Bab 19. Kontrak Selesai

3302 Words
Gerald dan Stella sampai di rumah orangtuanya menjelang malam setelah terjebak kemacetan yang cukup lama. Di dalam, sudah ramai dengan kerabat daddynya. Dia menggandeng tangan Stella memasuki ruang tamu. Terlihat orangtuanya melambaikan tangannya melihat kedatangan mereka. “Bagaimana kabarmu, Nak? Apakah liburannya menyenangkan?” tanya Lisa dan memeluk Stella. “Aku baik-baik aja, Mom. Dan liburannya sangat menyenangkan,” jawab Stella. “Semoga setelah liburan, Mom segera mendapat kabar baik darimu, yah,” goda Lisa menepuk tangan Stella. “Kabar baik apa, Mom?” tanya Stella dengan wajah lugu. “Cukup, Mom!” Gerald berusaha menghentikan pembicaraan mommynya. “Mom ingin mendengar kabar kehamilanmu.” Lisa memegang perut Stella bahkan dia tidak menghiraukan perkataan putranya sendiri. “Hamil?” Stella menoleh ke Gerald yang sedang sibuk dengan kerabatnya. “Tapi aku belum siap, Mom,” lanjut Stella. “GERY!” Gerald yang sedang berbincang-bincang dengan kerabat ayahnya, segera menoleh dan melihat Stefanny menghampirinya. “Fanny, kau ...,” ucapannya terhenti karena Stefanny yang langsung mencium pipi dan memeluknya. Gerald segera mendorong tubuh Stefanny perlahan seraya melirik ke arah Stella yang sedang mengobrol dengan mommynya. Dia tidak ingin keributan waktu itu terulang lagi di rumah orangtuanya. “Ger, aku dengar kau liburan ke pulau L. Kenapa tidak mengajakku padahal aku sangat menyukai tempat itu?” tanya Stefanny sambil bergelayut manja pada lengan Gerald. Dia sengaja melirik ke arah Stella dan pada saat yang sama Stella juga melihatnya. Merasa kalau Stefanny bermaksud memanas-manasinya, Stella bergegas menghampirinya tapi Gerald langsung menghadangnya. Stella bukan orang bodoh yang gampang dipanasi, dia justru membalas kelakuan Stefanny. “Mana ada orang honeymoon mengajak oranglain. Iya, ‘kan Sayang.” Stella melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gerald sambil menatap tajam pada Stefanny. “Kau ... kau cuma gadis kecil yang beruntung diangkat derajatnya oleh Gery.” Kata-kata Stefanny membuat telinga Stella panas. “Oya? Tapi buktinya, aku lebih bisa memikat Gery dibanding kamu, wanita dewasa,” balas Stella. “Kau ....” Stefanny mengangkat tangannya hendak menampar Stella. “Fanny, cukup!” bentak Gerald. Stella bukanlah gadis yang bisa menerima perlakuan itu, dia hendak menghampiri Steffanny tapi sakit pada perutnya kembali menyerangnya. “Stey ... apa perutmu sakit lagi?” tanya Gerald melihat Stella memegang perutnya sambil meringis menahan sakit. Stella mengangguk, Gerald bergegas menggendong Stella menuju kamarnya. “Kita harus ke rumah sakit untuk memeriksa keadaanmu, Stey,” kata Gerald setelah membaringkan Stella di tempat tidur. Stella menggelengkan kepalanya. “Enggak usah, aku biasa seperti ini.” Stella bangun mengambil posisi duduk sambil bersandar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, masuklah Lisa menghampiri menantunya. “Kau kenapa, Sayang?” Lisa duduk di tempat tidur mendekati Stella. “Aku gak apa-apa, Mom,” jawab Stella. “Stella sering merasakan sakit di bawah perutnya, Mom,” ucap Gerald. “Kau sudah membawanya ke dokter?” tanya Lisa pada Gerald. “Belum, Stella tidak mau dibawa ke rumah sakit,” jawab Gerald. “Karena aku biasa seperti ini jika akan datang bulan, Mom.” “Lalu kapan harusnya kamu datang bulan?” tanya Lisa. “Ehm ... seharusnya sekitar 1-2 minggu yang lalu tapi kadang sering telat juga,” jawab Stella. Lisa memalingkan wajahnya ke arah Gerald. “Kau harus membawanya ke rumah sakit untuk memastikan kehamilannya, Ger,” ucap Lisa. “Hamil?” tanya Stella kaget. “Bisa jadi, Sayang. Karena itu kau harus segera memeriksakannya ke rumah sakit,” jelas Lisa. “Tapi itu gak mungkin, Mom.” Stella mencoba menyakinkan mertuanya. “Tidak ada yang tidak mungkin, Sayang. Istirahatlah, Mom harus keluar dulu menemani daddy!” Lisa bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. “Istirahatlah, aku mau mandi dulu!” Gerald membuka kemejanya menuju kamar mandi. “Kita pulang malam ini, ‘kan?” Pertanyaan Stella membuat Gerald menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. “Kita menginap di sini,” jawab Gerald, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Stella. “Besok aku harus kerja, G. Aku juga harus kembali ke rumah orangtuaku.” Stella menelan salivanya melihat Gerald yang bertelanjang d**a memperlihatkan otot-otot perut dan lengannya yang kekar. Ada perasaan ingin dipeluk suaminya tapi perasaan itu segera disingkirkannya. “Apa kau yakin akan kembali ke rumah orangtuamu?” tanya Gerald. “Iya karena kontrak kita sudah selesai,” jawab Stella. “Baiklah kalau itu maumu. Ayo, kita pulang sekarang!” Gerald kembali memakai kemejanya. Stella tahu Gerald kesal tapi dia pun harus menentukan sikap. Akhirnya mereka pun pulang walaupun orangtua Gerald berusaha membujuk untuk tetap tinggal malam itu. *** Stella telah memantapkan dirinya untuk kembali ke rumah orangtuanya setelah melalui perdebatan dengan Gerald pagi ini. Gerald memintanya untuk tetap tinggal di rumah itu menunggu sampai keputusan sidang perceraian keluar. Tapi dia tetap dengan pendiriannya untuk kembali ke rumah orangtuanya walaupun hatinya berkata lain. Dia tak ingin perasaan cintanya pada Gerald makin besar jika terus menerus hidup satu atap dengan pria itu. Belum lagi keinginan mertuanya yang sangat mengharapkan dirinya hamil. ‘Hamil,’ tiba-tiba saja terlintas kata-kata mama mertuanya semalam, Stella memegang perutnya. Entah kenapa, terbersit dalam pikirannya untuk memeriksa apakah dirinya hamil atau memang cuma terlambat bulan. Tapi, bagaimana jika ternyata dia hamil, apakah Gerald bisa menerimanya tanpa dasar cinta sedikitpun? Stella dilema dengan perasaannya. Setelah meminta ijin untuk tidak masuk kantor pada Rio akhirnya Stella meminta Ben mengantarnya pulang ke rumah orangtuanya. Awalnya Gerald yang ingin mengantarnya tapi Stella menolaknya karena dia tidak ingin menganggu pekerjaan calon mantan suaminya itu. “Ben, stop sebentar di sini!” perintah Stella ketika dia melihat sebuah apotek. Ben memarkirkan mobilnya dan Stella pun turun dari mobil menuju apotek. Setelah membeli apa yang dibutuhkannya, dia pun kembali memasuki mobil. “Kita jalan lagi, Ben!” perintahnya. “Baik Nyonya.” Ben kembali menjalankan mobilnya. Selang 20 menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobilnya, Ben mengambil koper Stella. “Biar aku bawa sendiri, Ben.” “Jangan Nyonya, biar saya yang bawa!” Ben melarang Stella membawa kopernya. “Stey ... kenapa kamu membawa koper ke sini?” tanya mamanya. “Sayang, ada apa? Katakan pada papa, Nak!” Papanya mendekati Stella dan memegang kedua bahunya. “Gak ada apa-apa, Pa. Stey hanya ingin tinggal di sini bersama papa dan mama sebentar.” Stella memeluk papanya. “Biar kopernya saya bawa ke dalam, Nyonya.” Ben membawa koper itu ke dalam, sesudahnya dia pun pamit untuk ke kantor. “Ada apa sebenarnya, Stey?” tanya mamanya ketika mereka di ruang keluarga. “Stey, ‘kan udah bilang gak ada apa-apa, Ma,” jawab Stella. “Yah sudah, kalau begitu istirahatlah di kamar. Mama keluar dulu, yah!” kata mamanya. Stella pun masuk ke kamarnya. “Pa, apa kamu tidak aneh melihat anak kita?” tanya Mery. “Sudahlah, jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga mereka. Mungkin saat ini sedang ada masalah dalam keluarga mereka. Biarkan saja!” kata Bernard pada istrinya itu. Mereka kembali sibuk dengan para pengunjung yang ingin makan siang. Sementara itu Stella segera ke kamar mandi untuk mencoba alat tersebut. Setelah mengambil sedikit urinenya untuk diteteskan pada tempat yang sudah tersedia di alat itu, Stella menunggu beberapa detik sampai kemudian 2 buah garis merah terlihat jelas pada alat tersebut sehingga membuat dirinya kaget, dia hamil. *** Sementara itu di kantornya, Gerald sedang berdiri menghadap jendela sambil melipat tangan di dadanya, dia memandang keluar jendela. Begitu banyak pikiran yang memenuhi kepalanya terutama masalah pernikahannya dengan Stella yang saat ini berada di ujung perpisahan. Bukan karena dia enggan berpisah dengan Stella tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini. Jika saja dia sampai salah melangkah, itu bisa menjadi bomerang bagi dirinya sendiri dan juga bagi Stella, dia tidak ingin itu terjadi. Perkataan Dave dan mommynya kembali terlintas dalam pikirannya. Apa yang harus dia lakukan jika ternyata benar Stella hamil? Dia harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada gadis itu. Lalu hubungannya dengan Mercy? Apakah dia harus meninggalkan wanita yang sangat dia cintai? Pikirannya sungguh kacau saat ini. “Boo ....” Gerald membalik tubuhnya mendengar panggilan itu. “Merc, kau di sini.” “Hmm, aku kangen kamu, Boo. Kenapa semalam kau tidak menemuiku.” Mercy mengalungkan kedua tangannya pada leher Gerald dan memberi kecupan kecil pada bibir pria itu. Tak ingin dilihat oleh karyawannya, Gerald pun melepaskan kedua tangan Mercy dan mengajak Mercy duduk di sofa. “Tolong jangan seperti tadi jika kita sedang di kantor, Merc. Aku tak ingin ada gosip yang sampai ke telinga orangtuaku,” larang Gerald. “Sorry, aku lupa. Aku membawakanmu makan siang, kita makan bersama, yah.” Mercy mengeluarkan box berisi makan siang untuknya dan Gerald. “Ayo kita makan, Boo!” ajak Mercy. Tanpa ingin membuat Mercy kecewa akhirnya Gerald pun menyantap makanan itu walau saat ini dia tidak bernapsu untuk makan. Selesai makan, Mercy membereskan meja bekas makan mereka sedangkan Gerald kembali ke meja kerjanya dan fokus pada pekerjaannya. Melihat Mercy sudah selesai, Gerald pun memintanya untuk kembali ke apartemen. “Nanti malam kau akan mengunjungiku, ‘kan, Boo?” tanya Mercy. “Lihat saja nanti, Merc. Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan,” jawab Gerald. “Baiklah, telepon aku jika kau tidak bisa menemuiku,” kata Mercy dan Gerald menganggukkan kepalanya. *** Sudah 2 minggu Stella tinggal bersama orangtuanya, selama itu pula dia merasakan hari-harinya sepi walaupun sahabatnya selalu datang mengunjunginya. Tapi perasaannya tak bisa membohongi dirinya sendiri, ada yang hilang dari hidupnya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan dari mamanya yang sama sekali belum bisa dia jawab. Untungnya pekerjaan yang dijalaninya dapat sedikit membantu melupakan kesedihannya. Dering bunyi ponselnya menyadarkannya dari pekerjaan yang sedang dia kerjakan, dia pun dengan cepat mengangkatnya. Dari ekspresinya dapat terlihat kalau si penelpon bukan orang yang sangat dia harapkan. “Ada apa, Bel?” tanyanya lesu. “Loe kaya ga suka yah gue telepon, Stey?” “Gak gitu, Bel. Gue cuma lagi capek aja.” “Apa Rio memberikan pekerjaan yang berat sama loe ,Stey?” “Gak, Bel.” “Yah udah loe istirahat, Stey. Bye ....” Stella menutup teleponnya. Kenapa dia sama sekali gak pernah nelpon gue yah? Sedang apa dia saat ini? Jangan-jangan dia sedang bersenang-senang dengan Mercy, pikiran negatifnya muncul tiba-tiba. Dia membayangkan Gerald sedang bersenang-senang dengan Mercy di rumah itu sedangkan dia harus sendiri mengurus kehamilannya. Stella segera bangkit dari ranjangnya, dia berjalan menuju meja dan membuka laci yang terdapat pada meja itu. Diambilnya sebuah test pack yang sempat dibelinya ketika dia pulang ke rumah orangtuanya waktu itu. Apakah aku harus memberitahunya? tanyanya dalam hati sambil memegang perutnya yang sedikit membuncit. Setelah mempertimbangkan keputusannya akhirnya Stella mengambil inisiatif untuk menemui Gerald. Kita akan menemui daddymu, sayang, ucapnya dalam hati. Diambilnya tas dan ponselnya, dia pun keluar dari kamarnya. “Pa, Stey mau keluar dulu sebentar yah!” Stella mengambil kunci motor yang tergantung di dinding. “Mau ke mana kamu, Sayang?” tanya papanya. “Stey mau pulang sebentar, ada barang Stey yang tertinggal di sana,” ucap Stella sambil mencium pipi papanya. “Hati-hati di jalan, yah. Titip salam papa buat Gery,” ucap papanya. “Iya Pa. Dah ... Pa!” Stella berlari kecil menuju parkiran, ada perasaan senang di hatinya. *** Sementara itu di rumahnya, Gerald baru saja selesai mandi dan tengah berganti pakaian. Setelah menyisir rambutnya, dia pun keluar dari kamar untuk makan malam. Dituruninya anak tangga selangkah demi selangkah sampai anak tangga terakhir. “Boo, ayo kita makan. Aku sudah menyiapkan menu favoritmu!” seru Mercy sambil menggandeng tangan Gerald. “Lain kali jika kamu mau datang, telepon aku dulu, Merc,” ucap Gerald. Karena ketika dia pulang, Mercy sudah berada di dapur sedang memasak. “Oke. I’m sorry.” Mercy tersenyum. Gerald menyantap hidangan yang dibuat oleh Mercy. Di sampingnya, Mercy pun menikmati makan malam dengan menu dietnya. “Ger, malam ini aku ingin menginap di sini. Soalnya air di apartemen tidak menyala seharian ini, katanya besok baru akan diperbaiki.” Mercy meminta ijin pada Gerald. “Baiklah tapi cuma untuk malam ini, Merc,” ucap Gerald. “Oke. Aku janji cuma malam ini. Aku sudah selesai, aku mau mandi dulu, yah.” Mercy segera meninggalkan ruang makan menuju kamarnya yang memang sejak dulu dia tempati. Gerald tetap melanjutkan makannya sambil membuka ponselnya. Entah kenapa, dia ingin sekali menghubungi Stella untuk mengetahui keadaannya. “Nyonya! Anda sudah kembali!” teriak Nina yang sedang membereskan ruang tengah. Teriakan Nina membuat Gerald menghentikan makannya dan beranjak dari kursinya. “Nina, aku kangen sama kalian!” Stella memeluk Nina erat. “Nyonya, senang melihat Anda kembali.” Bi Asih yang mendengar teriakan Nina, ikut keluar dan memeluk Stella. “Aku juga senang melihat Bibi.” Stella mengusap airmatanya yang sempat keluar karena dia sudah menganggap kedua orang itu sebagai saudaranya. “Apakah nyonya sudah makan? Bibi akan siapkan makanan kesukaan nyonya, mie rebus yang pedas dengan telor ½ matang, yah, ‘kan?” tanya Bi Asih sambil mengusap airmatanya yang sempat keluar. “Gak usah, Bi. Aku udah makan di rumah.” “Bagaimana kabarmu, Stey?” Gerald yang sejak tadi hanya diam memperhatikan asisten rumah tangganya sedang melepas rindu dengan Stella akhirnya menghampiri Stella. “Aku baik-baik aja, G,” jawab Stella. Dia senang bisa bertemu dengan Gerald kembali. “Kalau begitu, kami pamit ke dapur dulu, Nyonya,” pamit Bi Asih mengajak Nina ikut bersamanya. Stella menganggukkan kepalanya. “Ehm ... aku ... aku ke sini karena ada barangku yang tertinggal di kamar, G. Selain itu ada sesuatu yang mau kukatakan,” kata Stella gugup sambil memutar-mutarkan kedua ibu jarinya. Gerald yang melihatnya hanya tersenyum tipis. “Itu betul, G. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa ikut aku mengambil barang itu,” ujar Stella serius. “Aku percaya. Ambillah ke kamar!” kata Gerald dengan senyum dikulum. Setelah mendapat ijin Gerald, Stella bergegas hendak naik ke atas menuju kamarnya. Tapi dari arah atas dia melihat Mercy dengan gaun tidur setali berbahan sutra tipis sebatas paha sehingga lekuk-lekuk tubuhnya yang sexy dapat terlihat jelas. Stella menoleh ke arah Gerald yang masih berdiri menatapnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. “Wow, lihat siapa yang datang! Ada apa kau kembali? Bukankah kontrakmu sudah selesai?” tanya Mercy sambil meliukkan tubuhnya menuruni anak tangga. “Merc, please. Jangan memulai keributan di rumah ini!” seru Gerald menghampiri Stella dan Mercy. Melihat Gerald menghampirinya, Mercy langsung bergelayut mesra dan menempelkan dadanya yang tidak mengenakan dalaman pada lengan pria itu. “Ckckck ... surat cerainya saja belum kamu urus tapi kamu udah tinggal serumah dengannya. Apa segitu gak sabarnya kamu, G?” tanya Stella mencibir pria itu. “Kau salah paham, Stey,” ucap Gerald sambil melepaskan tangan Mercy dari lengannya. “Itu urusanmu bukan urusanku.” Stella menaiki anak tangga dengan sedikit berlari. “Hei, kau mau ke mana, gadis kecil?” tanya Mercy menahan tangan Stella. “Ini bukan rumahmu jadi bukan urusanmu.” Stella menghentakkan tangan Mercy. Dia pun melanjutkan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Stella membuka kamarnya, dia mendekati meja nakas lalu membuka laci meja tersebut. Diambilnya sebuah kotak perhiasan yang berisi kalung berlian hadiah ulangtahunnya dari Gerald. Setelah mengambil barangnya, Stella pun hendak beranjak keluar tapi Gerald terlebih dulu masuk dan mengunci pintu kamar. “Mercy baru sore tadi datang dan dia ingin menginap di sini karena air di apartemennya mati, besok baru akan diperbaiki. Kau jangan salah paham, Stey,” jelas Gerald. “Kamu gak perlu ngejelasin, itu bukan urusanku. Aku udah dapat barangnya. Aku pulang sekarang,” seru Stella bermaksud keluar tapi tangannya langsung dicekal oleh Gerald. “Tadi kau bilang, ada sesuatu yang ingin kaukatakan?” tanya Gerald. Stella diam sejenak sampai akhirnya dia mengatakan, “Terima kasih untuk semuanya.” Stella menepis tangan Gerald dan berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, menahan airmatanya yang akan keluar. “Aku harap kau tidak kembali lagi ke rumah ini dan jangan lagi menemui kekasihku.” Tiba-tiba Mercy keluar dari arah dapur. “Kekasihmu? Sebelum surat perceraiannya keluar, dia tetap suamiku dan aku berhak keluar masuk rumah ini. Sebaliknya, kau adalah seorang figur tapi cara berpakaianmu di rumah orang seperti seorang j****g,” balas Stella tajam, membuat Mercy membelalakkan matanya marah dan menampar Stella. Mendapatkan tampar yang tak terduga seperti itu, membuat Stella juga marah dan balas menampar Mercy. “Hentikan kalian berdua!” Gerald berlari menuruni tangga melihat Mercy dan Stella saling tampar. Tapi keduanya tidak menghiraukan ucapan Gerald. Bahkan saat ini mereka saling menjambak rambut, Gerald di bantu oleh Ben melerai keduanya. Gerald memegang kedua tangan Stella dari belakang begitu juga dengan Ben yang megang kedua tangan Mercy dari belakang. “Hentikan!” bentak Gerald, membuat Stella dan Mercy cukup tersentak kaget. “Lepaskan, aku mau pulang!” Stella meronta dalam pelukan Gerald. “Aku akan mengantarmu,” bisik Gerald. “Gak perlu! Kamu urus aja kekasih gilamu itu!” seru Stella sambil terus meronta. “Kenapa kau begitu keras kepala, Stey? Apa kau cemburu?” Gerald mulai hilang kesabarannya dan membalikkan tubuh Stella menghadapnya. “Bukan urusanmu. Lebih baik urus aja calon istri baru ... aaah ... perutku ... sa–kit, G,” teriak Stella sambil mencengkram kuat kaos yang dikenakan Gerald. “Stey ...!” seru Gerald segera merangkul tubuh Stella yang hendak jatuh. “Tuan, kaki nyonya ...!” Seru Ben. Gerald melihat ke arah yang ditunjuk Ben dan dia terkejut melihat cairan merah yang mengalir di antara kedua kaki Stella. “Ben, segera siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang!” Dengan cekatan, Gerald pun mengalungkan kedua tangan Stella di lehernya dan mengangkat kedua kakinya, menggendongnya menuju mobil. *** Dalam 15 menit mereka sampai di rumah sakit karena jarak antara rumah Gerald dan rumah sakit tergolong dekat. Dengan bantuan perawat, Stella dibawa menggunakan tempat tidur dorong ke ruang UGD. Gerald menunggunya di luar ruangan dengan perasaan gelisah, sampai akhirnya Dave datang menemuinya. “Ada apa dengan Stella, Ger? Aku bertemu Ben di bagian administrasi?” tanya Dave. “Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba di kakinya mengalir darah segar,” jawab Gerald dengan gelisah. “Apakah dia hamil, Ger?” tanya Dave. “What?” Gerald kaget dengan pertanyaan yang diajukan Dave. “Lalu kenapa dia bisa pendarahan?” tanya Dave. “Dia berkelahi dengan Mercy di rumah.” Geraldpun menceritakan kejadian itu, sampai pintu ruangan UGD terbuka dan keluarlah seorang dokter wanita. “Serena, apa kau yang menangani istri dari sahabatku?” tanya Dave. “Iya. Apa Anda suaminya?” tanya Serena pada Gerald. “Iya betul. Saya suaminya. Bagaimana keadaannya, Dok?” “Istri Anda baik-baik saja, begitu juga dengan janinnya. Dia mengalami arbotus insipiens di mana pendarahan terjadi karena adanya pembukaan pada rahim. Biasanya itu bisa terjadi pada trimester pertama jadi saya anjurkan istri Anda harus bed rest di rumah dan untuk sementara tidak berhubungan dengannya,” jelas Serena pada Gerald dan disambut senggolan di tangannya oleh Dave. “Berapa usia kehamilannya saat ini?” tanya Gerald pada Serena. “Dari hasil USG terlihat, besarnya janin diperkirakan memasuki usia 7 minggu. Selama beberapa hari saya sarankan untuk dirawat di sini,” saran Serena. “Ok, Dok. Thank you,” ucap Gerald. “Anda bisa menemaninya setelah istri Anda di pindahkan ke ruang rawat. Kalau begitu saya pamit dulu.” Serena menganggukkan kepalanya kepada Gerald dan Dave. “Benar dugaanku, ‘kan?” Dave menepuk bahu Gerald. “Apakah Stella mengetahuinya?” tanya Dave. “Entahlah, tapi dia sempat ingin mengatakan sesuatu padaku.” “Saranku, pikirkan kembali pernikahan kalian. Jangan sampai kau menyesal, Ger! Aku harus memeriksa pasien-pasienku dulu nanti aku menemuimu di ruang rawat!” Dave menepuk bahu Gerald dan beranjak dari sisi Gerald untuk memeriksa pasiennya. Tak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka, tampak 4 orang perawat mendorong ranjang yang ditempati Stella untuk di pindahkan ke ruangannya, Gerald mengikutinya sampai ke sebuah ruangan president suite di rumah sakit itu. Setelah memindahkan Stella ke tempat tidur dan memasang selang infus, para perawat itu pun meninggalkan ruangan. Gerald menghampiri Stella yang masih tertidur, dirapikannya anak-anak rambut yang menutupi kening istri kecilnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD