Hari ini Minggu hari dimana biasanya keluarga bersantai ataupun berkegiatan bersama keluarga. Namun berbeda dengan keluarga kecil Gia dan Ahmad. Pagi-pagi sekali Sang Mama sudah membangunkan Gia yang baru saja hendak tidur karena begadang menjaga putrinya. Sara meminta Gia untuk menyetrika semua bajunya yang hendak Ia bawa berlibur bersama teman-teman arisannya. Bahkan Gia diminta untuk mempacking semua barang-barang yang hendak dibawa Mamanya itu pergi liburan. Maulana masuk ke kamarnya dan melihat Gia sedang sibuk menyusun pakaian Istrinya sementara wanita yang kini mengenakan blouse berwarna jingga serta celana kulot hitam hanya sibuk bermain telepon genggamnya.
“Kenapa Kamu Nak yang packing kopernya Mama? Dan Kamu sendiri ngapain Ma?” tanya Maulana.
“Aku lagi sibuk Mas, balas pesan teman-teman Aku” jawab Sara tak acuh.
“Gia,bisa Kamu keluar dulu Papa mau bicara sama Mama Kamu!” pinta Maulana pada putrinya dan Gia menurut keluar setelah menyelesaikan melipat baju lalu Ia susun ke dalam koper. Setelah Gia keluar Maulana mengangkat koper istrinya hingga semua barang yang tadi sudah dirapikan putrinya itu berantakan di lantai kamar.
“Mas apa-apan sih kenapa barangnya Kamu keluarkan lagi” protes Sara.
“Kamu sendiri yang kenapa, Kamu yang pergi liburan GIa yang merapikan koper Kamu dan Kamu Asyik balas pesan teman-teman Kamu apa maksudnya itu” ucap Maulana geram pada Istrinya.
“Ya biarin aja lagipula ini kan sudah jadi kewajiban Dia sebagai anak membantu orang tuanya” ucap Sara santai..
“Apa kamu bilang kewajiban, Ingat Sara anak kita itu sudah menikah dan yang menjadi kewajiban Dia adalah melayani suaminya sedangkan membantu orang tua sudah bukan kewajibannya lagi Paham Kamu” Maulana makin geram.
“Bereskan barang-barangmu sendiri atau tidak usah pergi sama sekali” ucap pria paruh baya itu tegas.
Gia berjalan menuju teras rumah tampak olehnya Sang Suami yang sedang menggendong putri mereka. Gia tersenyum pada Suaminya saat Ahmad menoleh padanya. Pria itu tampak sedang mengajak mengobrol sementara Gia mencoba mengambil alih putrinya itu.
“Sini Mas, Yumi Aku gendong” ucap Gia lembut.
“Gak perlu, Yumi nyaman banget digendong sama Aku buktinya Dia anteng banget nih” ujar Ahmad.
Kemudian Gia hanya tersenyum dan duduk di kursi teras sambil menerawang. Ahmad yang memperhatikan Sang istri kemudian mendekatinya.
“Kenapa Sayang ada masalah lagi” tanya Ahmad lembut.
“Terkadang Aku bingung Mas, dari kecil Aku berusaha selalu nurutin keinginannya Mama tapi belum pernah sekali aja Mama itu seneng sama Aku”keluh Gia
“Jangan berharap apapun dengan apa yang kita lakukan Supaya Allah tidak perhitungan memberi Pahala dan rahmatnya Sayang” terang Ahmad
“Gia Harus Gimana Ma” ucap Gia lesu menopang dagunya. Pandangannya menerawang pada sebuah kejadian di masa lalu.
Flashback On.
Saat pembagian rapor kenaikan kelas Maulana yang menjemputnya. Ibu Achie yang merupakan wali kelas putrinya itu berujar bahwa Gia sering tampak mengantuk saat belajar bahkan hingga tertidur. Maulana yang mendengarnya terkejut dan merasa kasihan pada putrinya itu. Ia juga menceritakan pada wali kelas putrinya itu bahwa Gia harus mengikuti beberapa les tambahan diluar jam sekolah karena keinginan Mamanya. Ibu Achie yang mendengar hal itu merasa simpati pada muridnya itu dan menyarankan pada Maulana bahwa sebaiknya Gia tidak usah mengikuti Les dulu. Maulana setuju akan saran dari wali kelas putrinya itu dan kemudian pamit pulang.
Dirumah, Maulana disambut riang oleh putrinya itu dan langsung bertanya tentang nilai rapornya. Maulana berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Gia.
“jadi Gia dapat rangking berapa Pa?” tanya Gia riang.
“Kamu dapat rangking lima Nak selamat ya”ucap Maulana lembut.
“Kakakmu dapat rangking satu terus juara umum lagi” ujar Sara tiba-tiba dari belakang keduanya. “Percuma aja Kamu Les hasilnya tetap saja gak bisa dapat rangking Satu” tambah Sara meremehkan.
“Halan, Gia baiknya kalian masuk kamar ya!”pinta Maulana pada putra dan putrinya. Sementara Maulana mengajak Istrinya untuk berbincang di kamar mereka.
“Ngomong apa wali kelas itu tentang Gia?”tanya Sara.
“Ibu Achie bilang bahwa sebaiknya Gia tidak usah ada les tambahan karena akan terlalu membebani anak Kita” terang Maulana tenang.
“Halah itu akal-akalannya wali kelas Gia aja supaya nanti nilai Gia turun dan gak bisa ngejar temannya yang ranking satu, lagipula Gia les bukan keinginan Mama tapi keinginan Gia sendiri” ujar Sara kesal.
“Iya benar itu keinginan Gia, tapi itu ulah Kamu yang memanipulatif Gia untuk menuruti keinginan Kamu sehingga Gia merengek minta sama Aku agar ikut les tambahan bukannya begitu ya” ucap Maulana kesal.
“Gurunya aja yang sok tahu Mas” ucap Sara tak acuh.
“Terserah kamu bilang apa tapi intinya sekarang Gia tidak akan Aku izinkan ikut les apapun lagi sampai Dia kelas enam nanti paham” ucap Maulana tegas dan meninggalkan kamarnya.
Malam harinya keluarga Maulana pergi jalan-jalan ke tempat liburan dan Mall. Gia dan saudara-saudaranya mendapat hadiah membeli barang yang mereka inginkan. Saat sudah tinggal membayar saja, tiba-tiba Sang mam melarang Gia untuk mengembalikan barang yang sedang di pegangnya itu.
“Kenapa Ma?” tanya Gia bingung.
“Karena Kamu gak dapat rangking seperti Kakak Kamu” ujar Sara pada putrinya itu, yang terdengar oleh Suaminya.
“Udah belikan saja, setidaknya dia masuk lima besar Ma, justru ini bisa jadi sebuah motivasi untuk Gia” bisik Pak Maulana pada Sang Istri karena tidak ingin pembicaraan mereka terdengar oleh orang lain.
“Kalau Mama bilang enggak ya enggak, Gia taruh lagi barang itu” pinta Sara tegas pada putrinya itu dan membuat hati Gia sedih.
Selama perjalanan pulang Gia hanya diam, bahkan saat makan tadi Ia tak bernafsu sama sekali. Ia merasa sedih karena tidak dibelikan barang kesukaannya. Saat ini mereka sudah berada di rumah Gia duduk termenung di teras sambil berpikir kenapa tadi Mama nya tidak jadi membelikannya hadiah. Ia melirik pada Kakaknya yang sedang asyik bermain dengan mainannya yang baru bersama adiknya. Sayup-sayup Ia mendengar namanya dipanggil, rupanya Sang Papa memanggil. Sang Papa memberi kode padanya untuk segera datang ke sana tanpa sepengetahuan siapapun, gadis kecil itu mengerti kemudian melirik kanan kiri dan berjalan pelan meninggalkan teras untuk menghampiri Sang Papa.
“Kenapa Pa?” tanya Gia
“Papa, Cuma mau kasih ini” ujar Pak Maulana sambil menunjukan mainan yang tadi tak jadi dibelikan oleh istrinya untuk putrinya itu.
“Papa beliin ini buat Gia” ujar Gia sumringah namun kemudian suaranya berubah jadi bisik-bisik saat Sang Papa memberi kode agar tidak ribut.
`” Makasih pa” ujar Gia sambil berbisik.
“Iya sayang, selamat ya Nak udah dapat rangking yang bagus dan naik kelas” ujar Pak Maulana pada putrinya itu.
Flashback Off
“Kak Gia, Kak Ahmad sarapan yuk!” ajak Adit tiba-tiba membuyarkan lamunan Gia.
“Iya” jawab sepasang suami istri itu.
“Ayo gak usah dipikirin mendingan sekarang sarapan dulu, mikirin sesuatu juga butuh tenaga” ajak Ahmad pada istrinya itu kemudian keduanya beranjak masuk rumah untuk sarapan