Angin malam berembus kencang, bergemuruh memekakan telinga, menyingkap gorden jendela dengan kasar. Detak jarum jam bergema di ruangan, pendingin udara yang menempel di dinding, menjerit sambil terus memuntahkan hawa yang menikam. Menemani percakapan ‘dingin’ menusuk ke ulu hati. Sean masih mencoba untuk menenangkan Darius setelah pengakuannya tentang sosok di masa lalu yang kini menjadi sumbu dari semua permasalahan di hidupnya. Darius berusaha setenang mungkin agar amarahnya tak kembali memuncak. Setelah menghantam Joe dengan tinjunya tepat di bagian hidung, Sean langsung menggiring Darius menjauh ke sudut ruangan. Di luar dugaan, Sean tak pernah berpikir jika akhirnya akan seperti ini. Dia pun tak sempat mengantisipasi perlakuan Darius pada Joe yang terjadi secara tiba-tiba. Meliha

