Sean mengetuk meja kerjanya beberapa kali dengan telunjuk. Tangan kanannya yang bebas Sean gunakan sebagai penopang kepalanya yang miring menatapi layar komputer. Berapa kali pun video di layar itu diputar, Sean sama sekali tidak bisa menemukannya. Tak ada bukti atau pun petunjuk untuk semua dugaanya selama ini. Dia kembali menggeleng setelah meyakinkan jika semua itu hanya pemikiran liarnya saja. Sean tak boleh berpikiran yang aneh-aneh pada teman satu kelompoknya. Walaupun otak Claud cenderung i***t, tapi aturan yang dia buat untuk selalu memercayai rekan kerja selama bertugas lumayan dapat diterima oleh akal sehat Sean. “Apa gue cuma bisa berpikir segini?” Sean menutup pemutar videonya, mematikan komputer, lantas berbalik dengan memutar kursi yang didudukinya agar bisa menatap Claud

