Pasar Malam

1113 Words

Usai ke makam Permata, Damar jadi terlihat sedih membuat Berlian merasa tidak enak dengan lelaki itu. Damar jadi lebih banyak diam dengan tatapan kosong. Lelaki itu sedari tadi hanya mengaduk bakso di hadapannya membuat Berlian menghela napas. "Permata ... berarti di hidup lo ya?" tanya Berlian hati-hati. Entah mengapa, dari banyaknya pertanyaan di kepala Berlian justru pertanyaan itu yang keluar setelah melihat sorot sedih mata Damar. Damar menatap Berlian, cukup lama ia terdiam hingga akhirnya mengangguk. Entah, ada rasa sesak ketika Damar mengakui semua perasaannya kepada Berlian mengenai Permata. Namun, Berlian juga sadar bahwa ia bahkan tidak berhak untuk marah karena Permata orang pertama yang hadir dalam hidup Damar, bukan dirinya. "Lo masih suka sama Permata?" tanya Berlian lagi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD