Bab 2. Awal Pertemuan

3293 Words
Malam itu sepulang dari kantor Gerald langsung memacu mobilnya menuju JW Club untuk kumpul bersama kedua sahabatnya. Walaupun mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing tapi mereka tetap meluangkan waktu untuk kumpul bersama. Sesampainya di tujuan Gerald langsung menuju ke ruangan Jonathan. “Hai Bro!” Jonathan dan Dave melakukan tos kepada Gerald bergantian. Gerald hanya tersenyum menyambutnya. “Bagaimana menurutmu gadis itu?” tanya Jonathan sambil menuangkan minuman ke gelas Gerald. Gerald mengambil gelas itu dan meneguknya sedikit. “Siapa dia?” tanya Gerald pada Jonathan. “Tunggu! Kalian membicarakan gadis mana?” tanya Dave bingung dengan pembicaraan dua sahabatnya itu. “Oke, aku akan menjelaskan siapa gadis itu. Namanya Pamela seorang arsitek lulusan salah satu univertas terbaik di sini dengan nilai yang memuaskan. Dia sepupu jauhku, dia sedang membutuhkan pekerjaan karena dia tulang punggung untuk keluarganya. Ayahnya sudah lama meninggal, ibunya membuka usaha laundry kecil-kecilan sedangkan adiknya sakit-sakitan usia 17 tahun. Dia sendiri saat ini berusia 25 tahun. Aku tidak bisa menyuruhnya bekerja disini. Jadi aku meminta bantuanmu untuk memberinya pekerjaan, Ger,” jelas Jonathan. “Oke, aku akan mencarikan posisi yang cocok untuknya nanti.” Gerald kembali meneguk minumannya. “Lalu bagaimana dengan masalah yang sedang kau hadapi, Ger?” tanya Dave. “Entahlah, Dave. Kau sudah menemukan seseorang yang bisa membantuku, Jo?” tanya Gerald. “Bagaimana jika salah satu dari karyawanku, kau bisa memilihnya sendiri,” jawab Jonathan. “No. Kau tahu sendiri bagaimana mereka menatapku. Aku ingin kau mencari gadis yang tidak tertarik sama sekali denganku. Dengan begitu dia tidak akan tersakiti begitu kontrak selesai.” Gerald menjelaskan keinginannya. “Apa kau sudah memikirkan konsekuensi dengan apa yang akan kalian lakukan?” tanya Dave pada Gerald dan Jonathan. Mereka berdua mengangguk berbarengan. Dave hanya mengangkat bahunya menyerahkan keputusan pada mereka berdua. “Kau harus segera mencarinya, Jo. Karena Sabtu depan aku harus membawanya ke rumah orangtuaku,” pinta Gerald. “Oke, besok aku akan mulai mencarinya. Kau tunggu saja kabar dariku.” Jonathan menyetujui permintaan Gerald. Mereka pun melanjutkan percakapan dengan topik lainnya. *** Pagi itu Stella sedang sibuk menyapu halaman karena sebentar lagi pasti banyak tamu yang datang untuk makan. Setelah selesai dia pun menurunkan kursi-kursi dan menatanya di samping meja-meja seperti biasa lalu membersihkan meja-meja itu. Kebetulan juga kuliahnya hari ini kosong. “Stey, nanti jangan lupa antar pesanan ke kantor Shanty, yah!” seru mamanya dari dalam dapur. “Biar Denis aja yang mengantarnya yah, Ma,” seru Stella. “Kamu aja yang mengantar. Mama perlu Denis di sini,” ujar mamanya. Ck, gimana kalau sampai ketemu pria menyebalkan itu, ucapnya dalam hati. Ah, bodo amat gimana nanti ajalah, gumamnya. Stella sudah bersiap dengan antarannya, dia memasukkan pesanan-pesanan itu ke dalam box penyimpanan. Diapun menyalakan motornya dan segera berangkat menuju kantor sepupunya itu. Sesampainya di sana Stella melihat sekitarnya untuk memastikan tidak bertemu dengan orang yang mobilnya dia tabrak. Setelah merasa aman segera dia menuju meja resepsionis, tak lama kemudian ia pun menuju lift khusus karyawan. Sampai di lantai sepuluh dia menghampiri meja Shanty. “Stey!” panggil Shanty begitu melihat Stella menghampirinya. “Aku mengantar pesananmu. Uangnya nanti transfer aja. Aku mau langsung pulang!” ucap Stella pada Shanty. Merasa aneh dengan sikap Stella, Shanty pun menahan tangan Stella. “Ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya kamu langsung pergi begitu saja?” tanya Shanty sambil mendekatkan tangannya ke kening Stella. “Iih, orang gak ada apa-apa kok, cuma kedai lagi ramai jadi aku harus segera pulang,” jawab Stella berbohong. Dia membalikkan badannya hendak keluar tapi ... DUK ... tak sengaja dia menabrak tubuh seseorang. “Aduh!” Stella mengusap dahinya, dilihatnya d**a bidang seorang pria yang baru saja dia tabrak. Perlahan-lahan dia pun memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat orang yang ditabraknya. Stella kaget begitu melihat orang yang berdiri sangat dekat dengannya itu. “Maaf, saya gak sengaja. Saya sedang terburu-buru,” ucap Stella hendak pergi dari tempat itu tapi lengannya dicekal oleh pria itu. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Gerald dengan mengeryitkan kedua alisnya. Dengan cekatan Stella langsung menarik tangan Gerald keluar dari ruangan itu sebelum Gerald mengingat siapa dia. “Anda pasti pemilik mobil itu, ‘kan?” Stella berbisik sambil melirik ke dalam ruangan sepupunya. Gerald mengernyitkan dahinya merasa bingung dengan kata-kata Stella. “Tuan, gadis ini yang menabrak mobil Anda waktu itu.” Melihat Tuannya bingung, Ben pun memberitahu siapa Stella pada Gerald. “Oh ... kamu yang waktu itu membuat lelucon di sini, ‘kan? Ternyata kamu juga yang menabrak mobilku.” Gerald menatap tajam pada Stella. “Tapi saya benar-benar gak sengaja waktu itu, Tuan,” bisik Stella sambil sebentar-bentar melihat ke ruangan Shanty. “Apakah kau akan terus memegang tanganku seperti ini?” Gerald menatap Stella lalu matanya melirik ke arah tangannya yang sejak tadi dipegang oleh Stella. Melihat kode dari Gerald, Stella pun segera melepaskan pegangannya itu. Dia pun kembali menatap Gerald dengan memelas. “Saya akan membayar biaya perbaikan mobil Andaa tapi tolong ijinkan saya mencicilnya, yah ... yah. Please!” Stella memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. Gerald memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. “Jadi maumu bagaimana, Nona ...?” tanya Gerald dengan memiringkan sedikit kepalanya. Sementara Ben hanya tersenyum melihat tingkah laku Stella yang selalu melirik ke meja sepupunya itu. “Nama saya Stella. Saya akan mencicil biayanya, Tuan. Tapi saat ini saya hanya punya uang dua juta setengah. Saya akan transfer ke rekening Anda. Berapa no. rekening Anda, Tuan ...?” tanya Stella sambil mengeluarkan ponselnya. Gerald tidak menghiraukan pertanyaan Stella tapi dia memperhatikan Stella dari ujung kaki sampai ujung rambut. Merasa diperhatikan seperti itu Stella merasa canggung. “Kenapa Anda melihat saya seperti itu? Hei ... jangan punya pikiran macam-macam, yah. Saya bukan perempuan seperti yang Anda pikirkan,” bentak Stella membuat beberapa staf yang ada di sekitar tempat itu melihat mereka. “Memang apa yang sedang aku pikirkan?” tanya Gerald sambil bertolak pinggang menatap Stella tajam. “Terus kenapa Anda melihat saya seperti itu?” Stella membalas menatap tajam Gerald. “Hanya untuk memastikan saja, apakah kau bisa dipercaya atau tidak.” Stella membuka ponselnya lalu mengetik sesuatu dan langsung memperlihatkan ponsel itu ke wajah Gerald, membuat pria itu memundurkan wajahnya. “Anda Lihatkan! Saya akan mencicil sisanya. Sekarang, berikan nomer rekening Anda biar saya bisa segera mentransfer uangnya dan keluar dari tempat menyebalkan ini,” kata Stella kesal. “Tempat menyebalkan? Tidak ada yang menyuruhmu mendatangi tempat ini,” balas Gerald. “Nomernya, Tuan,” ucap Stella sekali lagi. Gerald pun menyebutkan nomer rekeningnya pada Stella dan langsung ditransfer oleh Stella. “Udah saya transfer, Tuan ...!” ucapan Stella terputus karena dia belum tahu nama pria di hadapannya itu. Tapi justru Gerald malah pergi menuju ruangannya meninggalkan Stella. “Terima kasih, Tuan Om,” teriakan Stella membuat beberapa karyawan yang mendengarnya tertawa. “Namanya Tuan Gerald Alexander,” kata Ben tersenyum lalu menyusul Tuannya. Stella pun segera meninggalkan kantor itu. *** Siang itu Stella dan Bella sahabatnya sedang asyik menikmati makanan favoritnya, Bakmi Ayam di kantin kampusnya. Kebiasaan mereka berdua sebelum pulang ke rumah harus menikmati makanan kesukaan mereka itu. Di tengah keasyikan mereka tiba-tiba seseorang menghampiri mereka. “Hai Stella, aku cari ke mana-mana eh ternyata kamu di sini,” sapa Rio. Rio Revano adalah salah seorang mahasiswa dari fakultas Teknik. “Ada apa cari-cari gue?” tanya Stella ketus. “Ada yang mau aku omongin sama kamu tapi berdua.” Rio mengambil tempat duduk di sebelah Stella. “Kalau gitu gue nyingkir dulu deh biar kalian enak ngomongnya, yah.” Bella segera berdiri dari tempat duduknya. Tapi tangannya ditarik Stella. “Elu mau ke mana? Gak apa-apa kali Bella di sini.” Stella meminta persetujuan Rio. “Udah gak apa-apa. Elu ngobrol aja dulu berdua, lagian gue juga mau ke toilet sebentar,” sahut Bella. Akhirnya Stella mengangguk dan membiarkan Bella pergi. “Ada apa?” tanyanya sinis pada Rio. “Hm ... Kenapa kamu selalu menghindar dariku, Stella?” tanya Rio. “Gak kenapa-kenapa kok. Cuma gue males aja jadi omongan fans elu.” jawab Stella sambil menyedot teh botol di depannya. “Fans aku? Bukan karena penyataanku kemarin yang buat kamu menghindar?” Rio berbalik menghadap ke arah Stella. Stella diam, dia tidak menjawab ataupun membela diri. Kejadian 3 hari yang lalu kembali diingatnya. Flashback on Tiga hari yang lalu. Stella sedang berjalan ke tempat parkiran dan tiba-tiba seseorang memanggilnya. Orang itu adalah Rio salah seorang dari sekian banyak cowok yang dikagumi para cewek di kampusnya. “Hai Stella, aku tau nama kamu dari Bella. Kebetulan Bella adalah sepupuku.” “Ooo ...,” sahut Stella singkat. “Aku Rio Revano jurusan Teknik Sipil tingkat terakhir.” Rio mengulurkan tangannya dan disambut oleh Stella. “Senang berkenalan dengan kamu,” sambut Stella. “Sebenarnya aku sudah lama memperhatikanmu cuma baru sekarang aku berani menyapamu,” ucap Rio. “Oh, kenapa tidak berani?” tanya Stella polos. “Apa Bella tidak pernah cerita padamu?” tanyanya pada Stella. Stella pun menggelengkan kepalanya. “Sebenarnya sudah lama aku menyukai kamu, Stella,” ungkap Rio dan pernyataan itu membuat Stella kaget. Stella tahu betul siapa Rio, salah seorang asisten dosen dan juga seorang yang dikagumi para mahasiswi di kampusnya. Banyak yang berharap menjadi kekasih dari seorang Rio Revano. Kalau saja bukan karena tekadnya untuk menyelesaikan kuliahnya pasti saat ini dia akan menerima Rio menjadi kekasihnya. “Apa kamu mau jadi pacarku?” tanya Rio seakan tahu apa yang ada dipikirannya. Stella kaget dan diam sesaat. “Maaf, aku gak bisa,” jawab Stella hendak menyalakan starter motornya tapi Rio menahannya. “Aah, mungkin aku terlalu cepat mengutarakan perasaanku ke kamu tapi aku benar-benar suka sama kamu, Stella.” “Terima kasih tapi aku belum mau pacaran dulu karena aku ingin fokus kuliah. Sekali lagi maaf, yah.” Stella menangkupkan kedua tangannya. “Baiklah. Mungkin kamu butuh waktu untuk lebih mengenalku. Tapi kita masih bisa berteman, ‘kan?” tanya Rio. Stella pun menganggukan kepalanya. Flashback off Sejak itu setiap melihat Rio, dia selalu menghindar. Bukan karena dia membenci Rio tapi karena dia tidak ingin mencari masalah dengan gadis-gadis di kampusnya. “Aku bukan menghindar dari kamu, kok. Aku hanya gak mau mereka salah paham,” jelas Stella sambil melirik ke meja gadis-gadis yang saat itu sedang memperhatikan mereka berdua. Mungkin tidak masuk akal tapi apa mau dibuat cuma itu satu-satunya alasan yang ada dibenaknya saat itu. “Aku hanya ingin kita bisa dekat, Stella. Mungkin sebagai teman dulu,” usul Rio. “Oke. Tapi aku tidak bisa janji lebih untuk ke depannya.” “Oke.” Rio menyetujui apa yang Stella katakan. “Aku harus pulang. Tolong kasih tahu Bella kalau aku pulang duluan, yah!” Stella pun hendak beranjak dari kursinya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. “Iya Ma.” Stella mengangkat handphone. “.........” “Iya. Stey akan pulang sekarang. Dah ....” Stella memasukkan ponsel ke dalam tasnya. “Sorry, aku harus pulang.” Stella segera beranjak dari kursinya meninggalkan Rio di sana. *** Pagi ini Gerald sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Setelah selesai sarapan dia langsung menuju garasi di mana Ben sudah menunggunya. “Ben, kita pakai yang itu karena aku harus langsung ke proyek.” Gerald menunjuk sebuah mobil land rover berwarna hitam. Mereka pun segera berangkat menuju proyek. Dret ... dret ... dret Gerald mengambil ponselnya dari saku jasnya. “Ada apa, Jo?” “Aku sudah menemukan seorang wanita yang akan menjadi kekasihmu.” “Oya, di mana kau menemukannya?” “Kau kenal gadis ini. Aku sudah mengajaknya bicara dan dia bersedia menolongmu.” “Siapa, Jo?” tanya Gerald penasaran. “Pamela. Dia bersedia untuk berpura-pura menjadi kekasihmu.” “What? Are you crazy, Jo?” Gerald kaget mendengar perkataan sahabatnya itu. “Aku sudah berusaha mencari yang cocok untukmu, Ger. Dan menurutku Pamela yang cocok memerankan sandiwara ini.” “Tapi dia karyawanku, Jo. Dia asistenku sekarang.” “Ger, batas waktumu cuma sampai hari ini. Kau mau cari di mana lagi? Ayolah Ger, cuma untuk 1 hari saja, ‘kan.” Gerald memejamkan matanya sebentar. “Oke. Aku akan bicara langsung padanya di kantor. Thanks Jo.” Gerald menyudahi percakapannya dengan Jonathan. Ciiiit ... tiba-tiba Ben menginjak rem mendadak membuat tubuh Gerald terdorong ke depan. “Ada apa, Ben?” tanya Gerald kaget. “Motor itu tiba-tiba berhenti mendadak, Tuan,” jawab Ben bermaksud ingin keluar dari mobil tapi Gerald mencegahnya. “Biar aku saja yang turun, kau bawa mobil ini ke pinggir.” Gerald pun keluar dari mobil dan menghampiri motor yang berhenti mendadak itu. “Apa motor Anda dalam masalah?” tanya Gerald pada pemilik motor itu. “Iya. Tiba-tiba motor saya berhenti mendadak dan gak bisa berbelok,” jawab pemilik motor itu. Gerald pun segera membawa motor itu ke pinggir dan sesampainya di pinggir dia pun mencoba menstarter motor itu tapi tidak menyala. Dia pun mencoba menghidupkannya dengan starter manual tapi tetap tidak menyala. “Tuan, ada apa?” tiba-tiba Ben sudah di depannya. “Motornya tidak bisa menyala dan stangnya pun tidak bisa berbelok,” jawab Gerald tetap berusaha menyalakan motor secara manual. “Nona Stella?” Ben bertanya pada pemilik motor itu. Sang pemilik pun kaget mendengar namanya dipanggil karena sejak tadi dia hanya fokus pada motornya itu. Sementara itu Gerald pun langsung melihat ke pemilik motor itu. Stella pun melihat ke arah Gerald sambil memutar-mutar kedua ibu jarinya. “Apa kau selalu ceroboh seperti ini?” tanya Gerald dengan wajah dinginnya. “Hah! Maksud Anda apa, Tuan?” tanya Stella dengan nada tinggi. “Kenapa motor sudah rusak dipakai ke jalan. Kau tahu, itu bisa membahayakan pengguna jalan lainnya,” jelas Gerald pada Stella. “Mana aku tahu kalau motor ini akan rusak. Kalau aku tahu juga, gak akan aku bawa ke jalan,” ketus Stella. “Kalau begitu, bawalah motormu ke bengkel!” Gerald meninggalkan Stella, dia berjalan menuju mobilnya. “Bagaimana caranya aku membawa motor ini ke bengkel,” teriak Stella. Karena setahunya di daerah ini tidak ada bengkel kalau pun ada jaraknya cukup jauh dari tempatnya saat ini. “Itu urusanmu bukan urusanku,” balas Gerald ketus. “Tapi memang tidak ada bengkel di sekitar sini, Tuan.” Ben memberitahu Gerald yang sedang membuka pintu mobilnya. Gerald menatap Ben, setelah diam sejenak diapun berkata pada Ben. “Derek motornya.” Gerald memberi instruksi pada Ben. Ben pun segera ke belakang mobil menarik alat derek untuk diikatkan pada stang motor Stella. “Nona, apakah Anda bisa mengendarai motor ini?” tanya Ben pada Stella. Stella menganggukan kepalanya. Ben pun segera kembali ke mobil dan langsung menuju bengkel terdekat. Sesampainya di bengkel terdekat Ben pun membantu Stella membawa motor itu ke bengkel. Motor itu langsung diperiksa montir. “Kerusakannya lumayan, Tuan. Perbaikannya butuh waktu sekitar 2 harian. Tapi kalau besok selesai, saya hubungi,” kata montir tersebut. “Hmm, kira-kira berapa biayanya?” Stella bertanya pada montir itu. “Kurang lebih sekitar 1 jutaan. Anda bisa membayar uang mukanya dulu di sana.” Montir itu menunjuk pada meja kasir. Stella menuju meja kasir dan menanyakan uang muka yang harus dia bayar. Dibukanya dompet yang dia bawa untuk melihat berapa uang yang ada di dalam dompetnya. Cuma segini, gumamnya. “Apa boleh jika saya membayar semuanya besok? Soalnya saya cuma bawa uang sedikit,” kata Stella pada kasir itu. “Maaf Nona tapi itu sudah jadi peraturan di sini,” kata kasir itu. Stella menghampiri Ben yang sedang berdiri memperhatikan motornya yang sedang diperbaiki. “Tuan, apa boleh saya meminjam uang tiga ratus ribu? Besok saya akan menggantinya. Uang di dompet saya tidak cukup untuk membayar uang mukanya,” kata Stella meminta bantuan pada Ben. “Kenapa lama sekali, Ben?” Ketika Ben hendak mengambil dompetnya di saku celananya tiba-tiba Gerald menghampiri mereka. “Begini, Tuan. Nona Stella harus membayar DP untuk perbaikan motornya. Tapi ....” Belum selesai Ben menjelaskan, Gerald memotong ucapannya. “Dia tidak membawa uang, benar, ‘kan?” Pertanyaan Gerald memancing emosi Stella saat itu. “Saya bukannya gak membawa uang cuma memang uang jajanku gak banyak,” jawabnya polos sambil menatap Gerald tajam. Tanpa basa basi Gerald pun melangkah menuju meja kasir, setelah membayar biaya perbaikan tersebut dia pun berbalik menghampiri Stella. “Aku sudah membayar lunas biaya perbaikan motormu. Aku akan menambahkannya ke utangmu,” kata Gerald sambil menyerahkan bukti pembayarannya, dia pun berjalan menuju mobilnya. Stella membuntutinya begitu juga dengan Ben. “Kalau begitu tolong aku sekali lagi, yah,” pinta Stella mensejajarkan langkahnya dengan Gerald. Gerald menghentikan langkahnya. “Apalagi? Kau sudah membuang waktuku selama 1½ jam,” ujar Gerald dengan emosi. “Saya tahu. Saya cuma ingin menumpang mobil Anda sampai ke jalan yang ada angkutan umumnya aja, kok.” Stella memohon. “Kau tahu, kau terlalu menyusahkan,” ucap Gerald sambil membuka pintu mobil. “Lagian kalau menolong tuh jangan setengah-setengah,” gerutu Stella pelan. “Aku mendengarnya. Sudah menyusahkankan ternyata kau juga banyak bicara.” Gerald menghembuskan napas kesal. “Naiklah!” Gerald memiringkan kepalanya. “Benarkah? Anda benar-benar mengijinkan saya menumpang mobil Anda?” Stella menguncang-guncang tangan Gerald. Gerald mengeryitkan alisnya melihat tingkah laku gadis itu. “Iya, naiklah dan lepaskan tanganmu!” ucap Gerald sambil melirik ke tangannya. Stella pun melepaskan pegangannya dan masuk ke dalam mobil itu. Ben pun segera mengendarai mobil itu mengantar Stella ke tempat tujuannya. “Terima kasih, Tuan G dan Tuan B. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian,” ucap Stella. “Tuan G dan Tuan B. Siapa maksudmu?” Gerald menahan tangan Stella yang hendak turun dari mobil. “Tentu saja Anda, Tuan G. Dan Anda Tuan B.” Stella pun menarik tangannya segera turun dari mobil dan berlari menaiki mobil umum yang ada di depan mobil Gerald. “Gadis kecil itu seenaknya memanggil kita, Ben.” Gerald menggeleng-gelengkan kepalanya sedangkan Ben hanya tersenyum melihat tingkah Stella. Ben pun kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi proyek yang akan dikunjungi oleh bosnya itu. *** Stella tiba di rumah dengan ojek online. Dia menghampiri kedua orangtuanya yang saat itu sedang sibuk melayani para pengunjung yang datang untuk makan siang, diapun segera membantu mengantarkan makanan ke meja-meja pengunjung itu. Setelah selesai, Stella langsung masuk ke ruangan dalam untuk mengambil air minum. Diambilnya botol air minum miliknya dan meneguk isinya sampai habis. Gimana cara ngomong ke papa, yah? Dia tidak tega meminta uang kepada papanya tapi jika dia tidak meminta uang pada papanya lalu dari mana dia mendapatkannya untuk mengembalikan uang pada pria menyebalkan itu. Stella membalikkan badannya hendak ke kamar. “Motormu ke mana, Nak?” Tiba-tiba papanya sudah berdiri di depannya. “Oh itu, Pa. Uhm ... Tadi di jalan tiba-tiba aja motornya mogok, Pa. Udah gitu stangnya ga bisa berbelok,” jawab Stella sambil mengeskpresikan stang motor miliknya. “Lalu bagaimana? Udah kamu bawa ke bengkel, Nak?” tanya papanya sambil menarik kursi untuk duduk. “Udah, tapi biaya perbaikannya mahal.” Stella mengerucutkan mulutnya. “Berapa biayanya?” tanya papanya. “Sekitar 1 juta, Pa. Aku terpaksa meminjam pada orang yang menolongku tadi, Pa.” Benard kaget mendengar besarnya biaya perbaikan motor itu dan Stella pun memperlihatkan bon perbaikan motornya. “Kalau begitu, segera kamu kembalikan uang pada orang yang sudah menolongmu itu. Papa tak ingin kita mempunyai utang pada siapapun. Sebentar, papa ambil dulu uangnya.” Bernard memasuki kamarnya dan tak lama kemudian dia keluar dengan membawa uang yang diperlukan Stella. “Ini uangnya, Sayang. Segera kembalikan uang itu!” perintahnya. Stella menganggukkan kepalanya. “Aku pergi sekarang yah, Pa. Thank you papa,” ucapnya dan mencium pipi papanya. “Begitu selesai langsung pulang yah, Nak!” ujar papanya. “Siap Bos.” Stella mengacungkan ibu jarinya. Dia mengambil ponselnya untuk memesan ojek online. Dengan sedikit berlari kecil dia keluar menunggu ojek online datang dan tak berselang lama ojek itupun datang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD