Juan naik pitam selepas mendengar perkataan dari salah satu anggotanya. Perkataan yang seolah terdengar merendahkan Juan sebagai seorang ksatria sekaligus pemimpin untuk kelompoknya. Tangannya yang hendak mendarat di wajah anggotanya tiba-tiba saja tertahan. Salah satu anggotanya yang lain menahan aksinya untuk memberikan hukuman.
Juan lantas semakin kesal dibuatnya. Situasi semakin memburuk untuknya. Ia benar-benar tak bisa menemukan jalan keluar untuk memenangkan peperangan. Bahkan sekedar menenangkan dan berpikir jernih pun ia tak mampu.
“Jangan kau lakukan itu Juan. Apa yang dikatakannya ada benarnya. Kau jangan langsung merasa kesal. Kau harus mempertimbangkannya matang-matang. Kita semakin terdesak,” kata anggota yang menahan tangan dari Juan.
“Apa?! Kamu pun ingin aku pergi meninggalkan medan perang? Kamu pikir aku pengecut?! Di situasi seperti ini, kalian merendahkanku?! Kalian meragukanku sebagai seorang pemimpin?! Kalau kalian tak mau berperang bersamaku. Biarkan aku berperang sendirian dan memenangkan perang ini!” ujar Juan tak terima diremehkan anggotanya.
Perdebatan sengit yang terjadi di antara mereka diiringi dengan suara tembakan dan ledakan dari arah yang berlawanan. Di samping argumentasi yang beradu, mereka juga harus bersembunyi dan menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan. Pertahanan Zervanos terus terdesak. Lini pertahanan paling luar mereka sudah kalah. Tinggal beberapa anggota yang tersisa.
Mereka yang tersisa berjuang bersama-sama dengan Juan. Serangan membabi buta terus dilancarkan. Tak ada ampun, Zervanos akan benar-benar dimusnahkan hari ini. Kepulan asap, kobaran api, berondongan peluru dan sayatan demi sayatan terus terjadi.
Juan melihat dengan matanya sendiri, anggotanya mati dengan cara mengenaskan. Berjuang mempertahankan harga diri dan nama baik Zervanos. Sedang ia, tak dapat berbuat banyak melainkan hanya menyaksikan anggotanya mati satu per satu. Di tengah keadaan seperti itu, Juan kembali didesak untuk segera meninggalkan tempat peperangan.
“Juan! Pergilah! Kau harus tetap selamat. Jangan hiraukan kami semua yang ada di sini. Kau harus tetap hidup!” teriak salah satu anggota mendesak Juan untuk pergi.
Juan tak bergeming, bibirnya bungkam. Otaknya menemukan kebuntuan, ia tak bisa memutuskan harus mengambil tindakan. Sementara, kelompok musuh sudah semakin mendekat dan tinggal berjarak beberapa meter saja dari tempat Juan berlindung bersama anggotanya.
“Juan! Kau adalah pemimpin sejati! Kau adalah ksatria sejati. Kami bangga memiliki pemimpin sepertimu. Pergilah dari tempat ini sekarang. Jangan keras kepala! Satu-satunya harapan kami ada pada dirimu. Kau harus tetap hidup. Dengan begitu Zervanos akan tetap ada. Kau bisa mencari anggota yang baru dan membangunkan kekuatan untuk balas dendam. Balaskan kematian kami hari ini! Pergilah!” pinta salah seorang tangan kanan Juan.
“Iya, Juan! Pergilah. Kami akan menahan di sini sampai kau benar-benar pergi. Tak perlu kau menghiraukan kami. Semua ini demi Zervanos! Balaskan apa yang mereka lakukan hari ini! Kami akan berjuang sampai mati di sini!” salah satu anggota menimpali diiringi teriakan anggota lainnya.
Terdesak, membuat Juan akhirnya harus cepat mengambil keputusan. Dengan perasaan berat hati, ia menuruti permintaan terakhir dari semua anak buahnya. Ia memandangi satu per satu wajah dari anggota Zervanos. Melihat mereka berjuang bersama untuk yang terakhir kalinya.
“Aku percaya kalian! Akan kubalaskan dendam kalian!” ujar Juan.
“Pergilah!”
Tepat setelah anggotanya meminta Juan pergi. Sebuah peluru langsung menghujam kepalanya. Beruntung, Juan tak terkena pelurunya juga. Ia segera berlari pergi meninggalkan tempat tersebut. Perasaaannya kacau balau, tapi ia harus tetap berlari sesuai permintaan anggotanya. Dari arah belakang, ia mendengar suara teriakan anggotanya yang dieksekusi. Mereka berteriak menahan rasa sakit.
Sorak sorai terdengar dari kejauhan diikuti suara tembakan yang ditembakkan ke udara. Tanda kemenangan atas Zervanos. Bangunan-bangunan yang berdiri sebagai habitat Zervanos, kini sudah hangus dibakar. Tempat tersebut menyala oleh api dan asap yang membumbung tinggi menjadi buktinya. Betapa kejamnya kelompok aliansi yang dipimpin oleh El-Chapo menghancurkan tempat tersebut.
Mayat-mayat bergelimpangan, mati mempertahankan kepentingan kelompok masing-masing. Darah tak berharga, ambisi untuk berkuasa menutup mata dan nurani. Korban tak hanya dari kelompok Zervanos, rival mereka juga jatuh korban. Terluka atau pun yang mati sia-sia. Dominannya memang dari kelompok Zervanos yang nyaris hanya menyisakan Juan yang selamat karena melarikan diri dari sana.
Keputus asaan, kesedihan, amarah, bercampur jadi satu. Semuanya menghinggapi pikiran dan perasaan Juan. Ia tak tahu arah ke mana hendak pergi. Hari ini ia kehilangan semuanya dalam sekejap. Semua kegembiraan yang sebelumnya ia rasakan, semuanya mendadak direnggut paksa. Menyisakan kesedihan ditinggal oleh orang-orang yang selama ini berjuang bersamanya.
“Aku pasti membalaskannya! Aku pasti membalaskannya! Semua yang sudah mereka rebut hari ini! Rasa sakit ini! Aku pasti akan membalasnya! Adikku Marco dan semua anggota Zervanos, kalian tidak akan mati sia-sia!” gumam Juan sambil terus berlari.
Pikiran yang kacau, membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Tak bisa fokus melihat jalan yang ia lalui hingga membuatnya terperosok ke dalam parit. Ia menginjak batu lalu terpeleset, berguling-guling hingga membuatnya masuk ke dalam parit. Kepalanya praktis membentur dasar parit yang membuatnya tak sadarkan diri seketika. Ia pingsan di dalam parit tersebut.
El-Chapo yang merasakan senang atas kemenangannya itu pun ikut merayakan bersama anak buahnya dan aliansinya. Ia lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengumpulkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Khususnya dari anggota Zervanos.
“Kumpulkan semua mayat yang ada di sini. Aku ingin memastikan apakah Juan masih hidup atau sudah mati,” ujarnya memerintahkan anak buahnya.
Segera para anggotanya melakukan perintah dari El-Chapo.
“Juan sudah pasti mati. Apakah kau tidak melihat? Semuanya tergeletak di hadapanmu. Apakah itu tidak cukup membuktikan kalau Juan yang kau banggakan sudah mati,” ujar salah satu tangan kanan El-Chapo.
Mendengar perkataan tersebut, El-Chapo dengan tenang menoleh ke arahnya sambil berucap, “Kalau benar begitu, di mana mayatnya Juan? Tunjukkan padaku dan aku akan menarik semua rasa perkataanku tentangnya.”
Semua anggota tanpa terkecuali melakukan perintah El-Chapo. Mereka membawa mayat-mayat yang bergelimpangan di area tersebut. Tak ada satu pun yang terlewat. Lalu mereka kumpulkan di dalam satu tempat untuk memastikan kalau Juan satu di antara mayat yang tergeletak itu. Satu per satu mayat dikumpulkan. Mayat-mayat itu dibariskan rapi beberapa meter di depan El-Chapo.
Ia pun menghampiri semua mayat yang telah berhasil dikumpulkan. Melihatnya satu per satu dari mayat pertama hingga terakhir. Diikuti anggota dan aliansinya. Mereka ikut memastikan kematian Juan. Hingga mayat terakhir, tak ada Juan di sana. Mereka tak dapat menemukan mayatnya.
Mereka semua terkejut karena hal itu, terkecuali El-Chapo. Ia tetap tenang seolah sudah mengetahui kalau rivalnya itu tetap hidup dan berhasil melarikan diri.
“Apa kalian lihat di mana Juan?” tanya El-Chapo.
Tak ada satu pun yang menjawab. Mereka membisu karena gagal mennemukan Juan di antara mayat-mayat. El-Chapo kemudian menghampiri tangan kanannya. Ia kemudian berbisik padanya.
“Kau tahu sekarang, kan, kenapa aku menaruh rasa hormat padanya dan menganggap ia rival yang seimbang? Kalau kau memang ingin mendapatkan rasa hormat dariku, temukan Juan dan bawa ke hadapanku. Hidup atau mati! Kau mengerti?” bisik El-Chapo.
Anggota itu hanya bisa mengangguk lalu berbicara dengan lantang pada yang lainnya.
“Kalian dengar apa yang dikatakn El-Chapo?! Tidak ada Juan maka tidak ada kemenangan. Semuanya belum berhasil sampai menemukan Juan hidup atau mati!” ujarnya.
Mereka semua kemudian segera bergegas pergi dari tempat tersebut untuk mencari Juan. Juan menjadi target utama mereka yang harus ditemukan hidup atau pun mati.
Bersambung