Minuman

1390 Words
Setiap permainan yang ada di pasar malam dijajal oleh kedua sejoli itu tanpa lelah sampai pada wahana terakhir yaitu bianglala. Untung saja yang mengantri tidak banyak jadi tak membuat keduanya mengantri lebih lama lagi. Dengan permen kapas ditangannya mereka masuk bersama lalu duduk berhadapan, bapak yang mengoperasikan bianglala mulai menghidupkan mesin dan wahana itu berotasi pelan. Tadinya saat menjajal wahana permainan mereka begitu akrab tanpa canggung sedikitpun namun saat mereka hanya berdua saja situasi itu kembali lagi. Ara asyik memakan permen kapasnya sambil menatap kearah luar jendela walau daritadi jantungnya tak kunjung berhenti berdegup kencang untung saja ia tak punya riwayat penyakit jantung jika iya mungkin sudah dibawa kerumah sakit sejak tadi. Sedangkan Tama, pria itu asyik menatap gadis di depannya ntah kenapa menatap wajah Ara membuat hatinya tenang. "Pelan-pelan Ra" ucap Tama sambil mengambil sisa permen kapas yang nempel diujung bibir gadis itu, namun bukan dibuang malah dimakannya lagi tentu saja Ara yang melihatnya menjadi kaget. "Eh... kenap-- "Manis" pungkas pria itu tak lupa senyum manisn terpatri diwajah tegas miliknya membuat Ara terdiam beberapa detik. "Kenapa bengong?" "Kamu kenapa makan bekas aku, kan punya kamu masih utuh Tam" "Kamu pernah dengar nggak kalau milik orang lain lebih manis dari punya sendiri nah karena itu aku mau coba punya kamu" "Ih dasar, makan noh punya sendiri jangan ambil milik orang lain ya" peringat Ara sambil menyembunyikan permen kapasnya menjauh dari jangkau pria di depannya. Tingkah Ara sungguh membuat suasana menjadi cair kembali setelah canggung beberapa menit yang lalu. "Habis ini mau kemana Ra?" Ara melirik jam tangannya terlebih dahulu baru berucap, "Ke pantai kayaknya asik ni, tanggung kan kesini tapi nggak kepantai" "Tapi sudah mau jam 12 nggak papa?" "Kan sama kamu juga, aku tau Ananta Reza pratama itu laki-laki baik nggak mungkin kan celakai gadis manis seperti aku" "Hm, kamu tau aku baik dari mana? kan kita sudah lama nggak ketemu" "Sifat asli itu sangat sulit untuk dihilangkan Tam, lagian aku dulu kenal kamu juga lama tentu aku tau kalau kamu pria baik" Tama tersenyum kembali, ntah kenapa tiap ucapan yang keluar dari bbir gadis di depannya membuat hatinya tak baik baik saja sedari tadi. "Oh iya, kamu sudah punya pasangan Tam?" pertanyaan yang sedari tadi ia simpan, dan akhirnya keluar juga dari bibir manisnya. Tama menggeleng pelan, "Belum ada yang pas Ra" "Belum? kenapa? masa pria setampan gini nggak punya pasangan" goda Ara yang ia sendiri lupa dengan konsekuensi yang akan ia dapat nanti. "Kamu mau jadi pasangan aku?" Tanyanya frontal bahkan terdengar serius ditelinga Ara. Wajah Ara berubah menjadi pucat pasi, jika saja ia tak punya pasangan pasti kata IYA yang ia lantunkan dengan keras saat ini "Apa sih Tam, kok aku jadinya" "Emang nggak boleh?" 'Lah kok jadi serius gini sih' teriak gadis itu dalam hatinya. Sepertinya alam sedang berbaik hati padanya. Bianglala yang mereka naiki berhenti tepat ketika ia akan bersuara tentu Ara senang bukan main ia keluar terlebih dahulu tanpa menunggu Tama bahkan terlihat terburu buru. Mereka berdua berjalan bersama menelusuri jalan yang sama menuju pantai, tanpa ada yang bersuara. 'Aku mau pulang aja, kalau gini akhirnya nyesal bilang mau kepantai' gumamnya pelan, Tama yang berjalan disampingnya menoleh kearahnya. "Kamu ngomong apa?" "Ehhh nggak nggak" jawabnya cepat, wajahnya menatap pelongo kearah pantai yang ramai dengan pengunjung awalnya ia pikir tak seramai ini apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul 12 malam, eh ternyata dugaannya salah keadaan pantai tak jauh beda dengan siang hari, ia pun baru tau jika orang orang di kota Batam tak menuruti jam pada umumnya. "Kita duduk dimana ya?" Ara mematut matut dagunya memilih milih posisi yang tepat untuk di tempati mereka berdua, beda dengan Tama pria itu sibuk melepaskan jaket ditubuhnya dan memakaikan ke tubuh Ara tanpa berucap sedikitpun, Ara yang terkejut lantas berbalik arah menatap pria itu yang juga menatapnya. "Pakai, nanti sakit" ucapnya lembut bahkan snagat lembut. meleleh. Ara tak memberontak ia menurut dengan apa yang dilakukan pria itu, mungkin jika ada yang melihat mereka orang akan beranggapan mereka adalah sepasang kekasih karena mesranya Tama memperlakukan Ara. "Jadi kita duduk dimana?" Tanya pria itu yang sudah meresleting jaket di tubuh Ara sampai keleher gadis itu. "Hm?" "Kita duduk dimana Ra? bukannya kamu lagi mikirin itu tadi?" "Ohh iya, hmm disana aja" ia menunjuk kesembarang arah, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya dan juga degup jantungnya yang tak normal sejak tadi. Berada di dekat Tama membuatnya hampir terkena serangan jantung, bisa gawat jika lama-lama dekat denganya namun tak berada didekatnya membuat nya malah sedih dan rindu, dasar perempuan labil. Buaya betina! "Kamu deh yang tunjuk aku ikut disamping" ungkap Tama. "Hm oke" Ara manggut dan berjalan memimpin di depan, ia memilih tempat tak jauh dari pantai namun penerangannya agak sedikit lebih terang dari yang lain, ya orangnya emang penakut jadi gitu. "Disini aja" ucap Ara menunjuk ke kursi kosong di depan mereka. "Oke" Kursi yang ada disediakan disana seperti di Bali, kursi panjang yang bisa buat untuk sekedar baring atau menikmat malam dengan tidur. "Wah nyaman ya disini" ungkap Ara saat ia meletakkan pantatnya disana, Tama yang di sampingnya manggut manggut setuju. "Kamu sering kesini?" "Iya" "Sama pasangan ya pasti?" "Dulu nggak, kalau sekarang lagi dibicarakan" Lagi-lagi pria itu menggodanya dengan ucapan absurd yang Ara artikan beda tiap ucapannya. Iya Ara takut mengartikan ucapan pria itu berbeda dengan yang pria itu pikirkan, nanti ia malah jatuhnya Kegeeran sendiri padahal maksud pria itu bukan itu. Dan ia hanya mendapat luka nantinya. Jadi Ara memutuskan hanya tersenyum simpul saja daripada menanggapi lain. "Kamu mau pesan makan?" Tawar Ara pada pria yang menatapnya terus sedari tadi, bahkan tubuhnya yang berbaring kini menghadap kearah Ara seutuhnya. "Nggak, aku sudah kenyang" "Yaudah" "Kamu mau pesan? biar aku pesan dulu" "Nggak deh, tadi sudah makan banyak" "Yaudah aku pesan minum aja mau?" "Boleh deh" "Oke, Kamu tunggu bentar aku kesana, kalau ada apa-apa teriak aja kalau nggak telpon aku" ungkap Tama sebelum meninggalkan Ara seorang diri. "Iya Tam" setelahnya ia pergi, tinggalah gadis itu sendiri, karena bosan Ara mengambil ponsel di Tasnya, sejak tadi belum ada ia menyentuhnya dan benar saja saat ia periksa banyak panggilan masuk dan juga puluhan pesan dari orang orang yang berbeda. Ara memeriksanya satu satu dan juga membalasnya, saat ia sedang asik dengan dunianya datanglah anak dan ibu membawa bakul berisi minuman.. "Mau beli kak?" Tawar gadis kecil itu pada Ara, Ara melirik kearah jualan yang mereka bawa. "Berapa?" Tanya Ara yang antusias melihat jualan ibu dan anak itu. "10 ribu aja kak minumnya" "Yaudah aku ambil dua" lalu ia mengambil uang di dalam tasnya dan memberi ke gadis kecil itu selembar uang 50 ribu, "Kembaliannya untuk kamu aja" ungkapnya dengan terseyum manis. "Terimakasih kak" "Iya" Setelahnya anak dan ibu itu pergi, Tanpa basa basi ia segera meminum air yang dibungkus kedalam botol kecil itu sampai habis, Ara memilih minuman rasa mangga dan benar saja rasanya enak dan juga segar, Ara menyukainya. Tama baru saja datang membawa minuman untuknya dan gadis itu, saat ia sampai kondisi gadis yang ia tinggali tadi benar benar aneh, gadis itu sedang sibuk mengipasi dirinya secara brutal bahkan jaket yang ia pakaikan tadi sudah tergeletak di atas pasir. "Kamu kenapa Ra?" tanya nya penuh khawatir ditambah wajah gadis itu sudah bersemu merah. "Panas.. Tama badan aku panas banget" ucap Ara sembari terus mengipasi dirinya "Ehhh.." belum lagi Tama berucap, Ara sudah mau membuka kancing bajunya, padahal dua kacing teratas sudah terbuka sejak tadi. "Jangan dibuka Ra" sergah Tama yang langsung memegang kedua tangan Ara agar gadis itu tak menyesal nantinya. "Tapi panas banget" rintih Ara "Kamu habis ngapain emang?" "Aku cuma duduk duduk aja, terus minum itu" tunjuknya pada satu botol yang sudah kosong tergeletak di atas meja di dekatnya. Tama mengambil botol itu dan mencium sisa air yang terisia "YA TUHAN, siapa yang kasih kamu ini Ra?" Teriaknya penuh emosi "Tadi ada ibu ibu dan anak yang nawari jualanan nya yaudah aku beli kasihan kan" Ara yang merasa aneh pada tubuhnya kini malah menatap penuh mangsa wajah Tama yang ada di depannya. "Tam kamu ganteng banget si malam ini" ucapnya penuh s*****l bahkan tangan nya yang sudah terlepas dari pegangan Tama, kini bergeriliya di wajah pria itu. "Ehhh Ara...!!" Ia menarik tangan gadis itu untuk terlepas dari wajahnya apalagi tangan satu gadis itu ikut mulai membuka atasannya, Tama yang masih waras tak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sumpahnya dalam dirinya kini tak tau nanti. ** To Be Contnue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD