Berangkat

1030 Words
Pukul sudah menunjukkan jam dua belas siang namun dua orang sahabat itu belum juga ada tanda-tanda akan bangun sampai dengan suara dering ponsel salah satunya menggema di ruang kamar mereka. "Woi kebo! angkat telpon lo tu!!" Pekik Ara dengan matanya masih tertutup Naswha menggapai ponsel yang ada di nakas samping ranjangnya saat ia genggam ternyata ponsel yang berdering itu bukan miliknya melainkan milik Ara. "HP lo yang bunyi!" ucapnya lalu melempar ponsel itu kesamping tepat dimana Ara berada, setelah ponsel itu di dapatnya Ara dengan sembarang mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama yang tertera disana. "Halo" "Ra, kamu dimana? sudah landing?" Ara pun sontak langsung duduk setelah mendengar suara pria itu. "M-mas B-baim" cicitnya pelan "Iya Ra ini mas, kamu dimana? mas sudah di bandara dari tadi nungguin kamu" Nashwa yang tadi tertidur pun kini ikut duduk mendengar pergelutan batin sahabatnya itu ia tau Ara sedang gelisah karena ketahuan bohong oleh pacarnya. bahkan di wajahnya tampak bahwa ia sedang meminta tolong padanya untuk membantunya berbohong lagi, Nashwa bersikap acuh ia tak ingin membuat Ara membuat kebohongan lain lagi. Bukan ia tak sayang dengan sahabat nya itu malah ia sangat peduli karen aitu ia memilih untuk diam. "Ra.." Panggil Baim lagi karena pacarnya tak ada respon "Mas maaf, Ara sudah landing kemarin dan nggak sempat beritahu mas karena ada masalah darurat" ucapnya gugup, seprai yang didekatnya bahkan kini sudah tak serapi tadi karena ia ruwet ruwet. "Oh.." Ara semakin tak enak hati, apalagi ia tau jika Baim marah pasti ia hanya menjawabnya dengan singkat. "Mas maaf ya, maaf banget" "Hm, iya" "Mas marah ya? iya Ara emang pantes dimarahin" "Nggak, yaudah mas mau pulang ke kantor masih ada meeting" ucapnya lalu mematikan panggilan secara sepihak. Ara menatap ponselnya nanar. "Kak Baim marah ya Ra?" Tanya Nashwa. Ara mengangguk, "Gimana ni Wa, Mas Baim marah ni sama gue" "Lo emang pantes si buat dimarahin" "b*****t lo ya jadi sahabat, sudah tau sahabatnya lagi galau bukannya dihibur ini malah buat gue nambah sedih" "He! gue bukan wanita penghibur ya, maaf!" celanya "Bantu gue kek, sedih nih" "Masalah yang buat lo jadi cari sendiri" ucap Naswa kesal, jujur ia sebenarnya tak tega dengan teman satunya itu namun Ara perlu dapat hukuman dengan apa yang sudah ia perbuat agar jera dan tak terulang kembali. *** Pesawat yang Tama naiki kini sudah landing pukul 1 siang, ia dijemput oleh adik sepupunya di bandara. "Bang tumben ke Jakarta dadakan" ucap remaja delapan belas tahun itu sembari membantu Tama membawa kopernya. "Iya ada kerjaan disini" jawabnya bohong karena sangat tak mungkin jika ia berucap jujur tentang alasannya datang ke kota kelahirannya. "Oh, abang mau aku antar kemana?" "Ke hotel aja, kamu kenapa jemput abang ? dan tau darimana abang ke jakarta?" "Dari Bude" Tama menggeleng, mamanya benar-benar lemes padahal sebelum berangkat tadi ia sudah bilang untuk tidak memberitahu keluarga yang ada disana saat ia ke Jakarta karena tak ingin ngerepotkan toh ia ke Jakarta bukan sekedar liburan melainkan mencari gadis yang sudah ia rubah menjadi wanita dalam satu malam dan ia datang karena ingin mempertanggung jawabkan hal itu. Tama dan adik sepupunya yang bernama Tio itu kini dalam perjalanan menuju Hotel yang sebenarnya sudah Tama reservasi sebelumnya saat ia sedang di pesawat. "Gimana kuliah kamu Tio?" "Baik bang" "Kamu ambil jurusan apa?" "Administrasi perkantoran bang" Jawab Tio sembari menyetir mobilnya. Tak lama mobil yang membawa mereka sudah sampai di salah satu hotel terbesar dikota Jakarta, Tio tak mampir ia hanya membantu Tama membawa barangnya dan setelahnya pamit pulang tak lupa memberikan kunci mobilnya pada Tama karena selama di Jakarta Tama akan memakai mobil tersebut, mobil itu adalah milik Tama namun saat ia sedang tak ada di Jakarta mobil itu ia berikan pada keluarga Tio untuk mereka gunakan. Tama memilih untuk beristirahat sejenak dulu sebelum ia memutuskan untuk mencari wanitanya, karena ia juga butuh tenaga untuk melakukan hal itu. Awalnya ia hanya sekedar ingin istirahat dua puluh menit tapi ternyata memakan waktu lebih lama, saat terbangun kepalanya tentu saja pusing sebab belum makan sejak pagi tadi. Dengan pakaian yang sama ia turun dari kamarnya menuju ke restoran hotel yang letaknya ada di lantai teratas. Restoran yang dituju ternyata sedang ramai dengan orang, tentu saja sebab hari ini adalah hari minggu waktu libur yang biasanya digunakan banyak orang untuk melepas penat keseharian mereka. Tama yang tak suka dengan keramaian memilih untuk duduk di pojok ruangan, menurutnya itu lebih nyaman dibanding harus berbaur dengan banyak orang. Sembari menunggu makanannya yang belum datang ia dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang sedang menggandeng pria lain, dan yang lebh parahnya wanita itu yang sedang ia cari. Permainan Takdir emang sungguh indah dan tak tertebak. Wanita yang rencananya akan ia cari selepas makan kini lebih dulu menongolkan dirinya di depan Tama. Wajah sumringah wanita itu langsung lenyap kala ia dan Tama saling berkontak mata. "Kamu kenapa?" Tanya pria yang ada disamping wanita itu. Ara yang tersadar langsung merubah raut mimik wajahnya. "Nggak, aku nggak papa kok mas" jawabnya lalu menggandeng Baim dan membawanya ke tempat dimana tadi ia pesan. 'Kenapa dia ada disini?' gumam Ara pelan "Ada apa sayang? hm" Tanya Baim lembut sembari menggenggam tangan Ara, Ara yang terkejut hampir saja menolak pegangan tangannya. "Maaf mas, aku terkejut tadi" "Kamu kenapa? ada masalah?" Tanya Baim khawatir "Aku kepikiran bagaimana aku nantinya kalau harus terpisah dengan kamu" ucap Ara tulus dari lubuk hatinya. Baim mengecup punggung tangan Ara mesra. "Mas sayang sama kamu, dan janji nggak akan ninggalin kamu kecuali kamu yang minta mas untuk pergi" Ara bungkam, ia tau ia sudah buat kesalahan yang fatal dan mungkin nanti Baim akan memilih untuk meninggalkannya bahkan ia tak perlu mengusirnya. "Jangan dipikirkan hal yang tak patut dipikirkan, yang postif aja ya" tambah Baik dan lagi-lagi ia mengecup punggung tangan orang terkasihnya. 'Maaf mas' gumam Ara dalam hatinya Tama yang merasa panas langsung meninggalkan tempat, rasa laparnya seolah lenyap hanya melihat Ara menggandeng pria lain. Mungkinkah ia cemburu? tapi kenapa? mereka baru saja ketemu setelah sepuluh tahun berpisah, apa hanya karena malam itu perasaan itu muncul? Tama menggeleng cepat, "Aku nggak cemburu, aku kesini hanya ingin tau apa dia mengandung anak aku atau nggak! selebih itu aku nggak peduli" ucapnya tegas dan penuh penekanan. To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD