Bab 4. Balas Budi

3731 Words
Akhirnya Stella sampai juga di lantai 10 setelah tadi mamanya menelpon untuk mengantar paket nasi box pesanan Shanty sepupunya itu. Tapi mejanya kosong tidak ada satu orang pun di tempat itu. Dia pun mengambil ponsel untuk menghubungi Shanty. “Kau di mana? Aku sudah di ruanganmu,” ucap Stella. “.........” “Lantai 11. Oke, aku ke sana sekarang.” Stella pun segera membawa pesanan itu ke tempat yang diminta sepupunya itu. Sesampainya di sana Shanty sudah menunggunya. “Tolong bantu aku membawa makanan ini ke ruang rapat!” Shanty membawa 2 paper bag sedangkan Stella membawa 1 paper bag. Dia mengikuti sepupunya masuk ke ruang rapat, dia sempat risih ketika memasuki ruangan itu karena banyaknya orang yang hadir dalam rapat itu. “Paper bag yang kau pegang itu, tolong letakkan di meja bosku! Setelah itu bantu aku membagikan box ini ke mereka.” Stella hanya mengangguk dan menghampiri orang paling menyebalkan di dunia. Dia mengeluarkan box makanan dari paper bag dan meletakkannya di meja Gerald. Dia melirik ke arah pria itu ternyata Gerald pun sedang menatapnya. Stella melengos pergi membantu Shanty meletakkan box-box lainnya ke meja mereka yang ada di ruangan itu. Setelah selesai, Shanty mengajak Stella ke ruangannya. Dia memberikan amplop yang berisi uang pembayaran pesanannya. “Maaf, apakah Gerald ada di ruangannya?” Shanty dan Stella menolehkan wajahnya ke arah datangnya suara. Stella terkejut melihat orangtua Gerald ada di ruangan itu. “Kau ada di sini, Nak?” tanya Thomas pada Stella. “Ah, iya Uncle, Aunty. Senang bertemu kalian di sini,” jawab Stella sambil menyalami orangtua Gerald. Shanty kaget melihat Stella ternyata mengenal orangtua bosnya itu. “Tuan Gerald sedang ada rapat, Tuan,” jawab Shanty. “Iya, Aunty. Gery sedang rapat.” Stella berusaha untuk tidak gugup. “Kalau begitu biar kami menunggu di ruangannya saja. Ayo, Stella temani kami mengobrol di dalam!” ucap Lisa sambil mengandeng tangan Stella masuk ke ruangan Gerald sedangkan Shanty masih terkejut melihat kedekatan antara Stella dan orangtua bosnya itu. Tak berselang lama, Gerald pun datang bersama Pamela. “Tuan, ada orangtua Anda berkunjung dan saat ini mereka sedang menunggu di ruangan Anda,” kata Shanty pada bosnya itu. Gerald pun langsung masuk ke ruangannya, sementara Pamela menunggu di ruangan Shanty. “Dad, Mom. Dalam rangka apa kalian mengunjungiku?” tanya Gerald menghampiri kedua orangtuanya, dia sedikit kaget melihat Stella sedang duduk bersama orangtuanya. “Kebetulan kita lewat kantor ini yah, Sayang. Jadi apa salahnya kita mampir sebentar ke sini dan ternyata ada Stella juga di sini,” kata Lisa. “Iya. Kebetulan ada yang ingin Daddy tanyakan padamu,” kata Thomas menatap Gerald. “Apa Dad?” tanya Gerald mengambil duduk di sebelah Stella “Kapan kalian akan menikah?” tanya Thomas tiba-tiba, membuat Gerald dan Stella terkejut mendengarnya dan mereka pun saling bertatapan. “Dad, kami belum berpikir untuk menikah, lagi pula Stella masih kuliah.” Gerald memberi pengertian pada Thomas. “Sayang, setelah menikah pun Stella tetap bisa kuliah apalagi saat ini sedang skripsi,” kata Lisa menambahkan ucapan suaminya. “Tapi Aunty, aku tidak mau menikah,” ucap Stella membuat pasangan suami istri itu terkejut. “Mmh ... maksudnya dia belum mau menikah saat ini, Mom.” Gerald mengoreksi ucapan Stella. Stella menatap tajam ke arah Gerald dan Gerald pun balas menatapnya tajam. “Kalian tidak sedang berpura-pura sebagai pasangan kekasih, bukan?” tanya Thomas tiba-tiba. “Tentu saja tidak, Dad.” Gerald terkejut mendengar pertanyaan ayahnya itu. “Kalau begitu, bulan depan kalian harus segera menikah atau kau akan menikah dengan Stefanny,” perintah Thomas pada anaknya itu. “Uncle ... Aunty ....” “Mom ... Dad ....” “Ayo Sayang, kita pulang!” ajak Thomas pada istrinya. Mereka meninggalkan ruangan itu. Stella mencoba mengejar pasangan itu tapi Gerald segera menahan tangannya. “Percuma. Mereka tidak akan menarik ucapannya,” ucap Gerald. “Tapi saya gak mau menikah,” ucap Stella kesal. “Kau pikir aku mau menikah?” tanya Gerald yang ikut tersulut emosinya. “Pokoknya tugas saya untuk berpura-pura menjadi kekasih Anda sudah selesai, Tuan,” ucap Stella membuat Gerald menatap tajam padanya. “Iya, aku juga berharap demikian.” Gerald berdiri dari tempat duduknya. “Kalau begitu, saya permisi.” Tanpa mempedulikan Gerald, Stella pun pergi dari ruangan itu. *** Menikah dengannya? Aduh kenapa masalahnya jadi rumit sih, Stella menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Dor ... haha ... masih pagi udah ngelamun. Ngelamun apa ayo?” tanya Bella mengagetkan Stella dari belakang. “Iih ... nih orang kaya gak ada kerjaan elu, kaget tahu.” Stella memukul bahu sahabatnya itu. “Memangnya kamu sedang melamun apa, Stella?” tanya Rio yang datang bersama Bella. “Gak, siapa bilang gue ngelamun. Gue lagi cari inspirasi buat tugas,” jawab Stella. “Pasti lagi ngelamunin seseorang nih,” goda Bella sambil melirik Rio. “Bisa diem, gak. Kalau gak gue balik nih,” ancam Stella. “Hehehe elu lagi pms yah? Kok jadi gampang tersinggung sih.” Bella kembali menggodanya. “Abis elu bawel sih,” ketus Stella. Rio yang melihat keduanya berdebat hanya tersenyum. Matanya tidak pernah lepas menatap Stella. “Kenapa sih elu ngeliatin gue terus?” tanya Stella yang menyadari sejak tadi Rio terus menatapnya. “Gak apa-apa, hanya kamu tetap terlihat cantik walaupun sedang marah, Stella,” ucap Rio. “Gombal.” Stella melirik ke arah Bella dengan hati sedikit terhibur. “Thanks yah, tetap mau berteman dengan aku.” Rio mengulurkan tangannya, Stella pun menyambutnya. “Your welcome.” “Ada apa, Stey? Biasanya elu cerita ke gue.” Bella tahu jika sahabatnya itu sedang ada masalah. “Gak ada apa-apa, Bel,” jawab Stella singkat tapi sepertinya Bella tidak percaya begitu saja. Mungkin karena ada Rio saat ini, pikirnya. *** “Tuan, ada beberapa berkas yang harus Anda tandatangani.” Pamela menghampiri Gerald dan memberikan berkas itu. Setelah memeriksa berkas-berkas itu Gerald pun menandatanganinya dan mengembalikannya pada Pamela. Dia pun melanjutkan memeriksa email yang masuk. Ada satu email yang menarik perhatiannya lalu dibukalah email tersebut. Hai, boo. How are you? I miss you so much. Setelah tau siapa pengirim email tersebut, Gerald pun segera membalas email itu. Is this you, Merc? Ya, how are you, Gery? Cukup baik setelah kau tinggalkan aku tanpa kabar. Sorry Ger, aku harus pergi saat itu. Aku janji akan menjelaskannya padamu nanti. Di mana kau sekarang? Di Canada. Tolong jangan cari aku sekarang. Beri aku waktu 6 bulan untuk menyelesaikan tugasku, setelah itu aku janji akan kembali padamu. Aku harus pergi, bye .... Boo. “Tunggu Merc ...,” ucap Gerald sambil mengetik di laptopnya. “Ahhh .... ” Tiba-tiba Gerald memegang d**a kirinya. “Anda tidak apa-apa, Tuan?” Pamela menghampiri Gerald. “Tidak apa-apa, lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan keluar, kemungkinan tidak balik ke kantor.” Gerald memakai jasnya dan keluar dari ruangannya. *** Stella baru saja keluar dari kamar mandi setelah pulang dari kampus. Dengan handuk yang masih membungkus rambutnya dia pun masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil ponselnya dari dalam tas kemudian selfie dengan wajah lucu. “Stey ... Stey ... cepat ke sini!” seru mamanya. Mendengar panggilan mamanya yang tidak seperti biasanya, Stella pun segera berlari menuju asal suara itu. Betapa kagetnya dia mendapati mamanya sedang menopang tubuh papanya yang terbaring di lantai. “Kenapa papa, Ma?” Stella menghampiri mamanya. “Mungkin jantungnya kambuh. Cepat panggil ambulans!” perintah mamanya. Stella segera menelpon ambulans. Diapun kembali ke kamar dan mengambil tasnya sambil melepas handuk yang membungkus rambutnya. Tak berselang lama ambulans pun datang dan segera membawa papanya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dia pun menuju bagian administrasi untuk mendaftarkan papanya dan segera menyusul mamanya yang sudah lebih dulu menemani papanya menuju ruang ICU. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dan menghampiri mereka. “Maaf, apakah kalian keluarga dari pasien yang baru saja masuk?” “Iya Dok. Bagaimana keadaan suami saya?” “Suami Anda harus segera dioperasi untuk memasang ring pada jantungnya.” “Baik Dok. Tolong suami saya!” “Kalau begitu Nyonya segera ke bagian adminstrasi untuk mengurus segala keperluan untuk operasinya.” “Kira-kira berapa biayanya, Dok?” tanya Stella. “Sekitar 80 juta,” jawab Dokter itu. “Apakah boleh kalau kami bayar setengahnya dulu, Dok?” “Nyonya bisa tanyakan langsung ke bagian administrasi, yah. Kalau ada apa-apa bisa langsung ke ruangan saya.” “Baik Dok. Terima kasih,” jawab Stella dan mamanya. “Aku akan ke bagian administrasi, mama tunggu aja di sini, yah.” Stella pun pergi ke bagian administrasi. “Maaf Sus, apakah boleh jika saya membayar setengahnya dulu dari total biaya operasi papa saya?” “Oh maaf sekali, Nona. Itu sudah ketentuan rumah sakit ini untuk membayar penuh biaya khusus operasi.” “Tolong saya, Sus. Saya janji sisanya akan segera saya lunasi.” Stella memohon. “Maaf Nona,” kata Suster itu sambil menggelengkan kepalanya. Stella pun meninggalkan tempat itu dan menuju ruang dokter yang menangani papanya. “Jantungmu baik-baik saja, Ger,” kata Dave setelah memeriksa keadaan Gerald. “Kenapa tadi bisa berdebar kencang sekali, Dave,” ucap Gerald sambil mengancingkan kemejanya. “Mungkin karena kau terlalu bahagia menerima pesan dari Mercy,” goda Dave menyusul Gerald yang sudah duduk di sofa. Tok ... tok ... tok “Masuk!” ucap Dave dan pintu pun terbuka. “Maaf Dok, saya—” ucapan Stella terputus, dia kaget melihat Gerald ada di ruangan itu. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Dave sambil berdiri dari duduknya menghampiri Stella. “Bisa kita bicara berdua aja, Dok?” tanya Stella berbisik. “Tentu saja,” Dave kemudian memalingkan wajahnya ke arah Gerald. “Aku akan keluar.” Gerald berdiri dari duduknya sebelum keluar dia berhenti sebentar di depan Stella, matanya mengarah ke rambut Stella yang acak-acakan lalu dia pun keluar dari ruangan itu. “Dok, tolong operasi papa saya! Saya janji akan segera melunasi biayanya.” Stella memohon pada Dave. “Nona, bukan saya tidak mau menolong tapi ketentuan dari rumah sakit memang seperti itu. Apakah papa Anda masuk asuransi?” “Tidak.” Stella menggelengkan kepalanya. “Mungkin Anda perlu meminta bantuan pada saudara-saudara Anda,” saran Dave. “Jadi intinya ... Anda gak bisa membantu papa saya, ‘kan?” tanya Stella. Tanpa menunggu jawaban dari Dave, dia pun pergi dari ruangan itu. “Nona, tunggu dulu!” seru Dave tapi tidak dihiraukan oleh Stella. “Ada apa, Dave?” tanya Gerald begitu melihat Stella berjalan dengan setengah berlari melewatinya. “Papanya harus segera menjalani operasi pemasangan ring. Tapi pihak keluarganya baru bisa membayar setengahnya. Sedang ketentuan rumah sakit untuk operasi jantung harus membayar full,” jelas Dave. “Aku akan membayar seluruh biayanya. Tolong, segera kau operasi papanya!” Gerald menepuk bahu sahabatnya itu. Tanpa menunggu jawaban dari Dave, Geraldpun segera menuju bagian adminitrasi untuk membayar biaya operasi papanya Stella. Sedang Dave sempat bingung dengan perkataan Gerald tapi dia kesampingan kebingungannya itu dan segera memerintahkan timnya untuk membantunya di ruang operasi. Stella dan mamanya kaget melihat Dave dan suster membawa papanya ke ruang operasi. Dia tidak sempat bertanya pada Dave karena Dokter itu terburu-buru masuk ruang operasi. Stella dan mamanya terlihat gelisah menunggu orang yang sangat mereka cintai sedang menjalani operasi. Setelah 30 menit lampu di ruangan operasi berubah warna tanda operasi telah selesai. Dave keluar dari ruang operasi menghampiri Stella dan mamanya. “Bagaimana keadaan suami saya, Dok?” tanya Mery. “Operasinya berhasil, Nyonya. Jika dalam 3 hari pasien mengalami kemajuan maka 2 hari ke depannya sudah bisa pulang,” jelas Dave. “Maaf Dok, kenapa papa saya tiba-tiba bisa dioperasi sedangkan tadi Anda bilang gak bisa membantu saya?” tanya Stella. “Ooh ... itu karena bantuan dari sahabat saya. Anda tahu orang yang tadi ada di ruangan saya? dia yang membayar biaya operasinya,” jelas Dave. “Siapa orang yang baik hati itu, Stey?” tanya mamanya. “Maaf, apa Anda kenal dengan sahabat saya itu?” tanya Dave pada Stella. “Iya,” Stella mengangguk. “Mmmh ... dia Gerald, Ma. Orang yang membayar biaya operasi papa.” Akhirnya Stella menjawab pertanyaan mamanya dan Dave. “Oh ... Puji Tuhan! Tapi kenapa kekasihmu itu ada di sini?” tanya mamanya. “Aku juga gak tau sedang apa dia di sini,” jawab Stella gugup. “Oh, dia sedang memeriksa kesehatannya, Nyonya.” Dave memberi penjelasan. “Apakah dia sakit, Dok?” Mery terlihat khawatir. “Tidak, Nyonya. Dia memang rutin selalu memeriksakan kesehatannya,” jawab Dave. “Syukurlah. Kalau begitu terima kasih banyak sudah menolong suami dan calon menantu saya, Dok,” ucap Mery. “Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu, saya pamit mau memeriksa pasien lainnya.” Dave pamit dan berlalu dari hadapan Stella dan mamanya. Sementara itu Stella dan mamanya menunggu papanya dipindahkan ke ruang rawat. *** Malam harinya Gerald, Dave, dan Jonathan berkumpul. Karena besok adalah hari libur, mereka dapat seharian istirahat dari semua pekerjaan yang sangat membebani pikiran mereka. “Apakah gadis itu yang kau jadikan kekasih palsumu, Ger?” tanya Dave pada Gerald yang sedang meneguk minumannya. “Uhuk ... uhuk ... dari mana kau tahu itu, Dave?” Gerald tersedak. Dave pun menceritakan kejadian setelah dia selesai operasi. “Tunggu dulu! Kalian membicarakan sesuatu yang tidak aku ketahui.” Tiba-tiba Jonathan menyela. “Aku pun tidak tahu, Jo. Karena itu biar Gery menceritakannya pada kita sekarang,” ucap Dave sambil menyandarkan tubuhnya. “Namanya Stella Caroline usia 23 tahun. Dia gadis yang pernah kuceritakan pada kalian waktu itu.” Gerald pun menyandarkan badannya. “Gila kau, Ger. Jadi gadis kecil itu yang kau jadikan kekasih?” tanya Jonathan dan Gerald mengangguk. “Oleh karena itu kau menolongnya?” tanya Dave. “Aku tidak tahu, mungkin karena dia sudah menolongku,” jawab Gerald. “Apa jangan-jangan kau terbawa perasaan karena sandiwaramu itu, heh?” Jonathan menyenggol lengan Gerald. “Tidak. Tapi mungkin aku masih membutuhkan bantuannya,” jawab Gerald santai. “Apa maksudmu?” tanya Dave. “Orangtuaku memaksa kami menikah bulan depan kalau tidak, aku terpaksa harus menikah dengan Stefanny. Mereka mencurigaiku, bro.” Gerald menceritakan kejadian di kantornya beberapa hari yang lalu. Dave dan Jonathan tertawa mendengarnya. “Hmm ... kalau begitu kenapa tidak sekalian kau minta gadis itu berpura-pura menjadi istrimu,” ujar Jonathan. “Heum ... belum sempat aku bicara dia menolaknya. Dia gadis keras kepala yang baru pertama kali aku temui.” Gerald tersenyum mengingat sifat asli Stella. “Sepertinya kau menyukainya, Ger,” goda Jonathan. “No way. Aku tidak suka wanita pemberontak, Jo.” Gerald mengambil gelas di depannya dan meneguk isinya. “Tapi mau tak mau kau harus tetap membujuknya untuk kembali berpura-pura menjadi istrimu, Ger,” usul Jonathan. “Walaupun dia mau menerimanya tapi kau harus pikirkan juga masa depannya, Ger. Dia akan jadi janda setelah pernikahan kalian selesai. Bagaimana dengan kekasihnya nanti?” Dave mencoba menasehati sahabatnya itu. “Tenang saja, Dave. Aku tidak akan memaksanya, kau tidak usah khawatir.” Gerald menepuk bahu Dave karena dia juga bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendaknya pada oranglain apalagi untuk masalah yang sangat rumit ini. *** “Stey, sudah kamu bereskan semuanya?” tanya mamanya. “Udah, Ma. Semua udah beres tinggal tunggu Dokter memeriksa papa,” jawab Stella sambil menyiapkan tas yang akan dibawanya. Dia pun menghampiri dan bergelayut manja pada papanya. Tiba-tiba pintu terbuka dan Dave beserta seorang suster datang. “Biar saya periksa papanya dulu yah, Nona.” Dave tersenyum melihat kelakuan manja Stella. Stella pun melepaskan tangannya dari leher sang papa. “Maaf yah, Dok. Memang begini punya anak gadis semata wayang, manjanya minta ampun,” ujar Mery sambil mengacak-acak rambut anaknya. “Tidak apa-apa, Nyonya,” ucap Dave lalu memeriksa Bernard. “Terima kasih banyak, Dokter,” ucap suami istri itu. “Sama-sama. Kalau begitu saya permisi yah, mau periksa pasien lainnya,” pamit Dave. Melihat Dave keluar dari ruangan, Stella pun mengejarnya. “Tunggu, Dok!” panggilnya. Dave pun berhenti dan berbalik melihat Stella. “Boleh saya minta nomer ponsel Tuan Gerald, Dok?” tanya Stella. “Untuk apa?” tanya Dave tersenyum dengan sebelah alis mata terangkat. “Saya hanya mau mengucapkan terima kasih padanya.” “Oke.” Dave pun mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomer Gerald pada gadis itu. “Terima kasih, Dok.” “Sama-sama. Mmmh ... kalau boleh, saya mau minta bantuan Anda, Nona,” ucap Dave sambil memasukkan tangannya ke saku jas putihnya. “Bantuan apa, Dok?” “Saya sudah tahu hubungan antara Anda dan Gery. Saat ini dia sangat membutuhkan pertolongan Anda, Nona ...?” Stella hanya bengong mendengar kata-kata Dave. “Nama saya Stella, Dok.” “Ooh, Nona Stella. Maksud saya, tolonglah Gery sekali lagi.” Dave melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus tadi. “Bantu apalagi, Dok?” tanya Stella penasaran karena dia merasa sudah membantu pria yang dimaksud Dave. “Saya rasa, kamu lebih tahu permasalahan yang sedang dia hadapi saat ini,” kata Dave. Stella hanya diam karena sekarang dia tahu permasalahannya. “Saya permisi dulu,” ucap Dave dan Stella pun menganggukkan kepalanya. *** Stella tiba di sebuah kantor yang sudah beberapa kali dia kunjungi. Dia harus mengantarkan makanan titipan orangtuanya untuk Gerald. “Nona Stella, tunggu!” seru suara dari arah belakangnya. “Tuan Ben, kebetulan saya mau titip makanan buat Tuan Gerald dari orangtua saya, yah. Sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya,” ucap Stella. “Oh, saya rasa lebih baik Anda yang harus mengantarkannya langsung, Nona. Mari, saya antar Anda ke atas!” Ben mengajak Stella menuju lift khusus bosnya. “Silahkan Nona langsung ke ruangan Tuan! Saya masih harus ke ruang rapat.” Ben segera menuju ruangan rapat. Sedangkan Stella menuju ruangan sepupunya tapi dia tidak mendapati Shanty di sana. Dia pun mendekati pintu ruangan Gerald, niatnya untuk mengetuk pintu diurungkannya karena mendengar percakapan dari dalam ruangan itu. “Jadi, benar kecurigaan Daddy selama ini kalau kau hanya berpura-pura memiliki hubungan dengan gadis itu?” tanya Thomas pada anaknya itu. “Apakah itu benar, sayang?” tanya Lisa menimpali ucapan suaminya. Gerald hanya diam menanggapi pertanyaan orangtuanya itu. “Kau tidak menjawabnya jadi Daddy anggap itu benar. Daddy akan mengatur pertemuan kita dengan orangtua Stefanny dan kau ... harus menepati janjimu untuk menikah dengan Stefanny,” kata Thomas dengan penuh kemarahan. Lisa tidak bisa berbuat apa-apa dengan kemarahan suaminya itu dan gerald pun tetap diam tak bergeming. Apa yang harus gue lakuin untuk menolongnya, gumam Stella. Dia berusaha memikirkan cara agar pria yang beberapa kali menolongnya itu tidak dipaksa menikah. Stella mengetuk pintu dan membukanya. “Aku membawakan makan siang untukmu, G.” Stella berpura-pura tidak mengetahui kehadiran kedua orangtua itu. “Ooh, maaf aku gak tahu kalau ada Uncle dan Aunty di sini,” kata Stella berpura-pura. “Tidak apa-apa, Nak. Ada yang ingin Aunty bicarakan denganmu.” Stella menghampiri Gerald dan berdiri di sebelahnya. “Aunty ingin kau menjawabnya dengan jujur. Apakah kau dan Gerald sungguh-sungguh menjalin kasih atau semua ini hanya akal-akalan dia saja?” Lisa menatap Stella, tak lama mengalihkan tatapannya ke putranya. “Tentu saja kami bersungguh-sungguh, Aunty,” jawab Stella sambil melihat ke Gerald. “Kalau begitu, kalian tidak keberatan jika 2 minggu lagi kalian menikah?” Lisa menantang Stella dan Gerald. Stella mengalihkan tatapannya ke arah Gerald. “Menikahlah denganku!” bisik Gerald di telinga Stella. Permintaan Gerald membuat Stella terkejut sambil memiringkan kepalanya meminta penjelasan kepada Gerald. “Mom, Stella masih sangat muda dan masih kuliah. Tolong beri dia waktu untuk berpikir!” ujar Gerald. “Kalau begitu, menikahlah dengan Stefanny yang jauh lebih siap untuk kau nikahi!” seru Thomas pada putranya itu. Gerald diam sejenak untuk berpikir. “Baiklah, jika itu yang kalian inginkan, aku akan mengikuti kemauan kalian untuk menikahi—” Ucapan Gerald terputus karena Stella langsung memotongnya. “Aku siap menikah denganmu, G,” seru Stella, membuat Gerald terkejut menatap gadis itu. “Apa kau yakin dengan keputusanmu?” bisik Gerald dan Stella menganggukkan kepalanya. “Aku akan memberitahu orangtuaku, Aunty.” Lisa menggenggam tangan Stella dan menepuk-nepuknya. “Baiklah, minggu depan kami akan datang melamarmu.” “Aku punya 1 permintaan, apakah boleh?” tanya Stella dengan wajah memelas dan Lisa pun mengangguk. “Tolong pernikahannya nanti hanya keluarga saja yang hadir yah, Aunty! Gak usah pesta karena aku masih kuliah.” Stella memohon. “Bagaimana tanpa pesta, Nak. Gerald putra kami satu-satunya dan relasi kami banyak, begitu juga dengan relasi Gerald. Kalau kamu tidak mau teman-teman dan dosenmu tahu, kau tidak perlu mengundang mereka, yah.” Lisa memberi saran pada Stella. “Baiklah, aku ikut apa kata Aunty.” “Baiklah kalau begitu kami harus pulang, aku harus menyiapkan semuanya.” Lisa mengajak suaminya pulang. “Hati-hati, Aunty!” Lisa tersenyum pada Stella dan melambaikan tangannya sambil berjalan keluar. Hanya tinggal Gerald dan Stella saat ini di ruangan itu. Gerald pun menghampiri Stella dan duduk di sofa sambil membuka kotak makanan yang di bawa Stella. “Kenapa akhirnya kau bersedia menikah denganku?” tanya Gerald sambil mengambil makanan dari kotak lalu memakannya. “Karena Anda telah menolong papa saya. Jadi saya harus menolong Anda,” jawab Stella. “Heum ... gadis yang tahu membalas budi,” ucap Gerald sambil kembali menyantap makanannya. “Dasar pria menyebalkan!” Stella berdiri dari sofa hendak pergi tapi Gerald menahannya. “Aku akan mengantarmu, sekalian bertemu dengan orangtuamu.” Gerald berdiri dan mengambil jasnya untuk mengantar Stella pulang. *** Stella akhirnya sampai di rumahnya. Sebelum masuk ke dalam rumah, dia menahan tangan Gerald. “Tunggu! Pernikahannya hanya pura-pura, ‘kan?” tanya Stella. “Memangnya kalau pernikahannya sungguhan, kenapa?” Gerald balik bertanya. “Aku gak mau. Lebih baik saya menikah dengan orang yang seumuran dengan saya,” ketus Stella. Gerald menatap tajam pada Stella dan tatapannya membuat Stella bergidik melihatnya. “Tenang saja. Aku bukan pria yang menyukai gadis kecil sepertimu,” ucap Gerald sambil melihat ke tubuh Stella. Stella langsung mendekap tubuhnya sendiri. “Tapi buktinya sekarang kau menikahi gadis kecil ini, ‘kan,” ketus Stella membalas ucapan Gerald yang menghinanya. “Hanya pernikahan kontrak. Cuma 6 bulan setelah itu kita berpisah. Tenang saja, aku akan terus menafkahimu sampai kau menemukan pasanganmu nanti. Sekarang kita masuk ke dalam untuk menemui orangtuamu.” Gerald menarik tangan Stella masuk ke dalam rumah itu. Gerald menemui kedua orangtua Stella dan mengutarakan keinginannya untuk menikahi Stella. Awalnnya orangtua Stella terkejut tapi setelah Gerald memberikan alasan yang jelas akhirnya orangtua itu pun setuju dan menerimanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD