Gerald tiba di kantor setelah meninjau lokasi proyeknya.
“Siang Tuan,” sapa Shanty.
“Siang, apa ada berkas yang harus saya tandatangani?” tanyanya pada Shanty.
“Ada Tuan. Berkasnya sudah saya titip pada Pamela.”
“Oke.” Gerald pun langsung masuk ke ruangannya.
“Siang Tuan.” Pamela menyapanya.
“Siang. Di mana berkas yang harus saya tandatangani?” Gerald menuju kursinya. Pamela pun membawakan berkas yang harus Gerald tandatangani. Diapun segera menandatangani berkas-berkas itu dan mengembalikannya pada Pamela.
“Apa hubunganmu dengan Jonathan?” tanya Gerald untuk memastikan perkataan Jonathan beberapa hari yang lalu.
“Kak Jo adalah sepupu jauh saya, Tuan,” jawab Pamela.
“Apa saja yang sudah dia katakan padamu?” Gerald menatap Pamela sambil menyerahkan berkas-berkas lainnya yang sudah ia tandatangani.
“Kak Jo meminta saya untuk berpura-pura menjadi kekasih Anda, Tuan.” Pamela menundukkan kepalanya.
“Lalu bagaimana menurutmu?” Gerald berdiri dan menghampiri Pamela lalu duduk di meja kerjanya.
“Saya bersedia berpura-pura menjadi kekasih Anda, Tuan,” jawab Pamela sambil menatap Gerald yang juga sedang menatapnya.
“Saat ini saya belum bisa memutuskannya karena saya tidak ingin membawa karyawan memasuki kehidupan pribadi saya.” Gerald berusaha menjelaskannya pada Pamela.
“Tapi jika Anda berubah pikiran, saya bersedia membantu Anda, Tuan,” ucap Pamela.
“Baiklah, nanti saya akan hubungi kamu kembali,” kata Gerald.
“Baik, Tuan.” Pamela menganggukkan kepalanya dan kembali ke kursinya. Gerald pun kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.
***
“Hai, Shan!” sapa Stella pada Shanty.
“Stey, ada apa kamu ke sini?” tanya Shanty yang kaget melihat Stella ada di kantornya padahal seingatnya dia tidak memesan makanan.
“Aku mau bertemu bosmu. Apa dia ada?” Stella menunjuk ke ruangan CEO.
“Ada. Untuk apa kamu menemui bosku? Apa kamu sudah buat janji, Stey?” tanya Shanty.
“Ahh ... gak perlu, bilang aja aku mau bertemu dia. Dia pasti tahu kok. Please ...!” Stella memohon dengan mengatupkan kedua tangannya. Shanty mencoba menghubungi Gerald dengan line telepon. Tak lama kemudian dia menyuruh Stella masuk ke ruangan Gerald. Stella pun masuk dan menghampiri meja pria itu.
“Ada apa?” tanya Gerald dengan mengangkat sebelah alisnya dan menyandarkan badannya ke kursi.
“Saya mau mengembalikan uang Anda,” jawab Stella sambil menyodorkan sebuah amplop di meja kerja pria itu. Gerald mengambil dan membuka amplop itu. Dia tersenyum dengan mengangkat sudut bibirnya lalu melihat ke arah Pamela.
“Pamela, tolong keluar sebentar!” perintah Gerald pada asistennya itu.
“Baik, Tuan.” Pamela pun berdiri dari kursinya lalu keluar dari ruangan itu. Sekarang hanya Gerald dan Stella di ruangan itu.
“Duduklah!” Dia minta Stella untuk duduk di sofa. Stella pun duduk di sofa yang ditunjuk Gerald.
“Dari mana kau mendapatkan uang ini?” tanya Gerald ikut duduk di sofa itu.
“Yang pasti bukan hasil mencuri. Papa meminta saya untuk segera mengembalikan uang itu. Terima kasih, Anda sudah menolong saya. Karena gak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya permisi.” Stella hendak bangun dari duduknya.
“Kembalikan uang ini pada orangtuamu! Dia pasti membutuhkan uang ini.” Gerald menyodorkan kembali amplop itu.
“Kenapa? Apa uangnya kurang?” Stella memeriksa isi amplop itu.
“Isinya pas kok 1 juta. Jangan-jangan Anda mau minta bunganya juga, dasar rentenir!” tuduh Stella, membuat Gerald menatapnya tajam.
“Kau ...! Baiklah, aku terima uang ini dan aku juga ingin kau membayar semua utangmu sekarang.” Darahnya naik mendengar tuduhan Stella yang menyebutnya rentenir. Dia paling tidak suka orang menyebutnya rentenir.
“Tapi, ‘kan saya udah bilang akan mencicilnya. Kenapa Anda malah menagihnya sekarang?” tanya Stella emosi dan berdiri dari sofa itu.
“Karena lebih cepat kau melunasi utangmu maka aku tidak akan bertemu denganmu lagi,” ucap Gerald kesal.
“Aku akan mencicilnya, Tuan Gerald yang terhormat.” Stella turut emosi menghadapi Gerald.
“Aku tidak mau karena aku bukan rentenir. Aku ingin kau mengembalikan uang itu sekarang atau ....” Gerald tidak melanjutkan kalimatnya.
“Atau apa?” tanya Stella, dia kembali duduk di sofa. Tiba-tiba Gerald memasang wajah dinginnya, tapi tak berselang lama dia pun tersenyum tipis.
“Aku akan menganggap utangmu lunas tapi dengan 1 syarat.” Gerald menatap Stella.
“Apa?” tanya Stella cemas.
“Kau berpura-pura menjadi kekasihku dalam 2 hari ini, bagaimana?” tanya Gerald.
“Hah!” Stella terperajat mendengar syarat yang diajukan pria itu. Bagaimana bisa dia mengajukan syarat seperti itu, pikirnya.
“Apa Anda sudah gila? Bagaimana bisa Anda mengajukan syarat seperti itu?”
“Tentu saja aku bisa. Kau punya utang dan aku ingin kau membayarnya dengan cara itu,” jawab Gerald santai dengan menyilangkan kedua kakinya.
“Anda benar-benar sudah gila.” Stella kesal, dia tidak tau harus berkata apa. Dibalikkan badannya lalu dia pun keluar dari ruangan itu. Gerald tersenyum tipis melihat sikap Stella.
***
Stella melepas tasnya ke ranjang lalu menghempaskan bokongnya pada kursi dekat meja riasnya. Perasaan kesalnya saat ini berkecambuk bersama perasaan marahnya pada pria itu. Stella bingung harus meminjam pada siapa uang sebanyak itu. Pria itu memberikan dua pilihan padanya dan dia tidak bisa memilih salah satu dari pilihan itu karena kedua-duanya sangat sulit baginya.
“Dasar pria tua gak tahu diri. Mentang-mentang orang kaya seenaknya aja kasih syarat,” gerutu Stella.
“Amit-amit deh, jangan sampai gue dapat suami seperti om-om itu.” Stella mengelus dadanya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan berdiri papanya di sana.
“Jangan bicara seperti itu nanti jika jodohmu ternyata om-om itu, bagaimana?” goda papanya.
“Iih ... Papa. Emangnya P apa mau punya menantu udah tua, cerewet, pelit lagi.” Stella mengerucutkan bibirnya.
“Kalau memang jodohnya seperti itu, kenapa tidak,” lagi-lagi sang papa menggodanya.
“Aku akan beribu-ribu kali menolaknya. Udah ah, Papa tambah mood aku jadi turun.”
“Ya sudah. Apakah kamu sudah mengembalikan uang kepada penolongmu itu?” tanya sang papa.
“Sudah, Pa,” jawab Stella.
“Syukurlah kalau begitu. Istirahatlah, Papa keluar dulu!” Stella mengangguk dan papanya pun keluar sambil menutup pintu kamarnya. Stella segera mengambil pakaiannya lalu keluar kamar menuju kamar mandi.
***
Hari ini saatnya Gerald harus membawa calon istrinya untuk dipertemukan dengan orangtuanya. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dia masih duduk di sofa kamarnya sambil menonton televisi tapi pikirannya tidak pada apa yang ia tonton melainkan ke tempat lain. Tak lama kemudian dimatikannya televisi dan ia menuju kamar mandi. Selang 20 menit dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan dipinggangnya menuju kamar ganti, ia memilih kaos polos berwarna hitam dan celana jeans biru dongker dipadu dengan jaket berwarna biru dongker. Setelah merapikan rambutnya, dia pun keluar dari kamarnya menuju garasi dan pergi mengendarai mobilnya. Sebentar-bentar ia melihat peta lokasi yang dikirim Ben pada ponselnya.
“Kau hanya perlu sedikit paksaan, gadis kecil,” gerutunya sambil menyetir.
Tibalah Gerald di sebuah kedai makan yang tidak terlalu besar. Dia turun dari mobilnya dan masuk ke kedai makan itu. Pandangan matanya dialihkan ke kiri dan ke kanan mencari seseorang. Stella yang sedang mengantarkan makanan terkejut melihat kedatangan Gerald ke kedai makannya. Dia pun segera menghampiri Gerald dan menarik tangannya untuk keluar dan Gerald pun mengikutinya.
“Mau apa Anda ke sini?” tanya Stella ketus.
“Kau pikir, mau apa aku ke sini?” Gerald balik bertanya.
“Saya sudah bilang, saya akan mencicil uang itu,” kata Stella berbisik karena dia tidak mau orangtuanya mendengar pembicaraan itu.
“Aku tidak ingin dicicil kecuali kau bersedia dengan syarat yang aku ajukan, setelah itu utangmu akan lunas,” bisik Gerald sedikit memiringkan kepalanya.
“Saya sudah katakan kalau saya gak mau berpura-pura menjadi kekasih Anda.” Stella tetap kukuh dengan pendiriannya.
“Maksudmu kau ingin menjadi kekasihku yang sesungguhnya, begitu?” Gerald kembali berbisik.
“Amit-amit, lebih baik saya tidak menikah jika punya kekasih seperti Anda,” seru Stella.
“Oke. Kalau begitu aku akan bicara dengan orangtuamu.” Gerald kembali ingin memasuki rumah itu tapi Stella kembali menarik tangannya.
“Jangan! Papa saya punya penyakit jantung. Kalau jantungnya kumat, gimana?” kata Stella setengah berbisik.
“Kalau begitu segera putuskan, aku tidak punya banyak waktu karena saat ini juga aku harus menemui orangtuaku,” jelas Gerald sambil melepaskan tangannya dari pegangan Stella.
“Apa kau suka memaksa orang seperti itu, hah?” tanya Stella kesal dan memukul d**a pria itu. Gerald hanya mengangkat bahunya.
“Siapa dia, Stey?” tiba-tiba mamanya sudah berdiri di depan pintu.
“Ma, itu ... dia ....” Stella gugup sambil melirik ke arah Gerald, dia takut pria itu akan menagih sisa utangnya. Tapi di luar dugaan justru Gerald memperkenalkan dirinya.
“Aku Gerald, Aunty.” Gerald mengulurkan tangannya.
“Saya Mery, mamanya Stella. Kamu temannya Stella?” tanya Mery membalas uluran tangan Gerald. Sebelum Gerald menjawab Stella langsung melepaskan jabatan tangan mamanya.
“Bukan, Ma. Lagian, mana ada sih temanku seusia dia.” Stella mencibirkan bibirnya ke arah Gerald.
“Aku kekasihnya, Aunty,” seru Gerald dengan tersenyum lebar.
“Hei, kau ....” Ucapan Stella terputus oleh mamanya.
“Ah, ternyata kau sudah punya kekasih. Kenapa tidak cerita ke mama? Ayo ajak masuk ke dalam. Harusnya kamu kenalkan ke mama dan papa.” Mery mencubit pinggang putrinya.
“Ma, bukan begitu. Dia ...!” Stella berusaha menjelaskannya tapi terpotong oleh perkataan mamanya.
“Sudah, mama dan papa tidak melarang kamu punya kekasih kok,” kata sang mama.
Stella tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya tersenyum miris dan melirik ke arah Gerald yang sejak tadi tersenyum tipis mendengar ucapan mamanya. Mereka pun masuk ke dalam untuk menemui papa Stella.
“Sayang, kenalkan ini kekasih Stella, calon menantu kita!” seru Mery pada suaminya.
“Ma ... bukan calon menantu,” protes Stella.
“Aku Gerald, Uncle.” Gerald mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh papanya Stella.
“Senang bertemu denganmu, Nak. Aku Bernard, papanya Stella.”
Setelah berbasa basi sebentar Gerald mengutarakan niatnya pada orangtua Stella.
“Maksud kedatangan aku ke sini, ingin meminta ijin pada Uncle dan Aunty untuk mengajak Stella bertemu dengan orangtuaku.” Gerald menjelaskan maksud kedatangannya.
“Silahkan tapi pulangnya jangan malam-malam, yah,” ucap Bernard.
“Baik Uncle,” ucap Gerald. Stella memelototkan matanya pada Gerald. Dia tidak terima dengan apa yang dikatakan Gerald karena dia sendiri tidak tahu rencana itu.
“Sudah mandi sana, tidak baik membiarkan calon mertua menunggu lama,” goda sang mama.
“Ma ... dia bukan ....”
“Ayolah mandi sana, Sayang!” perintah sang papa memotong perkataan Stella.
“Tapi Pa ....” Stella tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena sang papa sudah memberikan anggukan yang berarti dia harus menuruti papanya.
Stella masuk ke kamar sementara itu sang mama menyuruh Gerald menunggu di ruang dalam. Tak perlu menunggu waktu lama Stella sudah keluar dari kamarnya dengan memakai kaos hitam, celana riped jeans ( celana yang pada bagian lututnya sobek-sobek ) dan tas selempang kesayangannya. Dia sengaja melakukan itu untuk membuat Gerald kesal padanya. Sedangkan pria itu hanya mengulum senyum melihat kelakuan Stella.
“Ma ... Pa ... aku berangkat dulu,” pamit Stella.
“Uncle ... Aunty ... aku pamit,” ucap Gerald.
“Hati-hati di jalan, Nak!”
Gerald membukakan pintu mobil untuk Stella. Setelah itu mereka pun berangkat. Di tengah perjalanan Gerald tiba-tiba membelokkan mobilnya memasuki parkiran besar dan menghentikan mobilnya di sebuah butik.
“Turunlah!” perintah Gerald pada Stella.
“Mau apa ke sini?” tanya Stella setelah turun dari mobil. Tapi Gerald tidak menjawabnya, dia malah menarik tangan Stella yang terpaksa diikuti oleh Stella.
“Oh! Tuan Gerald, sudah lama anda tidak ke sini,” sapa salah seorang karyawati di sana dengan manjanya.
“Yah, sudah lama tidak melihatmu,” balas Gerald dengan senyuman mautnya yang membuat para karyawati di sana terpikat padanya.
“Hmm ... dasar mesum.” Stella bergumam sambil melengos ke tempat lain.
“Aku mendengarmu,” bisik Gerald di telinga Stella, membuat gadis itu terperajat.
“Aku mencari gaun yang cocok untuknya,” kata Gerald pada karyawati itu sambil mengandeng bahu Stella tapi ditepis oleh Stella.
“Mari ikut saya!” ucap karyawati itu dan mengajak Stella ke dalam. Stella memilih-milih gaun yang ditunjukkan karyawati itu. Sebenarnya gaun-gaun yang dilihatnya bagus semua. Tapi bukan ini yang gue cari, ucapnya dalam hati. Setelah beberapa menit mencari akhirnya dia menemukan gaun yang dimaksud. Dia pun pergi ke kamar ganti, tak lama kemudian dia keluar dan menghampiri Gerald.
“Saya sudah selesai,” ucap Stella mengejutkan Gerald yang sedang melihat sesuatu di ponselnya. Gerald berdiri dari tempat duduknya menghampiri Stella yang memakai gaun berwarna merah menyala tanpa lengan dengan potongan rendah pada bagian dadanya.
“Apa kau sedang berusaha menggodaku atau ingin membuatku emosi?” tanya Gerald sambil tersenyum dengan salah satu sisi bibirnya naik ke atas. Setelah itu ditariknya tangan Stella untuk mengikutinya ke dalam.
“Apa ada gaun yang lebih sopan dari ini?” teriak Gerald pada karyawati di tempat itu. Beberapa karyawati ketakutan melihat wajah Gerald yang tampak marah itu.
“Kami sudah memberikan gaun terbaik butik ini, Tuan. Tapi nona ini menginginkan gaun itu,” jawab seorang karyawati lalu menunjukkan tempat beberapa gaun yang terpajang di sana. Gerald memilih gaun-gaun tersebut setelah mendapatkan yang cocok untuk Stella, diapun memberikannya pada gadis itu.
“Ganti dengan ini,” perintahnya dengan tatapan tajam pada Stella. Stella mengambil gaun berwarna peach tanpa lengan dari pinggang melebar sebatas lutut. Dia pun menuju kamar ganti. Tak lama Stella keluar dengan gaun, sepatu, dan tas berwarna senada. Setelah membayar semuanya, Gerald pun melanjutkan perjalanan.
***
Setelah 1 jam perjalanan mobil itu memasuki sebuah perkarangan yang sangat luas, pintu garasi terbuka lalu mobil itupun memasuki area parkir yang besar dengan beberapa mobil terparkir di sana. Gerald keluar dari mobilnya dan Stella pun keluar dari mobil itu.
“Ingat! Kau berperan sebagai kekasihku. Jadi, kau harus tahu bagaimana bersikap sebagai seorang kekasih,” kata Gerald sebelum mereka masuk ke rumah itu.
“Saya belum pernah punya kekasih. Jadi saya gak tahu bagaimana harus bersikap sebagai seorang kekasih,” jawab Stella ketus.
“Kau pernah menonton drama, ‘kan? Apalagi gadis seusiamu pasti gemar dengan drama korea,” ucap Gerald. Stella diam tak berkutik karena dia memang mengakui kalau drama favoritnya adalah drama korea.
“Kalau kekasihnya seperti aktor korea sih, gue lakonin deh. Tapi kalau kekasihnya kaya gini, iih ... ogah amat,” gerutunya pelan.
“Jadi kau ingin aku seperti aktor korea, begitu?” Gerald mendengar gerutuan Stella.
“Bawel amat sih!” ketus Stella.
Akhirnya mereka pun masuk ke rumah itu. Stella terperangah melihat ruangan tamu yang sangat luas itu, Gerald mengajaknya memasuki ruangan keluarga di mana sepasang suami istri yang sudah cukup umur sedang berbincang dan melihat putranya datang mereka pun langsung menyambutnya.
“Akhirnya kau datang juga, Sayang.” Sang mommy langsung memeluk putranya.
“Mom, Dad. Kenalkan ini Stella!” Stella mengulurkan tangannya dan disambut oleh orangtua Gerald.
“Aku Stella. Senang bertemu dengan Uncle dan Aunty.”
“Aku Aunty Lisa dan ini Uncle Thomas. Senang juga bertemu denganmu, Nak.” Mereka bergantian memeluk Stella. Setelah saling berkenalan, Lisa mengajak mereka ke ruang makan. Di meja itu sudah tersedia berbagai macam makanan. Gerald menarik kursi untuk Stella.
“Gery, kamu sudah datang.” Tiba-tiba dari arah dapur seorang gadis berlari ke arah Gerald dan memeluknya. Gerald pun merangkulnya dengan sebelah tangan.
“Apa kabarmu, Fan?” tanyanya pada gadis yang masih memeluknya itu.
“Baik. Aku kangen kamu, Ger.” Steffanny melepaskan pelukannya.
“Sayang, kenalkan ini Stella!” Lisa memotong pembicaraan itu. Stefanny menghampiri Stella, mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Stella. Mereka pun duduk di kursi masing-masing dan mulai menyantap makanan yang sudah disediakan itu.
Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga. Stella, Gerald, dan Stefanny duduk di sofa panjang.
“Berapa usiamu, Nak?” tanya Thomas pada Stella.
“Mau 23 tahun, Uncle,” jawab Stella.
“Kau masih kuliah?” tanya Lisa.
“Masih. Tinggal menyelesaikan skripsi, Aunty.”
“Sudah berapa lama kau kenal dengan Gerald?” tanya Lisa.
“Mmmh ... sekitar 1 tahun,” jawab Stella gugup sambil melihat Gerald.
“Apa orangtuamu tidak keberatan dengan hubungan kalian?” tanya Thomas.
“Tidak, Uncle. Mereka sudah menerima Tu ... mmh ... maksudku Gerald.” Stella mulai gugup dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Tapi kau masih terlalu muda untuk menjadi kekasih Gery.” Tiba-tiba Steffanny menyela percakapan keluarga itu.
“Aku rasa itu bukan masalah buat kami.” Stella melirik Gerald, ia mulai kesal dengan pria itu yang hanya diam saja sementara ia diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan itu.
“Kebanyakan gadis seusiamu mencari pria yang jauh lebih tua, itu karena materi. Benar, ‘ kan?” Perkataan Stefanny membuat Stella tersinggung.
“Apakah menurutmu aku seperti itu, G?” tanya Stella dengan sikap manja merangkul lengan Gerald dan menguncangkannya.
“Tentu saja tidak, Sweety,” jawab Gerald memegang tangan Stella yang sedang merangkul lengannya.
“Begini Nak, sebenarnya kami berencana menjodohkan Gerald dengan Steffanny tapi Gerald menolaknya karena dia sudah mempunyai kekasih. Mmh ... apakah kau benar-benar mencintai anakku?” tanya Lisa. Stella diam, dia bingung harus menjawab apa sedangkan dia hanya berpura-pura sebagai kekasih pria itu.
“Mom, kami saling mencintai. Untuk apa mommy menanyakan hal itu padanya?” Gerald berusaha menutupi kegugupan Stella.
“Mommy hanya ingin mendengar dari mulut Stella sendiri,” ujar Lisa.
“Aku mencintainya, Aunty. Sangat mencintainya,” jawab Stella masih merangkul lengan Gerald.
“Baiklah. Kami tidak bisa melarang hubungan kalian. Kami sangat senang mengenalmu, Nak.” Thomas tersenyum melihat kelakuan manja gadis itu.
“Dad, Mom, aku harus mengantar Stella pulang karena aku berjanji pada orangtuanya untuk tidak pulang terlalu malam.”
“Baiklah. Stella, kapan-kapan kamu harus mengunjungi kami lagi, yah!” pinta Lisa.
“Iya Aunty,” jawab Stella singkat. Setelah pamit dengan kedua orangtuanya. Gerald pun mengantarkan Stella kembali ke rumahnya.
“Terima kasih, kau sudah memerankan peran itu dengan baik,” ucap Gerald setelah mereka sampai di rumah Stella.
“Berarti utang saya lunas, ‘ kan?” tanya Stella sambil menatap pria itu.
“Iya. Dan ini, kembalikan pada papamu! Aku juga sudah mengembalikan uang yang kau transfer. Kau bisa cek di rekeningmu.” Gerald menyerahkan amplop yang kemarin Stella berikan padanya. Stella menatap Gerald untuk memastikan bahwa pria itu tidak sedang mempermainkannya. Setelah melihat ketulusan Gerald akhirnya dia pun mengambil amplop itu.
“Terima kasih atas tumpangannya,” ucap Stella lalu keluar dari mobil itu dan masuk ke dalam rumahnya.
***
Gerald menghampiri sahabat-sahabatnya yang telah menunggunya. Mereka berkumpul seperti biasa di JW Club
“Sorry, aku telat,” kata Gerald menyalami temannya dengan kepalan tangannya.
“It’s ok, bro,” balas Dave dan Jonathan berbarengan.
“Bagaimana Ger, apakah sukses pertemuan dengan keluargamu?” tanya Jonathan.
“Cukup sukses. Tapi aku tidak tahu apakah mereka percaya atau tidak,” jawab Gerald sambil mengisi gelasnya dengan wine.
“Kau tinggal memintanya mendampingimu lagi,” usul Jonathan.
“No. Gadis kecil itu tidak seperti yang kau kira. Dia gadis keras kepala yang baru kali ini aku temui. Dia bersedia membantuku tapi beberapa kali berusaha merusak rencanaku.” Gerald meneguk minumannya.
“Maksudmu merusak rencana, bagaimana?” Dave bertanya pada Gerald.
“Mmmh ... ketika aku menjemputnya dia memakai celana jeans sobek-sobek dan waktu aku ajak ke butik, dia memilih gaun terbuka dengan warna merah menyala layaknya wanita penghibur.” Gerald tersenyum sambil mengelengkan kepalanya, mengingat kelakuan Stella. Mendengar itu Jonathan dan Dave tertawa terbahak-bahak.
“Gadis mana yang berani berbuat seperti itu padamu bahkan membuatmu dapat tersenyum, Ger?” tanya Dave.
“Tidak mungkin Pamela berbuat seperti itu. Walaupun aku tidak begitu dekat dengannya tapi setahuku dia pendiam dan penurut.” Jonathan mengira kalau Pamela adalah gadis yang dimaksud Gerald.
“Oh sorry, maksudku bukan Pamela. Tapi gadis yang pernah menabrak mobilku.” Gerald menceritakan kejadian 1 bulan yang lalu.
“Hahahaha ... jadi kau manfaatkan kepolosannya itu.” Jonathan tertawa.
“Sungguh licik kau, Ger.” Dave menimbalinya.
“Sebenarnya aku tidak pernah mempermasalahkan kerusakan mobil itu tapi gadis keras kepala itu membuatku emosi. Jadi yah, hitung-hitung aku membalasnya.” Gerald juga menceritakan awal pertemuannya dengan Stella di kantornya. Jonathan dan Dave mendengarkan sambil tertawa-tawa.
“Aku jadi ingin bertemu dengan gadis itu, Ger,” ujar Jonathan.
“Tapi sayangnya aku sudah selesai dengan gadis kecil itu, Jo,” kata Gerald, membuat Dave dan Jonathan tertawa.
Di lain tempat, seorang pria parobaya sedang berbincang dengan pria yang jauh lebih muda.
“Bagaimana, kau sudah mendapatkan informasi tentang putraku,” tanya Thomas pada suruhannya.
“Sudah Tuan. Gadis yang Tuan Gerald bawa ternyata putri pemilik rumah makan dan dia seorang mahasiswi tapi saya tidak pernah melihat tuan muda mengunjungi gadis itu lagi bahkan saat weekend pun Tuan Gerald selalu di club milik temannya,” jelas orang suruhannya itu.
“Dari awal aku sudah curiga dengan hubungan mereka. Mereka tidak seperti kekasih pada umumnya.” Thomas bergumam.
“Baiklah, ikuti terus dan beritahu aku perkembangannya.” Thomas mempersilahkan orang itu pergi.
***
Stella datang dengan semangkok mie dan teh botol di tangannya. Setelah meletakkan mie dan minuman itu di meja dia pun duduk dan menyantap makanan favoritnya itu.
“Ck ... ck ... ck. Loe lapar apa kelaparan, Stey?” tanya Bella menghampiri Stella.
“Mmh ... gue lapar karena baru kali ini gue ngerasa bebas makan,” jawab Stella.
“Utang gue udah lunas sama orang itu, Bel,” kata Stella lagi.
“Yang bener loe, Stey. Kok bisa?” Bella bertanya lagi.
“Mmh ... gue cuma disuruh pura-pura jadi pacar dia di depan orangtuanya, udah gitu beres.” Stella menyedot teh botolnya.
“Hah ... enak bener loe, Stey,” ujar Bella sambil menyedot juice alpuketnya.
Setelah makannya selesai, Stella pun menceritakan bagaimana akhirnya dia harus berpura-pura menjadi kekasih pria itu.
“Bagaimana kalau nanti berlanjut loe malah harus menjadi istrinya, Stey?” tanya Bella.
“Gak mungkin, karena tugas gue udah selesai semalam,” jawab Stella santai.
“Oya Stey. Ngomong-ngomong bagaimana hubungan loe sama Rio?” tanya Bella. Stella menatap Bella sekilas.
“Biasa aja. Gue nolak dia, Bell. Sorry yah.”
“It’s ok, Stey. Kalau loe ga suka kenapa harus dipaksain.” Bella tersenyum padanya.
“Gue mau selesaiin kuliah dulu, Bell. Gue gak mau tambah pusing mikirin hubungan.”
“Iya betul. Buktinya aja waktu itu loe sampe gak bisa makan gara-gara nabrak mobil orang, yah,” ucap Bella. Stella menganggukan kepalanya.
“Tapi bukan gak mungkin, ‘kan suatu saat nanti kali aja loe bisa terima dia. Karena gue tau banget kalo sepupu gue itu udah lama suka sama loe.”
“Kita liat aja nanti, yah.” Stella tersenyum tipis sambil mengambil ponselnya yang berbunyi.
“Yah Ma. Aku masih di kampus sebentar lagi aku pulang.”
“..........”
“Hah ... kenapa gak suruh Denis aja yang ke sana.” Raut wajah Stella berubah.
“..........”
“Baiklah, aku pulang sekarang.” Stella mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Bell, sorry yah. Gue harus pulang sekarang. Mama mau nyuruh nganter pesanan.” Stella menyedot minumannya, kemudian bangkit dari tempat duduknya, melambaikan tangannya pergi meninggalkan Bella.
***