Pasar Malam

1117 Words
Ara dan Tama kini sudah duduk di meja makan hotel, dengan posisi berhadapan. "Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi Tama" ungkap Ara pada pria yang sedari tadi sibuk mengelap sendok dan garpunya. Pria itu melirik kearah Ara, ia memberikan gadis itu sendok dan garpu yang sudah ia seka terlebih dahulu dengan tisu, membuat gadis itu mengupat dalam dirinya akibat perilaku manis pria itu "Sial! kenapa dia harus perhatian gini sih, lo tau nggak lo tu mau gue lupain!! kenapa jadi perhatian gini si! sial" "Kamu lama, aku pikir pingsan tadi makanya aku samperin" ungkapnya tanpa menatap wajah Ara. "Kenapa nggak ketuk pintu?" "Kamu lagi telponan jadi aku nggak enak" pungkasnya membuat Ara menutup mulutnya tak percaya, ntah kenapa ia merasa bersalah pada pria di depannya. "Kamu dengar semuanya?" "Nggak cuma sebatas, soal penikahan" "Oooo." Ara mengalihkan tatapannya menolak bersitatap dengan sang pria yang kini malah menatapnya. "Kamu mau menikah Ra?" Tanyanya lagi Jiwa Ara seolah terbagi dua, satu memintanya untuk menjawab iya dan satunya lagi berucap untuk mengatakan tidak. Dan dirinya malah memilih ke jiwa yang memintanya untuk mengetahui perasaan pria itu sebenarnya. "Belum aku putusin ke arah sana" "Kenapa? Dia nggak baik?" Ara menggeleng cepat "Dia baik, sangat baik nggak pernah kasar ataupun jahat sama aku selalu jujur tapi aku yang bodoh malah menahannya" "Boleh tau alasannya?" "Lo" Nggak Ara nggak berucap itu, kata itu keluar dalam dirinya jadi pria itu tak bisa mendengar. Sebelum ia menjawab dengan benar Ara menarik napas terlebih dahulu "Belum siap" Setelahnya tidak ada lagi percakapan dari keduanya, mereka sibuk dengan kegiatan makan nya masing masing yang malah membuat suasana menjadi canggung kembali. Ara sudah tau bahwa pria di depannya ini sangat tidak pintar untuk membuat suasana menjadi bersahabat karena Tama sedari dulu adalah pria pendiam jika ingin bercakap lama dengannya kita harus memulai terlebih dahulu. Dan kini Ara malah kena virus pendiam milik Tama, ia bahkan sangat canggung untuk membuka suara terlebih dahulu. Tiga puluh menit mereka habis kan hanya dengan makan dan setelah makanannya habis, Ara menyeka mulutnya dengan tisu yang ia punya, saat ia sedang asyik menyeka mulutnya ia melirik kearah Tama yang sedari tadi fokus pada dirinya. "Kenapa kamu lihatin aku gitu? mau?" Ara sambil menyodorkan tisu basah miliknya kehadapan Tama, pria itu bukannya mengambil tisu itu ia malah menggeleng pelan. "Selepas ini mau kemana?" Tanya Tama. "Hm, keknya di kamar aja deh soalnya sudah malam juga mana aku perempuan kan, nggak mungkin keluar sendirian" Jelas Ara sambil menyeruput es tehnya yang tinggal setengah. "Mau keluar nggak? aku temani, tadi pas jalan kesini aku lihat ada pasar malam di daerah dekat pantai, mau kesana?"Tawar Tama pada Ara, gadis itu terlihat tergoda dengan ajakannya tampak dari mata Ara yang bersinar bahagia. "Hm, kamu nggak keberatan?" Tama menggeleng, "Yaudah, aku ke kamar dulu ya mau ganti baju sekalian ambil tas dan Hp" "Iya, aku tunggu di lobby" "Oke, bentar ya" Gadis itu pergi setelah melambaikan tangan kearah Tama, Tama yang ditinggalkan langsung berjalan ke arah Lobby seperti janjinya tadi, setelah sampai di lobby ia duduk di sofa panjang yang tersedia sambil menunggu ia mengotak atik ponselnya sendiri. Kurang dari sepuluh menit Ara datang dengan atasan berwarna creame dan juga celana panjang hitam membalut kakinya yang jenjang di padupadankan dengan tas selempang berwarna sama dengan celananya. "Tam ayok aku udah siap" Tama sedari tadi tak putus memandang Ara mulai dari gadis itu datang matanya tak putus menatap wanita yang sedang berdiri didepannya kini. "Sudah?" ucap pria 24 tahun itu "Iya" angguk Ara , Setelahnya mereka berdua berjalan beriringan menuju ke arah parkiran dimana mobil Tama di parkirkan. Di perjalanan menuju pantai keadaan di dalam mobil masih seperti biasa tidak ada percakapan dari keduanya hanya suara musik dari radio yang menemani kecanggungan. Mobil yang dikendarai oleh Tama kini sudah sampai di tempat tujuan, seperti yang dikatakan pria itu, disekitaran pantai sedang ramai orang banyak stand stand jualan yang dibangun disisi sisi pantai dan juga ada wahana permainan seperti bianglala, komedia putar dan lainnya. Ara yang begitu antusias keluar terlebih dahulu dari mobil tanpa menunggu Tama ia berlari kearah wahana permainan kesukaannya. Untung saja pria itu cepat tanggap digapainya bahu belakang Ara supaya gadis itu tak terus berjalan, Ara yang barus sadar pun segera memperlambat jalannya. "Kenapa nggak nunggu aku Ra? kalau hilang gimana" Bisik Tama pelan tepat dibelakang telinga Ara, tubuh gadis itu seperti habis di sengat listrik bertegangan tinggi bagaimana tidak mereka kini berjalan dalam posisi yang begitu dekat dimana Tama berjalan dibelakangnya dengan berpegangan pada pundak gadis itu, karena ramainya orang membuat tubuh keduanya menjadi sering bersentuhan. Untung saja Tama peka dibawanya Ara mejauh dari keramaian. "Fiuh..." gadis tu bernapas lega setelah tubuhnya di lepas oleh Tama, aksi dari Ara tak lepas dari pandangan pria 24 tahun itu. "Baru juga sampai Ra, kok sudah capek gitu" ujar pria itu sambil membantu menyeka keringat gadis didepannya dengan sapu tangan miliknya. Baper? tentu saja, ini yang diinginkan gadis itu sejak dulu. diperlakukan seperti ratu oleh pria yang berdiri di depannya kini. "Mau kemana dulu kita?" Tanya pria itu yang membuat lamunan Ara buyar seketika. "Main komedi putar yuk, keknya asyik deh" "Komedi putar kan mainan anak anak Ra" "Kan aku masih anak-anak" celotehnya dengan wajah yang dibuat buat imut.menjijikan bagi wanita seumuran manapun yang melihatnya namun tidak dengan pria yan di depannya pria itu malah tersipu dengan tanpa tahu dirinya mengacak surai hitam gadis di depannya dengan lembut, lucu. itu yang ada dipikirannya. "Jangan di acak" lirihnya "Kenapa?" "Catoknya lama..." rengek Ara yang terlihat manja, tak membuat pria itu ingin menamparnya. "Maaf" "Iya nggak papa, yaudah ayok ke komedi putar nanti ramai" Ara menarik tangan Tama tanpa canggung, tak seperti sebelumnya, mereka berdua berdiri berdampingan, mengantri untuk mendapat tempat karena ramainya orang yang ingin bermain di wahana tersebut. Kini mereka tinggal menunggu satu trip kelompok lagi baru dapat giliran mereka, "Duduk aja dulu sana, nanti kalau sudah kesini lagi" ujar Tama yang berdiri disampingnya. "Nggak Tam, kan yang mau main aku kenapa aku pula yang duduk" "Belum juga main, nanti kamu pingsan lagi" "NGGAK! kamu baru kenal aku kemarin ya, aku kan gadis kuat dari SMP Adiwangsa tauu, lupa kalau aku dulu pernah jadi ketua kelas ha!" ucapnya menyombongkan diri. "Ingat ingat" Karena asik ngobrol akhirnya giliran mereka untuk bermain, Ara dengan antusias mengambil posisinya ia memilih kuda poni berwarna biru dan Tama memilih tempat di sampingnya. "Eh aku baru tau lo, kalau kamu suka warna pink" Cibirnya menatap pria di sampingnya, Tama yang merasa di ejek pun segera mengecek kuda yang ia duduki dan benar saja kuda itu berwarna pink. ia terlalu fokus pada gadis disampingnya sampai tak melihat hal begituan dan lagipula ia juga tak peduli tak ada juga yang akan mengejeknya selain gadis itu. ** To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD