Juan yang terdiam sejenak, akhirnya sadar dan melanjutkan langkahnya. Sembari menggelengkan kepalanya tanda tak percaya. Ia berjalan kembali menuju ke persembunyiannya. Ia terus memikirkan tentang kota itu. Ingin pindah ke kota tersebut dan memulai hidupnya yang baru.
Kakinya terus melangkah sambil terus berpikir. Hingga tak terasa ia sudah tiba di depan persembunyiannya. Tersadar begitu sudah di depan tempat persembunyiannya, Juan kemudian memerhatikan sekitar. Memeriksa dan memastikan tidak ada orang yang mengikutinya sebelum ia masuk ke dalam. Begitu sudah dipastikan aman, barulah ia masuk ke dalam bangunan itu.
Bangunan yang tampak tak berpenghuni dari luar tersebut ternyata masih memiliki beberapa benda yang bisa Juan gunakan. Salah satunya adalah sebuah meja dan sofa panjang. Kondisinya sudah tak terlalu layak pakai, tapi sudah cukup untuk dijadikan Juan sebagai tempat untuk tidur.
Juan meletakkan barang-barang yang ia beli dari minimarket di atas meja. Meja tersebut kemudian ia tarik hingga mendekati sofa. Ia lalu mengeluarkan beberapa makanan ringan dan beberapa botol kaleng minuman bersoda. Ia membuka kaleng minuman bersoda dan meminumnya.
Ia mencoba bersantai dengan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Ruangan dalam bangunan yang gelap tak membuatnya merasa takut. Ia justru merasa nyaman dengan kondisi yang gelap dan sunyi seperti ini. Juan mengeluarkan satu bungkus cerutu yang ia beli kemudian mulai membakarnya. Menghisapnya perlahan lalu membuang asapnya hingga memenuhi seisi ruangan.
Setelah menghabiskan beberapa kaleng minuman bersoda dan memakan beberapa makanan ringan. Rasa kantuk mulai menghantui Juan. Matanya mulai sayup-sayup ingin segera terpejam. Sekuat tenaga Juan ingin tetap terjaga dan mengusir rasa kantuk tersebut. Tapi tubuhnya yang lelah meminta Juan untuk mengalah. Juan kemudian membuat posisi ternyaman sebelum tidur. Ia pun akhirnya tertidur.
Dalam tidurnya, Juan bermimpi tentang kejadian tempo hari. Peristiwa ketika ia kehilangan Marco adiknya. Dalam mimpinya, ia benar-benar seperti kembali pada kejadian itu. Perasaannya, kesedihannya, dan amarahnya bercampur jadi satu. Hingga ketika mimpinya benar-benar memperlihatkan kejadian ketika markasnya terbakar dan Marco terjebak di dalamnya.
Juan dipaksa melihat kembali hal tersebut. Hingga ia berteriak keras memanggil nama Marco dan berharap kali ini Marco akan selamat.
“Marco! Marco! Aku akan menyelamatkanmu!” teriak Juan seketika bangun dari tidurnya.
Cahaya mentari menembus ke dalam bangunan tersebut. Masuk dari celah-celah dan menyinari ruangan tersebut. Juan terbangun begitu mentari sudah agak meninggi. Nafasnya tak beraturan seiring sadarnya ia dari mimpi.
“Syukurlah hanya mimpi. Aku tak menyangka akan bermimpi hal ini. Maafkan aku Marco. Maafkan aku,” gumam Juan mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Dirinya kemudian menyandarkan diri pada sofa. Mencoba membuat dirinya tenang dengan meminum minuman bersoda. Keringat mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya. Keningnya diselimuti oleh peluh, hatinya masih berdebar, sedang jantungnya berdegup kencang. Butuh beberapa menit baginya untuk benar-benar bisa menenangkan diri.
Waktu terus berjalan, mentari pun kian meninggi. Sedangkan Juan, masih terduduk termenung di sofa. Masih tak bisa menerima kejadian yang menimpanya di dalam mimpi. Mimpi yang ia alami cukup berimbas padanya. Pikirannya terus saja memikirkan kesalahannya.
Pada akhirnya, rasa lapar yang membuatnya berhenti untuk merenung. Menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Marco untuk selamanya. Juan kemudian memutuskan untuk beranjak pergi mencari makan. Persediaan makan yang ia beli sudah habis. Ia tak memiliki apapun lagi untuk dimakan.
Persiapan segera ia lakukan sebelum keluar. Ia kembali harus menyamar agar tak dikenali oleh orang. Begitu sudah merasa yakin dengan penyamarannya, ia pun keluar dari bangunan tersebut. Baru keluar dari bangunan itu, ia sudah dikejutkan dengan poster wajahnya yang terpampang di tembok. Bertuliskan dicari lengkap dengan ciri-ciri dirinya dan imbalan bagi siapa yang berhasil menemukan.
Juan lantas mencopot poster tersebut dan merobeknya. Ia tak suka melihat dirinya berada di poster tersebut. Menurutnya, ciri-ciri yang tertera tak sesuai dengan dirinya. Juan berjalan menuju ke supermarket. Ia berniat mencari persediaan makanan dalam jumlah yang cukup banyak.
Sebelum tiba ke supermarket, ia melihat ada sebuah pakaian yang berada di jemuran. Seketika ada ide untuk mengambil pakaian itu. Untuk membantunya dalam menyembunyikan identitas diri. Pikiranya jika, mengenakan pakaian yang sama terus menerus ia akan mudah dikenali cepat atau lambat. Untuk itu ia harus memiliki cadangan pakaian untuknya menyamar.
Juan pun mengambil beberapa stel pakaian yang terjemur. Setelah melihat kondisi aman tentunya. Ia melipat pakaian itu kemudian memasukkannya di dalam jaketnya. Ia membuatnya sedemikian rapi agar tak terlalu mencurigakan. Jangan sampai menarik perhatian orang-orang yang berada di supermarket.
Ia pun tiba di supermarket dan segera memulai perburuannya. Dengan teliti ia melihat satu per satu makanan yang bisa ia amankan. Juan harus melihat situasi agar bisa membaw pergi makanan itu tanpa diketahui oleh orang-orang dan penjaga supermarket khususnya. Nasib baik seolah tak henti berpihak pada Juan yang kelaparan, ia bisa keluar dari supermarket dalam keadaan aman. Tak ada yang mengetahui aksi pencurian yang ia lakukan.
Dirinya keluar sambil menenteng kantong plastik. Seolah-olah seperti orang yang habis berbelanja. Ia berjalan dengan tenang hingga langkahnya kembali berhenti di halte bus yang kemarin. Juan mengeluarkan minuman bersoda dan tak lupa menyalakan cerutu miliknya. Sambil melihat lalu-lalang orang dan kendaraan. Juan mencoba menunggu kedatangan Bus yang memiliki rute ke sebuah kota.
Sudah lumayan lama sejak ia tiba di halte bus, tapi tak kunjung melihat kedatangan bus putus asa. Meski begitu, Juan sama sekali tak berniat beranjak pergi dari tempat tersebut hingga matahari perlahan terbenam. Menghabiskan beberapa batang cerutu dan beberapa kaleng minuman bersoda, Juan tetap memutuskan untuk bertahan sampai bus tersebut tiba.
Beberapa menit berselang, bus tak kunjung datang. Juan mulai berpikir kalau bus itu tidak akan datang hari ini. Ia mulai berpikir untuk beranjak pergi. Sayangnya, sebelum ia pergi, Juan kedatangan tamu tak diundang. Pria yang kemarin meminta banyak batang rokok darinya kembali hadir.
Juan ingin segera pergi, meninggalkan pria tersebut. Ia tak ingin kembali jadi sasaran si pria yang menghabiskan banyak rokok yang Juan beli. Pria itu menyadari gelagat Juan yang hendak pergi darinya. Ia lantas segera melancarkan aksinya agar Juan mengurungkan niatnya pergi.
“Kau sepertinya sedang menunggu sesuatu, ya? Biar kutebak! Kau menunggu bus putus asa lewat, kan? Kau ingin menaiki bus tersebut?” ujar pria itu langsung mengajukan pertanyaan.
Juan tak bergeming, memilih bungkam tak menjawab. Pria itu berhasil menghadirkan rasa penasaran kembali dalam diri Juan. Juan mencoba sekuat tenaga untuk tidak menanyakan perihal bus itu pada si pria. Membuat pria itu kembali menggoda Juan untuk bertanya dan meminta informasi darinya.
“Aku tahu kau penasaran, aku akan katakana secara percuma padamu kali ini. Tapi setelahnya, kau harus membayarku sama seperti kemarin. Bus itu tidak datang malam ini. Jadwalnya berangkat pagi hari ini. Kau bisa melihatnya lagi esok hari di malam hari. Apa itu sudah cukup menjawab rasa penasaranmu,” ujar pria itu.
Juan kemudian mengeluarkan satu batang dan memberikannya pada pria itu. Ia lalu mengajukan sebuah pertanyaan yang di luar dugaan dari si pria akan ditanyakan kepadanya.
“Kali ini aku ingin bertanya, di mana aku bisa menemukan obat penenang? Kau pasti tahu jawabannya,” tanya Juan yang membuat si pria terkejut.
Bersambung