Pulang kerja Gerald menepati janjinya kepada Mercy untuk datang ke apartemen. Ditekannya password yang terdiri dari tanggal jadi mereka sebagai sepasang kekasih. Setelah pintu terbuka, Gerald pun masuk ke dalam ruangan yang cukup luas untuk ukuran sebuah apartemen yang dia beli dari hasil jerih payahnya sendiri. Dia membeli apartemen ini untuk ditempatinya bersama Mercy setelah menikah tapi ternyata pernikahan itu tidak pernah terjadi. Selama 3 tahun dia datang ke apartemen hanya untuk beristirahat pada saat jam makan siang.
“Kau sudah datang, Boo,” sambut Mercy yang sedang menyiapkan makan malam.
“Ya, apa yang kaumasak?” tanya Gerald.
“Makanan kesukaanmu, Boo. Ayo, kita makan!” ajak Mercy. Gerald bergegas ke wastafel untuk mencuci tangannya, setelah itu dia kembali ke meja makan. Meskipun Mercy seorang model tapi Gerald mengakui kalau masakan wanita yang dicintainya itu sangatlah lezat. Selama 3 tahun dia merindukan rasa masakan itu dan sekarang kembali dia dapat merasakannya.
Selesai makan malam, Gerald menuju ruang keluarga. Sementara Mercy mencuci peralatan makan mereka. Tak berselang lama, Mercy menghampiri Gerald dengan membawa 2 gelas ukuran sedang yang sudah terisi wine. Mercy memberikannya pada Gerald kemudian duduk di sebelah Gerald.
“Apa yang terjadi dengan gadis kecil itu, Boo?” tanya Mercy membuat Gerald sedikit kaget.
“Mmh ... dia sudah baik-baik saja,” jawab Gerald sambil meneguk winenya.
“Aku melihat darah segar itu, Boo. Apakah dia keguguran?” Gerald tidak menjawab pertanyaan Mercy, dia terus menuang wine ke dalam gelasnya dan meneguknya.
“Dasar gadis liar, bisa-bisanya dia hamil dengan masih menyandang status sebagai istrimu. Kau harus segera menceraikannya, Boo,” ujar Mercy. Gerald menatap Mercy sesaat kemudian dia kembali meneguk wine dalam gelasnya.
“Boo ....” Mercy mendekati Gerald yang mulai sedikit mabuk. Gerald kembali menatapnya, tanpa menunggu lama bibir Mercy menyentuh bibir pria itu. Lumatan-lumatan kecil yang dilakukan Mercy akhirnya mendapat respon dari Gerald. Gerald membalas lumatan Mercy dengan menekan tengkuk wanita itu. Mercy membaringkan tubuhnya di sofa, menarik leher Gerald yang masih melumat bibirnya. Perlahan jemarinya mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Gerald satu persatu lalu dia melepaskan kemeja itu dari tubuh pria yang sangat dia cintai. Sampai akhirnya suara getaran pada ponsel Gerald menghentikan aktifitasnya. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Gerald segera mengangkatnya.
“Halo,” sapanya dengan suara sedikit parau.
“Kamu di mana, G? ( Suara Stella terdengar dari speaker ponselnya ) membuat Gerald tersentak kaget.
“Aku ... aku segera pulang. Oke,” jawab Gerald.
“Siapa yang mengganggu kita, Boo.” Tiba-tiba Mercy merangkul Gerald dari belakang. Dia tahu siapa yang saat ini menelepon kekasihnya.
“Halo ... Stey,” panggil Gerald tapi teleponnya sudah diputus dari pihak Stella. Gerald segera mengambil kemeja dan mengenakannya kembali.
“Kau mau ke mana, Boo?” tanya Mercy melihat Gerald begitu tergesa-gesa mengenakan kemeja dan memasukkan ponselnya ke dalam jas.
“Aku harus pulang, Merc,” pamit Gerald, dia berjalan ke arah pintu dan memakai sepatunya lalu pergi meninggalkan apartemen itu.
***
Stella mematikan ponselnya dan melemparnya ke lantai. Dia sengaja menelepon Gerald karena sampai jam 10 malam pria itu belum juga pulang. Padahal seingatnya tadi siang, Gerald mengatakan akan segera pulang. Tapi, apa yang didengarnya tadi? Suara Mercy yang begitu mesra. Apa yang sedang dilakukan Gerald di apartemen wanita itu? Pikiran Stella penuh dengan dugaan negatif.
Stella turun dari ranjangnya untuk mengambil ponselnya yang sudah pecah lalu meletakkannya di meja. Tanpa dilihatnya sebuah pecahan kaca terinjak olehnya, dia mengangkat kakinya dan mencabut kaca yang menancap pada telapak kakinya. Darah merembes keluar dari bekas sayatan kaca tersebut, Stella membawa tubuhnya menuju kamar mandi untuk mencuci kakinya.
Ketika Stella keluar dari kamar mandi, dia melihat Gerald sudah berada di kamar. Hatinya kembali kesal, tanpa menyapa sedikitpun Stella menuju meja panjang untuk mengambil kotak p3k dan membawanya ke ranjang.
“Apa yang terjadi, Stey?” tanya Gerald melihat Stella membawa kotak p3k. Tapi pertanyaannya sedikitpun tidak digublis oleh Stella. Gerald melihat Stella mengoleskan cairan antiseptik pada telapak kakinya yang berdarah. Gerald mendekatinya dan duduk di ranjang tepat di hadapan Stella.
“Kenapa dengan kakimu, Stey?” tanya Gerald sambil memegang kaki Stella. Tapi Stella langsung menarik kakinya dan mundur menjauhi pria itu.
“Ada apa denganmu, Stey?” tanya Gerald mulai terpancing emosinya. Stella tetap tidak menggublisnya, dia kembali hendak turun dari ranjang kalau saja Gerald tidak menghalanginya dengan memegang pergelangan tangannya.
“Ingat, kau harus bed rest!” kata Gerald.
“Apa pedulimu?” ketus Stella dan menepis tangan Gerald. Dia tetap turun dari ranjang menuju meja untuk menyimpan kembali kotak p3knya. Emosinya terpancing, Gerald menghampiri Stella dan membalikkan tubuh mungil gadis itu untuk menghadapnya.
“Ada apa denganmu, Stey?” tanya Gerald. Dia menatap Stella yang sedang menatapnya tajam dengan mata berkaca-kaca. Sekarang Gerald tahu penyebabnya adalah dia. Dia yang hampir saja lupa diri, untung Stella meneleponnya.
“Tadi kamu bilang akan segera pulang setelah urusanmu selesai. Aku menunggumu sampai jam 10 tapi kamu malah ....” Stella tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menepis tangan Gerald yang sedang memegang bahunya. Stella menuju ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Gerald mendekatinya dan menyingkap selimut yang menutupi wajah Stella.
“Aku minta maaf. Aku yang salah karena melupakan janjiku untuk segera pulang. Maafkan aku, Stey.” Gerald duduk di ranjang di samping Stella. Dia merasa bersalah mengingat apa yang hampir saja dia perbuat dengan Mercy, dia hampir menodai pernikahannya dengan Stella. Sebelum meninggalkan Stella ke kamar mandi, dia mengecup kepala gadis itu dan beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.
***
Pagi itu selesai mandi, Stella berdiri menghirup udara pagi dari balkon kamarnya. Dari tempatnya berdiri saat ini, dia dapat melihat taman kota yang banyak didatangi ibu-ibu sambil membawa anak-anak mereka. Stella tersenyum lalu memegang perutnya yang sudah terlihat agak sedikit membuncit, apalagi dengan gaun berbahan rayon yang dikenakannya saat ini makin terlihat jelas kehamilannya.
“Ayo, kita sarapan dulu, Stey!” Stella kaget melihat Gerald ada di belakangnya. Dia segera menurunkan tangannya yang saat itu sedang memegang perutnya. Stella berharap Gerald tidak melihat apa yang baru saja dia lakukan. Tanpa menjawab ajakan pria itu, Stella beranjak menuju sofa. Di meja sudah tersedia sandwich yang di dalamnya terdapat smoked beef juga daun selada plus tomat di tambah segelas s**u. What!!! Stella baru sadar kalau di atas nampan ada segelas s**u.
“Kenapa ada s**u di sini?” tanya Stella pada Gerald.
“Itu s**u untuk ibu yang sedang mengandung. Kau harus meminumnya.” Gerald mengambil duduk di seberang Stella.
“Aku gak mau s**u. Kamu tahu, ‘kan kalau aku gak suka s**u,” ujar Stella lalu menyingkirkan s**u itu.
“Tapi kau harus mencobanya, Stey. s**u ini baik untuk kehamilanmu dan juga janinnya,” ucap Gerald sambil meletakkan kembali s**u di depan Stella.
“Apa yang kamu pikirkan hanya janinnya aja? Kamu gak mikirin, aku suka atau gak, ‘kan?” Stella menatap tajam Gerald, dia kembali teringat kejadian semalam.
“Bukan seperti itu, Stey. Aku juga ingin kau sehat.” Gerald berusaha untuk sabar menghadapi gadis itu.
“Bagaimana jika aku adalah Mercy. Apakah kamu juga akan memperlakukanku seperti ini?” tanya Stella.
“Tidak. Karena kau bukan Mercy. Kau adalah Stella, istriku. Dan aku bertanggung jawab penuh atas dirimu dan juga janin yang ada di kandunganmu.” Gerald memberi jawaban yang membuat Stella terdiam. Gerald tahu jika Stella sangat menyayangi janin yang ada di kandungannya karena ketika Stella berdiri di balkon tadi secara tidak sengaja dia melihat gadis itu mengelus perutnya dan Gerald juga dapat melihat jelas perut Stella yang sedikit membuncit. Entah kenapa, melihat gadis itu dengan perut buncitnya membuat dia ingin melindungi dan menjaganya.
Stella mengambil gelas s**u itu, setelah diam sesaat dia langsung meneguknya tanpa mengambil jeda sedikitpun. Dia meletakkan gelas itu di atas nampan sambil melirik ke Gerald yang pada saat itu sedang memperhatikannya.
“Kamu udah puas, ‘kan?” tanya Stella sambil melap sisa s**u pada bibirnya.
“Cukup puas. Aku senang kau mulai menjadi istri penurut,” ucap Gerald sambil tersenyum puas.
“Tapi setelah kau mengurus surat cerainya, aku bukan istri penurutmu lagi,” cibir Stella.
“Aku tidak akan mengurusnya karena aku tidak akan pernah menceraikanmu,” ujar Gerald dengan menaikkan sebelah alisnya. Stella yang hendak memakan sandwichnya seketika diam terpaku mendengar perkataan Gerald. Tiba-tiba rasa mual menyergapnya, Stella menutup mulutnya dan bergegas menuju kamar mandi. Dia segera memuntahkan cairan yang baru saja masuk ke lambungnya. Stella melihat ke cermin saat dia merasakan sebuah tangan memijat tengkuknya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Gerald dengan sedikit khawatir. Stella mengangguk lalu membasuh mulutnya. Setelah merasa cukup memuntahkan isi lambungnya, dia keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di tempatnya.
“Makanlah sandwichnya. Aku akan ke bawah sebentar!” kata Gerald lalu keluar dari kamar.
Stella mengambil sandwich itu lalu memakannya sedikit demi sedikit sampai akhirnya pintu terbuka dan Gerald masuk dengan segelas orange juice, minuman favoritnya. Dia meletakkan orange juice di depan Stella.
“Minumlah, ini akan membantu menghilangkan rasa mualnya. Aku harus pergi ke kantor!” seru Gerald. Setelah melihat Stella meminum juice nya, Gerald pun segera berangkat ke kantor.
***
Seminggu telah berlalu, kondisi kesehatan Stella kian hari kian membaik bahkan berat tubuhnya pun kian bertambah. Dia yang biasanya mual sehabis meminum s**u, sekarang sudah terbiasa meminum s**u. Usaha Gerald dalam membantu Stella melewati ,masa-masa awal kehamilannya bisa dikatakan berhasil. Tepat hari ini Stella harus kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan kembali kehamilannya dan Gerald berjanji akan menjemputnya siang ini.
Pintu kamar terbuka, Gerald menghampiri Stella yang sedang mengikat rambutnya menjadi satu.
“Kau sudah siap?” tanya Gerald.
“Mmmh.” Stella mengangguk dan mengambil tasnya lalu menyelempangkan di bahunya.
“Aku gak mau duduk di kursi roda. Aku udah sehat, G,” ucap Stella ketika dia melihat Gerald sedang menyiapkan kursi roda.
“Kau yakin?” tanya Gerald dan Stella kembali menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Kalau begitu sekarang kita berangkat.” Gerald menuju pintu dan membukanya untuk Stella kemudian dia mengikuti Stella dari belakang. Ketika akan menuruni anak tangga, Gerald segera memegang tangan Stella.
“Kau belum boleh menuruni anak tangga untuk saat ini. Aku akan menggendongmu.” Tanpa menunggu jawaban Stella, Gerald segera menggendong gadis itu menuruni anak tangga sampai menuju garasi. Setelah yakin Stella duduk dengan aman, Gerald pun memacu mobilnya dengan hati-hati.
Setelah mendaftar pada bagian administrasi, mereka menuju ruangan kebidanan sesuai instruksi dari perawat di bagian administrasi. Sampai di ruang yang mereka tuju ternyata sudah ada beberapa wanita yang sedang mengandung, menunggu untuk check up tentunya didampingi suami-suami yang dengan setia menemani mereka. Stella yang ditemani Gerald terpaksa harus berdiri karena sofa di ruang tunggu terisi penuh.
DRET ... DRET ... Getar pada ponselnya mengagetkan Gerald.
“Aku harus mengangkat telepon sebentar,” bisik Gerald pada Stella. Setelah itu Gerald bergegas keluar ruangan untuk menerima telepon dari Pamela.
“Iya, Pamela. Ada apa?”
“Maaf Tuan, kalau boleh saya tahu Anda ada di mana? Saya ingin mengantar berkas yang baru saja diantar oleh Mr. Leo dan harus segera ditandatangani.”
“Saya sedang menemani istri saya check up. Mmmh ... begini saja, nanti sepulang dari rumah sakit saya akan kembali ke kantor. Tolong, letakkan saja berkasnya di meja saya!”
“Baik, Tuan. Kalau begitu saya tutup teleponnya.”
Gerald kembali ke dalam ruangan, dilihatnya Stella sudah duduk di sofa sedang berbincang-bincang dengan wanita di sebelahnya.
“Berapa usiamu, Stella?” tanya wanita itu.
“23 tahun,” jawab Stella. Dia tidak menyadari kehadiran Gerald yang sedang berdiri sambil membuka ponsel di sebelahnya.
“Wah ... masih muda sekali, yah! Aku 27 tahun, baru hamil anak pertama. Kau sendirian ke sini? Suamimu tidak menemanimu?” beruntun pertanyaan dilontarkan oleh wanita itu, membuat Stella bingung menjawabnya.
“Oh suamiku sedang ....”
“Aku di sini, sweety.” Gerald memegang tangan Stella yang sedang menunjuk ke arah luar ruangan. Stella menģangkat kepalanya melihat Gerald yang ada di sebelahnya. Panggilan Gerald tadi padanya, membuat hatinya sedikit berbunga-bunga sampai akhirnya dia sadar bahwa itu hanya sandiwara yang sedang pria itu mainkan. Stella menggeser duduknya untuk memberi tempat pada Gerald untuk duduk. Gerald duduk di sebelahnya karena tempat yang sempit membuat tubuh Stella harus merapat pada tubuh pria itu, sementara tangan Gerald bersandar pada sofa di belakang kepala Stella.
“Ger, kau di sini?” Panggilan Dave membuat Gerald dan Stella menoleh ke arah datangnya suara.
“Bagaimana keadaanmu dan bayi dalam kandunganmu, Stella?” tanya Dave dengan tersenyum.
“Baik-baik saja, Dave.” Stella menjawab pertanyaan Dave dengan senyum.
Dengan hadirnya Dave di tempat itu membuat kejenuhan Gerald sedikit berkurang. Mereka berbincang-bincang sampai tidak menyadari kalau saat ini suster sedang memanggil Stella.
“Nyonya Stella ... Nyonya Stella.” Mendengar namanya dipanggil, Stella segera berdiri lalu beranjak masuk ke ruang pemeriksaan.
“Kau harus menemaninya. Aku juga harus kembali memeriksa pasienku,” ucap Dave. Gerald meninggalkan Dave dan masuk mengikuti Stella.
***
“Bisa antar aku ke rumah orangtuaku, G? Aku kangen mereka,” pinta Stella ketika mereka sudah di dalam mobil.
“Oke. Tapi aku harus ke kantor sebentar, tadi Pamela telepon ada berkas yang harus segera aku tandatangani,” jawab Gerald sambil mengemudikan mobilnya. Stella melirik Gerald sambil mencibir mendengar nama Pamela disebut. Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu kesal jika Gerald menyebut nama wanita yang selalu ada didekatnya terutama Mercy.
Tak butuh waktu lama bagi Gerald untuk sampai ke kantor.
“Kau tidak ikut ke dalam?” tanya Gerald ketika akan turun dari mobil. Stella mengelengkan kepalanya.
“Lebih baik kau ikut ke dalam, di sini panas nanti kau mual,” ajak Gerald. Stella kaget mendengar ucapan Gerald yang mengetahui jika dirinya suka mual jika berada di tempat yang cukup panas. Apakah Nina yang memberitahunya, pikir Stella. Mau tak mau akhirnya Stella turun juga dari mobil lalu menghampiri Gerald yang sedang menunggunya. Mereka masuk ke dalam menuju lift dan ketika melewati meja resepsionis mata Stella melirik ke arah karyawan yang sedang berkumpul di sana. Mata mereka tertuju padanya dan Gerald yang sedang menelepon, tanpa Stella sadari dia menabrak punggung Gerald.
“Auw ...,” teriak Stella sambil mengusap keningnya. Gerald mematikan sambungan teleponnya.
“Kenapa kau begitu ceroboh, Stey? Dan kenapa kau berjalan di belakangku, hah?” Gerald bertanya sambil melihat kening Stella.
“Aku malu, G. Dari awal kita masuk, mereka memperhatikan kita,” kata Stella. Gerald melihat ke arah yang ditunjuk Stella dan para wanita itu langsung menundukkan kepalanya kepada Gerald.
“Ayo, kita ke atas!” Gerald menuntun tangan Stella memasuki lift.
Sampai di lantai 10, Gerald menuju ruangannya. Sementara Stella memilih untuk menunggunya di sofa dekat meja Shanty.
“Aku dengar dari Pamela, Tuan Gerald habis mengantarmu ke rumah sakit. Kau sakit?” tanya Shanty.
“Cuma sedikit,” jawab Stella sambil tersenyum.
“Masa sakit kamu bilang cuma sih, Stey,” ucap Shanty yang sudah terbiasa dengan sikap Stella. Mereka mengobrol banyak hal setelah sekian lama jarang bertemu.
“Kok lama sih katanya cuma tandatangan aja, mereka bicarakan apa sih.” Stella mulai merasa jenuh.
“Kamu masuk aja ke dalam, istirahat di dalam kalau lelah,” ucap Shanty, melihat Stella menyandarkan tubuhnya pada pinggiran sofa. Dia melihat jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 4 sore. Stella beranjak dari sofa dan membuka pintu ruangan Gerald. Kekesalannya kembali memuncak ketika dia memasuki ruangan itu, Pamela sedang duduk di samping Gerald sambil mengetik sesuatu pada laptop yang ada di meja kerja Gerald. Sementara Gerald fokus ke arah laptopnya bahkan dia tidak menyadari Stella masuk.
“Ehem ... katanya cuma mau tandatangan aja. Gak seperti yang aku lihat sekarang.” Ucapan Stella membuat kedua orang itu mengalihkan pandangannya ke arah Stella yang sedang berdiri di pintu.
“Sebentar lagi aku selesai, Stey. Jika kamu lelah, istirahatlah di sofa!” ucap Gerald.
Karena kesal Stella menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar, dia lupa kalau saat ini dirinya sedang mengandung. Sedikit hentakan saja membuat perut bagian bawahnya sedikit sakit, dia langsung memegangnya. Gerald yang melihat hal tersebut segera berdiri menghampiri Stella lalu duduk di samping gadis itu dan memegang tangannya yang sedang memegang perut.
“Kenapa kau tidak berhati-hati, Stey? Kandunganmu belum 100% kuat. Apakah sakit?” tanya Gerald. Gerald ingat kata-kata Dokter Serena ketika tadi siang Stella check up bahwa kandungan Stella baru 50% pulih, dia harus tetap mengurangi aktifitas yang membuatnya lelah, masih belum boleh berjalan terlalu jauh.
“Enggak terlalu. Ehm ... kalau kamu masih lama di sini, biar aku meminta Ben yang mengantarku ke rumah mama,” ujar Stella sambil melirik Pamela yang sedang memperhatikan dia dan Gerald.
“Aku yang akan mengantarmu.” Gerald berdiri dari sofa menuju kursinya sambil berkata,
“Kamu tinggal lanjutkan saja dan nanti kirim ke email saya. Saya harus pergi sekarang.” Gerald mengambil jasnya yang disampirkan pada kursi dan mengambil berkas dalam laci mejanya lalu mendekati Stella sambil mengulurkan tangannya. Stella menyambut uluran tangan pria itu untuk membantunya berdiri. Mereka pun meninggalkan ruangan itu.
***
“Ma ... Pa ....” Stella berlari menghampiri kedua orangtuanya.
“Stey ... hati-hati!” seru Gerald ketika melihat Stella berlari.
“Sayang, bagaimana keadaanmu?” tanya Bernard pada putri tunggalnya itu.
“Stey kangen sama Papa.” Stella memeluk kedua orangtuanya.
“Jadi cuma kangen sama Papa aja, gitu?” Mery pura-pura merajuk.
“Mmh ... sama Mama jugalah,” Stella memeluk mamanya.
“Tunggu dulu ....” Mendadak Mery melepaskan pelukan Stella, dia mengamati tubuh putrinya itu.
“Kau hamil?” tanya Mery untuk menyakinkan penglihatannya. Stella menatap mamanya lalu berganti menatap papanya kemudian dia mengangguk. Kedua orangtuanya langsung memeluknya sambil tertawa bahagia. Mereka juga memeluk Gerald dan memberi selamat pada menantunya itu.
“Kalian masuklah ke dalam. Papa akan memasakkan makanan kesukaan kalian!” seru Bernard. Sementara Mery menarik tangan anak dan menantunya ke dalam.
“Kalian harus menginap malam ini. Mama ingin mendengar kabar gembira ini lebih jelas,” kata Mery.
“Gak bisa, Ma. Kamar Stey, ‘kan sempit,” ucap Stella sambil melirik ke Gerald yang kebetulan juga sedang menatapnya.
“Tapi bisa dipakai tidur berdua, Stey. Apa kalian tidak pernah tidur berdua? Tidak mungkin, ‘kan?” tanya Mery sambil melirik ke perut putrinya yang terlihat sedikit membuncit.
“Jangan khawatir , Ma. Kami akan menginap di sini. Aku bisa tidur di sofa,” ucap Gerald.
“Gak usah. Kamu bisa tidur di kamar,” ucap Stella sambil mencibir ke mamanya.
Tak lama kemudian, Bernard masuk dengan membawa nampan berisi beberapa macam makanan. Setelah menyerahkan kedai ke pegawainya, Bernard segera bergabung di meja makan bersama istri, anak, dan menantunya. Mereka begitu menikmati kebersamaan dalam ruangan kecil itu dan Gerald menceritakan bagaimana awalnya dia mengetahui tentang kehamilan Stella dan keadaan Stella saat ini.
“Tapi sekarang kamu baik-baik saja, ‘kan, sayang?” tanya Bernard. Stella hanya mengangguk sambil tersenyum karena dia tidak ingin makannya terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan orangtuanya.
“Pa ... Ma ... ada sesuatu yang ingin aku berikan untuk Mama dan Papa.” Gerald menyerahkan sebuah map kepada papa mertuanya.
“Apa itu, G?” tanya Stella. Gerald meletakkan telunjuk pada mulutnya, tanda supaya Stella diam. Mereka berdua melihat kedua orangtua itu membuka map yang diberikan Gerald.
“Hah? Inikan ruko yang berada di sebelah rumah kita, sayang,” ucap Mery pada suaminya itu. Setelah membaca berkas yang ada di tangannya, Bernard menatap menantunya itu. Perasaan sungkan menguasai hati dan pikirannya