Bab 20. Rahasia yang terungkap

3260 Words
Gerald menghampiri Stella yang masih tertidur, dirapikannya anak-anak rambut yang menutupi kening istri kecilnya itu. “Apa kau tahu kalau kau akan menjadi seorang ibu?” gumam Gerald memegang telapak tangan Stella. Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah Ben. “Tuan, ini tas nyonya. Bagaimana keadaan nyonya?” “Dia baik-baik saja tapi masih harus dirawat di sini. Minta Bi Asih menyiapkan pakaian untuk nyonya dan aku. Besok bawa ke sini dan kau bisa pulang sekarang!” perintah Gerald. “Baik Tuan. Saya permisi.” Ben meninggalkan ruangan itu. Bunyi ponsel terdengar dari dalam tas Stella yang diletakkan Ben di atas meja, Gerald mengambil tas itu dan membukanya. Diambilnya ponsel itu dan tertera nama mertuanya pada layar ponsel. “Halo Ma!” sapa Gerald. “Gery, apa Stella bersamamu?” “Iya Ma. Dia bersamaku sekarang tapi saat ini dia sedang tertidur.” “Oh, syukurlah kalau begitu, mama takut dia kenapa-kenapa di jalan soalnya dia membawa motor ke sana.” “Jangan khawatir, Ma. Oya, besok aku akan minta Ben ke sana untuk mengambil pakaian Stella.” “Baiklah, mama akan siapkan semuanya. Tolong jaga Stey yah, Nak. Selamat malam!” “Aku akan selalu menjaganya, Ma. Selamat malam.” Ketika akan memasukkan kembali ponsel Stella ke dalam tasnya, dia melihat sebuah alat dengan 2 garis merah ditengahnya lalu dia melihat ke Stella. Apakah ini yang ingin dia katakan padaku? tanyanya dalam hati. Diambilnya alat itu dan dimasukkan ke dalam saku kemejanya lalu dia pun duduk di sofa sambil memejamkan matanya. *** Stella membuka matanya ketika mendengar suara pintu terbuka dan Ben masuk dengan membawa 2 buah tas. Setelah memberi salam kepada Stella, dia meletakkan kedua tas itu di sofa. Stella memalingkan wajahnya ke sofa, Gerald sedang tidur di sana. Dia hendak turun dari tempat tidurnya. “Anda mau ke mana, Nyonya?” Ben menghampiri Stella yang akan turun. “Aku mau ke kamar mandi, Ben,” kata Stella dengan tersenyum. “Kalau begitu biar saya bantu, Anda tidak diperbolehkan turun dari tempat tidur, Nyonya!” Ben menghampiri Stella. “Kalau aku gak boleh turun lalu bagaimana caranya aku ke kamar mandi, Ben?” tanya Stella sambil mengelengkan kepalanya. “Aku akan menggendongmu!” Stella dan Ben memalingkan wajah mereka dan melihat Gerald mendekati mereka. “Gak usah. Aku bisa sendiri,” ketus Stella membandel. “Jangan keras kepala, Stey!” seru Gerald, dia mengambil infusan pada tiangnya dan memberikannya pada Stella. “Pegang ini!” perintah Gerald dan Stella langsung memegangnya. “E–eeeh.” Stella kaget karena Gerald sudah mengendongnya menuju kamar mandi. “Kalau sudah selesai, panggil aku!” kata Gerald setelah menurunkan Stella di kamar mandi. Stella pun meminta Gerald mengambilkan tas pakaiannya karena dia ingin sekalian membasuh tubuhnya. Sementara menunggu Stella mandi, Gerald menemui Ben dan memintanya ke kantor untuk mengambil beberapa berkas yang harus dia tandatangani segera. Stella membuka pintu kamar mandi sambil membawa infusan, Gerald segera menghampirinya lalu mengendong Stella, membawanya ke tempat tidur dan meletakkan kembali infusan itu di tiangnya. “Aku mau ke kantor,” ucap Stella singkat. “Mulai sekarang kau berhenti dari pekerjaanmu. Menurut Dokter, kau harus dirawat di sini.” Gerald mengambil kursi dan duduk di samping ranjang. “Aku gak akan berhenti kerja. Kenapa aku harus dirawat? Aku merasa sehat-sehat aja, kok. Jadi tolong, mintakan ijin pada dokter itu supaya aku bisa keluar dari sini,” pinta Stella sambil membuang pandangannya ke tempat lain. “Apa kau sungguh tidak tahu alasan kau harus dirawat? Apa yang ingin kau bicarakan semalam?” tanya Gerald penuh selidik. Dia merasa yakin jika Stella menutupi kehamilannya. “Aku gak tahu dan gak ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Jika kamu tidak mau bicara dengan dokter, biar nanti aku yang bicara sendiri dengannya. Aku lelah.” Stella merebahkan tubuhnya membelakangi Gerald dan menutup tubuhnya dengan selimut. “Baru pertama kalinya aku menemukan gadis keras kepala sepertimu, Stey,” ucap Gerald mulai sedikit emosi. “Kalau gitu, tinggalkan aja aku sendiri. Biar kau bisa menghabiskan waktu dengan calon istrimu itu,” balas Stella. Merasa tidak akan ada ujungnya jika berdebat dengan gadis itu akhirnya Gerald mengalah, dia beranjak dari kursi menuju pintu dan keluar dari kamar rawat itu. Mendengar pintu tertutup, Stella membalikkan tubuhnya. Dia merasa menyesal meminta Gerald meninggalkannya sendiri di kamar yang besar ini, pasti sekarang dia benar-benar menemui wanita itu, pikir Stella. Dadanya tiba-tiba sakit membayangkan suaminya menemui wanita lain. *** Sudah 1 minggu Stella dirawat di rumah sakit dan selama itu pula Gerald menemaninya, semua pekerjaannya dikerjakannya di rumah sakit, jika ada berkas yang harus dia tandatangani, Ben yang diperintahkan untuk membawa berkas-berkas itu ke rumah sakit. “Kapan aku bisa pulang, G? Aku bosan di sini,” tanya Stella ketus. “Sampai dokter mengijinkan kamu pulang,” jawab Gerald yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya. Mendengar jawaban Gerald yang sedikit ketus menurutnya, membuat Stella kesal dan melempar bantalnya ke lantai. Tapi Gerald tidak meresponnya, dia tetap fokus pada layar laptopnya. Stella membaringkan diri membelakangi Gerald. Melihat Stella yang sedang merajuk, Gerald tersenyum tipis. Seharusnya dia yang kesal karena sampai saat ini Stella masih saja menutupi kehamilan darinya. Pernah dia bertanya pada Stella tentang sesuatu yang ingin dikatakan istrinya itu ketika datang ke rumah tapi Stella tidak jujur menjawabnya sehingga Gerald pun melakukan hal yang sama dengan tidak memberitahu pada Stella bahwa sebenarnya dia sudah tahu tentang kehamilan istri kecilnya itu. Bahkan ketika Stella bertanya pada dokter kenapa dia harus dirawat, Gerald terlebih dahulu berpesan pada dokter itu untuk tidak membicarakan tentang kehamilan Stella. “Mana ponselku, G?” Stella mencari ponselnya di laci meja tapi tidak menemukannya. “Untuk apa?” tanya Gerald sambil menatap Stella dari tempat duduknya. “Apa aku harus memberitahumu juga? Itu ponselku, hakku meminta ponselku kembali,” ketus Stella. “Aku hanya bertanya untuk apa kamu menanyakan ponselmu?” Gerald berdiri dari sofa menghampiri Stella dan memberikan ponselnya. “Bukan urusanmu.” Stella merampas ponselnya yang sedang berada di tangan Gerald lalu menekan tombol untuk menelpon. “Halo, Yo.” “Stella, kamu ke mana saja?” “Sorry, Yo. Aku belum bisa masuk kerja karena aku sedang sakit. Tapi setelah sembuh aku janji akan masuk kantor. Kamu masih mau menerimaku, ‘kan?” Stella mendelik ke Gerald yang sedang menatapnya. “Tentu saja, Ste. Kamu sakit apa? Aku dan Bella akan menjengukmu.” “Enggak usah, Yo. Pokoknya tidak lama lagi aku akan ke kantor.” TOK ... TOK ... TOK Stella mengakhiri teleponnya setelah mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Pamela masuk dengan membawa berkas untuk ditandatangani oleh Gerald. Setelah memberi salam pada Gerald dan Stella, dia menghampiri Gerald untuk menyerahkan berkas-berkas yang bosnya minta. “Ini berkas-berkas dari proyek yang harus Anda tandatangani.” Pamela menyerahkan berkas itu. Gerald mengambil berkas itu dan mempersilahkan Pamela untuk duduk, dia pun duduk di samping gadis itu. “Kau perhatikan sketsa bangunan ini. Aku ingin kau merevisi pada bagian ini dan ini!” perintah Gerald dengan menunjukkan beberapa bagian yang dimaksud. “Baik, Tuan. Apa untuk bagian ini tidak perlu direvisi?” Pamela menunjuk suatu bagian pada gambar itu. “Hmm ... apa menurutmu itu harus di revisi?” tanya Gerald mengubah posisi duduknya sedikit merapat ke Pamela sehingga membuat Stella emosi. “Ini rumah sakit bukan kantor. Kenapa kalian gak cari tempat lain aja? Aku mau tidur.” Stella memotong pembicaraan Gerald dan Pamela. “Maafkan aku, Stella,” ucap Pamela merasa tidak enak hati. “Kamu tidak perlu minta maaf. Saya yang seharusnya minta maaf atas sikap istri saya. Kamu sudah makan siang?” tanya Gerald pada Pamela. “Belum Tuan. Mungkin nanti sepulang dari sini,” jawab Pamela. “Kalau begitu, kita makan siang bersama, sekalian membahas masalah sketsa bangunan ini!” ajak Gerald menutup laptopnya dan mengajak Pamela keluar dari kamar itu. “Aku permisi dulu, Stella. Cepat sembuh, yah!” ucap Pamela lalu meninggalkan kamar itu. Gerald mengikutinya dari belakang. “Pergi sana, jangan balik lagi ke sini! Gue gak butuh loe, dasar Om-Om gak punya perasaan,” teriak Stella sambil melempar satu bantal yang tersisa dan selimut yang ada di depannya. Gerald mendengarnya tapi dia tidak menghiraukan ucapan Stella karena dia tidak ingin membuat Stella bertambah emosi. *** Ketika Gerald kembali ke ruangan itu, dia tidak melihat Stella di tempat tidur. Diambilnya bantal dan selimut yang tergeletak di lantai. Dia mencari Stella ke kamar mandi tapi Stella tidak di sana. Gerald segera berlari keluar kamar untuk mencari Stella. Saat itu juga ponselnya bergetar, Gerald mengambil ponselnya dari saku celana. “Ada apa, Dave?” tanyanya. “Stella sedang bersamaku, Ger. Kau ke ruanganku sekarang!” Gerald mematikan ponselnya lalu bergegas menuju ruangan Dave. “Kenapa kamu kasih tahu dia kalau aku di sini, Dave?” tanya Stella dengan wajah merengut. “Dia pasti khawatir melihat kau tidak ada di kamar, Stella.” Dave mengambil duduk di depan Stella yang sedang duduk di kursi roda. Flashback on Setelah Gerald dan Pamela keluar dari kamar, Stella uring-uringan melempar bantal dan selimutnya dan tepat pada saat itu Dave datang melihatnya. Untuk menenangkan hati Stella, sengaja Dave mengajaknya keluar ruangan dan mengitari koridor rumah sakit dan berakhir di ruangannya saat ini. Flashback off “Khawatir apanya? Dia hanya sibuk dengan laptopnya dan asistennya yang cantik itu. Sampai sempat-sempatnya ngajak makan siang segala,” gerutu Stella. Melihat wajah Stella yang sedang merengut, Dave tersenyum. Dia dapat menarik kesimpulan kalau istri sahabatnya itu saat ini sedang cemburu. Pintu ruangannya terbuka, Gerald masuk dan mengunci kembali pintu itu. “Apa yang kaulakukan di sini?” tanya Gerald menghampiri Stella tapi Stella justru mengacuhkannya. “Aku yang mengajaknya keluar, Ger. Ketika aku datang, Stella terlihat jenuh jadi aku membawanya jalan-jalan di sekitar sini.” Dave memberi penjelasan pada Gerald. “Dave, kapan aku boleh pulang? Aku gak betah kalau harus tinggal di sini. Aku bosan,” seru Stella. “Aku akan tanyakan dengan doktermu nanti, yah.” Dave menjawab sambil melirik Gerald. “Kamu sama saja, Dave. Apa kau juga menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Stella kesal. “Bagaimana denganmu? Apa kau tidak menyembunyikan sesuatu padaku?” tiba-tiba Gerald bertanya pada Stella. Mendapat pertanyaan dari Gerald membuat Stella terkejut. “Apa maksudmu? Apa yang aku sembunyikan darimu, G?” tanya Stella yang masih tidak mengerti maksud pertanyaan Gerald. “Oh yah? Kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan dariku?” Gerald mendekati Stella dan membungkukkan badannya dengan kedua tangan bertumpu pada kursi roda agar sejajar dengan istrinya. “Kalau begitu, aku keluar dulu untuk memeriksa pasienku.” Dave memotong pembicaraan Gerald dan Stella lalu keluar dari ruangannya untuk memberi kesempatan pada pasangan itu meluruskan persoalan mereka. “Aku mau ke kembali ke kamar.” Stella hendak mendorong kursi rodanya tapi Gerald menahannya. “Jawab aku, Stey! Apa yang kau sembunyikan dariku?” “Enggak ada. Aku mau kembali ke kamar,” rajuk Stella tapi Gerald tetap menahannya. “Lalu ini apa? Ini yang kau sembunyikan dariku?” Gerald memperlihatan sebuah test pack yang didapatnya dari tas Stella, membuat Stella tercengang melihat alat itu. “Kembalikan padaku.” Stella berusaha merampas alat itu dari tangan Gerald tapi tidak berhasil. “Sekarang katakan padaku! Kapan kau tahu bahwa kau hamil?” tanya Gerald. “Ketika aku kembali ke rumah orangtuaku,” ketus Stella. “Kenapa kau tidak langsung memberitahuku saat itu?” “Untuk apa? Apa kamu mau menerimanya jika aku mengatakannya?” Stella balik bertanya dan membalas tatapan Gerald. “Apa kaupikir aku seburuk itu di matamu?” Gerald melihat mata Stella yang berkaca-kaca. “Hiks ... Aku gak mau menjadi penghalang antara kamu dan Mercy hiks ....” Setelah berusaha menahan agar tidak menangis di depan Gerald akhirnya tangisan Stella pecah. Dia mengingat bagaimana ketika pertama kali dia mengetahui bahwa dirinya hamil, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia berusaha memecahkan masalah itu sendiri tapi tidak bisa. Gerald segera memeluknya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Stella saat itu. “Hush ... jangan menangis. Aku yang salah. Maafkan aku!” kata Gerald sambil tetap memeluk dan mengelus kepala Stella. “Hiks ... hiks ... aku juga gak mau ini terjadi, G. Aku berusaha memecahkan masalah ini sendiri tapi aku gak tahu harus bagaimana.” Stella menangis dipelukkan Gerald, airmatanya membasahi kemeja yang dikenakan pria itu. “Harusnya kau memberitahuku, Stey. Jangan menanggung beban sendirian. Kau tidak perlu takut, aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah kuperbuat.” Mendengar pernyataan Gerald, Stella mengangkat wajahnya menatap suaminya itu. “Apa maksudmu?” tanyanya. “Aku belum menceraikanmu, Stey. Itu artinya kau masih istriku dan janin yang ada di kandunganmu adalah anakku. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan anak kita,” ucap Gerald. “Lalu bagaimana dengan Mercy?” tanya Stella penasaran. Gerald kembali menatapnya. “Kita bisa membicarakannya nanti.” “Aku mau pulang, G.” pinta Stella. “Aku akan bicara dengan Dokter.” Gerald melepaskan pelukannya lalu mendorong kursi roda yang dipakai Stella, membawanya kembali ke kamar rawat. *** Akhirnya dengan ijin dokter kandungannya, Stella diperbolehkan pulang dan menjalani bed rest di rumah. Dia pun harus menjalani rawat jalan setiap bulannya untuk memantau keadaan janin yang ada di kandungannya. Hari ini dia akan kembali ke rumah, tinggal menunggu hasil pemeriksaannya selesai. Pintu kamarnya terbuka, Dokter Serena masuk dengan sebuah map ditangannya. “Hasil pemeriksaannya bagus dan janinnya juga sehat. Tapi tetap kamu harus bed rest di rumah selama trimester pertama,” jelas Dokter Serena. “Selama itu, Dok? Jadi saya tidak boleh jalan-jalan selama 3 bulan ini? Bisa tua di kamar kalau gitu?” tanya Stella sambil menggerutu. “Tidak akan lama, nanti juga kamu akan terbiasa. Oya, kamu juga tidak boleh berhubungan selama 3 bulan ini, yah!” kata Serena sambil tersenyum dan melirik Gerald. “Sampai gak boleh berhubungan dengan siapapun juga?” tanya Stella polos membuat Serena tersenyum lebar. “Kami mengerti, Dok. Thank you sudah merawat istri saya,” ucap Gerald menghalau pertanyaan Stella pada Serena. “Kalau begitu saya permisi dulu, yah.” Serena pamit keluar dari kamar itu. “Ini gak bener, G. Masa aku juga gak boleh berhubungan dengan siapapun. Aku bisa bosan, G,” protes Stella. Sekarang Gerald yang dibuat pusing oleh istrinya itu, dia harus mencari cara untuk menjelaskan maksud perkataan Dokter Serena. “Lebih baik kita pulang dulu, oke!” kata Gerald hendak memindahkan Stella ke kursi rodanya. “Kita pulang ke mana, G?” tanya Stella sambil mengalungkan tangannya ke leher Gerald yang menggendongnya. “Memang menurutmu kita pulang ke mana?” tanya Gerald mendudukkan Stella di kursinya. “Tentu aja ke rumah orangtuaku, G. Aku gak mau tinggal di rumahmu karena kontrak kita sudah selesai,” jawab Stella. “Mulai hari ini, kau akan tinggal bersamaku. Aku belum menceraikanmu, Stey. Kita masih terikat pernikahan, lagipula kita tidak pernah menandatangani kontrak itu.” Gerald mendorong kursi Stella keluar kamar. “Aku tetap mau tinggal dengan orangtuaku, G. Aku gak mau tinggal serumah dengan Mercy.” Stella teguh pada pendiriannya. “Siapa yang mengatakan Mercy tinggal bersamaku? Itu asumsimu saja, Stey. Seperti yang pernah kukatakan, dia menginap hanya malam itu saja dan malam itu aku tidur di sini menemanimu,” jelas Gerald. “Lagipula jika kau tinggal di sana, siapa yang akan menemanimu? Kau akan menambah beban mama dan papa, kasian mereka. Sedangkan di rumah kita, ada Bi Asih dan Nina yang bisa menemanimu di kamar.” Mereka sampai di parkiran dan Ben membuka pintu belakang. Gerald memindahkan Stella ke dalam mobil dan ikut masuk ke dalam mobil. Ben pun masuk ke mobil membawa kedua majikannya kembali ke rumah. *** “Ah, Nyonya sudah kembali.” Bi Asih menyambut Stella. “Selamat datang kembali, Nyonya,” sapa Nina dari arah pintu masuk. “Terima kasih, Bi Asih, Nina.” Stella mengacungkan ibujarinya. “Bi Asih, Nyonya harus bed rest selama 3 bulan di tempat tidur. Tolong, segala keperluannya diantar ke kamar dan itu tugasmu, Nina. Oya, tugasmu juga menemaninya selama aku di kantor,” perintah Gerald. “Baik Tuan,” ucap kedua asisten rumah tangganya itu. Gerald menggendong Stella dari kursi rodanya dan Ben membawa kursi itu ke lantai atas. Setelah memindahkan Stella ke tempat tidur, Gerald memasukkan kursi roda ke kamar lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Stella mengambil ponselnya untuk memeriksa pesan yang masuk lalu dibalasnya pesan itu satu persatu. Tak berselang lama, Gerald keluar dari ruang ganti dengan pakaian rapi berjas hitam. “Kamu mau ke mana?” tanya Stella. “Aku harus ke kantor. Ada pertemuan penting dengan relasi dari jepang.” “Apakah akan lama?” tanya Stella kembali. “Kenapa? Tidak biasanya kau bertanya seperti itu,” tanya Gerald, dia melihat kecemasan di wajah Stella. “Enggak apa-apa. Aku cuma bosan sendirian di kamar.” “Aku akan minta Nina menemanimu. Begitu semua selesai, aku akan segera pulang,” kata Gerald, Stella menganggukkan kepalanya. Sifat manjanya mulai terlihat dan Gerald menyukai sikap itu. Sebelum pergi, dia menghampiri Stella dan mengecup kepalanya. Rasa kangen yang mendalam setelah 2 minggu tidak bertemu Gerald membuat Stella tidak canggung mengalungkan lengannya pada leher pria itu, entah karena hormon kehamilannya atau karena memang dia begitu merindukan Gerald. Tanpa sungkan sedikitpun, Stella memberi kecupan pada sudut bibir pria itu. Setelah itu, dia memundurkan wajahnya ketika melihat Gerald sedang menatapnya. Stella terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan, dia malu lalu menundukkan wajahnya dan melepas rangkulannya. Untuk tidak membuat Stella merasa malu, Gerald mengangkat wajah itu lalu mendekatkan wajahnya mengecup bibir Stella singkat. “Baik-baik di rumah. Aku pergi dulu!” pamit Gerald sambil tersenyum. *** Setelah menemui relasinya dari Jepang akhirnya Gerald tiba di kantor pada siang hari. Sapaan dari para karyawannya dibalasnya dengan senyuman kebahagiaan karena hari ini perusahaannya berhasil bekerjasama dengan perusahaan Jepang selain itu ada kebahagian lain yang dia dapatkan. Dia memasuki ruangannya yang di sana sudah menunggu seseorang dari masa lalunya. “Boo ...” sapa Mercy menghampiri Gerald dan mengecup pipinya. “Merc, ada apa kau ke sini?” tanya Gerald. “Aku kangen kamu, Boo. Setelah kejadian malam itu, kamu tidak pernah mengunjungiku lagi.” Mercy mengikuti Gerald yang sedang berjalan menuju mejanya. “Banyak kerjaan yang harus kuselesaikan, Merc. Maafkan aku!” ujar Gerald sambil duduk di kursinya. “No, Ger. Kau sibuk mengurus gadis itu, ‘kan. Apa kau mencintainya, Boo?” Mercy mendekati Gerald yang sedang membuka laptopnya. “Kau bicara apa, Merc? Tolong, jangan memulai pertengkaran, Merc!” pinta Gerald sambil membuka pesan yang masuk di emailnya. “Kamu berubah, Ger. Oke, aku tidak akan mengganggumu.” Mercy berbalik dan mengambil tas yang diletakkannya di sofa lalu bergegas keluar dari ruangan itu bahkan panggilan Gerald padanya tidak digublisnya. Gerald menutup laptopnya dan bergegas menyusul Mercy. Dia juga merasa bersalah karena beberapa hari ini tidak pernah menemui wanita itu. Dikejarnya Mercy yang sudah berada di lobi menuju pintu keluar. “Tunggu, Merc! Aku akan mengantarmu ke apartemen.” Cekalan tangan Gerald pada lengannya membuat Mercy menghentikan langkahnya. Gerald dapat melihat genangan airmata yang siap keluar pada kelopak mata wanita itu. Mercy menganggukkan kepalanya dan berjalan bersama Gerald menuju tempat parkir. Beberapa pasang mata karyawan yang sedang di lobi memperhatikan kejadian itu. Gerald mengantar Mercy sampai pintu apartemen, setelah menekan passwordnya pintu pun terbuka. “Aku harus kembali ke kantor, Merc,” ucap Gerald. Mercy tidak menjawab tapi dia menatap Gerald dengan wajah sedih. “Setidaknya, masuklah sebentar, Boo!” ajak Mercy. “Aku harus kembali ke kantor, Merc. Nanti sepulang kantor, aku akan mampir.” Setelah mendengar Gerald akan kembali lagi sepulang kerja akhirnya Mercy menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Aku menunggumu, Boo.” Stella mengecup bibir Gerald. “Aku pergi dulu.” Gerald pun meninggalkan apartemen itu dan kembali ke kantor. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD