Zervanous vs Aliansi Mafia

1021 Words
 "Aku tidak pernah melihat anggota mafia sebanyak ini. Aku yakin ini bukan hanya kelompok El-Chapo. Melainkan, lebih dari itu. Seluruh kelompok mafia dan gangster tampaknya ingin ikut andil dalam perang ini. Bagaimana menurutmu, Juan?" tanya seorang anggota yang memperkirakan jumlah lawan mereka.   "Aku tahu. Jumlah mereka sangat banyak. Semua kelompok mafia dan gansgter berkumpul jadi satu hari ini. Aku tidak pernah melihat lawan sebanyak ini seumur hidupku. Tapi bagiamana kalau kita memenangkan pertarungan ini? Bukankah itu akan menjadi suatu hal yang bagus? Zervanos akan menjadi penguasanya."   "Bagaimana kalau sebaliknya? Kita dikalahkan oleh mereka. Bukankah kita akan hancur lebur tak tersisa? Lawan kita sebegitu banyaknya."   "Kalau begitu jangan sampai kalah! Kita ukir kemenangan hari ini bagi Zervanos! Kalian semua bersiaplah! Ambil posisi masing-masing. Begitu kuperintahkan untuk tembakan flat ke udara, maka tandanya perang dimulai. Kalian mengerti?!"  "Iya, kami mengeti!"    Juan mulai mengatur kelompoknya dengan strategi perang yang biasa mereka lakukan. Masing-masing menempati posisi mereka dan menjalankan tugas mereka. Strategi yang belum pernah terkalahkan sejak mereka berperang sampai hari ini.   Seorang pria mengenakan jas hitam keluar dari sebuah mobil. Sambil merokok serta mengenakan kaca mata hitam, pria tersebut berjalan mendekat. Beberapa langkah lalu berhenti. Sosok yang dikenal sebagai El-Chapo. Sang ketua dari The Son of Lucifer.    Seorang pria lain berdiri di sebelahnya, memberikan kepada El-Chapo sebuah alat pengeras suara. El-Chapo seolah ingin memberikan beberapa kata-kata sebelum pertempuran pecah.   "Apa yang hendak ia lakukan, Juan? Mengapa ia tampak memegang pengeras suara? Aapkah itu senjata rahasianya?" tanya salah seorang anggota.   "Iya, itu senjata mematikan mereka untuk menjatuhkan mental lawan. Jangan sampai lengah! Zervanos bukan kaleng-kaleng yang bisa mereka kalahkan hanya dengan gertakan. Kita akan memenangkan pertempuran ini!" Juan kembali memotivasi anggotanya. Membakar semangatnya untum memenangkan pertempuran kali ini.   "Cek! Cek!" El-Chapo bersiap untuk memulai.   "Juan Vicente Maximiliano! Awalnya aku sangat menghormatimu dan menghergaimu sebagai seorang pria sejati! Kau punya tempat berbeda di sisiku. Aku merasa kau pantas mendapatkan rasa hormat dariku karena keberanianmu dan kesadisanmu selama ini sebagai seorang mafia. Tapi hari ini, setelah penyerangan dan sabotase yang anggotamu lakukan. Aku sepertinya harus berpikir ulang untuk memberikan rasa hormat itu padamu. Kau tak pantas mendapatkannya! Seorang pria sejati tak pernah ingkar pada janjinya! Kau pasti tahu itu. Tapi tenang, aku masih bisa berbaik hati padamu dan kelompokmu. Aku punya dua pilihan. Piliahn pertama, aku akan mengirimmu utusan, kau bisa mengembalikan apa yang sudah kau rebut. Tidak akan ada pertumpahan darah di antara kita. Tapi kelompokmu di bawah perintahku. Tidak ada lagi Zervanos. Kau akan tunduk dan patuh hanya kepadaku. Pilihan yang kedua adalah perang! Silahkan kau tentukan. Aku akan memberikanmu waktu untuk segera menentukan pilihan."   El-Chapo selesai memberikan pidatonya. Memberikan serangan rahasia berupa rasa takut yang biasa ia lakukan untuk sekedar menakuti dan menjatuhkan mental lawan. Ia juga mengirim seorang anggota untuk berjalan mendekati tempat kelompok Zervanos bersembunyi.   Orang suruhan itu datang dengan membawa sebuah tempat untuk meletakkan barang yang sudah mereka ambil. Orang tersebut mendekat dan mulai masuk ke dalam bangunan. Kelompok The Son of Lucifer melihat dari kejauhan orang yang mereka suruh. Memastikan jawaban dari kelompok Zervanos. Perang atau tidak.   "Bagaimana Juan? Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah seorang anggota.   "Ini sebuah penghinaan yang sudah mereka lakukan pada kita. Aku tidak akan membiarkan hal ini."   Juan membiarkan orang tersebut masuk ke dalam bangunan sampai tak terlihat oleh kelompok The Son of Lucifer. Juan segera memenggal kepala orang itu begitu orang tersebut. Juan lalu membawa kepalanya ke depan bangunan. Ia melemparkan kepala itu hingga menggelinding dan berhenti tepat di depan El-Chapo.    El-Chapo tampak begitu marah melihat hal itu. Ia langsung memerintahkan anggotanya untuk segera menyerang. Begitu pun Juan yang meminta anggotanya menembakkan flare sebagai tanda perang dimulai.        Juan melemparkan beberapa peledak asap untuk menghalangi pandangan lawannya. Hal itu bertujuan untuk mengalahkan mereka dalam asap dan mengurangi kalah jumlah yang terjadi.      Pertarungan yang diharapkan oleh Juan adalah jarak dekat. Ia berusaha agar kelompok lawannya terpancing dengan keinginannya bertarung dari jarak dekat. Untuk itu Juan dan Zervanos membiarkan lawannya mendekat masuk ke bangun-bangun yang mereka jadikan tempat persembunyian.         Rencana Juan membuahkan hasil. Lawan mereka masuk ke dalam perangkat yang ia dan kelompoknya sudah buat. Mereka dengan segera menyerang lawann mereka yang sudah masuk ke dalam bangunan-bangunan dengan membabi buta. Mereka menyerang musuh mereka dengan senjata tumpul, tak sedikit juga yang langsung membunuh lawannya.   Peperangan tampak seimbang. Juan dan kelompoknya berhasil mengimbangi untuk sementara waktu. Lawan mereka yang justru tampak kewalahan mengimbangi peperangan melawan Zervanos. Mereka tak punya strategi. Hanya berperang mengikut hawa nafsu mereka saja.            El-Chapo tampak gelisah melihat anggotanya yang seperti kewalahan dalam       Perang kali ini. Ia tak punya pilihan selain harus memenangkan peperangan ini.       Perang yang sangat penting untuk harga dirinya dan harkat martabatnya sebagai       seorang pemimpin.            Suara tembakan dan pukulan benda tumpul begitu nyaring terdengar.         Menghiasi arena pertempuran. Banyak anggota yang jatuh dari atas bangunan       Tak sedikit juga yang tampak berlari mundur dengan keadaan tubuh penuh luka.       Kebanyakan korban berasal dari kelompok El-Chapo. Sedangkan, kelompoknya       Juan masih dalam keadaan yang stabil di Medan perang.             "Bagus, Kak! Jangan berikan mereka ampun. Aku yakin kau akan        Memenangkan perang ini," ujar Marco melihat perang yang terjadi        Dari dalam markasnya.             Juan menyerang lawannya dengan sporadis. Ia tak segan memenggal        kepala mereka yang kebetulan bertemu dengannya. Bagi mereka yang berhasil        Kabur darinya, ia memberikan kepada mereka beberapa kenang-kenangan pada        Area sekitar tubuh mereka. Luka cacat yang membekas.              "Hanya seperti ini kemampuan The Son of Lucifer? Tidak sebanding        dengan kelompokku! Zervanos tetap terlalu kuat untuk ini!" teriak Juan        menyemangati anggotanya.             Perang kali ini tampak memihak untuk Zervanos. Mereka sepertinya akan        Segera memenangkan pertempuran. Hingga tiba-tiba suara ledakan besar.                Duar! Duar!! Suara ledakan datang dari arah markas Zervanos           Juan dan yang lainnya seketika terkejut. Juan berlari menuju markasnya.      Ia ingin memastikan kondisi sang adik. Betapa terkejutnya ia ketika melihat.      Markasnya yang terbakar. Juan berusaha masuk untuk menyelamatkan sang adik.      Hal itu sudah terlambat. Api terlanjur berkobar terlalu besar dan membakar      semuanya.       "Marco! Marco! Tidak! Di mana kau Marco!" Juan berteriak memanggil sang Adik. Berharap Marco masih sempat menyelamatkan dirinya.      Api yang melahap markasnya begitu cepat. Kondisi markasnya dalam hitungan menit sudah berubah menjadi api yang besar. Juan tampak putus asa, ia harus menerima kenyataan kalau Marco harus terbakar hidup-hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD