Patah Hati Lagi

1228 Words
Pemandangan yang indah bagi Berlian melihat Damar bermain basket di lapangan. Demi melihat Damar bermain basket, Berlian menolak ajakan Luna dan Satria untuk ke kantin. Apa pun perihal Damar, sulit bagi Berlian untuk tak peduli padanya. Berkali-kali Damar memasukan bola ke dalam ring membuat Berlian menyunggingkan senyumnya. Jangan salahkan Berlian yang begitu menyukai Damar, salahkan saja kharisma seorang Damar Kanigara yang berhasil membuat jantung Berlian berdegup lebih cepat. Tubuh tinggi dan kaki panjangnya memudahkan Damar mengambil bola dari Beni dan memasukannya ke dalam ring. Keempat lelaki itu, (Damar, Beni, Tora, dan Radit) asyik bermain basket di teriknya panas matahari yang sedang naik ke permukaan. Mereka begitu menggilai basket, kapan pun ada waktu senggang, entah itu jam istirahat bahkan sampai pulang sekolah, mereka akan menghabiskan waktu dengan basket. Berlian mengaduh ketika bola basket mengenai lengannya. Berlian menggeram kesal, melihat si pelaku yang tak sengaja melemparnya. Lengan Berlian memerah. "Radit!" Teriakan Berlian membuat beberapa orang jadi menoleh ke arahnya, tak terkecuali keempat lelaki yang masih setia di lapangan. Radit menghampirinya dengan perasaan was-was, ia meringis ketika mendapati tatapan tajam Berlian, gadis itu berkacak pinggang siap memarahi Radit. "Sori, Ber, nggak sengaja sumpah!" Jemari Radit membentuk huruf V membuat Berlian tambah murka. Tatapan Damar tak lepas dari keduanya, Damar berdecak pelan lalu mengambil bola basket tanpa menghiraukan Radit dan Berlian. "Bohong, Ber! Si Radit sengaja lempar bolanya ke elo!" Teriak Tora bermaksud memanasinya yang langsung mendapat pelototan dari Radit. "Bukan gue yang kurang ajar, Ber, noh, si Tora!" adu Radit, tetap tak membuat Berlian iba. Radit benar-benar mengusik kedamaian dan ketenangan Berlian. Sepertinya Radit mencoba membangunkan macan yang sedang tertidur. "Mau elo, mau Tora, mau Beni, semua sama aja!" Berlian mencak-mencak, melipat tangannya di d**a. Berlian melirik ke arah Damar, berharap lelaki itu menanyakan keadaannya meski Berlian merasa ia baik-baik saja. Namun sepertinya Damar tak peduli. Beni dan Tora protes tak terima. "Kok gue dibawa-bawa?" "Giliran Damar aja nggak disebut-sebut. Gitu lo sama gue, oke!" Tora merajuk, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Mendengar namanya disebut, Damar menoleh sebentar lalu kembali memasukan bola ke dalam ring. Damar tak begitu menghiraukan teman-temannya. Berlian menggerutu, sebenarnya bukan karena hanya kesal dengan Radit, tapi ia juga kesal dengan Damar yang hanya diam saja. Biasanya Damar akan selalu memastikan kondisi Berlian baik-baik saja. Berlian lupa, kini statusnya hanya sebatas mantan. "Lo ganggu pemandangan gue tau nggak?!" Belum sempat Berlian mencubit Radit, lelaki itu sudah memberikan tawaran menggiurkan membuat Berlian mengurungkan niatnya. "Gue beliin s**u stroberi, oke?" Emosi Berlian mereda mendengar minuman favoritnya disebut. Berlian selalu kalah dengan hal-hal yang menjadi kesukaannya. Berlian memicingkan mata, menatap Radit lekat, takut jika lelaki itu berbohong. "Beneran lo?" Radit mendengus, memaksakan kepalanya untuk mengangguk. Bisa panjang urusan jika Radit tak bisa menjinakan Berlian. "Beliinnya yang banyak!" Teriak Berlian ketika Radit kembali ke dalam lapangan, tak peduli dengan orang-orang yang kini melihat ke arahnya. Berlian kembali sibuk memerhatikan Damar, lelaki itu mengusap peluh di dahinya membuat Berlian terkesima. Padahal tadi ia kesal karena Damar tak peduli padanya. Katakanlah Berlian lemah dengan hal-hal yang ia sukai. s**u stroberi, biskuit dan tentunya Damar. Bagi Berlian, Damar itu manis, punya kharisma yang kuat dan jago main basket. Wajar jika ia tak rela Damar dengan perempuan lain. Melihat Damar yang kepanasan membuat Berlian tak tega. Meski Damar tak peduli lagi padanya, tapi Berlian tetap peduli pada Damar. Berlian memutuskan untuk pergi ke kantin, ia akan membeli minum untuk Damar. Hanya untuk Damar dan selalu untuk Damar. *** Langkah kaki yang semula begitu semangat kini menjadi pelan. Berlian mengeratkan tangannya pada botol mineral yang baru saja ia beli di kantin untuk Damar. Berlian melihatnya, melihat bagaimana bola basket mendarat tepat di kepala seorang perempuan yang akhir-akhir ini Berlian ketahui namanya Reni. Sebenarnya bukan itu yang membuat Berlian terkejut. Namun, Berlian terkejut ketika Damar menggendong Reni dan membawanya ke UKS dekat lapangan. Berlian menggelengkan kepala, mengusap matanya berulang kali bahwa ia tak salah lihat. Namun, penglihatan Berlian rupanya masih baik-baik saja. Itu benar Damar. Berlian tahu Damar orang yang baik, Damar akan peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, mengapa Damar terlihat khawatir dengan perempuan itu? Berlian bisa melihat jelas wajah khawatir Damar. Padahal ketika tadi Berlian yang terkena bola, Damar tidak peduli padanya. Ada rasa sakit ketika Damar peduli dan khawatir dengan perempuan lain. Salahkan Berlian yang egois, tapi Berlian juga punya hati. Berlian masih mencintai Damar. Bukankah rasanya sangat menyakitkan melihat orang yang dicintai justru lebih peduli pada orang lain? Berlian menatap air mineral di genggamannya. Berlian tersenyum getir, sia-sia ia membelikan minum untuk Damar. "Ber?" Berlian menoleh mendapati Luna dan Satria. Rupanya sedari tadi mereka juga melihat apa yang sudah Berlian lihat. "Ke kelas, yuk?" Luna mengajak Berlian, ia tahu sahabatnya sedang terluka. "Bodoh nggak usah dipelihara, Ber. Ngapain lo ngeliatin mereka?" kesal Satria ketika melihat wajah murung Berlian. "Berapa kali gue bilang, Damar cuma bakal nyakitin lo, Ber." Berlian menghela napas, ia tahu Satria dan Luna peduli padanya. Namun, Berlian tetap tak bisa membenci Damar. Bagaimana pun, Damar juga pernah menjadi bagian hari-hari Berlian meski hanya sementara. Luna menyenggol lengan Satria. "Nggak boleh gitu, Sat." Tangannya merangkul Berlian untuk ke kelas. Sepanjang jalan menuju kelas, Berlian menekuk wajahnya yang cantik. Memandang kosong air mineral yang ada di tangannya tanpa minat. "Beliin gue s**u stroberi dong, Sat." Wajah Berlian melas. Satria mendengus, ia menggerutu membuat Luna terkekeh. "Nyebelin lo sumpah, Ber." desis Satria lalu beranjak pergi meninggalkan kedua sahabatnya. Bukan Satria namanya jika ia tak peduli dengan Berlian dan Luna. Meski kesal, Satria tetap menuruti apa yang Berlian minta. Pasalnya, Satria tahu Berlian baik kepadanya. Berlian selalu menghiburnya ketika ia harus patah hati ditolak Luna. Semenyebalkannya Berlian, Satria tetap menganggapnya sahabat. Satria akan menjadi tameng, pondasi terkuat untuk Berlian dan Luna. Namun, kelemahan Satria hanya satu, cintanya kepada Luna. *** Jemari Berlian bergerak cepat mengerjakan kuis matematika. Berlian tidak yakin seratus persen dengan jawabannya, tapi ia yakin bahwa ia tidak begitu bodoh. Satu atau dua soal mudah-mudahan ada yang benar. Sebenarnya Berlian sudah belajar semalam bersama Luna. Namun, rupanya soal benar-benar menjebak mempermainkan kemampuannya. Berlian hanya yakin dengan tiga jawabannya dari lima soal. Lumayan, jika betul tiga ia akan mendapat skor enam puluh meski nanti ia akan mendapat wejangan dari sang kakek untuk lebih giat belajar. Luna, Radit dan Satria mengerutkan keningnya ketika Berlian sudah mengumpulkan hasil kuis paling pertama. Berlian menoleh kepada mereka dan melambaikan tangannya sambil tersenyum, lalu ia keluar dari kelas. Wajahnya kembali ceria setelah tadi ia murung. Berlian berusaha untuk membuang pikiran negatifnya. Bukan tanpa alasan Berlian mempercepat pengerjaan kuisnya. Langkah kaki membawanya ke ruang UKS. Berlian hanya penasaran dengan keadaan Reni yang begitu membuat Damar khawatir. Berlian berjalan mengendap-endap mengintip dari jendela UKS. Namun, ia tak menemukan siapa-siapa di sana. Berlian membuka pintunya, sepi. Ke mana Reni? Berlian menghela napas, mungkin Reni sudah ke kelasnya. Begitu pun juga dengan Damar. Daripada kembali ke kelas, Berlian membelokkan langkahnya menuju kantin. Tujuannya saat ini adalah asupan s**u stroberi dan biskuit. Entah, betapa banyak s**u stroberi yang ia minum setiap harinya. "Lo beneran gapapa?" "Aku gapapa, Kak. Tadi cuma pusing aja kok." Berlian mengerutkan keningnya, ia mendengar suara yang begitu ia kenali. Suara Damar. Berlian menoleh ke kanan-kiri, tak menemukan siapa-siapa. Hanya ada kelas yang sedang olahraga di lapangan. Berlian melangkah menuju tangga, mencari sumber suara yang tak jauh dari pendengarannya. "Lain kali lo hati-hati kalau jalan. Untung lo gapapa," Reni tersenyum, ia menepuk pundak Damar sedikit canggung. "Makasih, ya, Kak." Damar mengangguk, membalas senyuman Reni. "Pulang bareng gue aja, ya?" Kerongkongan Berlian terasa kering, dadanya terhimpit oleh sesuatu yang membuatnya sesak. Damar benar-benar melupakannya. Mungkinkah tak ada harapan untuk Berlian mendapatkan Damar kembali? Melihat kedekatan Damar dengan Reni membuat Berlian merasa tidak aman. Berlian takut Damar ada rasa dengan Reni hingga membuatnya dengan mudah melupakan Berlian. Namun, Berlian masih belum juga bisa melupakan Damar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD