Jika biasanya Damar yang akan menunggu Berlian di depan kelas untuk pulang bersama, tapi kali ini tidak lagi. Berlian terpaksa lebih dulu ke kelas Damar, menunggu cowok itu sampai keluar kelas. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti ini membuat Berlian lupa bahwa dirinya sudah tak memiliki hubungan apa pun lagi dengan Damar. Hanya sebatas mantan kekasih.
"Damar!" Berlian menghampiri Damar yang baru saja keluar kelas. Koridor dipenuhi murid-murid yang berhamburan keluar kelas, seperti kacang yang tumpah dari karungnya. "Pulang bareng, ya." pinta Berlian membuat Damar menghela napasnya.
"Ber, kita udah putus kalau lo lupa." Untuk yang ke sekian kali Damar mengingatkannya. Berlian tahu, hanya saja dirinya belum terbiasa sendiri lagi. Berlian uring-uringan, merasa kehilangan Damar. Damar yang selalu perhatian dan baik kepadanya, perlahan menjauh. Seperti ada jarak yang membentang keduanya.
"Emangnya nggak boleh kalau pulang bareng?" tanya Berlian, melipat tangannya menatap wajah Damar yang datar. Ada rasa sakit ketika wajah itu terlihat biasa saja. Tak ada lengkungan manis di bibirnya setiap kali melihat Berlian. Seperti ada yang hilang.
"Gue bukan ojek lo!" ketus Damar berlalu meninggalkan Berlian. Dengan cepat gadis itu mengejarnya agar sejajar dengan langkah Damar.
"Kok gitu?" Hanya itu yang keluar dari mulut Berlian ketika dirinya sudah berjalan di samping Damar. Lelaki itu hanya diam, menatap lurus tak ingin menoleh sedikit pun. Damar benar-benar berubah. Secepat itu Damar melupakan Berlian. Sulit dipercaya ketika melihat Damar seolah tak peduli padanya. "Damar, marah, ya?" tanya Berlian hati-hati, ia terus memerhatikan Damar dari samping.
Tak ada respons membuat Berlian menghela napas. Sikap Damar begitu dingin di mata Berlian. Damar yang ramah, yang selalu tersenyum padanya kini menjauh. Berlian belum siap kehilangan Damar. "Dulu kamu nggak pernah marah sama aku,"
Langkah Damar terhenti ketika mendengar perkataan itu keluar begitu saja dari mulut Berlian. Damar menoleh, menatap Berlian penuh pengertian. Bagaimana pun, Damar tidak bisa menunjukkan kemarahannya pada Berlian. "Itu dulu. Sekarang kita udah putus, Ber. Berapa kali gue ingetin sama lo kalau kita udah nggak ada apa-apa." Wajah Damar begitu tenang, tapi matanya menunjukkan bahwa ia sedang menahan kekesalannya.
"Kamu bohong, Damar. Dulu bilangnya nggak bakal ninggalin, tapi kamu sendiri..." Belum sempat Berlian menyelesaikan ucapannya, tapi Damar sudah memotongnya lebih dulu. Enggan mendengar apa pun lagi yang bisa saja membuat hatinya tambah terluka.
"Lo nggak seharusnya percaya sama omongan kayak gitu, Ber. Perasaan orang cepet berubahnya." tegas Damar kembali melanjutkan langkahnya. Berlian tidak tahu lagi bagaimana cara meluluhkan hati Damar kembali. Berlian hanya mengikuti lelaki itu sampai ke parkiran. Berlian melirik Damar yang masih diam. Berlian jadi takut jika Damar benar-benar marah padanya.
"Belajar pulang sendiri. Gue bukan ojek lo, Ber." ujar Damar mengeluarkan motornya. "Lo cuma butuh gue, butuh tumpangan. Nggak butuh hati gue, kan?" Seperti ada sesuatu yang menikam dadanya, Berlian merasa sesak mendengar kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Damar.
"Nggak gitu, Damar." Berlian menyentuh lengan Damar yang tertutup oleh jaket cokelat di tubuhnya. Damar tidak menepisnya, melainkan memindahkan lengan Berlian untuk tidak mencekalnya. Damar muak diperlakukan seperti ini. Damar bukan seorang malaikat yang menjelma menjadi manusia. Damar tetaplah Damar dengan segala keputusannya.
"Gue boleh minta sesuatu sama lo, Ber?" tanya Damar yang sudah duduk di atas motornya, menatap mata indah milik Berlian. Dengan senang hati Berlian mengangguk, berharap lelaki itu mengatakan sesuatu hal manis yang akan membuat mereka kembali bersama. Salahkah Berlian berharap?
"Lupain gue."
Damar menghidupkan mesin motornya. Meninggalkan Berlian yang mematung di tempatnya. Berlian seolah kehilangan kata-katanya untuk memanggil Damar kembali. Berlian hanya mampu menatap motor Damar menjauh dari hadapannya. Bagaimana bisa semudah itu Damar meminta melupakannya? Sesak rasanya ketika mendengar perkataan Damar barusan. Damar yang selalu lembut, perhatian, sopan dan mengerti Berlian, kini tak ada lagi. Bahkan Damar meminta untuk melupakannya.
"Damar!" Lamunan Berlian tersentak ketika dua orang baru saja datang tergesa-gesa. Mereka memanggil Damar yang sudah melewati gerbang sekolah. "Kebangetan si Damar ninggalin kita!" Beni terus mendumel. "Gue udah dapet pulpen banyak gini,"
Tidak usah ditanya. Bisa dipastikan kedua cowok tengil itu selalu memeriksa kolong meja teman-temannya hanya untuk mendapatkan banyak pulpen. "Ber, nggak pulang sama Damar?" Tora dengan napas terengah masih sempatnya bertanya. Padahal Beni sudah sibuk mengeluarkan motor minimalisnya. "Eh, lupa, kan udah sah jadi mantan, ya?"
Sialan. Tora benar-benar membuat hati Berlian semakin panas. Melihat Berlian melotot membuat Tora cepat-cepat naik ke motor kecil milik Beni. Kedua lelaki itu selalu menjadi pusat perhatian tawa teman-temannya, bahkan di sepanjang perjalanan. Pasalnya, motor Beni begitu antik. Motornya sangat kecil, memang cukup untuk dua orang. Namun, terlihat lucu sekali ketika Beni membonceng Tora menggunakan motornya. Ukuran motornya sangat kecil, seperti anak-anak. Tapi sepertinya harganya cukup mahal, terlihat dari wibawa motor itu. Kecil, unik, antik dan lucu. Modelan motor Harley Davidson seperti milik Damar. Hanya saja motor Beni itu minimalis.
***
Sudah satu minggu hubungan Berlian dan Damar kandas. Tentu, bukan hal yang mudah bagi Berlian melupakan seorang Damar Kanigara. Lelaki yang selalu banyak menemani dan membantunya. Berlian masih merasakan patah hati, sulit rasanya menata kembali kepingan hati yang telah rapuh. "Ber, gue gedeg banget liat muka lo akhir-akhir ini makin kusut aja, masih mode patah hati?"
Berlian melemparkan buku ke wajah Satria kesal. "Lo kira muka gue apaan kusut-kusut? Masih cakep kali,"
"Cakep sih, tapi kalau lo kayak gini cakepan juga si Selena, ikan cupang punya gue."
"Jangan samain gue sama ikan cupang dua ribu punya lo!"
"Ber, harga ikan cupang gue itu mahal. Enak aja lo bilang dua ribu." Satria jadi sewot sendiri.
"Pantesan Luna selalu nolak lo, otak lo tuh isinya cupang melulu."
Satria mendengus, menatap Luna yang tengah menyalin catatan dari papan tulis ke bukunya. "Emang iya, Lun?" tanyanya memastikan. Luna hanya mengangguk, matanya tak lepas dari buku catatan miliknya. Di antara ketiganya, Luna yang paling pintar dan pendiam. Berbeda dengan Berlian dan Satria yang selalu berisik. Satria mengusap dadanya dramatis. "Tega lo, Lun." ujarnya, tapi sedetik kemudian wajahnya kembali berseri. "Gapapa yang penting cinta gue ke Luna nggak pernah berkurang."
"Tapi gue nggak," balas Luna membuat wajah Satria kembali lesu.
"Bucin tolong minggir!" Radit berseru heboh dari kursi belakang sembari menggenggam ponselnya dan duduk di sebelah Satria.
"Apaan lo bucin-bucin?"
Radit menggulir layar ponselnya, lalu menatap Berlian tanpa menghiraukan Satria. "Ber, lo nggak mau nyoba balikan sama Damar?" Radit, teman satu kelas Berlian sekaligus sahabat terdekat Damar. Beberapa hari ini Berlian selalu mendapatkan kabar tentang Damar dari Radit. Meminta tolong Radit untuk memberikan informasi apa pun mengenai alasan Damar memutuskannya. Mungkinkah karena perempuan lain, atau hal lain yang tak pernah Berlian tahu.
"Boro-boro balikan, si Damar udah move on kali." cibir Satria membuat Berlian melotot kesal.
"Nggaklah, Damar nggak mungkin lupain gue."
"Mana buktinya?" Lagi-lagi wajah Satria terkena lemparan buku Berlian. d**a Satria naik-turun, menahan kesal dengan tingkah sahabatnya yang sedang dilanda patah hati. "Lo patah hatinya nggak lucu, Ber, sumpah." Satria mengusap wajahnya lalu membenarkan jambul kesayangannya yang hampir saja terhempas oleh lemparan Berlian.
"Dit, menurut lo Damar selingkuh nggak?" Berlian memelankan suaranya, memajukan wajah agar suaranya terdengar Radit.
"Selingkuh sama siapa?"
"Gue nanya karena gue nggak tahu. Kok lo malah tanya balik sih?!"
"Mana gue tahu," Radit mengangkat bahunya.
"Lo kan sahabatnya,"
Radit kembali sibuk dengan ponselnya, tak menghiraukan ucapan Berlian barusan. "Bentar, gue lagi chatan sama Damar,"
"Nanyain gue nggak?" tanya Berlian penasaran, ia terlalu percaya diri bahwa Damar menanyakannya.
"Geer amat, Bu." celetuk Satria membuat Berlian melayangkan tatapan tajamnya.
"Damar nanyain gue nggak?" tanya Berlian lagi.
"Nggak."
"Coba gue liat?"
"Mau ngapain?"
"Liat hape lo, Dit. Cepetan!"
"Nggak mau! Lo kalau mau chatan sama si Damar pake hape lo aja."
Berlian berdecak, ia merebut ponsel Radit dengan paksa. Matanya membulat sempurna ketika ia membaca balasan pesan yang dikirimkan Damar kepada Radit. "Dit, Damar sama cewek lain?"
***