Dua hari yang lalu Ara sedang nongkrong dengan teman dekatnya bernama Nashwa disalah satu cafe terkenal di kotanya.
Dua sahabat karib itu memilih spot di pinggir dekat dengan pentas dimana disana sedang ada penyanyi dan juga band sedang mengalunkan musik untuk menambah hiburan, dua gadis muda itu sangat sering wara wiri ke cafe yang menyediakan hiburan live musik karena mereka menyukai hal itu.
"Mau pesan apa lo?" tanya Nashwa ketika keduanya baru saja duduk di kursi.
Ara melepas tasnya dan meletakkannya di atas meja lalu menatap Nashwa, "Hm.. non caffe deh sama kek lo"
"Mas pesan matcha dua" ucap Nashwa
"Eh gue nggak suka matcha" pungkas Ara cepat.
"Tadi kata lo sama dengan gue!" ucap Nashwa kesal
"Kan lo tau gue nggak suka matcha"
"Serah lo deh"
"Mas ganti jadi matcha satu red velvet satu ya" jelas Ara kepada waitress didekatnya, mas waitress itupun segera mencatat pesanan mereka setelah itu permisi meninggalkan tempat.
"Kenapa wajah lo gitu, kek kanebo nggak disiram air aja. sudah kusut tegang lagi" ujar Ara karena merasa aneh dengan raut wajah temannya.
"Nggak lagi kesal aja"
"Kesal kenapa? nggak mau cerita?"
"Nggak"
"Idih, aneh"
"Oh iya, gue mau ngomong besok gue mau berangkat ke batam" tambah wanita muda itu, Nashwa yang tadi menekuk wajahnya kini melotot menatap temannya itu
"Lo serius Ra? mau berangkat kesana! Sendiri!!" teriak wanita muda berhijab yang terkejut dengan ucapan tiba tiba dari teman dekatnya.
"Iya"
"Gila lo! belum move on, teman!"
"Gue harus bisa melupakannya Nashwa"
"Ya nggak harus lo ke kotanya juga ARABELLA!"
"Gue mau buktiin ke diri gue sendiri kalau gue sama dia emang nggak jodoh"
"Gila ya lo, terus gimana dengan mas Baim? dia tau?"
Ara yang tadinya berucap penuh semangat kini menjadi lesu tiba-tiba kala nama pacarnya terucap, ntah kenapa ia menjadi merasa bersalah dengan pria yang sudah menjadi pacarnya selama kurang lebih dua tahun lamanya itu.
"ARABELLA!!!" Nashwa yang punya kekuatan bisa baca pikiran teman satu satunya itu, kini melotot penuh amarah melihat reaksi dari temannya,
"Gue belum bilang tapi mas Baim ngerti kok"
"Ngerti apanya si Ra! coba lo pikir, laki laki mana yang mau pacarnya pergi menemui cowok yang disuka sama ceweknya!!"
"Ya, gue nggak bilang lah alasannya itu"
"Ahh... serah lo deh" Nashwa menyerah, setiap kali mereka berbincang tentang pria yang disuka temannya itu selalu saja beradu urat leher. Bukan satu atau dua kali namun ribuan kali gadis muda itu menasehati temannya agar lupa dengan cinta pertamanya namun apa tiap ucapan yang keluar dari mulutnya bak angin lalu bagi Arabella karena perasaan gadis itu masih tetap sama untuk pria yang ia suka selama sepuluh tahun lamanya.
"Jangan kasih tau mas Baim ya Wa, awas lo" peringat Ara pada sang sahabat, Naswa hanya menanggapi dengan mengangguk tanpa bersuara.
***
Keesokan harinya Ara sudah siap dengan koper kecil yang di geretnya, ia pergi dengan diantarkan oleh adik bungsunya ke bandara. Nashwa? gadis muda itu menolak untuk mengantarkannya karena masih kesal dengan sikap Ara yang memilih tetap berangkat daripada mendengar nasihat darinya, Ara tak meributkan hal itu ia setuju dengan sikap yang diambil oleh sahabatnya, Nashwa orang baik tentu saja ia kesal karena sikap bodohnya.
Sedangkan Baim, pria berstatus pacarnya kini sedang sibuk dengan rapat paginya, tadinya ia menawari diri untuk mengantar Ara namun gadis itu menolak, ia tak siap melihat wajah Baim apalagi sudah berbohong sebelumnya. Bukankah kalau mereka bertemu hanya menambah dosa Ara.
Satu jam kemudian Ara sudah sampai di bandar udara Hang Nadim kota Batam, tempat dimana pria yang ia suka tinggal, ia datang kesini dengan niat untuk melupakan pria itu.
Jika mereka emang tidak jodoh Ara akan melupakan perasaannya dan menerima lamaran dari Baim, iya Baim sudah tiga kali melamarnya namun Ara selalu menolak dengan alasan belum siap nikah padahal alasan nya bukan itu.
Kini gadis muda 24 tahun itu sedang menggeret koper kecilnya menuju ke kursi panjang yang yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi, sesampainya di kursi itu ia duduk seorang diri menunggu jemputan yang dipesannya lewat layanan hotel.
Saat menunggu tiba-tiba ponselnya berdering, saat dibuka ternyata pemberitahuan dari mas pacar.
Mas pacar :
Sayang, sudah sampai?
Anda:
Sudah mas barusan
Mas pacar :
Lagi apa?
Anda :
Nunggu jemputan, kamu lagi apa mas?
Mas pacar :
Lagi dijalan mau ada pertemuan lagi
Anda :
Semangat kerjanya ya sayang aku
Mas pacar :
Makasih sayangnya mas
Anda :
Mas, jemputan aku sudah datang. nanti aku chat laginya kalau sudah sampai hotel
Mas pacar :
Iya, hati hati ya sayang, kalau ada apa apa langsung telpon mas
Anda :
Siap mas sayang
Sebenarnya jemputannya belum datang, Ara kembali berbohong.
"Mas tiga hari doang, setelahnya aku tidak akan bohong lagi sama kamu" gumamnya menatap layar ponsel yang menampilkan dirinya dengan Baim pacarnya, di foto itu mereka berdua sama sama sedang tersenyum bahagia.
Ara tak ingin bersedih ia memasukkan ponselnya kedalam tas lalu berjalan keluar bandara.
Ia yang sibuk menata tasnya sambil berjalan membuatnya tak fokus saat berjalan dan berakhir menabrak seseorang.
Kopernya terjatuh bersamaan dengan dirinya, saat ia akan berdiri orang yang tadi menabraknya mengulurkan tangan.
Ara mendongak dan membuat dua pasang mata itu saling menatap satu sama lain dengan pikiran yang berbeda.
"Dia hadir saat aku mau melupakannya" gumam Ara dalam hati.
TO BE CONTINUE