Mama masih marah sama Gia?

1059 Words
Sudah seminggu Sara pergi berlibur bersama teman-temannya. Hari ini Ia akan pulang, Gia sedang sibuk menyapu teras tiba-tiba sebuah mobil parkir di depan rumahnya Ia melihat Sang Mama turun dari mobil itu. suasananya begitu heboh kala mobil itu pergi Sara berteriak memanggilnya. “Iya Ma kenapa?”tanya Gia sambil membawa sapu. “Bawain koper Mama, Mama capek mau tidur dulu” ucap sara lalu kemudian berlalu begitu saja ke rumah. Sementara Gia kesusahan membawa koper berwarna merah itu lalu Adit dengan cekatan membantu sang kakak. “Udah Kak, biar Aku aja yang bawa Kakak kan belum boleh bawa barang-barang berat dulu mendingan Kakak istirahat dulu temenin Ayumi tidur” ujar Adit kemudian mengambil alih koper itu dari tangan Kakaknya. Gia sedang beristirahat di kamarnya bersama Ayumi putrinya itu, kemudian Ahmad datang sambil membawa beberapa barang. Suaminya itu mengatakan bahwa semua barang itu adalah oleh-oleh dari Mamanya. “Nah ini oleh-oleh buat Kamu” ujar Ahmad sambil memberikan sebuah kain khas bali. “Mas gak perlu bohong, mana mungkin Mama kasih oleh-oleh buat Aku” ujar Gia lesu “Kok Kamu ngomongnya gitu” ujar Ahmad prihatin. “Iya Mas, Mama memang gitu dan Aku udah terbiasa juga Kok, karena dari kecil Mama jarang kasih Aku barang, oleh-oleh bahkan hadiah” ucap Gia lesu kemudian mengingat sebuah kejadian di masa lalunya. Flashback on Kala itu Gia berusia 12 tahun dan duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama. Ia mendapatkan juara 1 lomba menulis cerita pendek antar sekolah. Saat semua keluarganya memberikan ucapan selamat tapi Sang Mama malah mengoceh dan membandingkannya dengan prestasi Sang Kakak yang mendapatkan juara pada lomba sains dan Sang Adik yang berhasil lulus masuk SMP favorit tanpa test. Maulana yang mendengar itu mencoba menegur istrinya itu. “Jangan dibanding-bandingkan anak-anak kita ini punya kecerdasannya masing-masing”ucap Maulana tak berpihak pada siapapun. “Tapi tetep aja Mas, prestasi Gia tidak bisa disamakan sama prestasinya Halan atau Adit ibaratnya bagai langit sama bumi” ujar Sara merendahkan. “Enggak juga Ma, Adit masuk SMP Favorit itu hanya keberuntungan aja” sela Adit mencoba membela Gia. “Enggak gitu, Kamu masuk SMP Favorit itu memang karena nilai kamu bagus gak seperti nilai Kakak perempuan Kamu itu” sindir Sara sambil melirik Gia. “ Oh iya Mama mau kasih hadiah untuk anak-anak Mama yang udah berprestasi nih untuk kamu Halan dan ini untuk Kamu Adit” ucap Sara. Gia yang sudah mengetahui bahwa dirinya tidak akan mendapat apa-apa lebih memilih masuk kamarnya. Lalu ada suara ketukan pada pintu kamarnya, kemudian Gia mempersilahkan masuk. Adit langsung menghampiri Kakaknya yang sedang duduk di kasur. “Nih buat Kakak” ujar Adit menyodorkan sebuah kotak pensil berwarna biru tua lengkap dengan Isinya. “Kamu ngapain kasih ini ke Kakak, bukannya ini Mama kasih buat Kamu Ya” ujar Gia. “Enggak, ini punya Kakak (memperlihatkan kotak pensil yang serupa ) nah ini punya Aku yang dikasih Mama tadi” ujar Adit. “Tapi kamu gimana belinya ini kan mahal lho” tutur Gia. “Udah gak usah dipikirin gimana aku belinya Kak, yang penting ini hadiah dari Aku untuk Kakak yang jadi juara lomba cerpen selamat ya Kak” ujar Adit tulus. “Makasih ya Dit” ucap Gia sumringah. Karena perlakuan dari Sang Mama yang selalu membandingkannya dengan kedua