Pria Aneh

1173 Words
  Juan bertanya dengan wajah penasaran. Pria yang berbicara tadi seketika bungkam. Ia seolah berhasil memancing rasa ingin tahu Juan. Dengan begitu Juan masuk ke dalam permainannya. Juan yang sudah terlanjur penasaran pun kembali bertanya dan mendesak si pria untuk menjawab, tapi tetap saja ia bungkam. Barulah ketika Juan hendak melakukan tindak kekerasan padanya, pria itu mulai bersuara. Menghentikan sejenak tangan Juan yang akan segera melayang ke arah wajahnya. “Kalau kau ingin tahu sesuatu, bukan begini caranya. Ada syarat yang harus kau penuhi jika ingin mendapatkan informasi dari yang kuberikan,” ujar pria itu memberikan syarat. “Kau ingin kuberi pelajaran, ya?! Ingin main-main denganku?!” tangan Juan mengepal, tak sabar ingin segera memukul pria itu. “Kalau kau ingin memukulku, silahkan saja. Tapi kau tidak akan mendapatkan informasi apa pun dariku. Terserah padamu! Kau ingin mendapatkan informasi atau hanya sekedar meluapkan kekesalanmu padaku. Keputusan ada ditanganmu,” ujar pria itu dengan tenang. Juan mennghela nafas, matanya terpejam sejenak. Berusaha untuk meredakan emosinya. Agar, ia bisa berpikir dengan jernih dan membuat sebuah keputusan yang tak merugikan baginya. Setelah dirasa dirinya sudah agak tenang, barulah Juan berbicara dan memutuskan. “Baiklah, apa syaratnya?” tanya Juan. “Kau yakin akan memenuhi syaratnya? Kalau kau tidak mau memenuhi syaratnya karena tidak sanggup, ya, tidak apa-apa. Aku tidak memaksamu untuk itu.” Pria itu benar-benar mempermainkan Juan. Ia menarik ulur Juan, seolah Juan adalah permainan baginya. Sementara Juan, dia sedang berjuang untuk menahan sebisa mungkin emosinya sampai ia mendapatkan informasi dan segala rasa penasarannya terjawab. “Kenapa dengan wajahmu? Kau tak sanggup? Kalau merasa tak menyanggupinya. Ya, sudah. Aku tidak memaksamu.” “Katakan saja apa syaratnya. Jika aku bisa memenuhinya pasti akan aku berikan,” kata Juan sambil menahan marah. “Baiklah jika kau memaksaku. Berikan aku beberapa batang rokok lagi. Setiap aku memberikan informasi, kau harus membayarnya dengan satu batang rokok. Jika kau keberatan dengan hal itu ya sudah. Aku tidak memaksamu,” kata pria itu memberitahu Juan tentang syaratnya. Mendengar syarat yang diberikan oleh pria itu Juan tampak semakin kesal. Ia langsung meraih kerah baju pria itu. Mendorongnya ke pojok halte dan mengangkatnya. Hingga kaki pria itu tak lagi menapak ke tanah. Pria itu pun panik, ia mulai merasakan kesulitan bernafas. Rokok yang sebelumnya ia genggam pun terlepas. “Berani kau mempermainkanku?! Kau ingin ku habisi, ya?!” bentak Juan sambil tangannya bersiap memukul. Pria itu mencoba melepaskan diri dari Juan. Sebisa mungkin ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Juan. Tangannya Juan mencekiknya dengan sangat kencang. Ia mulai kesulitan untuk bernafas. Dalam keadaan yang hampir tak bisa bernafas, pria itu mencoba bernegosiasi dengan Juan. “Aku tidak memaksamu. Kau bisa mengerti dengan jelas apa yang aku katakan. Jika kau tak ingin mendapatkan informasi dariku aku tidak memaksamu. Kau bisa pergi meninggalkanku dan mencari informasi lain dari orang lain. Kumohon lepaskan aku. Aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu,” kata pria itu dengan nafas yang terengah-engah. Juan lalu melayangkan pukulannya dengan keras. Pria itu memejamkan matanya pasrah menerima pukulan. Akan tetapi, pria itu merasakan ada yang aneh. Ia tak merasakan rasa sakit. Begitu ia membuka matanya perlahan, ternyata Juan memukul tepat di samping wajah pria itu. Membuatnya tak merasakan sakit. Pria itu lantas diturunkan oleh Juan. Juan menarik tangannya dari sebelumnya mencekik pria itu. Si pria merasa lega, ia bisa lepas dari cengkraman kemarahan Juan. Juan kemudian mengeluarkan barang yang menjadi syarat informasi akan diberikan. Ia melemparkan satu batang ke arah pria itu dan memintanya untuk mulai bercerita. “Sekarang, katakan semua yang kau tahu tentang bus itu dan ke mana tujuan dari bus itu pergi,” ujar Juan sembari melemparkan satu batang. “Baiklah aku akan bercerita. Jadi, bus itu adalah bus yang menjadi satu-satunya bus yang beroperasi di atas jam normal. Bus itu hanya melayani rute menuju sebuah kota. Di mana kota tersebut dihiasi oleh orang-orang yang sudah tak memiliki semangat untuk hidup. Sebagian orang mengatakan demikian, tapi sebagian yang lain justru menemukan hidupnya yang baru dari sana. Menjadikan tempat tersebut seolah memiliki dua sisi yang berbeda. Tergantung ke personal masing-masing. Bagaimana mereka menyikapinya dan mencoba bertahan hidup di sana.” “Kapan bus itu ada? Hanya malam hari begini?” “Iya, tapi kadang-kadang bus itu ada di sore hari atau di pagi hari. Tergantung kapan sang sopir ingin menjalankan busnya. Tak ada aturan rute dan jadwal keberangkatan. Kau tak bisa menebak kapan bus itu akan tiba, tapi rata-rata bus itu berjalan pada malam hari.” Pria itu kemudian terdiam diikuti oleh Juan. Juan memikirkan pertanyaan berikutnya yang ia ajukan pada pria itu.  Setelah mendapatkan pertanyaannya, Juan pun kembali bertanya pada pria itu. “Kau pernah ke kota itu?” tanya Juan. Pria itu bungkam tak menjawab. Ia diam seolah jatahnya memberikan informasi sudah penuh. Juan harus memberikannya beberapa batang lagi agar ia kembali berbicara dan memberikan informasi. Juan yang baru menyadarinya lalu memberikan pria itu satu batang lagi. Barulah pria itu mulai kembali berbicara. “Aku pernah ke kota itu,” jawab pria itu dengan cepat. “Oh ya? Kapan? Bagaimana gambaran di kota itu? Siapa saja yang tinggal di kota itu?” tanya Juan semakin penasaran. Lagi-lagi pria itu bungkam. Juan kembali kesal dibuatnya. Ia lalu mengeluarkan beberapa batang yang tersisa lalu memberikan semuanya pada pria itu. Agar, pria itu menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Juan. “Ini! Ambil semuanya! Sekarang cepatlah jawab pertanyaanku!” desak Juan. “Beberapa tahun atau mungkin bulan aku lupa. Aku pernah mengunjungi kota itu. Kondisinya sama seperti kota pada umumnya. Hanya saja tingkat kejahatan di sana lebih tinggi ketimbang di sini. Kota tersebut dihuni oleh orang-orang yang tak punya harapan dan orang-orang yang baru menemukan harapannya kembali setelah di kota itu. Termasuk aku yang berhasil menemukan kembali harapan hidup setelah tinggal di kota itu dalam beberapa waktu lamanya.” “Baiklah kalau begitu. Aku sudah mendapatkan semua jawaban yang ingin ku dengar darimu. Jika aku ingin bertanya lagi, aku akan bertanya padamu.” “Tanya saja, aku akan menjawabnya. Tapi jangan lupakan syaratnya. Ada syarat yang kau penuhi akan ada jawaban yang kau dapat.” Juan hanya mengangguk lalu berjalan pergi dari halte meninggalkan pria itu. Dirinya hendak kembali menuju kembali ke tempat persembunyiannya. Ia ingin memikirkan matang-matang tentag kota tersebut. Ia ingin menjadikan tempat tersebut pilihan selanjutnya berlabuh jika kota ini sudah tak aman baginya. Beberapa langkah ia melangkah, Juan kembali menoleh ke arah halte. Ia tiba-tiba terkejut begitu melihat ke arah halte. Pria yang sebelumnya ia ajak bicara, kini telah tiada. Pria itu seolah-olah memiliki kemampuan untuk menghilang. Dalam waktu sekejap sudah tak terlihat. Juan merasa aneh, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak berselang lama tiba-tiba ada bus yang berlalu di sampingnya. Juan menoleh ke arah bus, membaca rute bus tersebut pergi. Ia membaca nama sebuah kota yang agak samar-samar. Bus putus asa yang lalu di sampingnya. Begitu ia melihat ke arah bus, ia melihat pria yang diajaknya bicara tengah duduk di dalamnya. Sambil memberikan gesture seolah memberi hormat pada Juan. Bus itu pun pergi meninggalkan Juan yang terperangah. Terdiam seketika tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.                Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD