Berlian mengambil beberapa kotak s**u stroberi di rak pendingin. Lalu beralih ke rak camilan. Berlian tidak akan fokus mengerjakan tugas jika tidak ditemani s**u stroberi dan camilan. Terpaksa ia pergi ke minimarket malam-malam karena stok s**u stroberinya sudah habis.
Langkah Berlian terhenti ketika matanya tak sengaja melihat Damar di kasir. Matanya membulat sempurna, lengkungan di bibirnya tercetak jelas. Entah berapa kali Damar menyakiti dirinya, Berlian tetap tidak bisa membenci Damar. Berlian akan terus berjuang demi mendapatkan Damar kembali. Cepat-cepat Berlian mengambil camilan yang akan ia beli dan bergegas ke kasir.
"Hai, Damar!"
Damar terkejut mendapati Berlian tengah tersenyum. Gadis ini selalu saja muncul di hadapan Damar. Bisakah sehari saja Damar tak bertemu dengan gadis yang selalu membuatnya pusing?
"Ngapain lo?"
"Belanjalah. Kamu kira ke minimarket mau renang?" Berlian jadi sewot, lalu cengengesan menatap Damar. "Sendirian aja nih, mantan?"
"Berdua,"
Berlian mengernyit. "Sama siapa?"
"Sama bayangan,"
Berlian tertawa membuat Damar tersenyum miring. Gadis itu masih sama, selera humornya yang rendah dan lucu jika tertawa.
"Nggak lucu, Damar."
Damar tersenyum miring, menatap Berlian lekat. Tiba-tiba ide jahilnya melintas begitu saja. Damar mengangkat alis, lalu berbisik. "Kan yang lucu cuma lo, Ber."
Ambyar.
Suara Damar berhasil membuat jantung Berlian berdetak tak beraturan. Jantungnya seperti sedang maraton, padahal Damar hanya iseng mengatakannya. Damar hanya ingin tahu reaksi gadis itu. Ternyata sama seperti dulu, tak banyak yang berubah dari Berlian.
"Mbak, cepetan dong!"
"Sebentar, ya, Mbak."
Tatapan Damar tak lepas dari Berlian, ia kembali berbisik. "Masih baper sama gue?"
Sial! Damar benar-benar membuat Berlian salah tingkah. Berlian menarik napas berulang kali, memasang wajahnya songong.
"Nggak, tuh!" elak Berlian. Sudah jelas ia berbohong. Berlian terlalu gengsi mengakuinya, padahal apa yang ia lakukan selama ini jelas-jelas membuktikan bahwa ia belum bisa move on dari Damar.
Damar. Pacar pertama Berlian, cinta monyet Berlian, cinta yang mematahkan hati Berlian juga. Alasan yang cukup sulit untuk Berlian bisa melupakan cinta pertamanya.
Berlian tak bisa diam di tempatnya. Bisa-bisanya Damar mengatakan hal terlarang ketika sudah jadi mantan. Berlian menghela napas lega ketika transaksi Damar telah selesai. Kini giliran Berlian membayar belanjaannya.
"Duluan, Ber." Berlian mendengus ketika Damar sudah pergi.
"Seratus tiga ribu, Mbak." Berlian mengambil uang di kantongnya, gadis itu hanya membawa uang seratus ribu. s**l, Berlian merutuki dirinya yang kelewat bodoh.
"Nggak ada diskon gitu, Mbak?" tanya Berlian, berharap ada diskon besar-besaran hari ini.
Pelayan itu tersenyum, menggeleng. "Nggak ada, Mbak."
Berlian mengembuskan napasnya. Dari kaca, ia melihat Damar yang baru saja akan menghidupkan mesin motor. Berlian menyerahkan uang seratus ribu kepada pelayan.
"Mbak, tunggu sebentar. Dua menit?" Berlian berlari memanggil Damar. Tak peduli dengan pelayan yang sedari tadi memanggilnya.
"Damar!"
Untuk saat ini, hanya Damar yang bisa menolongnya. Beruntung Berlian tidak terlambat karena Damar baru saja parkir. Berlian menepuk lengan Damar panik. "Pinjem uang tiga ribu boleh?"
Damar mengernyit, "Untuk?"
"Uangnya kurang," Berlian nyengir membuat Damar geleng-geleng kepala. Selain sering marah-marah, gadis itu juga ceroboh.
Damar merogoh saku celananya, menyerahkan uang lima ribuan. "Awas tuh kembalian dua ribu buat parkir,"
Berlian mendengus lalu bergegas masuk kembali, menemukan pelayan tadi yang kebingungan. "Nih, Mbak."
Akhirnya Berlian bisa bernapas lega. Tangannya sibuk menenteng plastik belanjaan. Berlian melihat Damar yang masih berada di motornya.
"Makasih, mantan." Berlian terkekeh, menyerahkan uang kembalian tadi ke Damar. "Besok gue ganti,"
"Utang harus dibayar, Ber."
Berlian mencibir, "Pelit banget sih!"
"Gue hemat, bukan pelit."
"Nggak ada manis-manisnya banget jadi mantan,"
"Kalau manis nggak mungkin jadi mantan." Benar apa yang dikatakan Damar. Lelaki itu selalu saja bisa membalas perkataan Berlian.
Berlian berdecak, mengambil sepeda milik kakaknya yang tadi ia gunakan untuk sampai ke minimarket mengingat jaraknya yang lumayan dekat dari rumah. "Sebagai mantan yang baik harusnya kamu tuh nawarin aku pulang bareng kek,"
"Lo bawa sepeda," Damar menunjuk sepeda Berlian dengan dagunya. Kepalanya mendongak melihat ke langit. "Cepetan pulang, takut hujan."
Usai mengatakan itu Damar melajukan motornya. Meninggalkan Berlian yang mendumel sembari naik sepeda.
"Tau gitu nggak usah bawa sepeda tadi," Berlian menggerutu, lalu ia tersadar akan sesuatu. "Tadi Damar bilang apaan, ya?"
Berlian melengkungan senyumnya, ia berteriak histeris membuat beberapa orang menatapnya aneh. Untung saja Damar sudah pergi.
"Damar takut gue kehujanan?" cicitnya, tak peduli dengan orang-orang yang memerhatikannya.
Kepala Berlian mendongak, melihat langit malam yang tak terlihat mendung karena sudah gelap. Namun, melihat cahaya kilat membuat Berlian menelan ludahnya.
Sepanjang jalan menuju komplek perumahannya, Berlian hanya berharap ia segera sampai. Angin di luar sudah terasa tidak enak dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Berlian mempercepat laju sepedanya. Jantungnya berdegup kencang, merapalkan doa agar tidak ada petir yang selalu membuatnya takut.
Beruntung Berlian sampai ke rumah dengan selamat. Namun, bersamaan dengan detik Berlian menyimpan sepedanya ke garasi, hujan turun begitu saja. Seolah semesta melindungi Berlian dari hujan agar tidak sakit.
Berlian melihat ke gerbang, kepalanya celingak-celinguk. Berlian memicingkan matanya, merasa seperti ada yang memerhatikannya, tapi ia tak menemukan siapa-siapa. Berlian mengangkat bahu, cepat-cepat ia segera masuk ke rumah.
***
"Ber, gue nginep, ya?"
Berlian mendapati Luna yang sudah ada di rumahnya. Berlian mengangguk paham, pasti sahabatnya itu sedang ada masalah. Luna memang sering menginap di rumah Berlian. Berlian dan keluarganya banyak membantu dan melindungi Luna. Entah, harus dengan cara apa Luna membalasnya.
"Dimarahin lagi?"
Luna mengangguk lemah membuat Berlian memeluk sahabatnya itu. "Ada gue, Lun."
Bagi Luna, Berlian satu-satunya sahabat yang paling pengertian meski kadang sahabatnya itu menjelma menjadi sosok yang sedikit bar-bar.
"Lo nggak udah sedih lagi. Tadi gue habis dari minimarket beli banyak camilan. Tapi lo jangan minta s**u stroberi, ya." Luna tekekeh mendengarnya.
"Loh, tangan lo kenapa Luna?" Berlian panik ketika melihat luka di lengan sahabatnya. Dengan segera gadis itu membawa kotak obat dan mengobati Luna.
"Gapapa, Ber."
Berlian berdecak menatap Luna sebal. "Lo tuh kebanyakan gapapa, Lun. Kalau sakit bilang, jangan dipendem terus. Bisa gila lo lama-lama. Gue nggak mau, ya, punya temen gila."
Sudut bibir Luna terangkat. Berlian selalu punya cara untuk menunjukkan perhatiannya kepada orang yang ia sayangi. Meski begitu Luna tahu bahwa Berlian peduli padanya.
"Thanks, ya, Ber."
"Ah, lo tuh udah kayak ke siapa aja sama gue." Berlian merapikan kotak obat usai mengobati lengan Luna. Kini tangannya sibuk mengeluarkan belanjaan dari minimarket. "Satria tahu?"
Luna menggeleng. "Jangan dikasih tahu, Ber."
Berlian mengangguk paham. Jika sudah menyangkut masalah-masalah pribadi atau keluarga, Berlian selalu berusaha untuk mengerti. Menjadi pundak untuk sahabatnya.
"Kamu ini jajan ciki melulu," Kuncoro duduk di sofa sambil membawa cangkir kopi di tangannya.
"Kakek mau?"
"Ya, mau toh,"
Berlian mendengus membuat Luna tertawa melihat tingkah kakek dengan cucunya. Terkadang Luna iri dengan Berlian yang mendapatkan kasih sayang dari kakek dan kakaknya.
"Luna," Luna tersentak dari lamunannya ketika Kuncoro memanggil.
"Iya, Kek?"
"Nggak usah dipikirin. Kamu aman di sini. Fokus sama sekolah kamu, beberapa bulan lagi kan mau ujian. Sudah mau lulus, ya?" Luna merasakan kehangatan ketika mendengar pesan Kuncoro. Kuncoro selalu baik kepada Luna, menganggap Luna seperti cucunya sendiri.
"Makasih, ya, Kek."
"Sudah, sekarang kita nostalgia dulu. " ujar Kuncoro menyesap kopinya, "Berlian, tolong ambil radio Kakek!"
"Udah malem, Kek." protes Berlian, tapi tetap memberikan radio yang ia ambil didekat televisi.
Kuncoro mengotak-atik radionya, mencari siaran radio yang menarik.
"Ih, Kakek jadul banget sih lagunya," Berlian menutup kedua telinganya ketika mendengar siaran radio yang memutar lagu jadul era tujuh puluhan.
"Jadul apa? Ini namanya nostalgia," Kuncoro ikut bersenandung membuat Luna tertawa.
"Lho, ada Luna?" Suara Bimo menghentikan percakapan mereka, Bimo baru saja datang lengkap dengan jas dokternya.
Luna tersenyum. "Iya, Kak."
"Pulangnya kok malem terus sih, Kak?" tanya Berlian yang kini asyik menikmati s**u stroberi miliknya.
"Banyak pasien di rumah sakit," Bimo mencium tangan kakeknya.
"Sibuk, Bim?"
Bimo mengangguk. "Lagu apaan ini, Kek?"
"Lagu zaman dulu waktu Kakek masih muda. Enak, ya, Bim? Masa kata adikmu jadul," Kuncoro geleng-geleng kepala membuat Berlian terus mencibir bahwa ia tak suka lagunya.
"Enak kok. Mantap, Kek!" Bimo dan Kuncoro melakukan high five yang diajarkan Bimo. Mereka tertawa.
"Beda selera sama anak muda."
***