Saudaranya membuat Gia remaja menjadi begitu tertutup. Gia yang introvert menjadi takut menceritakan apa yang Ia alami seperti kejadian saat ia mendengar sendiri teman-temannya membicarakan dan menjelekkannya di belakang. Kala itu seperti biasa Gia dan kelima anggota mading lainnya sedang kumpul di ruangan kerja mading sekolah.Gia pamit keluar untuk lebih dulu ke kelas namun setelah Ia keluar tak jauh dari ruangan itu. Dirinya teringat buku pelajarannya tertinggal namun Ia mendengar percakapan kelima anggotanya. Temannya yang bernama Vio yang sedang dalam masa puber menceritakan bahwa dirinya menyukai ketua osis yang kebetulan dekat dengan Gia. . Temannya yang bernama Vio yang sedang dalam masa puber menceritakan bahwa dirinya menyukai ketua osis yang kebetulan dekat dengan Gia. “Ternyata ada gunanya juga ya temenan sama orang polos kayak Si Gia itu” tutur Vio pada temannya yang lain. “Hmm bener banget, Iya Dia juga mau gitu kita suruh-suruh buat ngerjain tugas-tugas Mading sementara kita tinggal santai” tambah salah satu lainnya. “Iya,iya, bener banget” ucap yang lainnya. Sementara Gia yang memang sudah mendengarkan percakapapan mereka sejak tadi begitu merasa terluka. Jadi selama ini teman-temannya yang Ia anggap benar-benar tulus berteman nyatanya hanya kedok biasa. Kelima orang yang selama ini Ia anggap sahabat hanya mempunyai niat menumpang nama karena Mading mereka sukses besar dan memanfaatkannya saja. Sejak saat itu Gia mulai menjaga jarak dari kelima teman bukan tapi orang asing. Namun Ia masih mengerjakan tuga-tugasnya dengan baik sebagai ketua redaksi majalah dinding sekolah. Semua pekerjaan Ia kerjakan sendiri dan bahkan Ia masih mau menuliskan nama orang-orang itu dalam semua karyanya. Hal ini akhirnya menjadi rutinitas sehari-hari di sekolah hingga Ia lulus SMP. Flashback Off “udah jangan melamun terus Oh iya ini ” seru Ahmad pada Istrinya yang tampak sedang termenung itu kemudian memberikan sebuah kotak berwarna biru lilac pada Gia “Enggak Mas, Aku gak ngelamun Cuma keinget yang dulu aja, Kotak apa ini Mas?” tanya Gia . “Iya makannya jangan diinget lagi nanti Kamu nangis lagi” ledek Ahmad. “Apaan sih Mas, udah ah sana pergi Aku mau nidurin Yumi dulu, tapi kotak apa ini Mas?” ujar Gia meminta Ahmad keluar dari kamar. “Itu,Aku tadi baru merapihkan barang-barang Kamu yang kayaknya berharga daripada di taruh sembarangan tempat gitu mendingan Aku simpan dan gabungin jadi satu jadi nanti gak bingung cari-cari lagi” terang Ahmad “Iya Mas, Makasih Ya” ujar Gia sambil tersenyum. Saat Sang suami sudah keluar Gia langsung menggendong putrinya itu yang menangis karena tidurnya terganggu akan keributan kecil tadi. Gia sedang me-ninabobokan putrinya sambil bernyanyi lagu tidur Ia begitu tertarik akan kotak yang diberikan suaminya tadi. Karena Sang putri sudah tertidur akhirnya Ia beranjak mengambil kotak itu. saat membuka kotak itu alangkah terkejutnya mendapati apa yang ada di dalamnya. Ada sebuah buku novel, buku tabungan, dan beberapa benda lainnya ia tersenyum saat mengingat memori yang ada bersama benda-benda itu. seperti sebuah Novel, buku tabungan dan selembar foto yang menampakan seorang laki-laki berseragam SMA tersenyum manis. Gia perlahan mengusap-usap foto itu sambil menahan haru dan teringat memori tentang benda-benda itu begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD