Sungguh, baru kali ini aku melihat Alex semarah itu. Papa Erlangga terpaku, tidak ada lagi kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Pengusiran yang dilakukan Alex membuat lelaki setengah baya itu meneteskan air mata. Tanpa kuduga, tubuh papa Erlangga menjatuhkan diri di depan kedua kaki Alex. Suamiku sontak mundur ke belakang. Ia tak ingin kedua kakinya disentuh papa Erlangga. "Papah minta maaf, Alex. Papah minta maaf." Berulang kali, papa Erlangga memanggil nama lelaki yang telah sah menjadi suamiku. Namun, Alex tetap bergeming, kedua matanya melebar, tersulut emosi yang ingin meletup. Aku mengelus lengan mama Alina agar tidak berteriak dan meronta lagi. Kedua mata mama Alina menatap langit-langit kamar, tetapi air matanya terus saja membasahi wajahnya. Entah apa yang dibicarakan papa Erl

