Juan menghilang dalam keramaian. Tak terendus oleh orang-orang yang hendak mencarinya. Semua orang ramai-ramai mencarinya. Kewaspadaan di tingkatkan, terutama bagi kelompok The Son of Lucifer. Anggota mereka ditemukan tewas. Mereka perlu waspada, orang yang mereka cari kini balik mencari mereka.
Bahaya itu kian nyata, datang dengan penuh amarah. Bukti kematian dua anggota secara sadis, menjadi pertanda. Singa itu kini tengah marah. Siap menerkam siapa saja yang menghadangnya. Sementara itu, Juan meihat orang-orang berlarian bersembunyi. Suara motor dan mobil berkeliaran membuat bising jalanan kota. Mereka menghindari amukan dari para mafia yang menyerang secara membabi buta.
Polisi tak bisa bertindak apa pun. Kota itu dikuasai oleh mafia. Mereka hanya bisa tunduk dan melihat mafia berkuasa. Menjadikan kota tersebut mencekam. Juan dengan santai terus berjalan. Ia mencari tempat untuknya berlindung dan menetap sementara waktu. Ia tak mungkin kembali ke tempatnya dulu, El-Chapo pasti akan menuju ke sana. Membawa kekuata penuh.
“Pertunjukkan dimulai. Silahkan cari aku sampai dapat, aku tidak akan semudah itu kalian temukan,” gumam Juan sambil berjalan.
Juan menemukan sebuah bangunan kota tak jauh dari pusat kota. Bangunan tampak sudah lama tak ditinggali. Menjadikan tempat tersebut seolah menjadi tempat yang tepat untuknya. Bersembunyi sementara waktu dari kejaran kelompok The Son of Lucifer.
Poster-poster dipasang pada tiap-tiap bangunan. Tembok dan jalan-jalan yang memungkinkan dipajang poster, telah dipenuhi poster tentang Juan. Juan seolah jadi buronan yang sangat amat berharga. Semua orang berlomba-lomba untuk mencari dan menangkapnya. Memperebutkan hadiah yang tak sedikit jumlahnya.
Tepat sebelum memasuki bangunan itu, Juan mendadak dihampiri seorang pria. Orang tersebut lalu mendekati Juan. Juan bersiap, takut serangan dadakan dilakukan pria itu padanya.
“Hai, kau! Kau mau ke mana?” tanya pria itu sambil berjalan menghampiri Juan.
“Ada apa? Ada sesuatu?” balas Juan dengan tenang.
“Ini, aku ingin memberikan ini padamu. Kau harus berhati-hati pada orang ini. Jika kau menemukan dia, segera kabari aku. Nanti hasilnya kita bagi dua,” ujar pria tersebut sembari menyerahkan poster kepada Juan.
Juan melihat poster yang terpampang wajahnya. Bertuliskan dicari, lengkap dengan ciri-ciri fisik yang dimiliki Juan. Tak lupa terdapat nominal hadiah yang diberikan. Juan hanya melihat dengan serius.
“Kau tampak seperti orang baru. Kau baru di kota in?” tanya pria itu yang mulai curiga dengan Juan.
“Iya, aku baru datang. Baru saja pindah ke kota ini. Ada apa?”
“Kalau begitu, lebih baik kau hati-hati. Tetaplah di rumahmu sampai semuanya aman. Jaga dirimu baik-baik. Aku harus pergi!” ujar pria itu lalu pergi meninggalkan Juan.
Juan melepaskannya pergi, tak memberikannya pelajaran. Ia lalu masuk ke dalam bangunan kosong itu. Sebelum ada orang lain yang melihat dirinya masuk. Khawatir akan menjadi masalah baru untuknya bila sampai ada orang yang melihat persembunyiannya.
Ia akan menetap dalam waktu yang cukup lama di sana. Sampai ia punya tujuan ke mana hendak dia akan menetap. Tinggal untuk meneruskan hidup, membalaskan dendam dari semua yang telah menimpanya. Malam pun tiba, suara bising kota terdengar hingga bangunan tempat Juan berlindung. Kota ini seolah tak pernah tidur. Tak ada waktu bagi kota ini untuk beristirahat sejenak.
Perut Juan mulai lapar, ia harus segera mengisi perutnya yang kosong. Meski resiko berat yang harus ia ambil, Juan memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Mencari beberapa stok makanan untuk ia makan malam ini dan untuk persediaannya beberapa hari ke depan. Dengan sega;a persiapan dan perhitungan yang matang, Juan pun melangkah keluar.
Rasa lapar yang menyerang membuatnya tak punya pillihan. Ia berjalan dengan penuh waspada. Ia keluar tanpa ada seorang pun yang melihatnya. Dengan melakukan penyamaran, Juan berjalan memasuki keramaian kota. Hingga langkahnya mendadak terhenti setelah ada seseorang yang menegurnya.
Ia terus mengikuti Juan hingga dirinya masuk ke gang sempit. Pria tersebut mengenali Juan yang sebelumnya berada di tempat ketika anggota The Son of Lucifer tewas. Juan dimintanya berhenti, ia pun menurutinya. Pria itu kemudian berjalan mendekati Juan untuk memastikan identitasnya.
“Aku kenal dirimu! Kau yang tadi ada di tempat kejadian dan keluar tepat beberapa waktu setelah ada insiden di dalam kamar mandi. Siapa sebenarnya dirimu?” tanya pria itu sembari berjalan mendekat. Begitu tepat di depan Juan, tangannya hendak menyingkap penutup wajah milik Juan.
Juan segera mencekik pria itu tepat setelah ia berhasil melihat wajahnya Juan. Pria itu terkejut begitu tahu kalau orang yang ia tegur ternyata Juan.
“Juan?! Jadi kau pelakunya?! Dan kau masih hidup?! Takkan kubiarkan kau pergi dengan selamat!” ujar pria itu dengan kepayahan karena lehernya yang dicekik Juan.
Pertarungan di antara keduanya pun tak terhindarkan. Pria itu berusaha keras melepas tangan Juan dari lehernya. Ia mencoba menyarangkan tendangan ke arah perut dari Juan. Juan menghindarinya, tapi mengakibatkan cengkramannya lepas. Pria itu kemudian terlepas dari posisi sebelumnya.
Bukannya lari mencari bantuan begitu sudah lepas dari Juan. Pria itu justru nekat meneruskan pertarungan dengan Juan. Ia menantang Juan seolah merasa dirinya adalah lawan yang seimbang untuk Juan. Pria itu kemudian mengambil posisi siap untuk menyerang. Juan terpukau dengan keberanian pria itu. Ia merasa tertantang karena pria itu berani untuk meladeninya.
Pria itu kemudian memulai kembali serangan. Pukulan bertubi-tubi secara sporadis pun dilancarkan. Juan dengan santai mengelak setiap pukulan yang diarahkan kepadanya. Kesal karena setiap pukulannya dihindari, pria itu kemudian mengambil benda yang ada di sekitarnya. Benda tumpul itu kemudian di arahkan untuk memukul Juan.
Juan kali ini tak menghindar, ia dengan sengaja menaruh kepalanya untuk beradu dengan benda tumpul milik si pria. Alhasil kepala Juan pun beradu dengan benda tumpul tersebut. Membuahkan suara yang cukup keras dan benda tumpul itu pun terbelah menjadi dua bagian. Pria itu terkejut melihatnya sedangkan, Juan tak merasakan sakit sedikit pun. Ia masih bisa tersenyum setelahnya. Sebagai tanda kalau pria itu akan segera tamat.
Juan akan segera menyelesaikan permainannya. Pria itu tak punya pilihan lagi. Ia sadar, bukan lawan yang seimbang untuk Juan. Satu-satunya jalan adalah kabur melarikan diri. Ia kemudian segera berlari menjauh dari Juan. Tapi Juan tak membiarkan pria itu pergi begitu saja. Ia langsung menarik baju dari pria itu. Memberikan pukulan keras langsung ke arah wajahnya.
Pria itu langsung tersungkur. Juan melanjutkan aksinya, ia mendekati pria itu. Pria itu kemudian meminta belas kasihan Juan untuk melepaskannya. Dalam keadaan sudah terdesak dan mulut yang mengeluarkan darah. Pria itu terus memohon untuk dilepaskan Juan. Juan dengan santainya duduk di atas d**a pria itu.
“Kau? Minta pengampunan dariku? Setelah kau mencoba membunuhku? Kau ini malaikat atau iblis? Ku beri tahu satu hal padamu, ya. Kalau kau memang ingin membunuhku. Bunuh saja! Jangan seperti ini. Sayang sekali, ya, aku kira kau cukup sepadan untuk meladeniku. Ternyata aku salah.”
Juan lalu memutar kepala pria itu. Membuatnya mati seketika. Juan kemudian menanggalkan pakaiannya dan menukarnya dengan yang dikenakan pria itu. Sebab, ia identitasnya sekarang pasti sudah mulai diketehaui orang. Setelah berhasil menukar pakaiannya, Juan kemudian berjalan pergi meninggalkan jasad pria itu di sana.
Bersambung