”Kenapa wajahmu terlihat kaget dan menatapku seperti itu?” tanya Juan yang melihat wajah bingung si pria.
Pria itu masih menatap Juan dengan tatapan bingung. Ia masih tak menyangka mendengar pertanyaan Juan secara tiba-tiba. Juan kembali bertanya hingga membuat pria itu tersadar dari rasa kagetnya.
“Iya aku tahu, tapi kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang barang itu?” tanya balik si pria.
“Aku membutuhkannya. Kalau kau tahu, beritahu di mana aku bisa mendapatkan barangnya.”
“Kau sama sekali sudah tidak tertarik tentang bus putus asa? Padahal kemarin kau masih bertanya-tanya tentang itu. Cepat sekali berubahnya rasa penasaranmu.”
“Itu tidak penting sekarang. Nanti aku akan tanya perihal itu. Sekarang tunjukkan padaku di mana lokasinya aku bisa mendapatkan barang itu. Aku benar-benar membutuhkannya.”
“Baiklah, aku akan mengantarmu, tapi ada syarat yang harus kau penuhi.”
“Iya! Aku pasti memberikannya. Sekarang antar aku cepat!” desak Juan.
Hari sudah berganti malam. Sejak Juan duduk menunggu bus putus asa di halte. Ia membutuhkan obat penenang, khawatir akan terjadi mimpi buruk yang menimpanya. Ia juga ingin tidur dengan tenang tanpa harus khawatir dan teringat kejadian buruk yang menimpanya.
Pria itu pun setuju dan akan membawa Juan ke tempat dimana dirinya bisa mendapatkan obat penenang yang ia butuhkan. Juan bersama pria itu berjalan meninggalkan halte menuju ke tempat penjual obat. Mereka berjalan di bawah terang bulan dan gelapnya malam. Menyusuri jalan besar hingga masuk ke jalan sempit.
Juan mulai merasa ada yang tak beres dengan tempat tersebut. Ia melihat di tepi jalan yang ia lalui, banyak gelandangan dan orang-orang yang tengah mabuk. Akan tetapi, kecurigaannya tak ingin ia tampakkan. Ia menolak untuk bertanya dan memilih diam. Mengikuti si pria yang berjalan di depannya. Hingga mereka tiba di sebuah tempat.
Pria itu berhenti tepat di pintu masuk menuju tempat tersebut. Juan lalu menanyakan perihal yang dilakukan oleh si pria. Bukannya masuk melainkan berhenti.
“Kenapa kita berhenti di sini? Apa kita sudah sampai? Kalau sudah sampai, kenapa kita tidak masuk saja?” tanya Juan.
“Kau yakin ingin ikut masuk ke dalam? Yang jual barang ini merupakan salah satu anggota dari The Son of Lucifer. Apakah kau tahu mereka siapa? Mereka adalah kelompok mafia paling ditakuti. Tidak bisa sembarangan kita membeli dari mereka atau bisa-bisa kita yang dihabisi oleh mereka,” ujar si pria.
Juan menjadi bingung setelah mendengar penjelasan dari pria itu. Ia tak bisa ikut masuk ke dalam, penyamarannya akan ketahuan. Tapi ia juga tak bisa pergi tanpa membawa obat itu. Ia tidak akan bisa melalui malam dalam keadaan tenang. Mimpi buruk akan terus menghantuinya dalam tidur.
Melihat wajah Juan yang berubah bingung. Si pria mencoba berdiskusi dengan Juan dan mencari jalan keluar bersama. Agar, Juan bisa mendapatkan barang yang ia inginkan dan si pria mendapatkan imbalan dari Juan.
“Bagaimana? Kau tampak bingung. Begini saja, aku saja yang masuk ke dalam dan membeli barang itu untukmu. Kau tunggu saja di luar sini. Begitu aku berhasil mendapatkannya, aku akan memberikannya padamu. Bagaimana?” kata si pria.
“Ide yang bagus. Tapi bagaimana aku bisa se mudah itu percaya padamu kalau kau akan memberikan barangnya padaku? Kau saja menipuku kemarin. Lagi pula, siapa yang tahu kau berada di pihakku atau tidak? Bisa saja kau menjebakku sekarang dan bersekongkol dengan mereka.” Juan menolak ide yang diberikan si pria.
“Aku tak menyangka kau akan mengatakan hal ini. Kau bilang tak percaya padaku?! Tapi kau berjalan mengikutiku sampai ke tempat ini. Kau kira kenapa aku melakukan hal ini? Aku hanya ingin membantumu mendapatkan obat itu dan kau memberikanku imbalan seperti yang kau pinta. Kalau kau memang tidak percaya denganku, ya, sudah. Aku juga tidak memaksamu. Kau tinggal memilih, memberikan uangnya padaku dan kau mendapatkan obat itu atau kau tidak mendapatkan obat penenang itu dan kau bisa pergi dari sini. Pilihan ada di tanganmu,” kata si pria dengan kesal.
Juan terdiam sejenak. Ada benarnya apa yang dikatakan pria itu. Untuk apa Juan mengikuti pria itu jika ia sendiri tak percaya padanya. Juan berpikir sejenak kemudian berbalik badan. Ia merogoh setiap kantong pada pakaiannya. Mencoba mencari uang yang tersisa. Ia akhirnya menemukan beberapa lembar uang dari saku celananya. Uang itu kemudian ia hitung. Begitu selesai, ia pun berbalik badan dan menghadap kembali ke pria itu.
Dia kemudian memberikan uang itu kepada si pria dengan perasaan was-was. Khawatir ia dikhianati oleh si pria. Sebab, ini adalah uang terakhir yang ia miliki. Pria itu tersenyum, melihat Juan mengeluarkan uang dan hendak memberikannya. Ia seolah mendapatkan kembali kepercayaan dari Juan yang sempat meragukannya.
“Ini adalah uang terakhir yang aku punya. Berikan obat itu sesuai janjimu dan aku akan memberikan imbalan yang kau pinta. Jika kau tak menepati janjimu, kupastikan kau akan menyesal!” ujar Juan lalu memberikan uang itu pada si pria.
“Tunggu di sini. Siapkan saja imbalan yang ku pinta. Aku akan keluar dalam waktu beberapa menit. Tenang saja.” Pria itu kemudian mengambil uang yang Juan berikan.
Pria itu kemudian masuk ke dalam tempat transaksi obat penenang. Sementara Juan disuruh menuggu di luar. Juan merasa cemas menunggu di luar. Tapi ia tetap berusaha sabar menunggu. Pria itu satu-satunya harapan Juan saat ini untuk melalui malam yang panjang.
Juan mencoba membunuh waktu selama menunggu dengan berjalan bolak-balik tepat di pintu masuk. Sambil sesekali mencoba melihat ke arah bulan. Ia memainkan tangannya dengan menggosok kedua telapak tangannya. Perasaanya terus diliputi kecemasan. Pria itu tak kunjung keluar. Juan mencoba menenangkan dirinya dengan meminum minuman bersoda.
Beberapa menit berlalu tapi si pria tak kunjung keluar. Justru beberapa orang lain masuk ke dalam tempat tersebut untuk membeli obat yang sama seperti yang Juan butuhkan. Juan memberikan jalan kepada beberapa orang tersebut untuk masuk ke dalam. Selang beberapa menit, orang yang baru masuk tadi pun keluar sambil membawa barang yang dimasukkan ke dalam kantong plastik.
Juan semakin risau dibuatnya. Pikirannya mulai diliputi dugaan yang tidak baik. Rasa jengkel mulai hadir hingga sebuah pikiran terlintas dalam benaknya. Ia berpikir untuk masuk saja ke dalam dan mencari pria tersebut. Melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa lama sekali pria itu di dalam, tak kunjung keluar. Bahkan, orang yang baru saja masuk tak butuh waktu lama untuk keluar dan membawa barang.
Kesabaran Juan pun mencapai batasnya. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Juan pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan mengambil segala resiko yang mungkin terjadi. Tapi baru beberapa langkah ia hendak masuk, tiba-tiba pria itu keluar sambil berlari. Ia kemudian berteriak dan menyuruh Juan untuk lari.
“Kau kenapa lama sekali?!” ujar Juan pada pria itu.
“Nanti saja aku ceritakan. Sekarang kita harus lari menyelamatkan diri! Ayo cepat kita ke halte!” ujar pria itu menyuruh lari.
Juan yang bingung dengan tingkah si pria yang berlari meninggalkannya. Membuat Juan hanya berjalan saja. Hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam yang membuat Juan memutuskan untuk ikut berlari pergi dari tempat tersebut.
“Kejar! Tangkap pencuri itu!” teriak seseorang dari dalam.
Bersambung