Alasan

1081 Words

Mata Berlian tak lepas dari pusara di hadapannya. Terdiam untuk beberapa saat berusaha mencerna apa yang sedang ia lihat saat ini. Berlian menoleh kepada lelaki yang kini berada di sebelahnya. Lelaki itu hanya diam saja, menatap batu nisan di hadapannya setelah meletakkan buket bunga di pusara. "Damar," Berlian memanggil lelaki di sebelahnya yang masih diam. Dia tidak menyangka Damar akan membawanya ke tempat pemakaman. "Lo mau ketemu Permata 'kan?" tanya Damar, ia merendahkan tubuhnya mengusap batu nisan di depannya. Melihat hal itu Berlian ikut merendahkan tubuhnya di sebelah Damar. Berlian tidak menjawab, matanya beralih membaca nama di batu nisan bertuliskan nama Permata Andara. Lalu menoleh lagi pada Damar seolah meminta penjelasan kepada lelaki itu. "Ini tempat Permata kalau lo m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD