Part 10

1398 Words
Rara pulang cukup larut, ia membuka pintu ternyata sangat gelap. Dia masuk ke dalam rumah mencari saklar lampu, saat tangan Rara mulai meraba tembok tiba-tiba tangannya di tarik dengan tangan kekar. Belum sempat lagi ia berteriak mulutnya telah disumpal oleh sebuah ciuman, tangannya masih berusaha mencari saklar lampu. " Nah dapat " gumamnya dalam hati lalu menyalakan lampu di ruangan tersebut, matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang menciumnya . "Anjmm....mmphh..." "Jangan pulang telat lagi" ucapnya datar "Apa urusan mu" mendorong tubuh Bima lalu pergi "Karena kamu dititipkan padaku Ra, papah sama mamah percayakan kamu sama aku Ra" ucap Bima penuh penekanan Mendengar penuturan Bima Rara pun membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah Bima. "Mamah sama papah salah percaya sama kamu, kamu bukan jaga aku, bahkan kamu yang merusak ku!" Ucap Rara lantang " Aa...aku... " Ucapan Bima terbata ia tak dapat berkata-kata lagi, benar semua yang dikatakan Rara bahwa dirinya lah yang merusak masa depan gadis itu. Rara langsung pergi kekamarnya, tak ingin berlama-lama dengan pria yang merusak masa depannya. _________ Pagi sekali Rara sudah siap menggenakan tank top dengan classic cardi warna mocca yang senada dengan mini skirt motif Tartan dan tak lupa ia menggenakan sneakers wana putih, Rara terlihat sangat fresh. Seperti biasa ia mendudukkan dirinya meja makan, Bima yang sedari tadi hanya menatap kagum ke arah Rara tapi, ia memilih diam tak berniat berbasa-basi. Tak ada percakapan antara keduanya hanya dentingan sendok saling sahut menyahut. Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt... Ponsel Bima berdering, ia segera mengangkat nya. "Ya. bawa dia kehadapanku" ......... "Patahkan kakinya bila ia mencoba kabur" .......... "Tunggu!. Jangan apa apakan dia sebelum aku datang, biar aku yang mengesekusinya. Dan siapkan yang kupinta". Telepon pun di matikan. Lalu ia pergi begitu saja mengendarai mobil sport miliknya. Rara dibuat tergidik mendengar percakapan Bima di telepon. "Eksekusi, ya Allah kak Bima jangan jangan" tiba tiba pikirannya kemana mana berpikir yang tidak tidak. "Ah bodo lah Ra, apa pedulimu" Rara menyadarkan dirinya Rara pun pergi ketoko kue miliknya dengan menggunakan taksi online yang dia pesan. "Pagi bu" Sapa beberapa karyawan saat Rara melewatinya, Rara pun membalas dengan tersenyum ramah. "Pagi ibu Rara" Mey menggoda Rara. "Ra hari ini kan Novan ke Jogja" tambah Mey  "Iya Mey kenapa"  "Kamu gak ikut antar dia ke bandara Ra" tanya Mey heran "Gak Mey, aku gak mau nyakitin dia" Rara menundukkan kepalanya "Kemarin dia ngajak jadian Mey" cicit Rara "Wah. Terus gimana?, Jadian?." Tanga  Mey dengan mata berbinar "Gak Mey" lirihnya "Kenapa Ra belum move on dari si kadal buntung itu?" Ucap Mey sinis "Nggak mey, aku ngerasa gak pantes buat dia aja" ucap Rara menengahi "Gak pantes gimana Ra?" Ucap Mey kesal  "Karena aku tuh udah" Rara menggantung ucapannya hampir saja ia kelepasan berbicara. "Udah apa?!. Ra jangan jangan kamu udah dapet yang baru ". Mey kesal dan menebak-nebak apa yang Rara hendak katakan. "Enggak bukan itu, eh brownies pesanan bu Irma yang buat hajatan udah dibikin?" Rara mengalihkan pembicaraan. "Alaahh!. Kamu tuh Ra. Pasti gara-gara, Mas Bima!. Mey terkejut dengan kedatangan Bima sontak menyebut namanya. "Apa apaan  kamu Mey nyebelin tau gak, jangan sebut nama itu lagi Mey gak suka!" Hardiknya, karena posisi Mey menghadap pintu masuk sedangkan Rara duduk dengan memunggungi pintu, jadi ia tak tau keberadaan Bima. "Kok marah Ra, itu beneran mas Bima datang" Rara membalikan badan, matanya membulat sempurna. Benar saja yang Mey katakan Bima ada ditoko kuenya sekarang. "Ikut kakak sebentar Ra, ada yang kakak mau tujukan sama kamu" ucapnya datar langsung menarik pergelangan tangan Rara  "Di sini aja!" Ketus Rara "Gak bisa Ra ini nyangkut kamu sama aku" "What. Kamu, aku?. Wah ada apa ini antara Rara sama mas Bima, atau jangan-jangan. Ahh gak gak , gak boleh mas Bima hanya punya Mey", Gumam Mey dalam hati. Mau tak mau Rara harus ikut pergi dengan bima. "Mey aku pergi sebentar, nanti aku balik oke?" "Hmmmm" ucap Mey dengan raut muka masam. .......... "Mau kemana?. Ngomong disini aja " celetuk Rara "Gak Ra, kamu harus ikut biar kamu liat semuanya" ucap Bima dengan lembut "Liat apa,  ngomong sekarang aja!" Ketusnya kemudian "Gak bisa Rara, pliss tolong tenang dulu" Bima memohon Aku gak bisa tenang semobil sama orang jahat"  Ucap Rara histeris "Ini juga menyangkut kejadian seminggu lalu Ra" masih mencoba tenang "Gak usah disebut aku jijik" ketusnya lagi. Akhirnya Rara pun bisa tenang, memikirkan ia juga penasaran apa yang hendak Bima katakan. _____________ FLASH BACK Pagi itu di meja makan, ponsel Bima berdering, ternyata yang menelepon adalah orang suruhannya, setelah kejadian obat perangsang itu dan berakhir melakukan hal yang b***t pada adik sang adik, maka ia menyuruh orang untuk menyelidiki siapa yang menaruh obat perangsang kedalam minuman yang ia minum. Setelah beberapa hari, orang suruhan Bima  mendapatkan informasi dari bartender tempat waktu itu dia minum, bahwa ada seorang wanita yang membawanya ke salah satu room disana.  Bima sangat yakin bahwa wanita itu juga yang telah menaruh obat perangsan karena dari informasi lain wanita itu sering b******a dengan pria yang berbeda beda disetiap malam nya, modusnya pun sama dengan diberi obat perangsang. +6282250xxxxxx Halo tuan.  Kami telah mendapatkan wanita itu. Bima Ya. Bawa wanita Itu kehadapanku +6282250xxxxxx Beberapa kali dia mencoba kabur tuan,  oleh karena itu saya merantainya tuan. Bima Patahkan kakinya bila ia mencoba kabur. + 6282250xxxxxx Atau perlu kami lenyapkan sekarang tuan?. Bima Tunggu...!  jangan apa apa kan dia sebelum aku datang, biar aku yang mengeksekusi nya,dan siapkan yang ku pinta. FLASH BACK OFF __________________ Mobil yang dikendarai Bima berhenti disebuah rumah yang berada ditengah hutan. Rumah itu tidak besar, namun tidak terawat membuatnya terlihat menyeramkan, pohon-pohon di sekitar rumah itu pun sangat besar menambah kesan seram ditempat itu. Krriiieeett.... Pintu dibuka perlahan, menampilkan seorang wanita sedang dirantai, dan beberapa orang yang memiliki perawakan badan tinggi besar sangat menyeramkan. Siapa wanita itu wajahnya tak terlihat jelas karena sumber penerangan disini hanya lampu teram temaram. "Siapa dia?, Kenapa dirantai?" Ucap Rara ketakutan ia berjalan mundur melihat wanita didepannya  "Kamu mau gini'in aku juga?, Apa dia korban kebejatan mu juga?" "Tenang Ra tenang. Aku bakal jelasin semuanya sama kamu Ra. Nama perempuan itu adalah Melinda, dia perempuan yang menaruh obat perangsang diminumanku Ra, sebenarnya dia ingin menjebakku, namun karena nasib baik memihakku seorang bartender menghubungi sahabatku, untung saja sahabatku datang di waktu yang tepat Ra. Alhirnya ia menyuruh beberapa anak buahnya mengantarku pulang" Ucap Bima menjelaskan kejadian sebenarnya. "Nasib baik memang memihak mu, nasib buruk yang memihakku bodoh hikss" maki Rara pada pria dihadapannya "Kasih dia obat itu " titah Bima dengan menyeringai "Ampun tuan saya tidak tau bila akan sejauh ini. Ampun tuan lepaskan saya" ucap wanita itu memelas pada Bima Bima menyuntikkan obat pada wanita itu, obat itu adalah obat perangsang wanita yang diberikan melalui suntikan. Tak lama kemudian obat perangsang itu menunjukan reaksinya, wanita didepan Rara itu mulai tampak resah, ia tak bisa diam, kemudian meliuk-liukan tubuhnya serta membuka pakaian nya satu persatu. Desahan demi desahan keluar dari bibir wanita tersebut, semua laki-laki yang mendengar desahan wanita tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Rara langsung menutup telinganya ia teringat kejadian saat Bima melakukan hal itu padanya, ia tak tahan lagi. Akhirnya ia keluar dari rumah tersebut, ia memilih menunggu Bima didalam mobil. Sedangkan Bima terus menatap sinis pada wanita didepannya, berkali kali wanita tersebut meminta beberapa pria menyentuhnya. Karena tak tahan wanita itu mengoral miliknya sendiri sambil beberapa kali mendesah. "Tolongghh..." Erangan wanita itu tak tahan dengan reaksi obat tersebut. "Kalian puaskan dia dan setelah itu lenyap kan" ucap Bima disertai seringan nya "Heh jalang, kau telah bermain dengan orang yang salah" ucap Bima mencengkeram kuat pipi wanita itu, lalu berjalan meninggalkan wanita itu yang entah akan bagaimana nasibnya nanti. _______________ "Ra, lama ya?" ucap Bima lembut "Enggak. Karena ini kesalahan, kakak gak perlu tangung jawab atas segala yang telah terjadi" ucap Rara masih menatap lurus kedepan, dia enggan menatap laki-laki disampingnya. "Gak Ra!. Aku tetap tanggung jawab" kekeuh Bima "Kalau akuu gak hamil kakak gak usah tanggung jawab, pasti ada laki-laki yang mau terima aku" ucap Rara kemudian "Kalau kamu hamil" ucap Bima  dengan meninggikan suaranya "Aku bakal musnahin dia!" Ucap Rara frustasi "Rara!"  Bentak Bima "Apa!" Bentak Rara tak mau kalah Akhirnya Bima melajukan mobilnya diatas kecepatan rata-rata. "Mau mati kamu.?!" Hardik Rara "Ya. kita mati sama sama" balas Bima dengan tatapan membunuh, dan Rara hanya bisa menangis ia hanya berdo'a semoga hari ini ajal tak menjeputnya. Semoga kalian suka ceritanya, maaf kalok ada adegan yang kurang bisa dipahami dipart ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD