Disini Ara sekarang, di cafe bandara bersama dengan pria yang ia temui beberapa saat yang lalu, dengan segelas red velvet yang ia pesan dan Americano yang pria itu pesan.
Dengan kecanggungan yang sama mereka duduk bersampingan dengan kursi tegak yang menghadap ke arah luar bandara, sudah lima belas menit mereka disana namun tidak ada satupun yang membuka suara kecuali saat mereka memesan minuman.
Sampai pada akhirnya kesunyian itu pecah ketika ponsel pria itu berdering.
Pria itu membuka ponselnya setelahnya menatap Ara "Aku angkat bentar ya" ucapnya kemudian lalu segera melimpir menjauh, Ara yang ditinggal melepaskan kegugupannya dengan menyuruput minumnya sampai setengah.
"Kok bisa ketemu dia si!! kan bukan ini yang gue mau" gumam Ara.
Taklama pria itu kembali dan duduk di samping Ara.
"Maaf lama" lalu ia meminum minumannya sambil menatap Ara yang masih diam.
"lo kesini ada acara Ra?"
Ara yang namanya dipanggil langsung mendongak menatap sang pria yang duduk disampingnya, "e-enggak kok lagi pengen healing aja" elaknya.
Pria itu mengangguk setuju, Aktivitas pria itu dari menatap keluar, minum, mengecek jamnya semua itu tak luput dari sorot mata gadis 24 tahun yang merasa bahwa pesona pria itu sudah ngebiusnya sampai ia tak sanggup untuk berkata kata.
"Sungguh indah ciptaanmu ya tuhan.." gumamnya dalam hati yang tak sadar bahwa ia juga tersenyum.
Tama yang merasa diperhatikkan pun ikut menatap Ara dengan wajah bingung, "ada yang aneh ya di wajah aku?" Tanyanya kemudian.
Ara yang ketahuan langsung menunduk malu sambil merutuki dirinya sendiri.
"Kenapa Ra?"
"enggak kok enggak, eh lo kenapa disini ?" Tanyanya mengalihkan topik pembicaraan yang untungnya Tama tak mempersalahkan itu.
"Tadi mau jemput keluarga yang baru datang eh tenyata sudah di jemput sama yang lain" jelasnya
"Ohh, emang mereka landing jam berapa?"
"Hm, jam 9" Ara melirik jam tangannya
"Ini sudah jam 12 Ananta Reza Pratama" gadis yang tadinya berucap dengan intonasi pelan kini naik menjadi 12 oktaf karena kesal dengan ucapan pria itu yang sungguh enteng, sedangkan pria itu hanya cengengesan.
"Kok lo ketawa, dasar"
"Aku lupa Ra"
"Nggak ada lupa sampai tiga jam Tama"
"Yang penting kan aku ada niat jemput mereka" elak pria itu sambil menyuruput kopinya tanpa mengalihkan tatapannya pada wanita di depannya.
"Ya deh iya" Ara mengalah ia menatap lurus ke pemandangan depannya yang terhalang dengan kaca.
"Kamu healing sendirian?"
Gadis itu kembali menatap Tama lalu menjawab "Iya sendiri"
"Sudah tau mau kemana aja?"
"Belum"
"serius?'
"Iya Tam, emang kalau jalan jalan harus tau tujuan dulu ya"
"Kalau orang orang bilang iya"
"Kalau aku beda si, aku nggak butuh gituan. Sesuai mood aku aja hehe"
bunyi ponsel berdering dan ini ponsel milik Ara, gadis itu lantas menatap pemberitahuan yang masuk yang ternyata dari sopir hotel yang tadi ia pesan untuk menjemputnya.
"Mba, Saya sudah ada di depan dengan mobil AV***** warna hitam dengan plat mobil BP 17** ** " Bunyi pesan yang masuk.
"Eh Tam keknya jemputan aku sudah datang deh" Ungkap Ara sambil merapikan bajunya ia turun dari kursi begitu pula dengan Tama.
Pria itu tanpa aba-aba mengambil alih koper yang di pegang oleh Ara yang sontak saja membuat gadis itu bingung "Ehhh kenapa?"
"Biar aku antar" ucapnya menyimpulkan lalu jalan duluan meninggalkan Ara yang masih diam di tempat.
Setelah beberapa lama diam ia mengejar Tama yang sudah jalan jauh di depannya.
"Lo emang tau dimana mobil yang jemput aku?" Tanya Ara saat sudah jalan di samping Tama. pria dengan tinggi 186 cm itu hanya menatap Ara tanpa berucap.
"Kok nggak jawab?"
"Nggak tau" ucapnya kemudian
"Terus kenapa sok sok an jalan duluan?"
"Ya kalau nggak tau tinggal aku bawa pulang kerumah"
Ara yang otaknya masih belum tersambung utuh malah dengan bodohnya bertanya lagi, "Pulang?"
"Iya Ra, pulang" Jelas pria itu lagi.
"Pulang kemana?"
"Kerumah aku lah, emang kamu ada dirumah disini?"
Tanpa aba-aba pipi gadis itu merona merah, ia pun dengan cepat memalingkan wajahnya.
"Jadi mau kemana?"
Ara yang tadi menatap jauh kini menatap balik pria disampingnya dengan tatapan bingung, "He?"
"Mau ikut orang yang jemput atau pulang kerumah a--
"Ikut jemputan" Jawab Ara cepat sebelum pria itu mengakhiri ucapannya, Tama mengangguk seraya mengikuti langkah Ara yang sudah berjalan cepat di depannya.
Mereka berdua sudah sampai di depan mobil hitam yang tadi di sebutkan oleh pengemudinya saat berkirim pesan dengan Ara.
Tama membantu memasukkan koper milik Ara ke bagasi mobil tersebut, setelah selesai ia kembali berdiri di depan Ara yang masih diam berdiri di samping mobil.
"Mana Hp kamu Ra?"
"Ha? untuk apa?" Tanya Ara ragu-ragu
"Sinikan"
Gadis itu seolah dihipnotis dengan kilat mata pria yang berdiri di depannya, ia pun dengan mudah memberikan ponsel yang sedari tadi ia genggam.
Pria itu lantas menerimanya dan mengotak atik ponsel itu tanpa bertanya pada Ara, taklama ponsel pria itu berdering.
"Ini nomor aku sudah aku simpan di kontak kamu, kalau ada apa-apa langsung telpon aja" ungkap Tama sambil mengembalikan ponsel Ara pada sang pemilik.
"Hm, Iya Tam" setelahnya ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan segera pamit masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput, Tama masih di sana ia berdiri di samping pintu dimana Ara duduk.
"Langsung telpon aku kalau sudah sampai" ucap pria itu setelahnya menutup pintu Ara perlahan.
Mobil yang Ara tumpangi kini sudah berjalan meninggalkan bandara.
Diperjalanan sama sekali tidak ada percakapan, selain suara musik yang berputar dari radio mobil. Musik yang kini beralun yaitu dari Gisel dengan judul lagu cara melupakanmu, lagu yang sang pas dengan suasana hati Ara saat ini.
Gadis itu menatap ke arah luar jendela, ntah kenapa hatinya seperti berkhianat kali ini.
Otaknya selalu berucap untuk melupakan pria bernama Tama namun hatinya sekarang sedang bersorak gembira setelah pertemuan mereka yang tak disengaja tadi.
"Kenapa nggak diantar pacarnya aja mba?" Tanya pak supir membunyarkan lamunan Ara.
Ara yang terpanggil mendongak kearah sang sopir, "Bukan pacar saya pak"
"Ohh, saya pikir pacarnya soalnya cocok banget loh mba"
Ara tak menjawab ia membalas dengan senyum hambar miliknya, lalu kembali menatap kearah luar jendela ntah kenapa pemandangan diluar sangat mengenakan hatinya kini padahal hanya mobil dan motor saja yang berlalu lalang saling mendahului.
Tak lama mobil yang ditumpanginya sampai di hotel terbesar yang ada dikota batam, Ara turun terlebih dahulu lalu pak sopir datang dengan koper miliknya.
"Terimakasih pak, dan ini" Ara memberi tip kepada pak sopir walau sebenarnya layanan antar jemput sudah ia bayar bersamaan dengan pemesanan hotel.
Setelahnya ia masuk sendiri ke dalam hotel dengan menggeret koper kecilnya.
**
To Be Continue