Pencarian untuk menangkap Juan pun dimulai. Juan menjadi target sasaran yang harus segera ditemukan. Baik dalam keadaan hidup maupun mati. Barangsiapa yang berhasil menangkap Juan, tentu ada imbalan yang menanti. Bukan hanya itu, menangkapnya juga merupakan suatu kebanggan bagi siapa saja yang berhasil. Ia akan mendapatkan tempat di sisi El-Chapo dengan penuh kehormatan. Hal yang mendasari seluruh anggota The Son of Lucifer bersama seluruh aliansinya, bersemangat untuk segera menemukan Juan dan membawanya pada El-Chapo.
Di sisi lain, Juan yang masih tak sadarkan diri di dalam parit, mengalami hal mimpi buruk. Pingsan membawanya mengingat semua kejadian yang terjadi padanya. Dalam keadaan tak sadarkan diri, ia melihat Marco. Dirinya merasa senang karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan adiknya. Juan belum menyadari kalau ini bukan nyata. Ia di dalam alam bawah sadarnya.
Juan lantas mendekati Marco yang tengah terduduk. Dalam pandangannya, Juan mendapati Marco seolah tengah bersedih. Tempat di sekitar ia melihat Marco adalah ruangan yang gelap. Tak ada cahaya kecuali yang menyinari hanya di tempat Marco duduk. Juan segera menghampiri sang adik, memastikan keadaannya.
Juan meraih pundak Marco sambil berkata padanya, “Syukurlah kamu selamat Marco. Kenapa kamu terduduk di sini? Ayo kita kembali pulang. Tempatmu bukan di sini.”
Marco diam selama beberapa saat. Membuat Juan menjadi bingung perihal yang terjadi pada Marco. Tak berselang lama tiba-tiba dengan nada lirih, Marco berbicara pada Juan.
“Untuk apa kau di sini? Kenapa kau kembali lagi padaku? Kau senang, kan, sekarang?”
“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak merasakan senang ketika kehilanganmu. Ayolah kita kembali. Di sini semakin gelap saja,” ajak Juan.
“Bohong! Kenapa kau biarkan aku sendirian di sini, Kak?! Kenapa kau membiarkanku menderita di sini?! Kenapa kau biarkan aku begini?!” seketika Marco bersuara dengan nada lantang membentak Juan.
Terkejut dengan perkataan Marco, Juan lantas segera memberikan jawaban.
“Aku tidak membiarkanmu sendirian, Marco! Aku hendak mengajakmu kembali. Ayolah kita kembali. Tempatmu bukan di sini,” bujuk Juan pada Marco.
“Hahahaha, Kau bilang apa?!” Marco tiba-tiba tertawa. Tawanya nyaring memenuhi ruangan. Terdengar menyeramkan bagi Juan.
Juan semakin dibuat bingung, ia terus memaksa Marco untuk ikut kembali bersamanya hingga tiba-tiba Marco berteriak. Membuat seisi ruangan yang tadinya gelap seketika terang.
“Aku tidak akan kembali bersamamu! Aku sudah mati! Aku sudah tenang di sini. Pergi saja sendiri!” ujar Marco seiring ruangan yang berubah menjadi terang.
Juan melihat sekitarnya, lalu kembali melihat ke arah Marco. Tepat di belakang Marco, ia melihat banyak anggota Zervanos yang berbaris menghadap ke arahnya. Juan semakin bingung, tiba-tiba mereka semua berbalik badan dan hendak berjalan ke suatu tempat. Menuju ke arah cahaya yang berada di belakang mereka. Marco pun hendak ikut bersama mereka, tapi Juan tak tinggal diam. Ia berusaha menarik sang adik untuk tidak ikut bersama mereka.
Usahanya tak membuahkan hasil. Marco tak bisa ikut bersamanya. Ia harus pergi dan kenyataan harus kembali diterima oleh Juan ketika melihat adiknya pergi meninggalkannya.
“Marco!” teriak Juan.
“Pergilah! Tempatmu bukan di sini. Aku harus pergi!” sahut Marco.
Juan terus berteriak memanggil Marco. Ia tak kuasa untuk menahannya, kakinya seolah terpaku tak bisa melangkah. Ia hanya bisa melihat satu per satu orang dari Zervanos termasuk Marco berjalan memasuki cahaya putih. Teriakan memanggil nama Marco terus ia lakukan hingga tiba-tiba ia tersadar dari pingsan.
“Marco! Jangan tinggalkan aku!” teriak Juan yang tersadar.
Nafasnya terengah-engah tak beraturan, keringat mengucur membasahi tubuhnya. Ia siuman dari pingsannya. Tersadar di dalam parit yang sedang tak memiliki air. Ia terduduk dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu.
“Maafkan aku, Marco! Aku sudah gagal menjadi seorang kakak. Aku gagal melindungimu seperti apa yang sudah kukatakan padamu.”
Dalam kesedihan Juan teringat pada Marco dan setiap anggotanya yang sudah meninggal. Ia kemudian memukul-mukul tanah. Kesal, tak bisa melakukan apa pun. Menyesal, kenapa ia tak ikut mati saja bersama mereka. Kenapa harus dia yang tetap hidup untuk menanggung semua penderitaan ini.
“El-Chapo! Kau akan menerima semua akibatnya! Akan ku balaskan semua dendamku hari ini! Marco dan semua anggota Zervanos! Mereka tidak akan mati dalam keadaan sia-sia! Kau akan terima akibatnya!” Juan menggerutu. Wajahnya memerah, tangannya mengepal lalu kembali ia pukulkan ke tanah kemudian ke dinding parit.
Juan pun berhenti setelah aksinya memukul-mukul dinding parit tak membuahkan hasil apa pun. Ia tak bisa merubah apa pun dan membalas apa pun juga. Dirinya kemudian terduduk bersandar pada dinding parit. Di bawahnya terdapat sedikit genangan air yang bias menampakkan wajahnya. Ia seolah berkaca pada air tersebut. Mengasihani dirinya sendiri yang gagal.
Dirinya terdiam cukup lama memandangi air yang menampakkan wajahnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari dalam parit tersebut. Parit itu cukup dalam, sehingga butuh usaha untuk keluar dari dalamnya. Tempat yang menjadi air mengalir baik itu berupa limbah atau pun penampung air hujan yang turun. Juan kemudian bangkit dan hendak keluar, tangannya berhasil meraih permukaan parit. Begitu hendak memanjat untuk keluar, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara deru mesin kendaraan.
Suaranya begitu bising, membuat Juan menduga jumlah dari kendaraan yang hendak melintas tak sedikit. Juan mengurungkan niatnya untuk langsung keluar. Ia berjinjit untuk mengintip terlebih dahulu rombongan konvoi siapa yang akan lewat. Daerah tempat Zervanos mendirikan markas merupakan daerah pinggiran. Bahkan bisa dibilang kota mati yang sudah terbengkalai dan tak dihuni. Jarang sekali ada yang melintasi tempat tersebut, kecuali memang mereka yang bernyali tinggi.
Deru mesin dan suara bising knalpot semakin terdengar jelas. Diikuti suara dari orang-orang yang bersorak-sorai. Menambah kesan, rombongan yang hendak lewat bukan kelompok sembarangan. Akhirnya, rombongan itu pun lewat. Juan amat terkejut begitu melihat yang lewat ternyata The Son of Lucifer bersama para aliansi mafia. Ia tak menyangka akan melihat mereka lagi. Kebetulan sekali ketika dirinya sedang memuncak amarahnya.
Kendaraan yang lewat diliputi mobil dan beberapa motor besar. Para pengendara motor mengenakan jaket dengan lambang khas kelompok masing-masing. Satu yang jelas Juan lihat, Lambang kelompok The Son of Lucifer. Juan hanya bisa menggerutu saat rombongan itu lewat. Beruntung baginya tidak ketahuan. Ia tak tahu dirinya sedang menjadi target utama. Seandainya ia terpancing emosi, pasti ia dengan bodohnya segera bertindak dan menyerang membabi buta seorang diri. Tak lagi peduli hidup atau pun mati.
Meski tengah dalam keadaan marah, ia tak gegabah. Juan tahu betul dirinya tak memiliki daya upaya untuk melawan. Lebih baik membiarkan mereka lewat dari sana. Setelah rombongan The Son of Lucifer lewat, barulah ia keluar dari parit tersebut.
Hujan tak lama turun setelah Juan berhasil keluar dari dalam parit. Ia mendongak, melihat ke arah langit. Mulutnya ia buka, menerima air hujan yang turun. Rasa dahaga tiba-tiba saja menyerangnya. Air hujan yang turun membantunya menghilangkan rasa itu. Puas meminum air hujan, ia lalu melanjutkan perjalanan. Tubuh yang penuh luka, kepala yang sehabis terbentur. Darah yang keluar dari kepala tampak segar tapi tak lagi mengucur.
Langkahnya gontai, pelan tapi pasti berjalan. Menyeret kakinya dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Tak tahu ke mana hendak bersandar ke mana hendak pergi. Juan terseok-seok tak punya tujuan. Mengikuti ke mana kakinya hendak membawa pergi. Hingga tepat berhenti dan tubuhnya yang lelah ambruk begitu saja.
BERSAMBUNG