Bab 3

1109 Words
Bab 3 Setelah salat subuh, berkutat di dapur, sebenarnya seleraku tak jauh beda dengan mas Rio, sama-sama suka makanan rumahan. Entah kenapa terasa tidak kenyang kalau beli di luar, padahal aku tidak hobi masak apalagi pintar meracik makanan enak. Kalau ini bukan termasuk salah satu kelemahan kan? Baiklah, katakan saja ini kelebihan, artinya tidak perlu boros-boros beli makanan. Jadi, karena kenyataanya memang aku tak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Nasi goreng instan ala kadar bahan yang tersisa di kulkas telah siap. Sebelum menyantap, terlebih dahulu membersihkan bekas memasak tadi. Bukan takut diberi kata mutiara dari Marta, memicu percekcokan hanya semakin menambah hati kian keras. Mencegah menurutku lebih baik. Bukankah mengalah tak berarti kalah? Menurut bukan berarti pecundang? “Siapin barangmu! Sebelum jam tujuh, kita berangkat.” Lelaki itu muncul dengan ponsel di tangan dan langsung duduk saat baru tiga sendok nasi masuk ke mulut. Sepintas matanya melirik piring di depanku. Aku terus melakukan aktivitas makan tanpa perduli, malah sengaja membuat piring dan sendok sering beradu. Rasain kamu, Mas! Kini aku rida melihatmu kelaparan. Sepertinya, memang diri ini harus belajar tega dan mesti selalu mempraktikkan jiwa tanpa belas kasih itu. Kalau tidak, pasti kebodohan hakiki yang sekarang kusandang, akan terus melabeli diriku. Apalagi di mata Mas Rio dan Marta. Setelah merasa kenyang, aku memindahkan nasi goreng dengan wangi yang membuat cacing meronta membayangkannya. Kebetulan tersisa banyak, lebih tepat sengaja menyisakan banyak di rantang kecil. Rasa ibaku menguap untuk sekadar menawari hasil kerjaku. Bukankah tangan ini dan semua perangkat tubuh yang lain, tak perlu mengurus semua tentangnya? Apa gunanya aturan yang dibuat mereka, kalau hanya aku saja yang menjalankannya? Betul-betul pembodohan yang masif dan teratur. “Kamu jangan coba-coba salah ucap di depan mama atau papa nantinya, apalagi sampai mengadu!” ujar Mas Rio sengit. Mungkin karena dicuekin dan tak ditawari nasi goreng tadi, dia tiba-tiba marah tak jelas. Halo, apa dan ke mana saja istri yang kau puja itu? “Aku nggak mau ikut!” jawabku berusaha tenang dengan ekpresi dibuat santai. “Apa maumu sebenarnya?” Tatapnya mulai nanar. “Kita cerai!” jawabku berdiri mencuci tangan, sendok, dan piring. “Apa kamu mau lihat mamaku kena serangan jantung, karena ulahmu?” Dia mendesis. “Dan aku mati berdiri di sini karena keegoisanmu?” jawabku tak kalah sengit. “Jadi, aku harus bagaimana?” Mas Rio tiba-tiba mendekat saat sejenak terdiam. Matanya nyalang bak menelanjangi tubuhku. Ada rasa ngeri melihat ekspresinya yang tak jauh beda dengan penjahat di film-film. “Pikirkan sendiri! Kamu, kan, manusia bijak,” sindirku sambil gegas meninggalkan pria egois itu dengan wajah memerah. Tak lupa membawa nasi goreng enak tadi yang telah kumasukkan ke rantang. Sebenarnya hati kecil protes, yang kulakukan ini salah. Apalagi memang aku telah terbiasa dengan sikap mengalah dan menerima apa adanya di antara ke empat adik-adikku. Mungkin itulah alasan bapak dan ibu memberi nama Bulan. Agar menjadi doa, supaya si penyandang nama bersikap lembut, selembut sinar bulan yang menyinari tanpa membuat kulit terbakar. Lalu? Apa yang kulakukan sekarang? Andai Mas Rio dan Marta mau bersikap lembut, atau minimal dibicarakan baik-baik, dalam mencari solusi rumit ini. Maka dengan statusku yang sekarang telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar Mas Rio secara sah, tentu memudahkan mencari cara mempersatukan mereka. Setelahnya, aku pergi dari kehidupan barunya secara baik-baik pula. Yang jelas, saat masa perjodohan itu sangat mustahil dilakukan. “Cepatan!” Terdengar teriakan mas Rio dari luar. Dua tas besar telah terkemas, rencana sepulang nanti langsung cari rumah sewa. Satu tas ukuran sedang, kuisi lima pasang baju sebagai bawaan, tak lupa pernak-pernik khas wanita. Kali ini aku memutuskan ke rumah orang tua Mas Rio. Selain ibu dan mama mertua baru saja menelepon untuk hadir, juga berencana terus ke rumah orang tuaku. Jarak dua tempat itu hanya dipisah satu desa. Sarung tangan, jaket, kacamata, dan helm telah lengkap terpasang saat keluar kamar. Aku memilih mengendarai motor sendiri. Perjalanan dua jam setengah, sudah biasa kulalui sejak kuliah dulu. Lalu, kenapa tatap lelaki itu tampak aneh melihatku? Ada yang salah kah? “Kita naik mobil!” titahnya percaya diri. “Setan nggak bisa sejalan dengan malaikat,” ujarku terus menyindir, tetap melangkah ke halaman. “Kenapa sih kamu selalu ngajak gelud urat leher, Ha?!” Mas Rio melangkah lebar mengikutiku. “Jangan khawatir! Tujuan kita sama. Hanya cara sampai yang berbeda.” Wah, ternyata dalam keadaan baper pun kalimatku bisa puitis. Semoga pria pencipta kekacauan itu tak gagal paham. “Kenapa juga kamu selalu mempersulit hidup Mas Rio? Ngeyel banget.” Marta tiba-tiba muncul dengan nada meremehkan saat aku duduk di atas jok yang memanaskan mesin motor. Rambutnya masih dijepit dalam keadaan acak-acakan, dan suaranya terdengar parau. Ternyata dia baru bangun tidur. Jadi, begini kerjaan istri yang dicintai saat waktu libur? “Kirain hidupmu saja yang bermasalah, tenyata telingamu lebih parah,” ujar Marta lagi saat aku pura-pura tak dengar. Astagfirullah hal adzim. Aku menekan d**a agar bersabar, sambil terus mengucap istigfar dalam hati. “Tanyain ke istri tersayangmu itu, jangan suka campuri urusan orang. Apalagi orang tersebut tak pernah mengusiknya.” Kutatap sejoli itu bergantian. Sengaja kalimat yang keluar dari bibir ini kubumbuhi cabai pedas. Bukankah mereka yang mengawali menaikkan bendera perang? Kalau kata pepatah, kamu jual, aku beli. Meski sepenuhnya belum yakin mampu melakukan perlawanan. Tak apalah mencoba, walau akhirnya tumbang tak dikenang. “Bulan!” Lagi, pria yang katanya pandai berdiplomat itu hanya memanggil namaku saat terdesak. Saat tak mampu berbicara dengan baik. Saat hanya mampu menyalahkanku saja. “Kita selesaikan di rumah mama, papa,” kataku melajukan motor. Meninggalkan mereka dengan mimik entah. Lagian buat apa menunggunya? Menunggu mereka mempertontonkan perpisahan yang sok dramatis? Saling susah berpisah, kata rindu, peluk, cium, dan ... ah, lebay! *** Sepanjang perjalanan, mobil Mas Rio terus membuntuti. Karena jalanan sepi dan waktu masih panjang sampai ke tujuan, aku santai saja mengendarai, bahkan sengaja beberapa kali singgah memberi camilan di kios pinggir jalan, dan berlama-lama memakannya di situ. Berharap pria aneh itu melewati. Sungguh tak nyaman dikawal, bak putri dari pohon pisang saja. Sepertinya Mas Rio memang berbakat jadi penguntit, hampir tak ada kendaraan yang berada antara motorku dan mobilnya. Aku jadi penasaran, seperti apa sih dia di tengah keluarga besar? Sampai segitunya. Benarlah perkataan sebagian orang. Biasanya orang yang terlalu menjaga image, ada bangkai yang berusaha ditutupi. Untung setiap orang tidak sama semua. Jadi, masih ada yang benar-benar menjaga akhlaknya karena takwa kepada sang Pencipta. Saat berbelok ke lorong masuk kampung, tiba-tiba badan pria egois itu menghadang di depan. Entah kapan dia melewatiku. Untung otak dan iman masih sejalan. Kalau tidak, entah apa yang terjadi. Mungkin badannya sudah kujadikan aspal, sekalian membalaskan sakit hatiku. Tinggal aku berkilah bila ditanya, dia bunuh diri. Aku hanya dijadikan korban. Astagfirullah, apa yang kupikirkan. Ya, Allah? “Hei, Apa yang kau lakukan?” Aku melotot sambil meraih kunci yang dia sambar, seketika mesin motor pun ikut mati. “Ikut di mobil, atau …,” ancamnya dengan tatap tajam. “Atau apa?” Aku menekan suara agar tak mengundang perhatian orang-orang. “Aku buang ini?” Tangannya menggoyang kunci motor di atas kepalanya. Dia ancang-ancang melempar ke tengah sawah. “Oke,” jawabku cepat saat tangan itu siap melempar. Ya, Rabi ..., mengapa hambamu yang hina ini hanya diciptakan untuk menuruti keadaan. Mungkinkah aku tak punya hak atas hidup ini meski hanya sesaat?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD