Bus Putus Asa

1163 Words
Juan berjalan dari Lorong gelap menuju ke arah sebuah minimarket. Ia masuk ke dalam minimarket tersebut untuk mencari persediaan. Begitu ia masuk, ia melihat-lihat barang-barang yang memungkinkan untuknya bawa kembali ke tempat persediaan. Ia memasukkan tiap barang ke dalam keranjang bawaan. Ia memasukkan kaleng berisi makanan kemudian memasukkan beberapa kaleng minuman bersoda. Tak lupa ia juga memasukkan beberapa bungkus rokok untuk ia hisap. Ketika ia sedang sibuk memilih-miliih barang, ia merasakan aura kejahatan berada di dekatnya. Dugaannya mengarah kepada seorang pria yang tengah melihat-lihat barang sama sepertinya. Awalnya pria tersebut tak menujukkan gelagat yang mencurigakan. Juan pun mencoba menepis kecurigaannya. Hingga akhirnya, pria itu menyelipkan beberapa barang ke dalam pakaiannya. Mencoba menyembunyikannya agar tak ketahuan oleh penjaga minimarket. Pria itu pencuri yang kerap melakukan aksinya di tempat-tempat perbelanjaan. Juan yang melihat aksi dari orang tersebut, tak berniat ingin menegur aksinya atau meneriakinya agar petugas minimarket datang dan mengamankannya. Ia memilih untuk pura-pura tidak tahu dengan aksi yang dilakukan pria tersebut. Alhasil, pria itu lebih leluasa lagi dalam menjalankan aksinya. Tak berselang lama, Juan selesai dengan persediaan yang sudah ia masukkan ke keranjang. Ia pun berjalan ke meja kasir untuk membayar barang belanjaannya. Begitu tengah berbaris di antara para pengunjung yang antre, tiba-tiba terdengar dari arah lorong minimarket seseorang berteriak. Teriakannya sangat keras hingga membuat seisi minimarket terkejut. “Pencuri! Pencuri! Jangan biarkan dia pergi!” teriak seseorang diiringi pria yang tadi Juan lihat, tengah berlari hendak keluar dari minimarket. Para pembeli yang tengah antre pun seketika sigap mengejar pencuri tersebut. Membuat antrean menjadi kosong. Hanya tinggal Juan yang tetap berdiri tak mengejar pencuri tersebut. Malang nasib pencuri tersebut, ia terkepung hingga membuatnya dihajar massa yang berada di dalam minimarket. Massa yang ikut geram, memukuli pencuri itu dengan sadis hingga teriakan minta ampun dari pencuri itu terdengar. Juan hanya menoleh sebentar ke arah kerumunan massa yang sedang memukuli pencuri. Lalu mengembalikan pandangannya ke arah meja kasir yang kosong. Juan yang tak sabar menunggu pun akhirnya memutuskan untuk pergi begitu saja membawa persediaaannya. Ia memasukkan semua belanjaannya ke dalam sebuah kantong plastik besar. Tak ada yang mengetahui aksinya, ia berjalan keluar seolah-olah sudah membayar semua barang belanjaannya. Ia mengeluarkan kaleng minuman bersoda. Membukanya lalu meminumnya. Berjalan keluar minimarket sambil menggenggam minuman bersoda di tangan kanannya sementara membawa barang belanjaan di tangan yang satunya. Di sepanjang perjalanan, Juan melihat keadaan kota yang penuh hingar bingar dengan hiburan malam. Banyak tempat-tempat hiburan malam yang buka dengan segala kelebihan yang mereka tawarkan agar orang-orang tertarik untuk datang. Juan berhenti di sebuah halte bus lalu duduk di sana. Ia hendak menikmati minuman bersoda yang dibelinya sambil melihat pemandangan kota di malam hari. Lalu-lalang orang tak terlalu ia perdulikan, ia hanya fokus menikmati minumannya. Juan mengambil sebungkus rokok dari dalam kantong plastik. Ia hendak membakar satu batang. Ia mengeluarkan satu batang rokok dari dalam bungkusnya. Begitu hendak menyalakannya, seseorang tampak menghampirinya. Pria tersebut tampak seperti gelandangan yang ingin meminta rokok dari Juan. Ekspresi memelas ditunjukkan pria tersebut. Sambil tangannya menengadah seolah meminta rokok yang dimiliki oleh Juan. Juan hanya menatap dingin ke arah orang tersebut. Ia sibuk mencari koreknya. Satu per satu kantongnya ia periksa, tapi tak jua menemukan koreknya. Ia baru ingat kalau korek yang ia miliki tertinggal di jaket yang sebelumnya ia lepas. Kesal tak menemukan koreknya, Juan lantas mengurungkan niatnya untuk merokok. Baru hendak memasukkan kembali rokok ke dalam bungkusnya. Orang yang meminta rokoknya Juan, ia terlihat mengeluarkan korek dari sakunya. Pria tersebut menyalakan korek tepat di samping Juan. Sambil meledek Juan agar mau membagi beberapa batang rokok padanya. “Aku memiliki apa yang tidak kau miliki. Itu sih, terserah padamu saja. Berikan aku beberapa batang dan aku dengan senang hati akan membantumu menyalakannya, bagaimana?” ujar pria itu. Juan tak bergeming mendengar perkataan pria tersebut. Ia tetap memasukkan batang rokok itu ke dalam bungkusnya. Pria tadi tak menyerah begitu saja. Ia terus meledek Juan dan membuat keinginan merokoknya semakin kuat. Juan yang tak tahan terus digoda, lantas berjalan mendekati pria tersebut. Ia hendak mengambil paksa korek dari pria itu. Pria itu kemudian terpojok di tepi halte. Juan dengan wajah datar mendatanginya. Pria tersebut ketakutan dibuatnya. Ia kemudian dengan pasrah memberikan korek tersebut pada Juan. Juan kemudian mengambilnya. Kembali ia keluarkan satu batang rokok lalu hendak dinyalakannya. Begitu hendak ia nyalakan, korek tersebut macet. Beberapa kali ia coba nyalakan tapi tetap saja tidak bisa. Juan jengkel merasa dikerjai oleh pria itu. Ia kemudian menatap dengan tatapan penuh kekesalan ke arah pria tadi. Pria itu menyeringai ketika melihat Juan kesal. “Aku sudah katakana padamu. Berikan aku beberapa batang dan aku akan membantumu menyalakannya. Korek ini hanya mau dinyalakan oleh pemiliknya. Kalau kau masih mau merokok, berikan padaku beberapa,” ujar pria tersebut. Juan kepalang kesal, rokok sudah ia gantungkan di mulut. Tak bisa ia masukkan lagi ke dalam bungkusnya. Merasa sudah dipermainkan, Juan lalu mengeluarkan beberapa batang rokok dan memberikannya pada pria tersebut. Pria itu sambil tersenyum menerima pemberian dari Juan. Pria itu lalu meminta korek yang dipegang dari Juan untuk menepati janjinya. Korek itu pun berhasil menyala mengeluarkan api. Sesuai dengan perkataan pria tersebut. Juan kemudian hendak mengambil lagi korek itu, tapi ditahan oleh si pria. Pria itu menggunakan gesture menyuruh Juan yang mendekati apinya dan bukan mengambil koreknya. Juan pun menurutinya, ia mendekatkan rokoknya pada api yang menyala hingga akhirnya ia berhasil. Juan kemudian berjalan ke sisi lain halte. Membuatnya duduk berjarak dengan pria tersebut. Ia dan pria itu sama-sama merokok di kedua sisi halte. Juan di sisi ujung sedang si pria di ujung yang lain. Membuat ada ruang kosong di tengah-tengah bangku halte. “Kau sepertinya orang baru? Aku baru melihatmu di sini,” ujar pria tersebut mencoba mengajak Juan berbicara. Juan bungkam, tak menyahut. Hanya asap yang keluar dari mulutnya. Pria tersebut tak menyerah, ia kembali mengajak Juan untuk berbicara. “Mungkin kau di antara orang-orang aneh di kota ini. Tak mau bicara padaku? Tak apa, mungkin kau memiliki keanehan tersendiri. Santai saja, kau nanti akan terbiasa dengan suasana di tempat ini,” kata pria tersebut. Juan tetap saja diam. Tak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Membuat pria itu juga berhenti sejenak untuk berbicara. Hingga tiba sebuah bus yang berhenti di halte tersebut. Bus itu kemudian membuka pintunya, mengira kalau Juan dan si pria adalah penumpang yang akan naik. Akan tetapi, mereka berdua sama-sama diam tak berjalan masuk. Membuat bus tersebut menutup kembali pintunya dan berlalu pergi. Awalnya Juan menganggap bus itu bus yang biasa pada umumnya. Hingga pria itu berkata padanya tentang bus itu. Barulah ia menyadari satu hal. “Heran, ya? Kenapa ada bus yang beroperasi malam begini. Padahal, di kota ini. Bus yang beroperasi hanya sampai sore saja. Mereka tak akan mau beroperasi pada malam hari karena tahu bahayanya. Tapi berbeda dengan bus itu. Orang-orang menyebutnya dengan bus putus asa,” kata pria itu. Juan baru menyadari tepat setelah pria tersebut mengatakannya. Hingga tanpa ia sadari, dirinya mengeluarkan beberapa patah kata menyahut apa yang dikatakan pria tersebut. “Bus putus asa? Apa maksudmu?” tanya Juan Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD