Setelah pagi gila itu Ara kembal ke hotelnya seorang diri ia memilih menggunakan Taxi.
Tama? pria itu menghilang setelah menodainya. Ara marah, sungguh. Pria yang dulu ia agungkan dan ingin ia miliki ternyata dia yang menorah luka.
Bagaimana nantinya ia menceritakan hal ini kepada pacarnya, Baim. Apa Baim masih mau menerima wanita kotor sepertinya.
Dengan pemikiran yang hancur Ara memilih membereskan pakaiannya dan pulang lebih awal ke kotanya, tak butuh waktu lama ia sudah berada di pesawat, sebelum berangkat ia memberitahu Nashwa untuk menjemputnya dan ia juga berniat untuk tinggal dirumah sahabatnya dulu dari pada pulang dengan kondisinya seperti ini.
Setelah satu jam penerbangan akhirnya Ara sudah sampai dikotanya, ia pun mengambil kopernya dan berjalan menuju ke tempat penjemputan dan benar saja ada Nashwa disana sedang menunggunya tanpa malu Ara berlari lalu memeluk erat sahabatnya itu menumpahkan segala kesedihannya di bahu sang sahabat.
"Lo kenapa Ra? kenapa nangis?' Tanya Nashwa yang ikut khawatir dengan sahabat satunya itu sembari mencoba menengkannya.
Ara bungkam ia memilih untuk tak menceritakan disini, nanti setelah dirumah mungkin baru ia terbuka.
Acara pelukan itu berakhir Ara dan Nashwa kini dalam perjalanan menuju apartemen Nashwa yang jaraknya dari bandara tiga kilometer ya bisa dibilang tidak terlalu jauh apalagi mereka menggunakan mobil.
Di dalam mobil Ara masih bungkam, wanita muda itu lebih memiilih melihat jalanan luar dibanding menjwab pertanyaan sahabatnya yang terus mengoceh menanyakan perihal dirinya sedari tadi.
Sesampainya di Apartemen, Nashwa menarik Ara untuk duduk dengan dekat dengan dirinya dan mulai mengintrogasi Ara.
"Beritahu gue apa yang terjadi di Batam sampai-sampai lo pulang cepat dan pakai acar nangis tadi dibandara!" Ucap Nashwa sembari memegang dua bahu sahabatnya agar Ara dapat menatapnya.
"Gu- gue..
"Jawab gue Ra! jangan bungkam nggak jelas!"
"Gue tidur dengan Tama" cicit Ara pelan
DUAR..
Bagai balon yang baru diletuskan, begitulah keadaan hati Nashwa sekarang ia begitu terkejut dengan ucapan sahabatnya barusan.
"LO SERIUS?!" Pekiknya
"Iya Wa"
"Gila! ayok kita kesana ! gue mau buat perhitungan sama tu pria seenaknya dia nidruin lo!" Nashwa yang sudah naik pitam menarik Ara untuk ikut dengannya, namun Ara malah menahan tangannya dan membawa Nashwa untuk duduk kembali.
"Aku belum selesai cerita, dengar dulu"
Nashwa menggusar wajahnya frustasi, "Dengar apalagi ha!"
"Salah gue!!" ucap Ara cepat
"Salah lo?! maksud lo apasih!"
"Gue yang maksa"
"LO?!' Nashwa menunjuk Ara dengan wajah tak percaya.
"Gara gara minuman sialan itu!"
"aishh coba lo ceritain baik-baik gue nggak ngerti" tekan Nashwa
Ara menarik napas terlebih dahulu sebelum memulai ceritanya, "Jadi waktu hari aku sampai di bandara nah disitu aku ketemu dia"
"Jadi lo bohong sama gue!" ucap Nashwa yang tak terima karena Ara berbohong waktu ia bertanya lewat telpon waktu itu.
"Iya maaf gue takut lo marah" cicit Ara
"Ya udah lanjut"
"Jangan dipotong lagi dengerin gue cerita sampai habis"
Nashwa mengangguk selanjutnya Ara melanjutkan ceritanya dari awal ketemu Tama sampai pagi mereka berpisah di hotel, Nashwa yang mendengar keseluruhan cerita itu hanya bisa geleng geleng tak percaya bisa bisanya hanya dalam jangka waktu dua hari mereka bisa melakukan hal yang gila seperti itu.
"Lo juga salah kenapa pergi keluar malam malam dengan pria!"
"Gue nggak tau kalau akhirnya gini, kalau tau juga nggak " Sesal Ara ia tak melanjutkan ucapannya
"Ais, terus sekarang lo mau apa? nerima ajakan nikah Tama? atau balik sama kak Baim? et tunggu emang kak Baim mau nerima lo lagi?"
"Gue tau gue sudah kotor tapi setidaknya lo jangan ngomong gitu dong!" murka Ara tiba-tiab seolah ia dihina oleh Nashwa dengan ucapan gadis itu barusan meskipun Nashwa dan bermaksud demikian.
"Et maaf gue nggak maksud gitu"
"Ais.. gue juga nggak tau mau cerita ini atau nggak ke kak Baim"
"Gue saranin lo buat cerita aja deh, daripada nanti endingnya kak Baim tau dan dia malah ngebenci lo" ucap Nashwa memberi saran
"Iya rencananya gitu, tapi gue nggak punya mental buat ngomong Wa" ucapnya sedih.
"Ini masalah lo yang buat jadi lo juga harus punya tanggung jawab buat nyelesain, jangan jadi pengeccut Ra"
"Iya gue tau"
"Dan ingat ucapan Tama dia mau tanggung jawab kalau kak Baim nolak lo, jujur gue jadi sedih ngingat dua orang itu hidupnya jadi ancur adul gara gara lo Ra" cela Nashwa
Ara yang tadinya menunduk kini mendongak menatap tajam sahabatnya itu, "Maksud lo gue yang buat mereka gini!"
"Iya lah, coba aja kemaren lo nerima kak Baim dan nggak sok sok an buat pilihan untuk ke Batam pasti kejadiannya nggak gini kan"
Ara mendesah pelan
"Gue bukan mau buat lo jadi tersangka, tapi buat kejadian ini jangan terulang kembali dan gue mohon pilihan lo nanti benar" lanjut Nashwa.
"Gue nyesal Wa" ucapnya dan kembali menangis Nashwa yang pengertian langsung memeluk sahabatnya itu meski hatinya dongkol karena sahabatnya tak mendengar ucapannya tempo hari dan berakibat fatal sekarang namun nasi sudah menjadi bubur dan tak mungkin waktu diputar.
Setelah acara drama nangis dan marah marahan tadi kini dua sejoli itu memilih untuk makan sore yang terlambat di angkringan dekat apartemen Nashwa, dengan beralas sandal jepit dan baju daster mereka keluar dari apartemen. memilih berjalan kaki karena lokasinya yang tak jauh.
Sesampainya di angkringan Ara dan Nashwa duduk selonjoran di atas matras yang diberikan penjual, banyak pembeli yang memilih duduk di bawah seperti mereka.
"Jangan banyak sedih, dimakan tu nasinya" ucap Nashwa sembari memberi sendok dan garpu pada sahabatnya.
Ara menyuap nasi itu kemulutnya walau sebenarnya tak berselera namun ia harus memakannya karena mengingat ia belum makan sejak pagi tadi.
Sesudah makan mereka memilih untuk berkeliling sebentar di sekitaran apartemen.
"Beli es krim dan cokelat dulu yuk Wa" Ajak Ara belum Naswa menjawab pertanyaannya gadis itu sudah menyeretnya menuju ke supermarket terdekat.
Ara mengambil banyak cokelat dan es krim lalu ia membawanya ke meja kasir dan membayarnya.
"Banyak banget yang lo beli?"
"Gue mau balikin mood gue yang hilang"
"Tapi nggak sebanyak ini juga Ra, mau sakit gigi lo"
"Enak aja muncung itu kalau ngomong!"
"Iya maaf"
"Udah deh ayok pulang gue udah nggak sabar mau makan semua ini"
**
Di kota Batam, Tama sedari tadi gusar memikirkan Ara gadis itu tiba-tiba menghilang tanpa memberitahunya. Tama mencari infromasi tentangnya ternyata Ara sudah landing kembali ke kotanya tadi pagi satu jam setelah ia meninggalkan gadis itu seorang diri di hotel tempat mereka semalam.
Jujur kepergian Ara membuatnya sedih, apalgi mengingat ia sudah menoreh luka pada wanita itu.
"Pesankan tiket saya ke Jakarta besok pagi" ucap Tama lewat sambungan telpon
#####
To Be Continue