Api yang terus membesar menyala, melahap semuanya tanpa menyisakan satu bangunan pun. Juan terus memanggil nama sang adik dari luar markas. Seraya mencari celah yang memungkinkan dirinya untuk menerobos masuk kobaran api. Di dalam benaknya hanya menyelamatkan sang adik. Tak peduli dengan keselamatannya asal Marco bisa selamat. Keadaan mulai tak memihak pada Zervanos. Mereka harus dipukul mundur dari pertahan yang sebelumnya mereka buat. Satu per satu dari anggotanya mati dibunuh. Sisanya mundur merapat ke markas. “Astaga! Apa yang terjadi Juan?! Siapa yang melakukan ini?!” tanya salah seorang anggota yang baru saja merapat. Tak ada jawaban dari Juan. Hanya terdengar ledakan dari markas yang terbakar.Tak berselang lama beberapa anggota lainnya datang sambil membawa seorang laki-laki yang diduga pelaku pembakaran. Sambil diseret, pria tersebut lalu dilemparkan tepat di depan Juan. Juan naik pitam, ia menatap wajah si pelaku yang sudah lebam dihajar sebelumnya. “Beraninya kau lakukan ini! Akan kubuat kau menyesal!” Juan langsung melayangkan pukul keras ke wajah pria tersebut. Lalu dirinya menendang pria itu hingga membuatnya terpental. Juan kembali mendekati pria itu. Akhir hayat dari si pelaku sudah dekat. Juan akan segera mengambil nyawanya dan menuntaskan amarahnya. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Hingga kaki pria itu meninggalkan tanah. Dalam keadaan pasrah, pria itu mengatakan beberapa patah kata pada Juan. “Lakukan Juan! Apa yang aku lakukan tak akan sebanding dengan penderitaan yang akan kau rasakan setelah ini! Kau akan menderita! Kau akan menderita!” ujar pria itu dalam keadaan menemui ajalnya. “Akan ku jelaskan padamu apa artinya penderitaan yang sesungguhnya! Mati kau!” Juan membalas, sebelum akhirnya ia melemparkan si pelaku ke dalam kobaran api. Membiarkannya mati terbakar sama seperti apa yang pria itu lakukan pada Marco. Peperangan masih terus berkecamuk. Zervanos terdesak, mundur perlahan hingga barisan terakhir pertahanan mereka merapat dekat dengan markas. Menandakan mereka sudah kalah dan akan benar-benar musnah. Dalam keadaan tersebut, Juan tak bisa terus bersedih kehilangan Marco. Sosoknya sebagai seorang pemimpin benar-benar dibutuhkan anggotanya. Juan bangkit dari keterpurukannya. Menyimpan sementara lukanya. Masih ada hal yang lebih mendesak ketimbang menyiksa dirnya menangisi adiknya. Ada banyak nyawa dari anggotanya yang masih berjuang mempertahankan harga diri mereka, markas mereka, dan semua yang menjadi bagian dari identitas mereka sebagai Zervanos.Tangannya mengepal, mengumpulkan semua amarah dan tenaganya yang tersisa dalam kepalan tangannya. Ia berbalik badan, tak lagi melihat markasnya. Para anggota melihatnya, mengambil posisi berdiri paling tegak. Nafasnya memburu, tak beraturan. Emosi, kesedihan, semuanya campur ia rasakan. “Aku tidak akan membiarkanmu mati sia-sia seperti ini Marco! Aku akan membalaskan dendammu. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil nyawamu dengan mudah. Aku akan balaskan!” gumam Juan. Lawan Zervanos terus merangsek masuk. Mereka tak hanya membunuh anggota Zervanos, tapi juga membakar tiap bangunan yang dijadikan oleh mereka sebagai tempat pertahanan. Serangan yang dilancarkan aliansi mafia benar-benar membabi buta. Kepulan asap dari bangunan yang terbakar membumbung tinggi menutup langit. Area tersebut seolah dijadikan neraka.Langkah kaki dan suara tembakan semakin nyaring terdengar. Teriakan sorak sorai dari kubu lawan sebagai pertanda kemenangan. Terdengar semakin kuat, membuat putus asa anggota Zervanos. Wajah mereka mulai tak dapat menyembunyikan kepasrahan dan keputuasaan akan keadaan. Mereka kalah hari ini, inilah akhir dari mereka. Situasi berbanding terbalik diperlihatkan oleh Juan. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia berusaha menggenggam senjata. Pemandangan itu disaksikan oleh anggota yang berada di dekatnya. Secara tak langsung membangkitkan kembali semangat mereka yang mulai redup.“Semuanya! Dengarkan ini! Meski kita semua tahu bagaimana akhir dari semua ini. Kita tidak akan menyerah dengan mudah. Kita tak akan kalah tanpa rasa hormat dan tanpa perjuangan. Semuanya sudah melakukan yang terbaik hingga sampai di titik ini. Aku bangga bisa memiliki anggota seperti kalian. Kalau kita harus kalah dan mati, aku senang mati bersama dengan kalian semua!” ujar Juan menyemangati anggota yang tersisa. Orasinya membuahkan hasil, api yang sempat padam dalam jiwa anggotanya. Perlahan-lahan mulai kembali hidup dan membara. Mereka kembali semangat untuk berjuang bersama-sama hingga titik darah penghabisan. Memperjuangkan harga diri mereka, markas mereka, dan nama mereka sebagai Zervanos. “Untuk yang telah berjuang hari ini dan mereka yang gugur dengan penuh kehormatan. Hidup Zervanos!” teriak lantang Juan.“Hidup Zervanos!” diikuti oleh anggota yang lain. Suara lantang dari mereka membuat posisi mereka diketahui oleh lawan. Sontak area mereka sekarang menjadi sasaran empuk lawannya. Aliansi mafia secara serentak bergerak maju menuju sumber suara. Mereka melemparkan peledak dan menembakkan secara membabi buta. Juan dan yang lainnya terpaksa bertahan dengan berlindung di balik bangunan yang masih berdiri. Sambil sesekali membalas serangan dari lawannya. “Aku tidak menyangka mereka akan tetap memberikan perlawanan pada kita. Kukira dengan menghancurkan markasnya sudah cukup membuat mereka menyerah. Ternyata aku salah,” ujar salah satu tangan kanan El-Chapo.El-Chapo menoleh ke arahnya seraya berkata, “Sekarang kau tahu kenapa aku menaruh hormatku pada Juan, kan? Setelah hari ini, aku ragu akan menemukan lawan yang seimbang setelahnya.”
Mendengar perkataan dari El-Chapo, membuatnya naik pitam. Ia semakin menggebu-gebu ingin menghabisi Juan dengan tangannya sendiri. Agar, hanya dirinyalah yang dipandang oleh El-Chapo dan mendapatkan penghormatan darinya. “Kalau begitu, akan kupastikan! Kau akan menaruh hormatmu padanya untuk yang terakhir! Akan kuhabisi sendiri Juan dengan tanganku,” ujar pria tersebut sambil mengepalkan tangan. El-Chapo tak menggubris ucapan anak buahnya, ia tetap fokus melihat pertempuran yang terjadi. Meski kemenangan sudah berada di pihaknya, tapi terbesit keinginan agar Juan tetap hidup. Agar ia tetap memiliki lawan yang sepadan. Duar!! Duar!!! Ledakan demi ledakan terjadi. Gempuran terus dilakukan oleh aliansi mafia. Juan dan anak buahnya kian terdesak. Hingga jaraknya dengan lawan hanya beberapa meter saja. “Juan, sepertinya kau harus pergi dari sini. Kau tidak bisa terus di sini atau kau akan mati bersama kami,” kata salah satu anggotanya. “Apa kau sudah kehilangan akal?! Apa yang kau katakan?! Kenapa kau menyuruhku pergi, sedangkan kau tahu, aku tak akan meninggalkan medan pertempuran. Membiarkan kalian mati sedang aku lari layaknya seorang pengecut!” Juan segera menyanggah. Juan yang marah menatap tajam ke arah anggotanya. Seolah-olah hendak memberikan pelajaran atas apa yang baru saja ia katakan.“Tu-tunggu sebentar, Juan! Aku bisa jelaskan maksudku. Kau jangan salah paham dulu,” ujar anggota itu mencoba menjelaskan pada Juan.“Apa?! Kau ingin membuatku lari layaknya pengecut?! Begitu?! Berada di pihak siapa kau sekarang?! Hah?!” tangannya Juan segera mendarat ke wajah anggotanya.
ia tak bisa menerima anggotanya yang mulai bertindak seperti pengecut. Memintanya untuk lari dari Medan pertempuran. Padahal jelas ia tahu kalau Juan adalah pemimpin bagi mereka
Bersambung