Bab 22. Kangen

3278 Words
“Kenapa kamu memberikan ini pada kami, Nak?” tanyanya. “Aku melihat banyak pengunjung yang sampai duduk di depan hanya untuk menikmati makanan di kedai ini. Jadi alangkah baiknya jika kedai ini diperluas supaya pelanggan di sini senang dan puas, Pa,” jelas Gerald. “Tapi, Nak. Pemberian ini terlalu ....” Ucapan Bernard terpotong oleh Gerald. “Jika Papa dan Mama masih menganggapku sebagai menantu, maka Papa dan Mama harus menerima pemberianku ini.” Gerald menatap kedua mertuanya sambil tersenyum. Setelah cukup lama terdiam akhirnya Bernard menganggukkan kepalanya. “Kami menerima pemberianmu, Nak. Terima kasih banyak,” ucap Bernard. “Dalam waktu dekat, aku akan meminta Ben untuk merenovasi kedua bangunan ini supaya kedai Papa dan Mama lebih besar,” kata Gerald. “Tidak usah, Nak. Biar nanti Papa yang akan membangunnya. Pemberianmu ini lebih dari cukup, Nak.” “Apa Papa belum menganggapku sebagai anak menantu?” “Bukan begitu, Nak. Tapi ....” “Jadi biarkan aku menyelesaikan semuanya sampai tuntas, Pa.” “Baiklah. Sekali lagi terima kasih, Nak.” Airmata haru keluar dari kelopak mata Bernard. “Sama-sama, Pa.” Gerald menepuk kedua tangan mertuanya. *** “Apakah itu sebagai kompensasi dari perceraian kita, G?” tanya Stella setelah mereka berdua berada di kamar. “Kompensasi? Maksudmu ruko yang kuberikan untuk mama dan papa?” Gerald balik bertanya. “Iya. Itu gak perlu kamu lakukan, G,” ujar Stella sambil duduk di ranjangnya. “Apa kau lupa dengan kata-kataku bahwa aku tidak akan menceraikanmu.” Gerald ikut duduk di samping Stella sambil menatap gadis itu. Tentu saja Stella tidak akan lupa dengan kata-kata Gerald tapi bagaimana bisa dia mempertahankan pernikahan ini jika pria itu masih mencintai wanita lain. “Lalu kamu akan menceraikanku setelah anak ini lahir?” tanya Stella membalas tatapan Gerald. Dia butuh kepastian untuk hidupnya ke depan. “Kenapa kau menyimpang terlalu jauh dari awal pembicaraan kita, Stey?” “Mmmh ... ak–aku cuma butuh kepastian aja.” Stella mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu yang pertama. Aku memberikan ruko itu sebagai ucapan terima kasih karena mereka sudah menerimaku sebagai anak menantunya. Untuk pertanyaanmu yang kedua, jika anak kita lahir aku tetap tidak akan menceraikanmu tapi jika kau yang menginginkan perceraian, aku akan mengikuti keinginanmu.” Gerald berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu, membukanya dan menghilang dari balik pintu. Stella tahu pria itu marah padanya tapi dia juga tidak ingin menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintainya. Dia merebahkan dirinya di ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya dan dia pun tertidur. Setelah keluar dari kamar, Gerald menuju keluar rumah untuk melihat bangunan yang telah dibelinya. Walaupun matanya melihat bangunan itu tapi pikirannya masih terganggu oleh ucapan Stella. Dia tidak ingin menyakiti hati Stella, dia ingin bertanggung jawab atas gadis itu dan anak mereka berdua. Stella terbangun dari tidurnya, dia melihat jam pada dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 12 malam. Stella segera bangkit dari ranjangnya, dia tidak menemukan Gerald di kamarnya. Segera dia keluar kamar menuju ruang tengah tapi tidak ditemuinya pria itu di sana. Stella terus berjalan sampai ruang depan tapi tetap tidak menemui Gerald di sana, dia bingung. Dibukanya pintu depan yang ternyata tidak terkunci, Stella keluar menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Gerald. Matanya tertuju pada mobil Gerald, dia berjalan mendekati mobil itu sampai akhirnya dia melihat Gerald tertidur di dalam mobil. “G ... G ....” Stella memanggil Gerald sambil mengetuk kaca mobil. Gerald terbangun dan melihat Stella berdiri di depan pintu mobil, Gerald pun keluar dari dalam mobil. “Ini sudah tengah malam, Stey. Kenapa kau keluar?” tanya Gerald sambil menutup pintu mobil. “Harusnya aku yang bertanya, G. Kenapa kau tidur di dalam mobil?” bentak Stella dengan mata berkaca-kaca. “Aku takut kau tidak nyaman jika aku tidur di kamarmu,” jawab Gerald pelan. “Hiks ... apa kamu marah dengan perkataanku tadi makanya kamu memilih tidur di mobil.” Stella mengusap airmatanya yang sempat jatuh di pipinya. Entahlah, sejak hamil perasaannya sangat sensitif dan mudah sekali menangis. Gerald memegang bahu Stella dan menggelengkan kepalanya. Dia mengusap sisa airmata di pipi gadis itu. “Ayo, kita masuk!” Gerald merangkul bahu Stella dan mengajaknya masuk. Sesampainya di kamar, Gerald membuka selimut dan menyuruh Stella naik ke ranjang. “Tidurlah, kau harus istirahat!” seru Gerald. Stella menuruti perintah Gerald, dia segera naik ke ranjangnya dan menggeser tubuhnya agak ke dalam. “Kau juga harus tidur, G. Tidurlah di sini!” pinta Stella sambil menepuk bantal yang ada di sebelahnya. Gerald pun menuruti permintaan gadis itu, dia merebahkan diri di samping Stella. Tak lama keduanya pun tertidur. *** Sejak hari itu, Gerald mengijinkan Stella menginap di rumah orangtuanya. Banyak pertimbangan yang membuat pria itu memberikan ijin kepada Stella untuk tinggal di rumah orangtuanya dalam beberapa waktu ke depan . Tapi tidak bagi Gerald, dia yang tidak terbiasa justru malah memilih kembali ke rumahnya sendiri. Setidaknya dia merasa tenang meninggalkan Stella di rumah mertuanya. Kesibukannya di kantor juga membuat Gerald selalu larut malam sampai di rumah. Getaran pada ponselnya membuat Gerald menghentikan sesaat pekerjaannya. “Halo, Dad,” sapanya. “Kau sedang sibuk, Ger?” “Iya, Dad. Ada apa Daddy meneleponku?” Gerald berdiri dari kursinya menuju jendela. “Malam minggu ini ajak istrimu datang ke rumah. Mom ulangtahun, dia ingin kita makan keluarga.” “Aah ... aku hampir lupa kalau Sabtu ini ulangtahun Mommy. Aku dan Stella akan datang, Dad.” “Oke. Daddy tunggu kedatangan kalian. Salam untuk istrimu.” Setelah telepon ditutup oleh Thomas, Gerald pun hendak kembali ke kursinya ketika pintu ruangannya terbuka dan masuklah Mercy dengan paper bag di tangannya. “Aku membawa makan siang untukmu, Boo.” Mercy mengeluarkan box berisi makan siang yang dia buat sendiri untuk Gerald. “Kau tidak perlu repot-repot, Merc. Biar Shanty yang mengurus makan siangku,” ujar Gerald dengan menghampiri Mercy yang sedang menyiapkan makan siangnya di meja tamu. “Aku akan cemburu jika ada wanita lain yang mengurusmu, Boo,” ucap Mercy sambil melirik ke arah Gerald dan mengerucutkan bibirnya. Gerald tersenyum mendengar perkataan wanita itu. Dia menatap Mercy dalam tanpa diketahui wanita itu. “Ayo kita makan, Boo!” seru Mercy. Gerald pun mengangguk lalu mengambil box berisi nasi dan menu kesukaannya itu. Sementara di ruangan lain, Shanty dan Pamela sedang membicarakan Mercy yang hampir setiap hari datang membawakan makan siang untuk bosnya itu. “Padahal dia tahu kalau Tuan Gerald sudah beristri tapi dia tetap aja menganggunya,” ujar Shanty. “Oya, bukankah Stella saat ini sedang hamil?” tanya Pamela yang tiba-tiba teringat ketika dia sedang mengerjakan sketsa, dia melihat Gerald berbicara dan memegang perut istrinya. “Kau tahu dari mana?” tanya Shanty kaget. “Yah, aku dengar waktu aku sedang mengerjakan sketsa dengan Tuan Gerald di ruangannya.” Pamela menceritakan kejadian waktu itu. “Tapi Stella tidak menceritakannya padaku. Aku akan meneleponnya nanti,” ucap Shanty dan menoleh ke arah pintu yang terbuka. Dia melihat Mercy keluar dari dalam ruangan bosnya dengan membawa paper bag menuju lift. *** Stella sedang mengaduk-aduk makan siangnya, dia sama sekali tidak berselera untuk menyantap makanannya itu. Padahal makan siangnya hari ini adalah salah satu makanan favoritnya. Setelah puas mengaduk-aduk makanannya, Stella berdiri dari kursinya dan masuk ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memeluk bantalnya. “Aku kangen kamu, G,” gumamnya. TOK ... TOK ... Pintu terbuka dan Mery menghampiri putrinya. “Stey ... ada telepon untukmu!” seru Mery lalu memberikan ponselnya pada putrinya itu. “Siapa, Ma?” tanya Stella tapi mamanya hanya tersenyum lalu meninggalkan kamar itu. Stella melihat ke layar ponsel, dengan tersenyum dia segera mendekatnya ponsel itu ke telinganya. “Ada apa, G?” tanya Stella setelah melihat nama Gerald pada layar ponsel. “Kenapa ponselmu tidak aktif, Stey. Beberapa hari ini aku mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif.” “Ponselku hancur, G. Waktu itu aku melemparnya ke lantai,” ucap Stella pelan. “Kenapa kau tidak membeli yang baru?” “Membeli yang baru? Bagaimana caranya? Bahkan kau melarangku turun ke lantai bawah.” “Baiklah, nanti aku akan minta Ben membeli ponsel untukmu. Oya, hari ini Mom ulangtahun. Dia meminta kita datang untuk makan keluarga.” “Kau bisa menjemputku, ‘kan, G?” “Aku akan minta Ben untuk menjemputmu dan mengantarmu ke rumah mama, aku akan menyusul.” “Kenapa harus Ben? Atau ... karena kau mau menemui Mercy?” tanya Stella. “Jangan memulai pertengkaran, Stey! Aku tidak bisa menjemputmu karena harus meeting dengan relasi dari Jepang.” “Baiklah. Kapan Ben akan menjemputku?” “Sore ini, dia akan menjemputmu. Aku harus pergi sekarang.” “Dengan siapa kau pergi, G?” Stella kembali bertanya, entah kenapa akhir-akhir ini dia takut pria itu mengingkari janjinya. “Dengan Pamela. Ada apa? Apa kau cemburu?” “Ya sudah, aku tutup teleponnya.” Stella menutup teleponnya, dia malu jika Gerald sampai tahu kalau dia cemburu. *** Akhirnya sampai juga Stella di rumah mertuanya setelah sore tadi Ben datang menjemputnya dengan membawa 2 paper bag. Paper bag yang satu berisi gaun yang menurut Ben sengaja dibelikan Gerald untuk dikenakan Stella karena memang ketika tinggal dengan orangtuanya dia hanya membawa kaos dan hot pant saja. Sedang paper bag kedua untuk diberikan kepada mommynya. “Apa perlu saya mengantar Anda ke dalam, Nyonya?” tanya Ben melihat Stella hanya diam memandangi pintu masuk. “Oh ... gak perlu, Ben. Terima kasih sudah mengantarku.” Stella tersenyum, Ben pun mengangguk. “Kalau begitu, saya pamit mau kembali ke rumah,” pamit Ben. “Hati-hati di jalan, Ben!” ucap Stella. Stella memasuki rumah itu dengan perasaan canggung, dia tidak biasa datang sendirian ke rumah itu tanpa Gerald. Stella melihat ruang tamu yang kosong, dia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga yang ternyata juga tidak ada seorangpun di sana. Stella memasuki dapur karena pikirnya pasti mommy mertuanya ada di sana tapi tidak ada seorangpun di sana. “Sayang, kau sudah datang?” Stella membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara mommy mertuanya. “Selamat ulangtahun, Mom!” Stella mengecup kedua pipi mertuanya lalu memeluknya. “Mana Gery?” tanya Lisa. “Katanya, dia akan menyusul karena harus meeting dulu dengan relasi dari Jepang, Mom,” ucap Stella. “Heh, anak itu selalu saja mengutamakan pekerjaan. Bagaimana keadaanmu, sayang?” tanya Lisa sambil memegang kedua tangan Stella. “Aku baik-baik aja, Mom. Oya, ini ada sesuatu untuk Mom.” Stella memberikan paper bag yang dibelikan Gerald untuk hadiah ulangtahun sang mommy. “Terima kasih, Sayang. Seharusnya kalian tidak perlu repot-repot membelikan Mom hadiah,” ujar Lisa. Stella hanya tersenyum. “Kau terlihat bertambah cantik dan ....”– Lisa terdiam ketika pandangan matanya mengarah ke perut buncit Stella–“Apakah kau sedang hamil, Sayang?” tanyanya. “Mmmh ... iya, Mom.” Stella menganggukkan kepalanya. “Ooh ... Terima kasih, Tuhan.” Lisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia sangat gembira karena harapannya mendapatkan cucu terkabul. “Terima kasih, Sayang. Ini adalah hadiah terindah buat Mom.” Lisa pun memeluk Stella. “Ayo, kita ke taman belakang! Mereka semua sudah berkumpul di sana.” Lisa menggandeng tangan Stella menuju taman belakang. Ketika sampai di taman belakang ternyata sudah banyak orang yang hadir di sana. Mereka rata-rata seumur dengan mertuanya dan juga banyak wanita yang seumuran dengan Gerald. Lisa mengajaknya menghampiri Thomas yang sedang bercengkrama dengan para tamu. Lisa berbicara sebentar dengan para tamunya lalu menarik lengan Thomas. “Ada apa, honey?” tanya Thomas pada istrinya itu. Lisa membisikkan sesuatu di telinga suaminya. Thomas terkejut lalu tertawa. Dia menghampiri Stella dan memeluknya. “Selamat, Sayang. Ini sungguh hadiah yang sangat berharga bagi kami,” ucap Thomas. “Di mana suamimu, Sayang?” tanyanya kembali. “Gery nanti menyusul, Dad.” Stella pun memberitahukan alasan Gerald tidak datang bersamanya. “Baiklah. Kau duduklah, jangan terlalu capek! Jika lelah, istirahatlah di kamar. Dad harus menemani tamu dulu,” kata Thomas, setelah itu dia meninggalkan Stella dengan Lisa. “Mom, temuilah tamu-tamu Mom. Biar aku di sini sambil menunggu Gery,” ujar Stella. “Kau yakin tidak ingin ikut Mom menemui mereka?” “Aku di sini aja, Mom.” Stella tetap dengan pendiriannya. Sekarang saja dia sudah merasa canggung apalagi jika harus menemani mommy mertuanya menemui tamu-tamunya. Stella memilih duduk di sebuah bangku panjang yang ada di taman itu. Sesekali dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda kehadiran Gerald. Merasa perutnya lapar, Stella pun berdiri dari duduknya lalu menuju meja prasmanan. Bermacam-macam kue yang berasal dari bakery terkenal tersedia di meja itu, Stella mengambil piring kecil dan diisinya dengan beberapa macam kue lalu dibawanya ke bangku tempat dia duduk tadi. Ketika sedang menikmati kue-kue itu, seorang wanita menghampirinya dan duduk di sebelah Stella. “Hai, aku Renata.” Wanita yang usianya beda beberapa tahun diatas Stella mengulurkan tangannya. Stella pun menyambut uluran tangannya. “Aku Stella.” “Tadi kulihat Uncle Tom dan Aunty Lis memelukmu, pasti kau seseorang yang spesial di mata mereka,” kata Renata. “Oh ... mungkin karena aku ....” Belum selesai Stella berbicara tiba-tiba Renata berdiri dari duduknya. “GE ... RY,” ucapnya pelan lalu dia pun meninggalkan Stella. Mata Stella langsung tertuju ke tempat yang dituju Renata. Gerald yang baru saja masuk dengan lengan yang sedang dirangkul oleh Stefanny berjalan menghampiri kedua orangtuanya dan memeluknya. “Happy birthday, Mom,” ucapnya sambil mengecup pipi mommynya. “Thankyou, Ger. Mom juga mau mengucapkan selamat padamu.” Lisa berbisik di telinga Gerald. “Selamat?” Gerald memiringkan kepalanya dengan mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti maksud dari perkataan mommynya itu. “Yah, selamat karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang daddy,” ucap Lisa sambil tersenyum lebar. “Apa, Aunty? Gery akan menjadi daddy?” Tiba-tiba Stefanny yang sejak tadi berada di samping Gerald terkejut. “Iya, Fan. Ini hadiah terindah untuk Aunty,” ujar Lisa senang. “Di mana Stella, Mom?” tanya Gerald dengan mata mencari keberadaan Stella. “Oh ... tadi dia di sana. Coba kau cari dia, Ger,” perintah Lisa pada putranya itu. Gerald pun segera menuju ke dalam untuk mencari Stella. Sementara itu, Stella dengan santainya duduk di tepi kolam renang sambil merendam kakinya di kolam. Dia malas bertemu dengan Stefanny, dia juga kesal dengan Gerald yang jelas-jelas tidak bisa menjemputnya tapi malah datang dengan Stefanny. Angin malam yang berhembus membuat Stella sedikit bergidik karena midi dress tanpa lengan yang dikenakannya. “Apa kau tahu air kolam dapat membuat kakimu kram?” tanya Gerald yang berdiri tepat di belakang Stella. Dengan cekatan, Stella langsung mengangkat kakinya dari dalam air dan segera berdiri. “Aaaaaah ....” pekik Stella. Karena kakinya basah, dia pun hampir tergelincir. Gerald segera menangkap tangan Stella dan menariknya hingga tubuh Stella menabrak d**a bidang Gerald. “Huh ... huh ... huh ....” Deru napas Stella tidak beraturan karena dia hampir saja jatuh ke kolam jika Gerald tidak segera menangkapnya. Kepalanya bersandar di d**a bidang Gerald, sedang tangannya meremas kemeja pria itu. “Kau tidak apa-apa?” tanya Gerald sambil memegang bahu Stella. Stella menggeleng sambil mengangkat kepalanya lalu memalingkan wajahnya ke arah kolam. “Kenapa kau di sini? Bagaimana jika tidak ada orang di sini dan kau terjatuh?” Pertanyaan Gerald tidak dijawabnya sama sekali. Dia mengangkat kepalanya menatap Gerald sesaat dan membalikkan pertanyaan pada pria itu. “Bukankah lebih baik kalau aku terjatuh? Jadi kau gak perlu repot-repot bertanggung jawab untukku dan bayi ini.” Stella melepaskan genggamannya pada kemeja Gerald dan mundur 2 langkah. “Apa maksudmu? Tolong, jangan mendebatku!” ucap Gerald. “Oke. Aku juga malas berdebat denganmu, dasar om-om,” ucap Stella sambil membalikkan tubuhnya hendak ke dalam. “Tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku, Stey!” Gerald kembali menangkap lengan istrinya itu. “Kamu gak bisa menjemputku karena harus menjemput Stefanny, ‘kan?” tanya Stella kesal. “No. Pulang meeting aku menyempatkan diri untuk membeli ini.” Gerald mengeluarkan sebuah ponsel baru dari dalam saku jasnya dan memberikannya kepada Stella. “Kamu ....” Stella tidak melanjutkan kalimatnya, matanya tertuju pada Stefanny yang sedang berjalan tidak jauh di belakang Gerald. Stella pura-pura tidak melihatnya, dia mengangkat tangannya ke leher Gerald dan menariknya agar sedikit menunduk lalu menempelkan bibirnya pada bibir pria itu. Stella melakukan itu untuk membuat Stefanny kesal dan berhenti mendekati suaminya. Melihat mata Gerald yang sedang menatapnya, Stella segera menjauhkan bibirnya dari bibir pria itu tapi tangan Gerald dengan cepat meraih tengkuknya dan justru memperdalam ciumannya. Tangan Stella yang semula melonggar pada leher Gerald, kembali mengeratkan rangkulannya. Perasaan marah, kesal, dan kecewa pada Gerald hilang dalam sekejap, berganti dengan perasaan kangennya setelah 2 minggu tidak bertemu. “GE—RY!” Panggilan seseorang menyadarkan keduanya. Gerald melepaskan pagutannya pada bibir Stella, dia mengabaikan panggilan orang itu. Tangannya mengusap bibir Stella yang penuh dengan salivanya. Entah kenapa, dia begitu merindukan bibir gadis itu bahkan ketika beberapa hari yang lalu Mercy menciumnya, dia sama sekali tidak merasakan sensasi seperti yang saat ini dia rasakan saat bersama Stella. “Ger ....” Kali ini Gerald memalingkan wajahnya ke arah orang yang memanggilnya. “Renata?” tanya Gerald dengan mengangkat sebelah alisnya. “Iya. Aku Renata, Ger. Siapa dia, Ger?” tanya Renata menghampiri Gerald dan Stella. “Dia istriku. Stey, ini Renata teman kecilku.” Stella dan Renata saling memandang dan tersenyum. “Tadi kami sudah kenalan, Ger,” kata Renata. “Oh yah? Bagaimana jika kita berkumpul di halaman?” Renata dan Stella mengangguk setuju. Dengan mengandeng tangan Stella, Gerald pun berjalan menuju halaman belakang diikuti oleh Renata. *** “Lihatlah, babynya sudah mulai aktif. Keadaannya pun sangat sehat tapi tetap harus dijaga asupan gizinya, yah. Yang penting kamu tidak boleh stres karena bisa memperhambat pertumbuhan baby. Resiko kegugurannya pun sudah mulai berkurang dan sudah boleh berhubungan.” Dokter Serena memberikan penjelasan pada Stella dan Gerald. Pada layar USG, Stella dan Gerald dapat melihat bayi mereka. “Jadi, aku bisa berhubungan lagi, Dok?” tanya Stella polos sambil turun dari ranjang. Dokter Serena mengangguk sambil tersenyum sedang Gerald hanya bisa membalas senyum dokter itu, dia tahu bahwa istrinya itu tidak mengerti maksud ucapan Dokter Serena. “Aku bisa bertemu lagi dengan teman-temanku, ‘kan, G?” tanya Stella pada Gerald yang sudah duduk di depan meja dokter. “Kita bicarakan lagi nanti, Stey. Duduklah!” perintah Gerald dan Stella menurutinya. “Seperti biasa, ini resep vitamin yang harus diambil. Dan ada tambahan vitamin untuk babynya. Bulan depan kita akan lihat lagi perkembangan babynya, yah.” Dokter Serena memberikan selembar kertas pada Gerald. “Terima kasih, Dok.Kalau begitu kami pamit dulu,” ucap Gerald sambil menjabat tangan Serena, begitu juga dengan Stella. Di tengah perjalanan, Stella meminta Gerald untuk menghentikan mobilnya. “Aku turun di sini aja, G. Nanti aku akan minta Bella menjemputku. Kamu bisa langsung ke kantor,” kata Stella. “No, Stey. Aku tidak akan menurunkanmu di sini. Jika kau ingin bertemu mereka, kau bisa mengundangnya ke rumah.” Gerald tetap memacu mobilnya tanpa mengikuti permintaan Stella. “Apa kamu tidak dengar yang dikatakan dokter tadi, G? Aku boleh berhubungan lagi dengan teman-temanku, G.” Stella berkata dengan nada kesal. “Maksud perkataan Dokter Serena tadi bukan seperti itu, Stey.” “Lalu apa? Bilang aja kamu gak suka aku bertemu teman-temanku.” Stella merajuk, dia membuang pandangannya keluar jendela. Gerald menoleh ke arah Stella sesaat lalu kembali fokus ke depan. Dia bingung untuk menjelaskannya pada Stella. Sesampainya di rumah, Stella segera keluar dari mobil membawa langkahnya ke dalam rumah tanpa menoleh sedikitpun ke Gerald. Sementara Gerald memutar mobilnya untuk kembali ke kantor. *** Note : Maaf yah para pembaca setia Marry Me tgl 24-25 nya ga update karena ibadah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD