Halo, Damar!

1108 Words
"Waduh, cucu Kakek kenapa ini?" Berlian baru saja pulang, ia menemukan kakeknya berada di teras rumah terkekeh melihat kedatangan Berlian melempar sepatunya ke sembarang arah. "Anak gadis kok kayak gitu. Simpan sepatunya yang betul. Sini duduk!" Langkah malas Berlian membawanya duduk di sebelah Kuncoro, kakeknya. Berlian mencebikan bibirnya kesal mengingat kejadian di toko buku tadi. Hatinya terasa panas mengingat Damar bersama dengan perempuan lain. "Kakek pernah putus cinta nggak?" tanya Berlian membuat kakeknya melongo, kemudian terkekeh. "Pernah," ucap Kuncoro, tangannya sibuk memasang rakitan radio yang semula ia bongkar. "Putus cinta anak seumuran kamu itu udah biasa," "Rasanya gimana, Kek?" Kuncoro menatap wajah cucunya yang tengah murung. "Tergantung," "Kok tergantung sih, Kek?" "Kalau udah cinta, ya, pasti sakit." "Kalau nggak cinta?" tanya Berlian penasaran, menunggu apa yang akan kakeknya ucapkan. "Biasa aja." ujar Kuncoro yang masih sibuk dengan radionya. "Mungkin," Jawaban kakeknya berhasil membuat Berlian terdiam. Mungkinkah Damar tidak merasakan sakit hati? Mungkinkah Damar benar-benar tidak mencintainya? s**l, pertanyaan itu mengganggu pikiran Berlian. "Biasa aja?" Berlian mengulang perkataan kakeknya. "Kamu ini kenapa, toh? Kok tiba-tiba nanya kayak gitu," Kuncoro menggelengkan kepala. "Berlian tuh lagi putus cinta, Kek. Sakit banget!" ujar Berlian jujur. "Sakitnya di sini, Kek." Jemari Berlian membentuk finger heart, menepuk dadanya yang terasa sesak. "Lebay banget pake putus cinta segala!" Berlian dan Kuncoro menoleh mendapati seseorang yang baru saja datang. "Apa sih, Kak!" Berlian mencebikan bibirnya kesal ketika orang yang dipanggil kakak itu mengacak rambutnya. "Tanya saja Kakak kamu ini," Kuncoro menunjuk Bimo yang kini ikut duduk. "Males nanya sama Kak Bimo. Dia itu bucin banget, Kek." cibir Berlian membuat Bimo mendengus. "Lebih bucin lo!" "Lo!" "Lo!" "Lo tuh bucin!" "Lo!" "Sudah-sudah. Apa itu bucin-bucin?" Kuncoro melerai perdebatan kedua cucunya. "Bucin itu b***k alay, Kek." seru Bimo membuat Berlian mengernyit. "Apaan, bucin itu b***k cinta. Kalau b***k alay berarti bulay." Berlian protes tak terima. "Bucin, bulay, bucin, bulay. Apa-apaan kalian ini?" Kuncoro geleng-geleng kepala, tangannya kembali sibuk memasang radionya. "Aduh, Kek. Radio itu udah butut banget, dibenerin juga nanti rusak lagi." Bimo menggulung kemejanya sampai siku. "Apa gunanya cucu Kakek yang paling ganteng ini? Dokter muda paling kece gitu, lho, Kek. Masa iya tega lihat kakeknya sibuk benerin radio antik kesayangannya? Nanti Bimo beliin tablet deh biar Kakek bisa dengerin podcast. Radio udah nggak zaman, Kek." "Tablet? Obat?" tanya Kuncoro membuat Bimo menghela napas. Berlian tak menghiraukan kakek dengan kakaknya. Pikirannya kacau dan semuanya tersita oleh Damar. Berlian jadi ragu jika dulu Damar mencintainya. Buktinya sekarang saja Damar bisa senang-senang dengan perempuan lain. "Berlian!" Langkah Berlian terhenti ketika ia baru saja masuk ke dalam rumah. "Sepatu kamu simpan yang betul! Baunya bikin Kakek pusing." *** Sudah satu jam Berlian bergelut dengan pikirannya. Berlian merindukan sosok Damar. Berlian rindu ketika Damar meneleponnya untuk mengingatkan ia belajar. Selama ini, Damar selalu baik kepada Berlian. Damar yang selalu mau direpotkan membeli s**u stroberi untuk Berlian. Damar yang selalu antar-jemput Berlian ke sekolah. Namun, sekarang Berlian merasa kehilangan. Damar telah berubah dan mengecewakannya. "Telpon jangan, ya?" Sedari tadi Berlian terus bermonolog. Ragu untuk menelepon Damar lebih dulu. Jika biasanya Damar yang akan meneleponnya, kini Berlian harus menurunkan gengsi untuk bisa mendengar suara Damar. Tangan Berlian menutup wajahnya menggunakan bantal. Berlian benar-benar merana, ditinggal tiba-tiba tentu tidak membuat Berlian baik-baik saja. Berlian menarik napas dalam-dalam. Melemparkan bantal yang semula di pangkuannya. Memejamkan mata, menarik napas berulang kali. Telunjuknya menekan ponsel, sambungan terhubung membuat Berlian menggigit bibir. Berlian menyeruput s**u kotak stroberinya, ia harus berani mengambil risiko. Berlian harus tahu perasaan Damar yang sebenarnya. "Halo!" "Halo, Damar!" "Woi!" "Halo?" "Ada orang?" "Haloooooo?" Panggilan terhubung, tapi tak ada sahutan dari seberang sana. Berlian berdecak kesal. Apa Damar tidak tahu bahwa Berlian merindukannya? Salahkah Berlian rindu sang mantan? "Assalamualaikum, Damar!" "Assalamualaikum, jawab dong!" Berlian jadi ngegas. "Dosa, tahu!" "Waalaikumsalam," Senyum Berlian mengembang, keraguannya seketika sirna begitu mendengar suara Damar. Biasanya Damar yang akan meneleponnya lebih dulu. Namun, Berlian harus mengalah. Berlian merindukan suara Damar. Mengingat bagaimana Damar selalu bercerita setiap malam. "Halo, Damar!" "Woi!" "Ngapain telpon?" Berlian menghela napas, bukan ini yang ia ingin dengar dari mulut Damar. "Lah, kok gitu? Nggak ada manis-manisnya banget jadi mantan," "Nggak bisa move on?" Mata Berlian melotot, wajahnya berubah garang. Padahal Damar tidak melihatnya. "Bisa kok!" Berlian panik sendiri, ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Menarik napas berulang kali sebelum kembali berbicara dengan Damar di telepon. "Terus ngapain telpon gue? Gue lagi sibuk," "Sibuk?" Berlian mengerutkan dahinya. "Sejak kapan ada kata sibuk di kamus Damar buat Berlian?" tanyanya sewot. "Sejak gue mutusin lo." "Balikan lagi emangnya nggak bisa, ya?" Terdengar kekehan dari seberang sana membuat Berlian menahan napasnya gugup. "Mau banget balikan sama gue? Kita itu nggak pernah cocok, Ber. Asal lo tahu itu." Demi apa pun Berlian ingin menghajar Damar sekarang juga. Alasan klasik seseorang memutuskan pasangannya adalah karena ketidakcocokan. "Klasik banget sih alasannya!" Tak mendapat respons, Berlian melihat ponselnya yang masih terhubung dengan Damar. "Halo?" "Apanya yang klasik? Lo itu nggak bisa ngerti gue, Berlian. Egois. Gue nggak mau mempertahankan toxic dalam hubungan gue. Udah, ya, gue sibuk." "Bilang aja selingkuh, kan?" "Udah jadi mantan masih aja nuduh-nuduh. Harusnya lo mikir kenapa gue mutusin lo." Berlian terdiam beberapa saat, mencerna ucapan Damar barusan. Sungguh, Berlian tak pernah mengharapkan untuk berpisah dari Damar. Selama ini hubungannya baik-baik saja. Damar selalu pengertian, menuruti kemauan Berlian yang banyak itu. Namun, Berlian? "Aku emangnya suka marah-marah, ya?" "Nggak nyadar?" Ada mendung di hati Berlian ketika mendengar penuturan Damar. Lelaki itu berubah seratus delapan puluh derajat dari Damar yang dulu. Namun, sedetik kemudian senyumnya mengembang. "Damar, aku pengen beli biskuit sama s**u stroberi." "Hubungannya sama gue apa?" Berlian mendengus, menatap nama Damar di layar ponselnya lalu menggurutu. "Nggak peka banget, sih!" "Ngapain gue harus peka? Kan, udah mantan." Ingin sekali Berlian melemparkan meja ke wajah Damar sekarang juga. "Bisa nggak, sih, nggak usah diingetin terus?" Berlian jadi sewot, padahal apa yang dikatakan Damar barusan memang benar. Tahu tidak akan mendapat respons, Berlian kembali berbicara. Berlian harus menanyakannya kepada Damar. "Kamu ada hubungan apa sama Reni?" "Nggak ada urusannya sama lo, Ber." "Berarti kamu emang beneran selingkuh sama si Reni-Reni itu, kalau nggak, mana mungkin kamu ngajak ke bioskop segala?" "Dan berarti lo emang beneran nggak bisa move on dari gue, kalau bisa, mana mungkin lo ngikutin gue sampe ke bioskop?" Emosi Berlian di ubun-ubun, perkataan Damar tepat sasaran. Berlian merutuki ucapannya sendiri. Terkadang cinta membuat seseorang kelewat bodoh hanya karena ucapannya. Baru saja Berlian akan berbicara, tapi suara panggilan terputus membuatnya menghela napas. Damar benar-benar telah melupakannya. Berlian melihat wallpaper ponselnya. Terpampang foto dirinya dengan Damar di sana. Berlian tersenyum getir. Mengapa putus cinta harus sepahit ini? Beberapa menit Berlian terdiam, lamunannya terhenti ketika ponsel Berlian berbunyi. Notif w******p masuk, dari Damar. Berlian terlonjak kaget, girang bukan main. Wajahnya kembali ceria ketika mendapatkan nama Damar tertera dalam layar notifikasi ponselnya. Berlian lompat-lompat di atas kasur, menggulingkan tubuhnya hingga ia meringis ketika tubuhnya mencium lantai. Lengkungan di bibir Berlian menghilang seketika, hatinya teriris ketika ia membuka pesan dari Damar. Berlian mengira bahwa Damar akan meminta maaf karena ucapannya tadi kepada Berlian. Namun, rupanya Berlian terlalu berharap pada Damar. Seharusnya Berlian tahu bahwa sebesar apa pun ia berharap pada manusia, akhirnya akan kecewa juga. Dadanya sesak, membaca berkali-kali pesan yang dikirimkan Damar barusan. Memastikan bahwa ia tak salah membaca. Lupain gue, Ber. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD