Terdengar pintu diketuk. Aku dan Alex terdiam, itu pasti Tamara yang datang. Aku mempersilakannya masuk. Wanita dengan pakaian modis namun sopan itu masuk ke dalam ruangan. Raut wajah Tamara masam. Ia duduk di kursi samping Alex. Menyodorkan berkas ke hadapan. Aku langsung menarik berkas, memeriksa sebentar. Ekor mataku melirik Alex, lelaki yang telah sah menjadi suamiku beranjak pergi ke sofa seolah menghindari Tamara. Aku tersenyum tipis melihat tingkahnya. Entahlah, aku jadi lebih tenang melihat Alex dan Tamara duduk berjauhan. "Iklan dari produk Mie Instan kurang budget," ujar Tamara datar. Aku mendongak, menatapnya lekat. "Kok bisa?" tanyaku heran. Selama ini kami jarang sekali meleset dari budget yang ditentukan. Sekarang kok bisa kurang? "Di lapangan ada dana tak terduga. Di l

