Tama menggendong tubuh Ara masuk ke dalam mobilnya, sedari tadi Ara tak mau diam makanya ia memilih untuk menggedongnya daripada gadis itu tiba-tiba kabur.
Pengaruh obat perangsang membuatnya menjadi lebih liar lihat saja di dalam gendongan Tama saja ia bisa bisanya mengelus d**a pria itu.
"Ra jangan sentuh itu" Geram Tama tertahan.
"Tama aku mau cium kamu !!" ucapnya s*****l dan mulai memajukan bibirnya.
"Nggak Ra jangan gila!" sentak Tama
"Tap-- belum Ara selesai berbicara tubuhnya sudah berada di jok mobil milik Tama, setelah menurunkannya pria itu mengelilingi mobilnya dan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Ara tepatnya di jok pengemudi.
Tama yang baru saja duduk tiba tiba ia dikejutkan, gadis yang tadi baru saja ia dudukkan di kursi sampingnya kini sudah berada diatas pangkuannya dengan wajah s*****l gadis itu menggerakkan bokongnya diatas kepemilikkan milik Tama. Tama menutup matanya menahan birahinya bagaimana tidak kucing aja nggak nolak di kasih ikan segar.
Ara tambah menjadi gadis itu kini malah mengelus pipi Tama, "Tam.. mau cium.. ayok cium aku" rengeknya memaksa untuk mencium pria itu.
Tama menahan tubuh Ara dengan tangannya agar mereka tak semakin dekat.
"Nggak Ra, jangan Gila"
"Kalau nggak kamu cium aku tambah gila!" badannya menggeliat menahan nafsu yang mulai memuncak karena obat perangsang. Meski Tama menolaknya terus menerus namun ia tak kenal lelah memikat pria itu bahkan ia dengan beraninya mencium d**a pria itu.
"ARA!!" pekik Tama tertahan, gadis itu benar benar sudah gila ia memancing nafsu pria dewasa.
"Kenapa Tam, enak ya aku cium? mau lagi?" Godanya s*****l bahkan tangannya sudah lihai mulai membuka kemeja Tama satu persatu, kancing itu sudah hampir selesai ia buka namun tiba-tiba tubuhnya seperti melayang pria itu mengangkat tubuhnya lalu mendudukkan badannya di kursi penumpang tak lupa Tama mengikat tangannya di pegangan atas kepalanya menggunakan dai yang ia dapat didasbr mobil.
Setelahnya Tama mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan pantai. Gadis yang duduk disampingnya terus bergeliat tak tentu arah jangan lupakan rengekannya yang memekakkan telinga.
Tama membawa Ara kesebuah hotel dekat pantai, hotel yang ia pesan adalah hotel ilegal yang tak menanyakan tentang KTP ataupun status hubungan karena itu Tama membawanya kesana.
Setelah sampai di parkiran hotel Tama membuka kaitan ditangan gadis itu lalu menggendongnya masuk ke dalam hotel tak lupa ia meminta resepsionis untu mengantarkannya ke kamar yang sudah ia pesan.
"Tama ayok cepat!!" teriaknya s*****l, gadis yang ada digendongannya terus saja menggoda imannya bahkan kemeja yang ia pakai pun tak sempat ia kancing dengan benar. Tama sudah peduli dengan omongan resepsionis hotel tentang hubungan mereka apalagi melihat kondisi Ara yang benar benar tak bisa di definisikan dengan nalar.
Sesampainya di kamar hotel Tama membawa Ara ke atas bathtup dan memandikan gadis itu dengan air dingin yang mengalir dari shower.
"Tama! kenapa kamu memandikkan aku!" Oceh Ara tak terima
Tubuh Ara diguyur denganair dingin shower. setelah itu Tama melangkah menjauh dari Ara.
"Tama! setelah kamu memandikkan aku kamu malah mau kabur, badan aku dingin" teriak Ara, lalu ia berdiri keluar dari bathtup dan bergelayut manja ditangan Tama.
"Ra sadarlah" ucap Tama frustasi sembari menepuk nepuk pipi Ara, namun bukannya sadar gadis itu malah menggeliat manja di tubuh Tama. Mencoba mencium pipi Tama namun tubuh pria itu lebih tinggi darinya membuat Ara harus berjinjit untuk menggapainya.
Tama melihat tngkah gadis itu sungguh geleng-geleng meski dalam dirinya juga menginginkannya.
"Kenapa kamu menolak aku? aku mencintaimu Tama! ayok jadikan aku milik kamu malam ini!!" Paksa Ara, kini dirinya mulai kembali membuka kancing kemeja satu persatu.
"AKHHH!! BAIKLAH INI YANG KAMU MAU KAN!!" Teriak Tama setelahnya ia menggendong tubuh basah Ara dan membawanya masuk kedalam kamar, di baringkannya badan Ara di atas kasur.
"Ayok Tam.." Paksanya lagi
"Aku yang mimpin kamu diam saja" Ucap Tama sembari membuka kancing kemeja dan celananya Ara yang tertidur terlentang diatas kasur tersenyum menang menatap tubuh atletis pria yang sedari tadi ingin ia gapai.
Tama mendekat ketubuh gadis itu dan memulai permainan yang mungkin akan menjadi penyesalan buat mereka nantinya.
Keesokan harinya Ara terbangun dengan kepala pusing dan juga badan sakit sakitan, dan saat pertama kali ia membuka mata yang membuatnya terkaget kaget adalah adanya mahkluk berwujud manusia tidur di sampingnya ditambah lagi manusia itu tidur dengan memeluk erat pinggangnya dengan tanpa busana sama sepertinya.
Ara mengerjapkan matanya berulang kali meminta apa yang ia lihat sekarang hanyalah bunga tidurnya saja namun mau berapa kali ia mengerjap pria itu masih ada disampingnya.
"Aaaaaaaaaaaa" Teriaknya kemudian lalu menggeser tubuh pria itu menjauh darinya.
Tama yang terganggu tidurnya lantas langsung terbangun dari tidurnya dan menatap gadis disampingnya ya bisa dibilang bukan gadis lagi karena semalam sudah ia rubah menjadi wanita seutuhnya.
Tama dengan mata lelahnya mencoba untuk duduk, "Kenapa Ra?" ucapnya dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"KENAPA?! KAMU GILA YA !!" Pekik Ara sembari memperat selimut menutupi tubuh polosnya.
"Oke aku minta maaf"
Ara berdecak kesal, sumpah ia kesal dengan ucapan pria itu yang terlampau santai "Maaf? kamu pikir aku w************n ha? yang sudah kamu ambil mahkotanya lalu kamu dengan entengnya bilang MAAF! TAMA!" Berang Ara menatap Tama tajam
Tama yang tau akhirnya akan seperti ini menggusar wajahnya kasar, "Aku akan tanggung jawab jawab! Kita nikah secepatnya" ucap pria bernetra cokelat tua dengan intonasi tegas.
Ara yang tadinya marah kini mendadak lesu, bukan akhir seperti yang ia mau.
"Kenapa kamu diam?" Diam nggak nyelesaikan masalah” celetuk pria yang masih bertelanjang d**a itu.ucapnya kembali.
“Aku nggak mau nikah sama kamu, aku sudah punya pacar TAMA!”
“Terus? kamu pikir pacar kamu mau terima kamu yang sudah dinodai pria lain!" tekan Tama dengan suara keras, ia menarik napas terlebih dahulu sebelum kembali bersuara.
"Aku bukan seorang pria pengecut Ra yang nabur benih tanpa tanggung jawab" Ucapan Tama membuat Gadis muda itu kembali menunduk kembali memainkan ujung selimut yang ia pakai untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku nggak tega membuat pria itu sedih, aku sudah jahat Tam" Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Aku nggak maksa kita untuk nikah, tapi kalau apa yang aku tabur jadi manusia dan pria itu tak bisa menerima kamu. beritahu aku cepat jangan ambil keputusan yang buat kamu dan aku nyesal" Ujar Tama, pria itu dengan tanpa malunya menyingkap selimut yang tadi menutupi tubuh bawahnya kini berdiri memakai boxer yang ia ambil di bawah ranjang, Ara yang melihat itu langsung memalingkan wajah karena malu walau ia sudah lihat semuanya tadi malam.
"Aku pulang Ra, kalau ada apa apa telpon aku" Ucap pria itu setelah memakai pakaian lengkapnya ia pergi meninggalkan Ara yang masih diam dengan posisi yang sama.
Tak lama terdengar bunyi pintu tertutup menandakan pria itu sudah pergi. Ara yang ditinggal seorang diri hanya diam meratapi dirinya seorang diri. Perlahan ia turun dari ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan susah payah karena bagian bawah tubuhnya benar benar sangat pedih saat ia berjalan.
Sesampainya di kamar mandi ia begitu terkejut dengan penampilannya, banyak tanda merah menghias diseluruh tubuhnya. Bahkan ada yang sudah berubah menjadi kebiruan.
"BODOH !! KENAPA LO BISA NGELAKUIN INI SIH RA !!" makinya pada dirinya sendiri.
Bathtup sudah terisi penuh dengan air, Ara masuk ke dalamnya dan mendiamkan dirinya disana dengan memejamkan mata memikirkan kejadian gila yang baru saja terjadi karena tindakan bodohnya.
To be Continue