Makan malam

1169 Words
Setelah check in tadi siang, disini Ara sekarang di kamar hotel yang ia pesan, duduk didepan kaca besar yang mengarah ke jalanan kota Batam bersama dengan jus strawberry yang ia pesan tadi lewat layanan hotel. Ponselnya sedari tadi terus berdering namun tidak ada niatan baginya untuk mengangkat atau sekedar membalas pesan yang masuk, pikirannya sedang berkelana ke tempat yang tak seharusnya berada. Memikirkan seseorang yang seharusnya ia lupakan seperti janjinya sebelum berangkat ke kota ini. Ia pun sampai tak sadar tertidur di kursi tunggal empuk itu seorang diri, saat terbangun suasana diluar dan dalam kamarnya sudah gelap. Ara mencari tombol menghidupkan lampu, saat lampu sudah menyala seluruhnya ia mencari ponselnya yang tadi ia lempar ke sembarang tempat karena enggan memainkannya. Saat sudah ditemukkan ponsel itu dalam keadaan mati karena habis baterai, dengan sigap ia mengambil casannya dalam tas lalu mengecas ponselnya sambil menunggu baterai ponselnya penuh. Setelahnya ia pergi ke kamar mandi untuk sekedar membasuh tubuhnya karena belum kena air sedari tadi siang. Tak butuh waktu lama untuknya mandi kini ia keluar dari kamar mandi dengan bathrob yang ia dapat sudah terlipat rapi di dekat wastafel, saat ia keluar dari kamar mandi pintu kamarnya diketuk seseorang, ketukan itu semakin kuat beriringan dengan jalannya ke arah pintu. "Siapa?" Tanya gadis muda itu takut-takut sebelum ia membuka pintu. "Aku Ra" sahut pria yang Ara tentu sudah kenal suaranya, ia pun membuka pintunya namun tidak terbuka sepenuhnya karena tubuhnya mengisi ruang kosong sehingga pria itu tak bisa masuk. "Kok kamu tau kamar aku?" "Ponsel kamu kenapa mati?" bukan menjawab pria itu malah balik bertanya. "Aku ketiduran tadi" Tama bernapas lega ntah apa yang dipikirkan pria itu. "Kamu kenapa kesini?" Tanya Ara lagi "Nggak, cuma lewat aja tadi" "Ohh, yaudah aku masuk ya, maaf nggak mungkin aku membolehkan kamu masuk kan? apal-- ucapannya terpotong ia baru tersadar kalau ia sedang memakai bathrob ia pun buru buru bersembunyi di belakang pintu. "Aku tunggu dibawah ya Ra" "Ha? mau ngapain?" Tanya Ara dengan wajah terkejutnya "Makan malam, kamu belum makan kan?" "Ohh ya iya" setelah berucap demikian pria itu lalu pergi, Ara mengintip kearah luar pintu dan ternyata pria itu sudah tidak ada disana. "BODOH!! KENAPA GUE BILANG IYA SIH KAN RENCANANYA MAU NGELUAPAIN PRIA ITU !! KENAPA MALAH NGANGGUK AJA SIH ARABELLA!!" makinya pada dirinya sendiri di depan kaca rias. Ponsel yang ia letak di dekat ranjang kini kembali berdering, Ara segera berjalan kesana dan yang menelpon ternyata Nashwa sahabat karibnya. Ara menekan tombol hijau dan panggilannya tersambung. "ARABELLA !! ANAK KURANG AJAR !! KEMANA AJA LO HA !!! SEHARIAN PONSEL MATI!! NGGAK DIANGKAT !! KALAU LO NGGAK ANGKAT JUGA BERANGKAT GUE TADI !! TAU NGGAK!!" Suara cempreng Nashwa menggema di kamar Ara bahkan hanya lewat panggilan telpon, bagaimana jika gadis itu benar datang kemari, mungkin penghuni lain akan komplain pada pihak hotel dan membuat keduanya di usir secara tak terhormat karena mengganggu kenyamanan penghuni lainnya. "Maaf ya Wa, gue lupa" "LUPA ATAU KEASYIKAN KETEMU SAMA TU ORANG HA !!" "Apasih, nggak Wa" Elak Ara berbohong, ia belum siap kena omelan dari Nashwa sahabatnya lagi. "Jadi lo belum ketemu kan sama tu orang?" "Belum, Kota Batam ini kan besar Nashwa, kecil kemungkinan buat aku sama dia ketemu" "Bagus deh, aku harap kalian emang nggak usah ketemu aja lebih baik. ingat janji lo Ra kalau lo nggak ketemu dengan dia berarti lo harus ngelupain tu orang dan menerima lamaran bang Baim" "Iya Nashwa, ingat aku" "Yaudah deh, have fun ya disana. Oh iya angkat tu telpon dari ayang lo dari tadi sibuk banget nanyain lo pusing gue mau jawabnya" "Iya iya" lalu panggilan terputus, Ara mengotak atik ponselnya mencari nama pacarnya dan benar saja ada 100 panggilan masuk dari Baim sejak siang tadi, baru aja dia mau mencet tombol telpon eh ponselnya sudah lebih dulu berdering dengan nama Baim disana, tanpa menunggu lama Ara mengangkatnya. "Kamu nggak papa kan disana? kenapa nggak angkat telpon mas dari siang? kamu keasyikan ya disana sampai lupa kabari mas?" Ungkap pria yang berstatus pacarnya itu, Baim emang memiliki sifat lemah lembut, ia tak pernah kasar kalau berbicara dengan Ara bahkan semarahnya ia dengan pacarnya Baim tak pernah bersikap melewati batas wajar dari seorang manusia. Ara bersyukur akan hal itu namun dirinya yang bodoh malah menyianyiakan pria itu. "Maaf mas, aku ketiduran habis diantar sama sopir tadi, jadi lupa ngabarin kamu" "Yaudah nggak papa, yang penting kamu nggak papa kan sekarang?" "Iya mas aku nggak papa" "Kamu lagi apa?" "Lagi di depan kaca" "Mau kemana sayang malam gini?" "Mau makan mas dilantai bawah" "Kenapa nggak minta diantar aja kekamar?" "Aku kan mau liburan mas, kalau dikamar terus enak aku dirumah aja" "Yaudah iya, mau aku siapin bodyguard nggak?" "Ya ampun masku sayang, nggak perlu aku bisa sendiri awas ya kalau kamu ngelakuin itu aku nggak suka!" ucap Ara dengan nada kesal, ntah kenapa ia malah marah dengan prianya padahal yang dilakukan Baim baik untuknya agar ia terjaga. "Iya iya maafin mas ya" "Iya, mas lagi apa?" "Lagi duduk di depan kamar, sambil ngelihatin kamu" "Ngelihatin aku?" Beo Ara bingung dengan ucapan absurd prianya. "Iya lewat HP, aku nunggu ponsel kamu online jadinya aku natap chatan kita aja dari tadi" "Ya ampun, maaf ya mas sampai buat kamu nunggu gitu" "Iya nggak papa, tapi nanti kalau sudah pulang bayar ya" "Bayar? kamu mau aku kasih berapa?" Ara berucap sombong yang menimbulkan gelak tawa keduanya. "Emang kamu sanggup bayar aku?" Tanya balik sang pria "Sanggup dong, emang kamu mau berapa?" "Aku maunya kamu doang, gimana sanggup nggak?" Ara terdiam sejenak, ucapan sang pria membuatnya berpikir kembali, Ia seharusnya tak memainkan perasaan pria baik seperti Baim dan menyianyiakannya seperti ini. Bodoh. "Ra?" Panggil Baim lagi saat Ara sudah tak bersuara. "Eh iya" "Kenapa diam? belum siap ya sayang?" "Maaf ya mas, nggak papa kan tunggu aku lagi?" "Iya mas tunggu, tapi janji ya kamu hanya milik mas dan berakhir dipelaminan bersama mas" ungkap Baim dengan tegas namun nada yang lembut. Ara tau ia tak bisa mengucap janji yang ia saja tak tau bisa menepatinya atau tidak, tapi kali ini ia harus berucap iya dulu mengenakan hati prianya, masalah nanti akan ia pikirkan lagi. "Iya mas, kamu minta aku janji gini nanti rupanya kamu yang ninggalin aku" "Iiiih nggak, mas sayang banget sama kamu, kalau kamu mau nerima mas sekarang, mas akan langsung siapin pernikahan kita dan jemput kamu sekarang juga untuk pulang dan menikah dengan mas" ungkap Baim panjang lebar "Ihh dasar nggak sabaran" "Gimana dong kalau sudah sayang banget" "Dasar jiwa gombal Baim Bimantara belum hilang juga ya teman teman" "Kan gombalnya cuma sama kamu, nggak ke yang lain" "Iya, Ara percaya kok mas" "Syukurlah, yaudah kamu turun gih makan tapi nanti chat mas lagi ya. jangan ditinggal lagi" peringat Baim "Iya mas sayang, Ara tutup ya. I love you" "Love you more" Panggilan terputus, Ara mesukkan ponselnya ke dalam tas lalu berjalan keluar kamat saat ia akan membuka pintu, ternyata pria itu sedang berdiri disana membuat Ara terkejut bukan main. "Kamu dari tadi disini?" Tanya Ara. ** To Be Continue :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD