Detektif Dadakan

1114 Words
"Ber, lo yang bener aja dong masa kita pake dandanan kayak gini ke mall?" Setelah Berlian membaca pesan yang Damar kirimkan kepada Radit, ia memaksa Radit untuk mengikuti Damar yang akan pergi ke mall bersama seorang perempuan. Berlian hanya ingin memastikan, sejauh mana Damar memiliki hubungan dengan perempuan lain. Sedari tadi Radit terus berkomentar. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka membuat nyali kejantanan Radit diragukan. "Udah deh, lo ikutin gue aja." Berlian membenarkan letak kacamata hitamnya. Dia masih menggunakan seragam sekolah yang dibungkus oleh cardigan berwarna hitam. Kepalanya ditutupi oleh syal berwarna pink yang sengaja ia beli di salah satu toko di dalam mall, bersama dengan kacamatanya. Sedangkan Radit tak kalah heboh. Tentu, Berlian yang memaksa Radit menggunakan barang-barang yang sama seperti dirinya. Hanya saja Radit menggunakan hoodie miliknya. "Gue nggak usah pake syal deh, Ber. Ribet." Baru saja Radit akan membuka syal yang ia gunakan sebagai penutup kepala, tapi Berlian mencegahnya. "Dit, kok lo gitu sih sama gue? Katanya mau bantuin gue," Berlian mencebikan bibirnya, ia memasangkan kembali syal ke kepala Radit dengan cepat, takut jika ada yang mengenalinya. "Hoodie gue udah cakep warna item, laki banget kan? Kacamata juga lumayanlah, keren. Lah, ini, apaan syal warna pink. Malu, Ber." Sebelum Radit kembali berbicara, Berlian menarik tangan Radit membuat lelaki itu kelimpungan. "Ber," "Sssttt," Berlian menyimpan telunjuknya di bibir. "Diem, nanti ketahuan Damar, anjrit!" Mereka bersembunyi di salah satu toko make up ketika Damar berhenti di sebuah kedai eskrim bersama seorang perempuan. "Dit, Damar beliin cewek lain eskrim masa." Wajah Berlian berubah lesu, padahal tadi ia begitu semangat dengan misinya. "Mana?" Telunjuk Berlian terarah pada posisi Damar saat ini. Mungkin, Berlian akan berusaha untuk baik-baik saja, melupakan Damar jika lelaki itu tak memintanya putus saat hubungannya baik-baik saja. Namun, bisakah Berlian melupakan Damar yang memutuskannya tiba-tiba? "Katanya dia tetangga barunya Damar, tapi masa deket banget, ya, Dit?" "Oh, si Reni tetangga baru gue juga dong?” “Iyalah!” Kesal Berlian mengingat rumah Damar dan Radit tetanggaan. "Maaf, Bu, mau belanja?" Berlian dan Radit menoleh ketika seorang pelayan menghampiri mereka. "Ada lipstik keluaran baru, lho, Bu." ujarnya pada Berlian, kemudian pelayan itu menoleh ke arah Radit, mengernyit lalu tersenyum ramah. "Tantenya juga? Boleh sekalian pilih-pilih, Tan?" Radit melotot, membuka syal yang menutupi kepalanya dengan kesal. "Lo kira gue Tante lo apa? Gue laki, sori." Pelayan itu terkejut, mulutnya terbuka sedikit. Sedangkan Berlian sedari tadi terus memerhatikan Damar, takut jika ia kehilangan jejak. "Aduh, Mbak maaf, ya. Temen saya emang gitu, dia laki kok, Mbak." Berlian tersenyum kikuk, lalu menarik tangan Radit untuk segera keluar dari toko. "Masa gue dibilang Tante? Nggak liat apa muka gue cakep begini." Sepanjang jalan Radit terus mendumel, sedangkan kepala Berlian sibuk celingak-celinguk mencari keberadaan Damar. "Bisa diem nggak lo?" Berlian melotot membuat Radit mencibir. "Udah maksa minta anter, ngomel lagi." Berlian tak menggubris cibiran Radit, ia terus menarik tangan Radit menyelinap orang-orang yang berlalu-lalang. Berlian melihat Damar memasuki area bioskop. Setelah dirasa Damar sudah masuk ke bioskop, Berlian segera membeli tiket. "Mbak, tiketnya samain kayak cowok tadi, ya." "Apa? Gue lagi yang bayar?" Berlian cengengesan ketika Radit sudah tahu apa yang akan ia katakan. "Duit gue habis pake beli syal. Mahal, Dit." "Siapa suruh lo beli syal?" Kesal Radit, tapi ia tetap mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayar tiket yang Berlian pesan. Buru-buru Berlian menarik Radit ke dalam bioskop setelah mendapatkan tiketnya. Kepala Berlian terus mencari keberadaan Damar, ia membuka kacamatanya. Sudut bibirnya terangkat ketika ia mendapatkan Damar duduk di deretan bangku keempat. "Ber, lo pesen tiket film apaan?" "Horor, gue ngikutin Damar." Tatapan Berlian tak lepas dari Damar yang sedang berbincang dengan perempuan. Hatinya sesak ketika melihat Damar ikut tersenyum. "Horor? Lo gila?" Radit setengah berteriak membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka. Dengan cepat Berlian menarik Radit untuk menunduk ketika Damar menoleh. "Lo yang gila! Mulut lo tuh berisik, kalau kita ketahuan gimana?!" Berlian menghela napas ketika film akan segera dimulai. Lampu dimatikan membuat Radit merinding. "Ber, pulang aja, yuk?!" Berlian berdecak, menatap Radit jengkel. "Badan aja segede gaban, nonton horor doang nggak sanggup lo!" Sepanjang berjalannya film, Berlian tidak bisa fokus menonton. Sedangkan Radit sudah sibuk menutup matanya dan menjerit tidak jelas. Tatapan Berlian tak lepas dari perempuan di sebelah Damar yang menutup matanya takut membuat Damar tertawa. s**l, Damar mengacak rambut perempuan itu. Mata Berlian berkaca-kaca, ia tak peduli dengan Radit yang sedari tadi memanggilnya. "Woi, Ber! Kenapa lo?" Radit membuka kacamata hitamnya, terkejut melihat mata Berlian, dengan cepat gadis itu mengusapnya dengan kasar. "Gue b**o, ya, Dit?" "Iya lo b**o!" Radit mengangguk. "Udah nggak usah nangis, bikin malu gue aja." Berlian menarik napasnya, menguatkan dirinya bahwa ia tak boleh kalah. Berlian harus terus melanjutkan misinya. Berlian harus tahu hubungan Damar dengan perempuan itu. Jika memang benar Damar selingkuh, mungkin Berlian akan mundur perlahan. Setelah film selesai, Berlian terus mengikuti Damar sampai ke toko buku. Radit hanya pasrah mengikuti Berlian, meski sedari tadi cacing di perutnya tak mau diam. "Ber, gue laper." Berlian menarik tangan Radit untuk bersembunyi di balik rak novel. Berlian bisa melihat jelas Damar yang sedang asyik berbincang dengan perempuan itu sambil melihat buku-buku. "Cerita ini bagus, lho, Kak!" Reni menunjukkan buku di tangannya. "Judulnya Stay with Me," "Oh, iya? Siapa penulisnya?" "Wyffa Jessica," Damar menganggukkan kepala. "Lo mau beli?" "Udah punya," "Ini juga bagus nih, Kak. Aku suka karya-karyanya Pak Sapardi," "Kayaknya lo pecinta buku banget, ya?" Damar tersenyum melihat Reni yang asyik memilih buku. "Aku suka baca buku, Kak." Tangan Berlian mengepal, ia menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Melihat kedekatan Damar dengan Reni membuat api cemburu dalam hati Berlian membara. "Ber, lo lagi ngapain sih?" "Mending pulang aja, Ber, lo bakal sakit hati terus kalau kayak gini." "Ber, gue tahu lo patah hati. Satria sama Luna juga tadi udah larang lo buat ngikutin Damar, kan? Mereka nggak mau lo sakit hati lagi, Ber. Gue juga," "Masalahnya gue laper, Ber. Lo nggak ngasih gue makan," Radit terus mengoceh membuat Berlian menginjak kaki Radit kesal hingga lelaki itu mengaduh dan tak sengaja menabrak rak di belakangnya. s**l, buku-bukunya terjatuh membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Syal Radit ikut-ikutan jatuh. Dengan cepat Berlian mengambil syal milik Radit dan merapikan kembali buku-buku ke dalam rak. "Radit?" Radit terkejut ketika melihat Damar di hadapannya. Berlian memejamkan mata, ia memberanikan diri untuk berdiri. s**l, Berlian harus ketahuan. "Berlian?" Damar mengerutkan keningnya. "Ngapain lo berdua di sini?" Radit melirik Berlian yang kini tertawa. Radit menggaruk kepalanya, tersenyum lebar menatap Damar. "Eh, Damar." Berlian terus tertawa, entah menertawakan apa membuat Radit bingung dan terpaksa ikut tertawa. Tawa Berlian tak henti-hentinya membuat Damar semakin bingung. Beberapa pengunjung jadi memerhatikan mereka. "Kebetulan banget, ya, kita ketemu di sini?" Berlian terus memaksakan dirinya untuk tertawa, padahal hatinya kesal bukan main. "Ha ha ha, lucu banget, ya." Damar geleng-geleng kepala melihat tingkah Berlian. Gadis itu menghentikan tawanya, ia terkekeh pelan. Hambar. Kekehannya menghilang ketika Damar menarik tangan Reni untuk pergi. Berlian menghentak-hentakan kakinya membuat Radit meringis. Berlian menggeram kesal. "Gara-gara lo!" Radit menunjuk dirinya sendiri. "Kok gue?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD