta? Bukankah mereka seperti lemari satu badan dua pintu. Ke mana-mana selalu bergandengan? Ditambah pekerjaan Marta sebagai sekretaris sebuah pembiayaan, hampir mirip kerjaannya. Kian tersisihlah aku yang hanya seorang penerus toko bangunan milik keluarga.
Ah, sudahlah! Kenapa mesti repot memikirkan mereka. Toh, hasilnya hanya sia-sia yang hakiki.
***
“Tak usah makan kalau tidak bisa ngeberesin peralatan masak, memang aku pembantu?” Suara Marta menghentikan pergerakan tanganku yang hendak membuka kulkas untuk mengambil bahan makanan buat sarapan. Apa maksud kalimatnya?
“Beli aja, kek. Jadi, nggak ngotorin kayak semalam. Atau tidaak punya duit?”
Oh, jadi itu yang dipersoalkan? Hanya gara-gara kelupaan setelah menjawab telepon semalam dan akhirnya ketiduran, menyebabkan pagi ini mendapat kata mutiara?
“Tanyain aja ke suami tersayangmu itu!” jawabku meninggalkan dapur. Masih sempat kutangkap dengan ekor mata mereka menikmati nasi kuning warung depan rumah. Dan Mas Rio? Sepertinya hanya berani padaku saja. Sungguh cinta telah membutakan matanya, bahkan menjelaskan kebenaran dia pun tidak sanggup.
Jam menunjuk di angka enam lewat lima menit, saat aku memacu motor keluar rumah. Gumpalan sesak dan amarah membatalkan niat tadi meracik sarapan sesuai selera, sekaligus terpaksa berangkat ke toko sedini begini.
Serasa ada perih melewati setiap pori yang berpusat pada benda lunak bernama hati di balik d**a.
Apakah dengan menangis menandakan seseorang itu lemah? Apakah menjaga kebahagian orang tua meski seorang anak menderita dikatakan juga lemah?
Oke! Silakan kalian melabeliku apa. Biarkanlah genangan di pipi ini mengalir. Biarkanlah isakan ini terdengar. Mudah-mudahan setelahnya, aku bisa memutuskan sesuatu.
***
“Kamu tidak malu dengan jilbabmu? Setiap malam keluyuran?” Kali ini Mas Rio menghadangku di pintu utama saat pulang lambat seperti malam-malam kemarin. Marta berdiri di belakangnya dengan tatap intimidasi.
Lagi, aku tak indahkan dua orang sok suci itu. Selain tak ingin mengganggu tetangga komplek akibat pertengkaran kami, juga takut pertahananku lemah akibat air mata tak dapat ditahan apabila membela diri dalam keadaan emosi.
Entah kenapa sumber air itu tidak bisa diajak damai ketika baper. Anehnya, kalimat-kalimat yang bertengger di otak baru lancar keluar apabila dikawal air mata. Kekurangan yang sangat fatal.
“Bulan!” Setengah berteriak Mas Rio memanggil namaku. Sepertinya ini kali pertama pria bertubuh tinggi itu menyebut nama istri pertamanya setelah akad nikah.
“Kenapa semua yang kulakukan salah di mata kalian?” sengitku dengan bibir bergetar. “Apa kalian merasa bersih dari dosa dan salah di dunia ini?”
Akhirnya, yang kutakutkan terjadi, butiran bening itu membasahi pipi.
Mas Rio dan Marta terlihat kaget mendengar perkataanku yang selalu lembut dan banyak diam kini keras menantang.
“Tidak usah khawatir. Besok aku akan tinggalkan rumah ini,” ujarku lagi sambil mengusap pipi dengan punggung tangan secara kasar.
“Jangan macam-macam. Besok mama, papa menyuruh kita ke kampung,” jawab Mas Rio dengan nada masih sama.
“Trus, apa peduliku sekarang?” tanyaku tak kalah tinggi. Lalu tanpa menunggu jawabnya menutup pintu kamar setengah membanting. Tak kuhiraukan mereka ketika menggedor pintu agar kubuka. Biarlah dia galau dengan ulah mereka sendiri.
Bukankah wanita lemah dan bodoh ini tak ada artinya sama sekali? Bukankah setiap orang punya hak untuk menentukan sikap sendiri?