Part 06

1539 Words
Maaf ya kalau kata katanya sulit di pahami atau tanda baca yang kurang tepat. Karena ini cerita pertamaku. Insyaallah akan di perbaiki kedepannya. " Pagi mah, pah, kak Bima... " Sapa Rara bersemangat " Gimana kemarin kak rame gak toko kue nya? " tanya ibunya " Alhamdulillah mah. Rame banget sampe Rara, Tiwi sama Mey kecapekan mah " ucap Rara " Kak, kamu kenal Huda " tanya mama nya lagi Rara yang tengah asyik sarapan seketika meletakan sendoknya, wajah cerianya pun  berubah menjadi murung. " Kakak kenapa?"  tanya ibunya lagi Sedangkan papah dan Bima menatap datar kerah Rara. "Emh gak papa mah, Rara berangkat ya " ucapnya menyudahi sarapan paginya, kemudian melangkah keluar rumah. "Kesel banget pagi-pagi gini malah denger nama manusia jadi-jadian itu, kan jadi gak mood huufft" batin Rara. Siapa sih yang gak bakal mood nya rusak kalau pagi-pagi yang dibahas mantan, mana kenangannya pahit semua. "Astagfirullah aku kan belum pesen ojek, tapi masa ia pake ojek?, Aku kan pake dress" lirih Rara saat menyadari dirinya menggunakan dress sebatas lutut.  " Sama gue aja " ucap Bima menarik tangan Rara. " Emang kakak gak telat kalau ngantar aku dulu " ucap Rara berhati-hati "Ck. Ayo mau gak " Bima berdecak kesal " I...iya deh kak " Rara bergegas masuk ke dalam mobil Bima, sebelum Bima berubah pikiran " Pria itu masih mengganggu mu " tanya Bima dengan sura berat Rara tau siapa yang di maksud olehnya " Hmmm... Bahkan dia masih sering menelepon ku " ucap Rara lalu membuang nafasnya kasar. Setelah itu hening, mereka telah sampai ditoko kue Rara ternyata di sana telah ada Mey yang sedang menikmati salah satu kue buatannya. "Rara" Teriak Mey langsung berlari dan memeluk Rara " Ihhh apaan sih Mey, kayak gak ketemu bertahun tahun " sungut Rara yang tubuhnya didekap kuat oleh Mey "Aku lagi seneng tau Ra, mamah izinin aku kuliah tahun depan bareng kamu " ucap Mey dengan mata berbinar " Ya udah duduk dulu aku baru juga datang. Mey, apa gak papa kamu gak kuliah malah ngikutin aku tahun depan " tanya Rara ragu " Ya gak papa aku mau bantuin kamu disini " uapnya tegas Sebenarnya Rara sangat miris melihat kelakuan sahabatnya yang sangat absurd satu ini, bisa-bisa nya dia mempertaruhkan sekolahnya demi Rara. Astagaa tepuk jidat jama'ah. " Bener?,  Bantu apa dulu ini?" Rara menggoda Mey " Baner kah Ra. Bantu jagain toko bikin kue dan yang lainnya juga boleh " ucap Mey dengan wajah serius "Mending kamu kuliah aja Mey, sayang kalau kamu harus nunda sekolahmu" usul Rara, ia merasa tak nyama dengan sikap berlebihan sahabatnya ini. " Wah Ra liat nih rezeki nomplok anak kelas pada mau coba kue buatan mu Ra " ujar Mey kegirangan  Sedangkan Rara hanya tersenyum melihat mey yang kegirangan. Sebenarnya ia merasa sedih karena Mey menunda untuk melanjutkan sekolah karena dirinya, entah apa yang ada dipikiran Mey . Triingg... Trriingg... Suara telepon berdering " Halo selamat siang " sapa Rara dengan ramah. " Iya benar. Oke oke bisa . Baik . Kue ulang tahun ya mbak baik mau di ambil hari apa? " " Oke oke. Terimakasih " ucapnya menyudahi telepon tersebut .................. Jam sepuluh malam toko kue milik Rara telah tutup, Mey sudah tertidur karena dimeja kelelahan, seharian ini banyak pelanggan yang berkunjung, teman sekelas Rara juga banyak yang datang membeli kue nya.  Ia membangun kan Mey dengan lembut. " Mey ... Bangun gak pulang...? " Ucapnya lembut " Masya Allah Ra, rame banget ya hari ini " dengan suara beratnya dan menahan kantuk " Ra besok bikin kamar di sini ya " ucap Mey. " Iya ntar aku bikinin kamar disini " ucap Rara sambil terkekeh. Rara memesan taksi online untuk mengantar Mey dan dirinya pulang. Setelah mengantarkan Mey sampai dirumahnya, kemudian ia meminta supir taksi untuk mengantar dirinya pulang . - ------------- Rara bangun pagi-pagi sekali hari ini, karena papa dan mama nya berangkat ke bandara pagi-pagi. " Mamah maaf ya Rara gak bisa antar mama sama papa ke bandara " ucap Rara " Gak papa sayang, kamu juga kan sibuk sekarang sama toko kue kamu " ucap ibunya sambil membelai pucuk kepala anak gadisnya " Bima jaga adikmu, kalau ada apa apa sama Rara kamu yang papah salah kan " ucap papa Vero sambil menepuk pundak putranya. " Iya Bim mamah minta tolong ya jagain putri mamah ya" tambah mama Venny " Iya mah, pah tenang aja Bima bakal jagain Rara sepenuh hati " ucap Bima yakin "Rara juga jangan bandel sama kak Bima ya sayang " ucap ibunya Rara " Iya mah. Siap " memposisikan tangan nya hormat. " Ya sudah papah berangkat sekarang takut telat" ujar papa Vero kalau Mambawa istrinya masuk ke dalam mobil. " Mamah sering sering telepon kakak yaa " Rara setengah berteriak Mobil papa Vero melaju kencang meninggalkan perkarangan rumah . .............. Rara masuk kedalam rumah mengambil tasnya dan kunci motor, hari ini Rara berangkat ke tokonya menggunakan motor yang baru ia beli beberapa hari lalu. Drrtt... Drrrtt... Drrrtt.... Ponselnya berdering, melihat nama pemanggil tersebut ialah Mey Rara segera mengangkat nya. " Halo Mey kenapa " ujar Rara " Gawat Ra si k*****t itu kesini " ujar Mey ketakutan " Oke oke aku kesana sekarang " raut wajah Rara terlihat cemas Sesungguhnya ia juga sangat takut menemui Huda, apa lagi setiap kali ia bertemu dengan Huda, Rara selalu tak bisa melawan saat disakiti.  Rara beberapa kali menarik nafas besar, sampai hal itu disadari oleh Bima, Bima merasa bahwa ada yang tak beres dengan Rara. " Kak aku ke toko dulu " Rara pamit dan melajukan motornya. Karena merasa tak tenang Bima pun akhirnya mengikuti Rara dari belakang. " Ra kamu harus bisa marah marah Ra, kamu harus bisa pukul dia beri dia pelajaran Ra, dia sudah sakiti kamu bahkan hampir ngelecehin kamu " Rara berbicara pada dirinya sendiri di atas motor. " Harus bisaaaaa....! " teriaknya sampai pengendara lain melihat kearahnya dengan tatapan aneh, tapi Rara masa bodoh. Benar saja setelah Rara sampai di sana terlihat Huda yang majahnya merah padam menahan amarah. " Sini lo!" Menarik tangan Rara dengan kasar " Lepas!. Mau apa kamu?"  ucap Rara setengah berteriak "Gue mau lo!" Mendorong Rara hingga terbentur tembok " Eh anjing lo gak ngaca apa ya, lo gak pantes buat Rara anjing " Mey memberanikan diri mengangkat suara " Gue gak ngomong sama lo jalang " hardiknya pada Mey " lo ngomong sekali lagi gue pastiin Lo gak bakal bisa ngomong lagi!" Ancamnya "Pergi Hud!. Aku lapor polisi kalok kamu bikin kerusuhan disini " ancam Rara dengan lantang " Ra gue gak mau ngasarin lo, tapi lo balik sama gue ya " bujuknya kemudian " Gila kamu Hud!. Pergi! " Mendorong d**a bidang Huda Huda langsung mencium bibir Rara dengan kasar dan Rara yang sudah tak tahan dengan sikap Huda lalu menamparnya. Plakk... " Keterlaluan kamu Hud " sergah Rara, dia merasa harga dirinya direndahkan oleh pria dihadapannya ini " Kurang ngajar. Lo berani nampar gue ? " Umpat Huda dengan geram, ia tak terima Rara menampar pipinya Plak... Huda membalas tamparan Rara, hingga ia tersungkur kelantai dengan ujung bibirnya yang berdarah. Mey yang sudah tak tahan melihat Huda menyiksa sahabatnya lalu melempar vas bunga tepat mengenai belakang kepala Huda, dan akhirnya kepala Huda berdarah  " b*****t!" Hardiknya lalu berbalik menghampiri Mey dan menjambak rambut panjang Mey, ia mengepalkan tangannya ingin memukul Mey. Astaga, laki-laki apa kamu Huda beraninya sama perempuan. Bugh..! Tiba-tiba Huda tersengkur ke lantai, dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah. Bravo?. Ternyata Bima datang diwaktu yang tepat!. tanpa basa-basi lagi dia memukuli Huda habis habisan hingga tak berdaya. " Lo berani ganggu Rara dan temennya lagi gue pastiin lo gak bakal bisa liat matahari terbit lagi " ancamnya sambil menarik kerah baju Huda " Gue pastiin Rara bakal jadi milik gue " Huda tersenyum mengejek Bima . " Heeehh... Lo berani nyentuh Rara, tangan lo gue patahin. Camkan itu ! " ancamnya lagi Huda hanya tertawa mengejek perkataan Bima, dengan kesal Bima kembali menghujani Huda dengan pukulan yang bertubi-tubi hingga ia tak sadarkan diri. " Sudah kak sudah " Rara memohon pada Bima. "Kalo dia kenapa-napa kakak bisa dipenjara " ujar  Rara ketakutan " Tapi dia nyakitin lo Ra " ucap Bima halus  Mey langsung memeluk Rara menenangkan nya. " Udah Ra gak usah takut ya, Ra orang begini pantesnya mati " ketus Mey lalu menendang wajah Huda yang penuh darah. " Panggil ambulance cepat kak " ucap Rara panik, biar bagaimanapun Huda juga manusia ia tak ingin Huda kenapa-kenapa, bukan karena cinta namun, karena empati sesama " Gak perlu ambulance suruh anak buahku aja " uar Bima Tak berapa lama kemudian 4 orang yang berbadan tinggi besar datang menggunakan mobil berwarna putih, dan mengangkat Huda yang tak sadarkan diri. " Urus dia. Pastikan beres " ucap Bima dengan seringaian mengerikan Ke empat orang tersebut mengangguk lalu pergi entah kemana. " Gue pamit. Pulang  nanti gue jemput, jangan pulang sendiri " ucap Bima lalu pamit ke kantornya. Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Bima pun melaju kencang, meninggalkan Rara dan Mey yang masih sedikit syok dengan apa yang mereka alami barusan. Mey menatap jijik pada darah yang berceceran dilantai, " Intan bersihin darah manusia setengah iblis ini " perintah Mey pada salah satu karyawan disana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD