Ketika suaranya tak mampu lagi mengimbangi amarah yang terus membuncah, saat itulah sosok lelaki dengan jas hujan sewarna kuning berdiri di ambang pintu. Tanpa membuang waktu lagi dia memelesat untuk memeluk sahabatnya yang kini masih menangis tersedu-sedu. “Dee, lo kenapa?” tanya Sean. Dia mundur, melepas pelukannya dari Darius saat sadar jika jas yang dikenakannya basah. Tak lama, lelaki yang tengah menangis itu mendongakkan wajah, menatap seseorang yang baru saja datang di kamarnya. “Ada apa, Dee?” tambah Sean sambil menaruh jas yang sudah dia lepaskan ke pojok ruangan. Melangkah mendekat, berjongkok, kemudian mengulurkan tangan pada Darius. Sean juga melihat pecahan ponsel Darius yang ada di lantai. Hancur! “Gue udah muak sama semua ini, Sean.” Darius menggeleng, mengurut pelipis

