Seorang laki-laki dengan kemeja rapi berwajah datar itu tengah menatap jalanan di depannya. Laki-laki yang biasanya memakai snelli itu sedang berjongkok di dekat trotoar sambil menekan kapas yang ditetesi betadine ke wajah seorang laki-laki lain dengan kaos hitam di depannya. Pipi sebelah kirinya lebam dan sedikit menampakkan sedikit darah tipis. Tulang pipinya untung tidak geser, atau setidaknya rahangnya tidak sampai lepas dari tempatnya.
"s**t! Pelan-pelan kek," gerutu laki-laki dengan kaos hitam yang kini hanya bisa mengerang sakit karena merasa pipinya begitu perih terkena cairan merah agak kecoklatan itu.
Arham yang kini masih setia mengobati Banyu, hanya bisa diam tak menggubris ucapan laki-laki yang lebih muda darinya itu. Mereka berdua sedang duduk disamping warung tenda mi ayam, tepatnya warung mi ayam Pak Amat. Sebagai TKP aksi Arham yang memukul Banyu sampai laki-laki itu terjerembab di sana. Namun anehnya, Arham lah yang sekarang mengobati luka lebam di wajah Banyu.
Mungkin sedikit aneh mengenai kejadian ini. Mana ada, orang yang baru saja menonjok. Malah membantu orang yang ditonjok. Dibandingkan dalam film sekalipun, juga tidak ada! Mungkin hanya Arham yang bisa melakukan itu. Biasanya mereka akan berjalan menjauh dan meninggalkan orang yang ditonjok sendirian. Dan itu aneh! Fasha pikir juga begitu.
Sekarang yang Fasha lakukan adalah, duduk sambil minum jus mangga di jok mobil Arham. Ia tak mau ikut campur urusan laki-laki walaupun itu memang menyangkut dirinya. Tapi apa yang Arham lakukan tidak sepenuhnya salah. Karena tidak ada laki-laki yang rela jika calon istrinya masih diganggu mantan pacarnya.
Arham sedikit berjalan menjauh untuk menuju tempat sampah. Ia hendak membuang kapas yang tadi ia gunakan untuk mengobati Banyu. Sedangkan Banyu? Dia hanya mengerang sakit karena tulang pipinya sedang lebam dan rasanya kaku serta perih. Ia tak akan menyangka jika Arham ternyata galak juga. Bahkan dokter itu langsung menonjok dirinya tanpa sepatah katapun. Sebegitu sukanya kah sang dokter pada Fasha? Atau itu hanya sebagai bentuk pembelaan saja?
"Calon suami kamu aneh, Sha. Dia yang nonjok, dia juga yang ngobatin. Biasanya kan, kalau pas adegan itu di film-film. Kamu yang harusnya ngobatin aku," lirih Banyu sambil melirik Fasha yang ada di dalam mobil tapi pintunya terbuka.
Fasha menoleh sejenak, "itulah yang bikin Pak dokter kelihatan lebih baik dari kamu. Bahkan sama orang yang dibenci dia sekalipun, dia masih bisa berbuat baik." Sombong Fasha sambil lirik kanan-kiri. Kalau sampai Arham dengar, bisa besar kepalanya. Bagaimanapun juga, dia masih dalam acara marah.
Arham kembali ke arah mobilnya yang sudah diisi Fasha. Wajahnya masih datar seperti biasanya. Bukankah Arham memang jago dalam hal tanpa ekspresi. Ia menatap lekat ke arah Banyu dengan tatapan datar. Sedatar saat dia menonjok wajah laki-laki itu. Seperti tidak ada kemarahan atau sejenisnya di matanya. Sulit ditebak dan sulit untuk dipahami apa yang Arham rasakan. Namun tonjokkan Arham nampaknya memang sangat ampuh.
Arham kembali berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Banyu. "Ini peringatan terakhir. Jangan dekati Fasha lagi," ucap Arham dingin masih dengan kabut emosi tak tampak. Namun, dari caranya bicara saja sudah terasa mengintimidasi.
"Kalau lo nolongin gue cuma buat ngancem. Mending lo tadi nggak usah nolongin gue sekalian," ketus Banyu yang mulai berdiri dengan wajah yang sok sangarnya. Padahal nyalinya sudah ciut. Takut Arham akan menonjoknya dua kali dalam sehari. Ah, setelah itu bisa-bisa rahangnya miring seperti orang kena stroke.
Arham mengeraskan rahangnya. Sebenarnya ia merasa tersulut emosi, tapi ditahannya kuat-kuat. Padahal Fasha juga sudah khawatir dengan hawa diluar sini yang semakin memanas tak jelas.
"Saya membantu anda bukan sebagai laki-laki yang mencintai Fasha. Saya membantu anda karena saya adalah seorang dokter. Dan tugas dokter adalah mengobati orang yang terluka. Apa yang saya lakukan kepada anda itu adalah dua hal yang terpisah. Saya memukul anda sebagai laki-laki yang mencintai Fasha. Saya mengobati anda karena saya adalah dokter. Dan peringatan saya, adalah dua hal yang sama. Saya adalah laki-laki yang mencintai Fasha sekaligus saya adalah seorang dokter," tandas Arham yang masih memasang wajah dingin.
Fasha hanya bisa menatap takjub ke arah Arham. Laki-laki macam kulkas berjalan itu bisa bicara seindah itu? Ah, rasanya Fasha beruntung memiliki calon suami macam Arham. Walaupun terkadang Arham menyebalkan dan selalu tidak paham dengan apa yang ia inginkan.
Arham membuka pintu mobilnya lalu menutup pintunya kasar. Tak lama kemudian mobil itu sudah berjalan meninggalkan Banyu yang hanya bisa memandang dengan pandangan tak jelas. Antara rasa kesal dengan rasa takut.
Sedangkan di dalam mobil itu, tidak terdengar suara sama sekali. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Tepat saat mereka terjebak di lampu merah, Fasha memeluk lengan kiri Arham. Merasakan wangi teh dan melati yang kian menyeruak di sana. Fasha suka wangi ini. Terasa menyejukkan sama halnya dengan berada disamping Arham.
"Kita mau kemana, Pak dokter?" Tanya Fasha yang masih asik memeluk lengan Arham manja.
Arham menghembuskan napas pelan, "ke kampus! Katanya kamu ada jam kuliah," jawab Arham santai.
Fasha membulatkan kedua bola matanya. Memang sih, tadi dirinya ingin masuk kuliah. Tapi saat seperti ini, rasanya dia tak ingin masuk kuliah. Bukankah kebersamaan mereka rasanya mahal sekali ya? Fasha menggeleng keras. Tak mau!
"Nggak mau berangkat kuliah. Fasha masih mau kaya gini sama Pak dokter," ucap Fasha memelas. Jujur, ia masih ingin bermanja-manja dengan Arham.
Arham mengerutkan keningnya tak percaya, "kuliah! Saya nggak mau masa depan kamu suram. Kalau memang nantinya kamu nggak ingin bekerja, setidaknya kamu pintar untuk mengajari calon anak-anak saya," rasanya pipi Fasha terbakar. Mungkin pipinya sudah dihiasi rona merah karena ucapan Arham itu. Kadang-kadang dokter itu bisa sangat romantis, tapi kadang bisa sangat menyebalkan.
Mobil Arham berhenti tepat di depan bangunan sebuah kampus swasta yang cukup bagus di Jogja. Sebuah gedung dengan gapura besar bertulis FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) nampak menyambut mereka.
"Turun," ketus Arham yang membuat Fasha mendengus sebal. Tapi baik, sekarang kembali lagi menjadi manusia es. Dasar tidak punya pendirian.
Tanpa aba-aba, mobil Arham sudah melaju tepat setelah Fasha turun dari mobilnya. Belum sempat Fasha bilang hati-hati atau belum bilang yang lain. Dan Arham sudah kabur!
"Dasar cowok kurang ajar!" Ketus Fasha yang dengan terpaksa berjalan ke arah kampusnya.
---oOo---
Sore ini Arham sedang berada di rumah orang tuanya. Sudah beberapa hari dirinya tidak berkunjung karena banyak urusan di rumah sakit dan mengharuskan dirinya untuk tinggal di rumah barunya. Arham meletakkan snelli miliknya di atas sofa rumah dengan gaya rumah Jawa asli itu. Sesekali ia meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terlalu lama berada di ruang operasi.
Seorang laki-laki berbadan tegap dengan kulit kecoklatan mungkin mendekati gosong berjalan kearahnya. Arham yang sedang santai buru-buru menatap kakak iparnya itu.
"Mas Erdit, kapan balik dari Papua?" Tanya Arham yang antusias sambil menyalami kakak iparnya itu.
Laki-laki yang dipanggil Erdit itu hanya tertawa kecil, "baru dua hari yang lalu. Terus baru bisa datang sekarang, Ham. Katanya kamu mau nikah, ya? Mbakmu yang bilang," tanya Erdit dengan senyum manis.
Arham mendengus sebal. Sudah pasti kakak perempuannya itu ember bocor. Untung hanya bilang pada kakak iparnya. Kok masih sempat-sempatnya Sekar bilang pada Erdit yang baru pulang dari Papua. Arham masih pusing karena sebentar lagi dia memang segera akan menikah. Hanya tinggal menunggu hari. Apalagi persiapan sudah benar-benar matang. Hanya tinggal memikirkan catering dan undangan tinggal sebar saja.
"Jangan dibikin pusing lah, Ham. Kalau memang sudah jodoh, mau bagaimana juga pasti di pertemukan," ucap Erdit sambil menepuk pelan bahu Arham pelan.
Dia memang sedang dalam fase yang berat kali ini. Sebenarnya Arham hanya ingin di dengarkan bukan diceramahi. Toh, dia juga sudah pasrah dengan keputusan orang tuanya yang ingin dirinya dan Fasha menikah. Lagipula Fasha bukan perempuan nakal atau perempuan yang suka menyakiti hati laki-laki. Tapi terkadang dia juga merasa was-was karena Fasha itu cantik dan pasti banyak laki-laki yang jatuh cinta padanya. Buktinya, Banyu yang sudah jadi mantan saja. Masih sibuk mengejar Fasha.
Arham menghela napas kasar, pandangannya seakan sibuk menerawang. "Aku cuma takut suatu saat nanti dia akan berpaling dari aku, Mas. Dia masih muda dan banyak laki-laki yang akan mengejarnya." Hanya itu yang sebenarnya Arham risaukan selama ini. Karena dia terlalu takut memulai.
Erdit tertawa pelan, laki-laki itu memang kuat. Tapi hanya dari luar saja. Mereka juga bisa merasa dilema atau merasa menjadi orang plin-plan. Bahkan Erdit juga pernah merasa begitu sebelum dia menikah dengan Sekar empat tahun lalu. Mungkin fase bingung akan terjadi pada semua pasangan yang akan menikah. Entah itu atas dasar suka sama suka atau karena dasar tidak suka tapi mau-mau saja alias dijodohkan.
Erdit kembali menepuk pelan pundak Arham, "makanya kamu buat status yang bisa mengikat agar mereka diluar sana tidak bisa melirik calon istrimu itu. Bungkam mulut mereka dengan statusmu. Dulu, ada satu perempuan yang datang ke barak untuk menemui aku. Padahal posisinya aku dan Mbakmu sudah mau menikah." Curhat Erdit yang seakan mengingat-ingat masa lalunya.
Arham yang mulai kepo seakan mendengarkan apa yang ingin kakak iparnya itu ceritakan. Erdit menarik napas panjang dengan sedikit semangat yang tersisa dalam dirinya, "Mbakmu marah sama Mas waktu itu. Dikira Mas suka bawa perempuan ke barak, padahal dia datang bukan Mas yang nyuruh. Jadi, sempet terancam gagal aku jadi kakak iparmu." Ucap Erdit mengenang masa lalunya.
"Mbakmu datang ke barak, langsung ditemuin perempuan itu. Kamu nggak akan nyangka deh waktu itu kalau dia Mbakmu. Pokoknya dia udah kaya preman pasar. Dan kamu tau, apa yang Sekar bilang sama perempuan itu?" Tanya Erdit yang hanya dijawab gelengan oleh Arham.
Ia baru tahu cerita ini dari Erdit. Karena orang rumah tidak ada yang memberi tahunya. Memang waktu pernikahan Sekar, Arham tidak ada di rumah untuk membantu persiapan. Mungkin jika Erdit tak cerita, maka dia tidak akan tahu sampai sekarang. Ah, TNI seperti Erdit saja bisa sampai sedih begitu menceritakan kisah pernikahan dirinya yang hampir gagal. Bagaimana dengan dirinya? Arham makin galau.
"Sekar bilang gini, 'walaupun kamu datang tiap hari buat godain calon suami saya, itu nggak akan merubah apapun. Buktinya, dia milih saya yang nggak ngelakuin apapun dari kamu yang terus-menerus pamer paha di depannya.' gitu," kenang Erdit yang sedikit tertawa diikuti oleh tertawaan dari Arham.
Arham tidak percaya jika Sekar bisa begitu. Ia kira, kakak perempuannya adalah perempuan yang kalem. Ternyata, perempuan jika sudah diusik sadisnya keluar. Apa mungkin Fasha akan begitu ya? Pikir Arham.
"Hah, serius Pak tentara? Pamer paha?" Celetuk seorang perempuan yang langsung duduk disamping Arham.
Kedua laki-laki itu hanya melongo dibuatnya. Darimana datangnya makhluk ini? Tiba-tiba sudah duduk saja di sini. Siapa lagi jika bukan Fasha yang kini menatap serius ke arah Erdit yang hanya bisa garuk-garuk kepala karena bingung akan menjelaskan apa.
"Eh, kayanya Fano nangis deh. Mas masuk dulu ya," alibi Erdit yang langsung masuk ke dalam kamar. Meninggalkan dua manusia yang nampak saling menatap. Dengan Arham yang memijit pelipisnya.
Fasha yang baru datang hanya bisa menatap Arham dari samping. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu karena Arham sibuk dengan pasien-pasiennya. Sejurus kemudian, Arham melirik Fasha yang asik mengambil toples kue di depannya. Perempuan satu ini tidak ada jaim-jaimnya sama sekali. Makan ya tinggal makan! Nggak mau ribet sama sekali.
"Nggak kangen Fasha, Pak dokter?" Tanya Fasha masih dengan memeluk toples kue kering sambil mengedipkan matanya.
Arham hanya menggeleng, "saya lagi capek." Jawab Arham segera menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Sini Fasha pijitin," Fasha memijit tengkuk Arham yang kini hanya bisa pasrah. Mungkin Erdit benar, Arham harus segera mematenkan Fasha sebagai miliknya. Mulai sekarang!
Arham berbalik lalu menatap wajah Fasha. Kedua tangannya memegang tangan Fasha.
"Kita harus cepetan nikah! Nggak mau tau, kalau perlu hari ini." Ucap Arham yang mirip orang kesurupan.
Buset, ini orang kenapa jadi agresif begini. Jangan-jangan karena pak tentara bilang masalah paha kali ya?
Fasha buru-buru melepas genggaman Arham dan segera ngacir ke dalam rumah Arham untuk bertemu Bu Wanti dan Pak Susanto. Sesekali nyapa camer (calon mertua) nggak papa lah ya! Arham hanya bisa melongo melihat Fasha yang sudah menghilang dibalik pintu.
"Tahan iman ya Pak dokter, Fasha emang bikin laki-laki nggak tahan kok!" Ucap Fasha cekikikan dari dalam rumah.
"Najis," ketus Arham yang hanya bisa mendengus sebal. Selalu saja begitu, keromantisan mereka pasti berakhir tidak baik. Semua Gatot alias gagal total.
---oOo---