Bab 1. Dipaksa Menikah

3532 Words
Bab 1. Dipaksa Menikah "Married? Oh come on, Mom. Aku belum siap menikah. Kita bicarakan lagi nanti. Oke, Mom," ucap Gerald Alexander (33thn) seorang CEO dari Xander Grup. “Pokoknya besok kamu harus datang ke rumah. Mom dan Dad menunggumu!” “Baiklah. Aku usahakan. Bye Mom.” Gerald menutup pembicaraan dengan mommynya. Kepalanya sudah cukup penuh dengan urusan kantor yang begitu padatnya. Menjadi seorang CEO sebuah perusahaan besar yang memiliki beberapa anak perusahaan sudah memakan waktunya. Sekarang ditambah lagi dengan keinginan orangtuanya itu. Kalau saja 3 tahun yang lalu pernikahannya terlaksana pasti saat ini dia sudah memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia dan tidak akan orangtuanya rewel seperti saat ini. Dikenakannya jas yang disampirkan di kursinya lalu pergi meninggalkan kantornya. Gerald tiba di salah satu club terbesar di kota ini, seperti biasa di sana sudah menunggu dua sahabatnya. Jonathan Warner pemilik JW Club tempat di mana Gerald sekarang berada dan Dave Elias pemilik sebuah rumah sakit besar yang juga seorang dokter spesialis jantung. "Kau keliatan kusut, Bro," seru Jonathan sambil menuangkan minuman ke gelas Gerald. "Ada apa, Ger?" tanya Dave. "Orangtuaku memaksaku untuk menikah," jawab Gerald sambil meneguk minumannya. "Kenapa kau tidak mencobanya?" tanya Dave. "What?" "Kau masih menunggu wanita itu?" tanya Jonathan. “Namanya Mercy, Jo,” ralat Gerald. "Ger, menurutku cobalah untuk membuka hatimu kembali. Lupakan Mercy! Jika dia mencintaimu, mungkin saat ini kau sudah bahagia." Dave memberi saran. "Aku tidak bisa. Aku sangat mencintainya, kalian tahu itu." Tahun pertama ditinggal oleh Mercy, dia begitu terpuruk. Dua sahabatnya yang selalu menghiburnya dan membuatnya bangkit kembali menjalani hidupnya. Walaupun sekarang dia bisa menjalani hari-harinya dengan baik tapi perjalanan cinta mereka yang berjalan 3 tahun membuatnya sukar melupakan wanita itu. Hanya dengan bekerja tidak kenal waktu yang membuatnya sedikit dapat melupakannya. *** Sore hari, Gerald sedang dalam perjalanan ke rumah orangtuanya ditemani asistennya Ben. Perasaan enggan untuk pergi dia rasakan saat ini karena biasanya hari minggu dia habisnya seharian di rumah. BRAK ... CRAANG ... Tiba-tiba sesuatu menabrak bagian belakang mobil yang sedang mereka kendarai. Ben segera meminggirkan mobil itu dan turun untuk melihat apa yang terjadi. "Maaf, saya gak sengaja. Saya akan ganti perbaikannya!" seru seorang gadis yang menabrak mobil itu. "Baiklah, mari kita ke bengkel!" Ben bermaksud kembali ke mobil. "Tapi saya lagi terburu-buru mengantar pesanan. Bagaimana jika saya berikan nomer ponsel saya? Nanti Tuan bisa menelponku untuk biaya perbaikannya." "Baiklah, berikan nomer ponselmu!" Ben mengeluarkan ponselnya untuk mencatat nomer ponsel gadis itu. Stella menyebutkan nomer ponselnya. Setelah menyimpan nomer gadis itu, Ben segera mencoba menelepon gadis itu. Terdengar sebuah lagu yang berasal dari ponsel gadis itu. "Baiklah, nanti saya akan menghubungi Anda, Nona Stella," kata Ben lalu kembali masuk ke mobil. "Ada apa, Ben?" tanya Gerald. "Gadis itu menabrak kaca mobil, Tuan. Tapi dia bersedia mengganti biaya perbaikannya," jawab Ben sambil melanjutkan perjalanan. "Heum ....” Gerald tersenyum tipis. “Apa kerusakannya parah, Ben?” tanyanya masih tersenyum. "Benturannya cukup keras, Tuan. Bumpernya rinsek sedikit dan kaca pecah, sepertinya harus diganti." "Bagaimana penabraknya?" "Gadis itu baik-baik saja cuma spakbot depan patah." "Kalau begitu segera antar aku, setelah itu kau bawa mobil ini ke bengkel!" "Baik Tuan," jawab Ben. Gerald sampai di rumah orangtuanya menjelang malam, dia disambut hangat oleh para pelayan rumahnya. "Tuan muda, Anda sudah sampai. Silakan, tuan dan nyonya sudah menunggu Anda di ruang makan!” sambut Bi Ina seorang wanita parobaya yang menjaganya waktu dia masih kecil. "Terima kasih, Bi Ina," jawabnya. Di ruang makan, orangtuanya sudah menunggu bersama seorang gadis yang dia kenal dengan baik. Dia menarik kursi sambil duduk di samping mommynya. "Malam Dad, Mom. Fanny, kau di sini?”tanyanya pada gadis tersebut. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum. "Mommy yang mengundang Fanny untuk makan malam," kata Lisa sambil mengambilkan nasi untuk suaminya. "Kita makan dulu, setelah itu nanti kita bicara lagi," kata Thomas. Merekapun menikmati makanan yang sudah disediakan di atas meja. Selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati buah-buahan yang sudah tersedia di atas meja. "Apa yang mau dibicarakan, Dad?" tanya Gerald. "Daddy ingin kau segera menikah. Daddy dan Mommy sudah punya calon untukmu!" "Tapi Dad, aku belum siap untuk menikah." "Sampai kapan kau akan siap? Ingat, usiamu saat ini sudah 33 tahun! Apa kau masih menunggu wanita itu? Jangan gila, Gery. Daddy ingin kau segera melupakan wanita itu," ucap Thomas agak marah. "Sayang, Mommy membawa Fanny ke sini karena Mommy tahu kalian sudah kenal dari kecil. Oleh karena itu menikahlah dengan Fanny," pinta mommynya. "Aku minta waktu, aku akan pikirkan lagi usulan Mommy dan Daddy." “Gery, apakah aku tidak pantas untuk menjadi istrimu?” tanya Stefanny yang sejak tadi diam. “Bukan begitu, Fan. Tapi ... aku belum siap untuk menikah saat ini,” jawab Gerald, dia berusaha untuk memberi pengertian pada sahabat masa kecilnya itu. "Baik, Daddy beri waktu 1 bulan untuk membawa calon istrimu pada kami. Jika dalam waktu 1 bulan kamu tidak bisa membawanya maka kau harus menikahi Fanny, bagaimana?" tanya Thomas. "Baiklah, aku harus pulang sekarang karena besok ada rapat di kantor. Aku pinjam mobil Dad karena mobilku di bawa ke bengkel oleh Ben. Bye Dad, Mom. Bye Fan." Gerald segera pergi setelah memberi kecupan pada mommynya. *** Stella Caroline seorang mahasiswi yang saat ini sedang sibuk menyelesaikan skripsinya. Dia duduk dengan tangan menopang dagunya, merenungkan kejadian yang kemarin sore dialaminya. "Woi! Bengong aja loe!” kaget Bela sahabatnya yang selalu setia menemaninya ke mana-mana. "Iih, ngagetin aja loe ah." Stella memukul punggung Bela. "Lagian masih pagi gini malah sibuk ngelamun," kata Bela sambil duduk di sebelah Stella. "Gue lagi apes, tahu gak!" ujar Stella sambil menyeruput minumannya. "Apes kenapa, Stey?" tanya Bella serius. "Kemarin sore waktu gue nganter pesanan, gue nabrak mobil orang Bel." "Tapi loe baik-baik, ’kan?" tanya Bella sambil membolak-balikan tubuh Stella. "Iih nih orang, gue serius tahu. Masalahnya yang gue tabrak mobil mahal, Bel. Bisa habis gue dimarahin mama gue," kata Stella sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya. "Mobil apa yang loe tabrak?" tanya Bella antusias. "Rolls royce," jawab Stella sambil melihat temannya itu. Stella menceritakan semua kejadian yang dia alami termasuk janjinya untuk mengganti kerusakan pada mobil itu. "Gila loe yah, Stey. Bemper mobil itu kalau ke gores aja harus mengeluarkan kocek jutaan ditambah lampu kaca pecah. Aduh!" Bella menepuk dahinya. "Iya, gue juga tau, Bel. Masalahnya kalau papa gue sampai tahu bisa-bisa jantungnya kumat. Gue mesti gimana, dong? Tabungan gue aja gak sampe tiga juta, Bel," ucap Stella panik. Mereka sama-sama bingung memikirkan cara membayar perbaikan mobil itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, di layar tertulis pemilik mobil. "Halo!" sapa Stella. "Halo! Dengan Nona Stella Caroline?" "Yah, ini saya Stella. Dengan siapa saya bicara?" "Saya Ben, saya ingin memberitahu perihal biaya perbaikan mobil yang kemarin nona tabrak." "Iya, berapa bi–biayanya, Tuan?" tanya Stella gugup membayangkan rentetan nol yang begitu banyak. Ben memberitahu total biaya perbaikan mobil tersebut dan itu membuat Stella kaget karena ternyata besar biayanya itu setara dua kali biaya kuliahnya. Stella memegang dadanya, dia tidak bisa berkata apa-apa. Sementara Bella mengguncang-guncangkan bahu Stella. "Nona, Anda masih di sana?" "I–iya, saya masih di sini, Tuan. Apakah boleh jika saya mencicil biaya itu? Saya punya simpanan uang sebesar dua setengah juta. Saya janji akan mencicil sisanya, bagaimana?” Stella memohon kepada Ben. "Maaf Nona, saya tidak bisa memutuskannya. Masalahnya ini bukan mobil saya tapi mobil bos saya." "Kalau begitu biar saya bicara dengan bos Anda." Stella memohon pada Ben. "Saya akan bicarakan dulu dengan bos saya, nanti saya akan menghubungi Anda kembali." Ben memutuskan pembicaraan. Airmata keluar dari pelupuk matanya karena dia bingung harus bagaimana mendapatkan uang dalam jumlah banyak untuk membayar biaya perbaikan mobil tersebut. *** Perkataan orangtuanya semalam membuat Gerald pusing. Bahkan tadi pagi pada saat rapat pun dia tidak bisa fokus memimpin rapat itu. Bagaimana dia bisa membawa calon istrinya sementara dia sendiri sampai sekarang tidak tahu di mana kekasihnya Mercy berada. Wanita yang sangat dia cintai meninggalkannya pada saat pertunangan mereka tinggal 1 minggu lagi. Tapi hatinya tidak bisa membenci wanita itu. Ahhh, Gerald memukul setir mobil yang sedang dia kemudikan. Tak lama, Gerald memasuki halaman sebuah club, mungkin suara bising club dapat menghilangkan rasa kesalnya saat ini. Setelah memarkirkan mobilnya, dia pun langsung menuju ruangan sahabatnya. "Kau ada masalah, Ger?” tanya Dave begitu Gerald duduk di depannya. "Mereka memintaku menikahi Stefanny." Gerald menceritakan semua pembicaraan dengan orangtuanya pada kedua sahabatnya. "Maksudmu gadis yang memang menyukaimu sejak dulu itu?" tanya Jonathan. Gerald mengangguk sambil meneguk minumannya. "Mereka memberiku waktu 1 bulan untuk membawa calon istri. Jika dalam 1 bulan aku tidak bisa membawanya maka aku harus menikah dengan Stefanny," jelas Gerald sambil kembali meneguk minumannya. "Apakah kau sudah menemukan keberadaan Mercy?" tanya Jonathan. “Orang suruhanku memberitahuku kalau Mercy di Canada. Dia sudah mencoba mendatangi apartemen Mercy tapi ternyata dia sudah pindah." Gerald terlihat putus asa. "Bagaimana jika kau tidak bisa menemukannya dalam 1 bulan? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dave. Gerald hanya bisa mengangkat kedua bahunya. "Ada satu cara yang dapat kaulakukan jika kau tidak menemukan kekasihmu itu, Ger," usul Jonathan. "Apa itu?" tanya Gerald begitu antusiasnya. "Kau dapat mempekerjakan seorang wanita untuk berpura-pura menjadi calon istrimu," usul Jonathan. "Jangan gila, Jo. Bagaimana mungkin kau bisa mengusulkan cara seperti itu padanya?" Dave memukul punggung Jonathan, dia tidak menyetujui usulan sahabatnya itu. Sementara Gerald hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan usulan Jonathan. Sepertinya itu ide yang lumayan bagus, pikirnya. "Masalahnya siapa wanita yang bersedia berpura-pura menjadi calon istriku?" tanya Gerald pada Jonathan. "Aku akan membantumu mencarikan wanita itu," jawab Jonathan. Sementara itu Dave seperti tidak setuju dengan usulan Jonathan, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak wanita penghibur, Jo," seru Gerald. Jonathan tersenyum sambil mengacungkan jempolnya pada Gerald. *** "Stey, bangun! bukannya kamu ada kuliah?" seru mamanya. "Iya ma, sebentar lagi,” jawab Stella sambil mengeliat. Dia masih mengantuk karena dia tidur sudah menjelang pagi. Begitu banyak pikiran yang membuatnya susah untuk tidur. Belum lagi skripsinya yang harus dia revisi kembali dan ditambah lagi hutangnya kepada pemilik mobil yang dia tabrak. Ah, jika sampai papanya tau dia punya utang yang begitu banyak pasti jantung papanya akan kumat. Stella menatap langit-langit kamarnya. "Aku harus semangat," teriaknya sambil melompat dari tempat tidurnya dan mengambil pakaiannya lalu keluar kamar menuju kamar mandi. Selesai mandi, Stella memolesi wajahnya dengan moisturizer lalu bibirnya diberi lipgloss sesuai warna bibirnya dan diambilnya tas yang ada di meja rias. "Sarapanmu sudah mama siapkan, mama harus keluar membantu papa," kata mamanya sambil berlalu keluar. Stella mengangguk dan memakan sarapannya. Dia merasa kasian pada mama dan papanya yang setiap hari harus buka kedai makan untuk melayani para pelanggan yang datang untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Kedai makan itu buka dari pukul 8 pagi dan tutup pukul 8 malam. Kadang selesai kuliah dia harus cepat-cepat pulang untuk membantu orangtuanya melayani mereka yang makan, kadang juga dia harus mengantar pesanan ke pelanggannya. "Aku pergi dulu yah, Ma, Pa," pamit Stella sambil mencium pipi mama dan papanya. "Sepeda motormu ke mana, Nak?" tanya sang papa. "Ooh, aku titip di rumah Bella, Pa," jawab Stella. Sebenarnya dia tidak tega berbohong pada papanya karena hari ini seharusnya dia tidak ada kuliah tapi justru ingin mengambil motornya di bengkel tapi dia takut jantung papanya kambuh kalau mendengar apa yang menyebabkan motornya masuk bengkel. Stella segera keluar begitu ojek online pesanannya datang. *** Gerald berjalan melewati pintu masuk perusahaannya. Beberapa pasang mata para karyawan wanita memandang ke arahnya. Kebiasaan memasukkan salah satu tangannya ke saku celana membuat Gerald terlihat begitu gagah dengan bentuk tubuh proposional dan tinggi badan yang sesuai membuat dirinya menjadi pusat perhatian para kaum hawa. Gerald menuju lift khusus yang diperuntukkan untuknya dan para relasi bisnisnya. "Tuan, saya sudah menghubungi gadis yang menabrak mobil Anda tapi dia ingin berbicara langsung dengan Anda," kata Ben. "Apa harus aku juga yang menangani masalah ini, Ben?" tanya Gerald sambil berlalu dari lift menuju ruangannya. "Dia ingin mencicil biaya perbaikan mobil Anda, Tuan," jawab Ben. Gerald membuka jasnya dan menyampirkannya di kursi kemudian dia menduduki kursi itu. "Kau tau kebiasaan orang untuk lari dari tanggung jawab? Yah, dengan alasan seperti itu," kata Gerald sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya. “Lalu, apa yang harus saya lakukan, Tuan? "Kau boleh keluar. Jangan lupa kirimkan nomer gadis itu!” perintah Gerald. “Baik, Tuan. Saya permisi.” Ben meninggalkan ruangan itu setelah Gerald menganggukkan kepalanya. "Santy, kamu sudah siapkan keperluan rapat untuk siang ini?" tanya Gerald lewat line telepon. "Sudah siap semua, Tuan," jawab sekretarisnya itu. "Ok, terima kasih." Gerald segera membuka komputernya untuk memeriksa semua bahan-bahan rapat yang semalam disusunnya. Tiba-tiba dia teringat permintaannya pada Ben untuk mengirim nomer gadis itu padanya, dicarinya ponsel di saku jasnya. Ah, pasti di mobil, gumamnya dalam hati. Gerald segera keluar dari ruangannya untuk mengambil ponsel yang tertinggal di mobil. *** "Mama, aku pulang. Aku mau makan!" seru Stella sambil memeluk mamanya dari belakang. "Anak ini bukannya cuci tangan dan cuci muka dulu eh malah minta makan. Cepat masuk, cuci tangan lalu cuci muka baru makan!" Mery memukul b****g anak gadisnya yang masih kekanak-kanakan itu. Stella masuk ke dalam sambil mengerucutkan bibirnya. Selesai makan dia langsung keluar untuk membantu orangtuanya melayani tamu yang datang untuk makan siang. Dia membawa nampan berisi makanan dan minuman ke para tamunya itu. "Sayang, tolong antar pesanan itu ke kantor Shanty. Alamatnya sudah papa tulis di box itu," perintah Bernard kepada putri semata wayangnya. “Siap Bos,” ucap Stella mengangkat sebelah tangannya ke dahi. Dia pun membawa paper bag berisi makanan itu ke motornya. Hanya dalam waktu dua puluh menit akhirnya Stella sampai di parkiran sebuah gedung bertingkat. Satu ... dua ... tiga ... duabelas, dia menghitung pelan sambil menghembuskan napasnya. Segera dia berjalan menuju pintu perusahaan dan langsung menuju meja resepsionis. "Permisi Kak, saya mau mengantar pesanan atas nama ibu Shanty Santosa," kata Stella pada resepsionis itu. "Sebentar saya hubungi Ibu Shanty dulu, yah," kata resepsionis itu. Sesaat kemudian resepsionis itu mempersilahkan Stella ke lantai sepuluh. Stella melihat pintu lift yang terbuka dengan dua orang di dalamnya. Segera dia berlari menuju lift itu. "Tunggu ... tunggu! Saya ikut naik," teriak Stella kepada kedua orang itu. Salah seorang dari pria itu menekan tombol untuk membuka pintu lift yang hampir tertutup. "Nona tunggu! Jangan naik lift itu!" seru salah seorang resepsionis yang mengejar Stella. Tapi Stella sudah terlanjur memasuki lift tersebut dan resepsionis itu berhenti tepat di depan pintu lift dengan wajah pucat pasi. Pria yang menekan tombol lift itu mengibaskan telapak tangannya menyuruh resepsionis itu pergi. Stella tersenyum sambil menganggukan kepala kepada dua pria itu. Salah satu dari pria itu tersenyum padanya. "Terima kasih sudah menunggu saya," ucapnya kepada pria yang sempat menekan tombol lift. Pria itu hanya menatapnya sekilas tanpa membalas ucapannya bahkan tersenyum pun tidak. Huh, emang enak dicuekin, keluhnya dalam hati. Pintu lift terbuka tepat di lantai sepuluh, Stella segera keluar mencari ruangan sepupunya setelah bertanya pada salah satu staf yang ada di sana, dia pun menuju ruangan sepupunya itu. BRAK ... Stella memukul meja sepupunya itu, membuat Shanty tersentak kaget dan hampir saja kursi yang didudukinya terjerembab ke belakang. "Kamu tuh kalau gak ngagetin orang, gak enak kali, yah!” rajuk Shanty. Stella tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya melihat ekspresi sepupunya itu. "Nih, pesananmu!" ucap Stella sambil memberikan 2 paper bag berisi makanan. "Uangnya nanti aku transfer yah," kata Shanty. "Oke. Kamu kira tadi bosmu, yah?" tanya Stella masih sedikit tertawa mengingat ekspresi Shanty tadi. "Tidak. Bosku orang baik dan gak pernah marah," jawab Shanty dengan raut kesal. "Apa dia ganteng? Perfeksionis? atau seperti ini?” Stella bertanya sambil mengekspresikan dirinya seperti seseorang dengan tubuh yang gendut dan membuat Shanty tertawa, tiba-tiba Shanty terdiam begitu melihat seseorang berdiri di belakang sepupunya itu. Melihat wajah Shanty yang tiba -tiba berubah, Stella perlahan memutar tubuhnya dan terperajat melihat pria yang dia temui di lift tadi. Pria itu berdiri tegak tepat di depannya dengan bertolak pinggang. Stella pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Siapa kau?" tanya Gerald pada Stella dengan tatapan tajam. "Saya Stella, saya ke sini untuk mengantar pesanan makanan," jawab Stella malu karena aksinya dipergoki oleh pria itu. "Kalau sudah selesai, silahkan pergi! Jangan membuat lelucon di kantor ini!" kata Gerald sambil berlalu dari hadapan Stella, masuk ke ruangannya. "Huh, galak banget sih. Siapa dia, Shan?" tanya Stella. "Dia pemilik perusahaan ini. Bosku yang seperti ..." jawab Shanty sambil meniru gerakan Stella tadi. "Hah! Iih, kenapa kamu gak bilang dari tadi sih!” Stella mukul bahu Shanty. “Salah sendiri. Makanya lain kali hati-hati kalau bertamu ke tempat orang,” kata Shanty. “Jahat! Yah udah, aku pulang. Bye ....” Stella segera keluar dari ruangan sepupunya itu. Dia masuk ke dalam lift yang tadi dia naiki. Sesampainya di bawah salah seorang resepsionis menegornya. "Nona, tadi Anda salah naik lift. Lift yang Anda naiki itu khusus untuk pemilik perusahaan dan relasinya." "Maaf Kak, saya tadi terburu-buru. Tapi bosnya tadi gak marah kok malah dia yang menahan pintu lift itu," kata Stella. “Iya tapi nanti pasti saya yang akan ditegur, Nona.” “Maaf yah, Kak,” ucap Stella. "Tapi lain kali kamu naik lift yang di sebelah sana, yah." Resepsionis itu menunjuk lift yang ada di pojok sebelah kanan dari meja resepsionis. Stella hanya menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti. "Baiklah. Saya permisi." Stella berlalu dari tempat itu. "Nona, tunggu sebentar!" tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah belakangnya. Stella menoleh ke belakang mencari orang yang memanggilnya. "Anda Nona Stella Caroline, benar?" tanya orang itu. "Iya benar. Kau ...." Stella mengeryitkan alisnya berusaha untuk mengingat pria di depannya itu. Pria itu tersenyum melihat kebingungan Stella. "Saya Ben. Kita pernah bertemu sebelumnya. Nona ingat mobil yang nona tabrak beberapa hari yang lalu?" tanya Ben sambil mengulurkan tangannya dan disambut Stella. "Iya, saya ingat. Pantesan tadi saya merasa seperti pernah melihat Anda tapi lupa di mana.” "Saya asisten Tuan Gerald pemilik mobil yang anda tabrak, Nona," kata Ben. “Jadi pria yang bersama Anda di lift tadi adalah bos Anda?” tanya Stella dan Ben mengangguk. "Oooh. Kalau begitu kamu sudah memberitahu bosmu soal saya ingin mencicil biaya kerusakan mobilnya?" "Sudah, tapi sepertinya bos saya menolak keinginan Anda." "Dasar orang gak punya hati!” guram Stella. “Tolong sampaikan pada bos Anda, Tuan. Saya punya niat baik untuk mengganti kerugian tapi kalau harus melunasinya terus terang saya tidak punya uang sebanyak itu," jelas Stella pada Ben. "Biarkan saya bertemu bos Anda," ucap Stella kembali memohon pada Ben. "Baik, nanti saya akan memberitahu bos saya." "Terima kasih, kalau begitu saya permisi." Stella meninggalkan tempat itu. *** Di waktu yang sama, seorang gadis menghampiri meja resepsionis. Dengan wajahnya yang cantik, tinggi semampai dan lekuk tubuh yang bisa membuat pria mudah jatuh cinta padanya. "Maaf, saya Pamela. Bisakah saya bertemu dengan Tuan Gerald Alexander?" tanyanya pada resepsionis itu. "Apakah Anda sudah buat janji?" tanya resepsionis itu. "Saya diminta untuk bertemu dengan Tuan Gerald oleh Tuan Jonathan. Jadi tolong katakan saja saya utusan Tuan Jonathan." Resepsionis itupun menhubungi sekretaris Gerald. Setelah itu dia pun mengantar gadis itu ke lift khusus karyawan. "Silakan Anda ke lantai sepuluh nanti temui Nona Shanty." "Terima kasih." Gadis itu menganggukkan kepalanya. Sesampainya di lantai sepuluh gadis itu mencari ruangan sekretaris lalu menghampiri seorang gadis yang duduk di meja tersebut. “Selamat Siang. Saya Pamela, utusan Tuan Jonathan.” Dia mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. “Siang. Saya Shanty, sekretaris Tuan Gerald. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Shanty menyambut uluran tangan Pamela. “Saya diminta oleh Tuan Jonathan untuk menemui Tuan Gerald.” Pamela mengutarakan maksudnya. “Sebentar yah, saya hubungi Tuan Gerald dulu, beliau sedang di ruang rapat saat ini. Silakan Anda duduk dulu!” Shanty mempersilahkan Pamela duduk dan diapun menekan line telepon ke ruang rapat. Setelah berbicara dengan bosnya, Shanty pun mempersilahkan Pamela menunggu di ruang tunggu. Selang 30 menit kemudian Gerald datang dan langsung mempersilahkan Pamela masuk ke ruangannya. Pamela pun mengikutinya dari belakang. Gerald mempersilahkan Pamela duduk, dia membuka jasnya dan menyampirkan di kursinya. Ditatapnya Pamela dengan seksama tanpa mengatakan sesuatu, sementara itu Pamela merasa salah tingkah dengan tatapan Gerald. Diapun membuka pembicaraan untuk mengatasi rasa risihnya. “Saya Pamela Anderson, saya diperintahkan oleh Kak Jonathan untuk menemui Anda, Tuan Gerald,” jelas Pamela. Gerald terus menatapnya, membuat dia menundukkan kepalanya. Tidak berapa lama ponsel Gerald bergetar, diapun mengangkatnya. “Siapa dia, Jo?” Gerald bangkit dari kursinya dan menuju jendela. “Oh, Pamela sudah di sana rupanya. Dia sedang membutuhkan pekerjaan, Ger. Tolong terima dia untuk menjadi salah satu stafmu.” “Apa hubungannya denganmu?” Gerald balik bertanya. “Aku akan menjelaskannya padamu ketika kau ke club nanti.” Gerald menutup pembicaraan itu dan kembali duduk di kursinya. “Kau membawa cv mu?” tanya Gerald. Pamela memberikan map yang berisi cv dirinya pada Gerald. “Kapan kau bisa mulai bekerja?” tanya Gerald sambil membaca cv itu. “Kapanpun saya siap, Tuan,” jawab Pamela. Gerald menutup map tersebut dan kembali memandang gadis itu. “Ok. Mulai besok kamu sudah bisa bekerja di sini dan untuk sementara kamu jadi asisten saya di kantor sampai ada posisi kosong di divisi engineering.” Pamela menganggukan kepalanya. “Baik Tuan. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada saya.” Pamela berdiri dan mengulurkan tangannya. “Selamat bergabung di perusahaan ini.” Gerald menyambut uluran tangan Pamela. “Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan.” Gerald mengangguk dan Pamela beranjak pergi dari ruangan Gerald. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD