"Hai, sayang. Kau sudah bangun?" sapa Chris ketika dia berpapasan dengan Lori di dapur apartemennya.
Lori menyunggingkan senyumnya kemudian melangkah maju ke arah Chris yang tengah menikmati sarapannya. "Aku harus pergi sekarang, Chris. I'm sorry."
Chris mendongak, menatap Lori yang sudah berdiri tegak di sampingnya. "Kenapa cepat sekali? Aku masih merindukanmu," protesnya dengan wajah merajuk yang membuatnya terlihat lucu.
Jika saja Lori tak terburu-buru, dia pasti akan menertawakan mimik wajah Chris yang ditekuk seperti itu. "Maaf. Aku benar-benar harus pergi sekarang juga. Aku akan datang lagi nanti malam."
Chris mendesah kecewa. "Ya sudahlah," Ia memberikan senyumnya kepada Lori. "Aku akan menyuruh Mark untuk mengantarmu. Tunggulah sebentar." Ia bangkit dari duduknya, bermaksud untuk mengambil ponselnya untuk menghubungi asistennya itu.
Lori menahan Chris dengan memegang lengan pria itu. "Tidak usah, Chris. Aku pulang dengan kendaraan umum saja."
"Tidak. Kau pergi dengan mobilku, dan kau juga harus pulang dengan mobilku."
Lori menunjukkan tatapan memelasnya ke arah Chris. "Please."
Sebenarnya Lori tak enak hati menolak tawaran baik Chris. Namun, mau bagaimana lagi. Jordan baru saja mengirimkannya pesan kalau lelaki itu akan sampai di apartemennya beberapa menit lagi. Dan jika Mark mengantarnya, pria itu pasti akan mengantarkannya sampai depan pintu apartemennya. Otomatis Jordan dan Mark akan bertemu dan semuanya akan runyam. Jordan akan mengetahui tentang pekerjaannya. Jujur saja, dia merasa takut jika Jordan mengetahui yang sebenarnya. Walau pun dia baru kenal dengan pria itu, dia sudah merasa cocok dengannya. Bila ia di suruh memilih antara Jordan dan Chris, tentu saja dia akan lebih memilih Jordan.
Pada akhirnya, Chris hanya bisa menghela napas panjang dan membiarkan Lori pulang dengan kendaraan umum. Sungguh, dia tak pernah bisa menolak permintaan wanita yang menjadi satu-satunya wanita yang tidur dengannya semenjak dia mengenalnya. Jujur saja, semenjak dia mengenal Lori, dia tak pernah lagi berhubungan badan dengan wanita mana pun kecuali Lori. Entahlah, rasanya aneh ketika dia tidur dengan wanita lain. Dia merasa seperti sedang melakukan perselingkuhan walau sesungguhnya dia tak memiliki hubungan khusus dengan Lori.
•••••
"Maaf menunggu lama," ucap Lori tak enak hati begitu dia menemukan Jordan yang sudah berada di depan apartemennya.
Jordan tersenyum. "Tidak apa. Aku juga baru sampai."
"Ayo masuk," ajak Lori sesaat setelah pintu apartemennya terbuka.
"Kau darimana?" tanya Jordan seraya mengambil duduk di kursi ruang tamu sambil membuka jaketnya dan hanya menyisakan kaus hitam berlengan pendek yang mencetak jelas tubuh bagian atasnya.
"Aku baru saja mencari sarapan di luar," jawab Lori berbohong seraya berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman yang akan ia berikan kepada Jordan. Dia belum siap jujur untuk saat ini. Dia masih ingin menikmati masa pendekatannya dengan calon suaminya itu.
Lori kembali dengan segelas kopi instan panas yang baru saja ia seduh yang kemudian ia letakkan di atas meja. "Ada perlu apa datang kemari?" tanyanya seraya mengambil duduk di hadapan Jordan.
"Tadinya aku ingin mengajakmu mencari sarapan bersama," jawab Jordan seraya mengedikkan kedua bahunya. "Tetapi kau sudah lebih dulu mencarinya. Ternyata aku terlambat," kekehnya.
"Uhm... kalau kau mau, aku bisa menemanimu."
"Benarkah?"
Lori mengangguk mantap. "Aku masih punya waktu luang sampai jam 10 nanti."
Jordan mengambil gelas yang berisikan kopi kemudian meminumnya sedikit demi sedikit. Setelah selesai, dia kembali meletakkan gelas tersebut di tempatnya semula lantas kembali memusatkan pandangannya pada wanita cantik yang berada di hadapannya. "Kau ingin pergi kemana memangnya jam 10 nanti?"
"Aku bekerja."
"Kau bekerja dimana? Dari awal kita bertemu, aku juga belum tahu pekerjaanmu apa."
"Aku bekerja di kafe, sebagai pelayan."
Dan sebagai pelayan bar juga p*****r, tambahnya dalam hati. Beruntung dia masih punya pekerjaan baik yang bisa ia ceritakan kepada Jordan jika pria itu bertanya.
Jordan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bangkit berdiri lantas berkata, "sebaiknya kita pergi sekarang sebelum kedai sarapan ramai."
Lori mengangguk kemudian mengikuti Jordan yang sudah mendahuluinya keluar dari apartemennya. Setelah mengunci pintu apartemennya, mereka berdua bergegas untuk turun ke bawah dan berburu sarapan.
"Kau ingin mengambil mobil?" tanya Lori ketika mereka sudah berada di lift dan ia melihat Jordan yang menekan tombol lantai paling bawah sebagai tujuan mereka. Dan lantai paling bawah yang berada di gedung apartemennya itu merupakan tempat parkir.
"Kenapa?"
"Sebaiknya kita jalan saja," ucap Lori sembari menekan tombol lift untuk mengganti lantai yang menjadi tujuan mereka. "Biaya parkir di negara ini sangat mahal kalau kau lupa. Kita akan menghabiskan banyak uang hanya untuk sarapan. Lagipula di dekat apartemenku ada kedai sarapan yang menurutku enak."
Jordan mengangguk seraya tersenyum. Apa yang di katakan Lori ada benarnya. "Aku ikut saja."
Sesampainya di lantai dasar apartemennya, Lori langsung mengajak Jordan berjalan menuju kedai sarapan yang ia rekomendasikan kepada pria itu. Langkah Lori tampak begitu semangat alih-alih lemas. Padahal dia hanya tidur sebentar malam tadi. Dia juga belum sarapan dan tadi malam, dia hanya memakan cemilan ketika Jordan mengunjungi apartemennya secara tiba-tiba. Setelah itu, tak ada makanan apa pun yang masuk ke dalam perutnya. Entahlah, ketika dia sedang bersama Jordan, rasa lapar, mengantuk dan lain-lainnya menghilang begitu saja.
Lori menghentikan langkahnya ketika merasakan kehangatan yang menjalar di sekitar tangan kirinya. Ketika ia menoleh ke samping, ia mendapati Jordan yang berjalan di sisinya sembari menggenggam erat tangannya.
"Kau berjalan cepat sekali dan melupakanku," ucap Jordan dengan nada kesalnya.
Lori meringis pelan. "Maaf."
Setelah berjalan selama beberapa menit dengan keadaan hening dan tangan yang saling menggenggam, mereka berdua berhenti sebentar untuk menyebrang karena letak kedai yang di katakan Lori berada di seberang jalan.
"Kau ingin pesan apa?" tanya Jordan setelah mereka mengambil duduk di salah satu meja di kedai tersebut.
"Aku sudah sarapan tadi."
"Benar kau tidak ingin memesan apa pun? Minuman?"
Lori mendesah pelan kemudian mengedikkan kedua bahunya. "Minuman saja," ucapnya pada akhirnya. Setidaknya dia harus mengisi perutnya walau hanya berupa minuman. Mungkin saja hari ini akan menjadi hari yang panjang.
Jordan menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia memanggil pelayan dan langsung menyebutkan pesanannya setelah seorang pelayan di kedai itu menghampiri meja mereka.
"Kau tidak bekerja?" tanya Lori setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka sudah kembali ke belakang.
"Tidak. Aku mengambil cuti sampai kita menikah nanti. Lagipula, aku sudah menyelesaikan satu proyek besar di luar negeri. Maka dari itu, aku di beri cuti dengan waktu yang cukup lama oleh perusahaan."
"Enak sekali."
"Aku ini arsitek kebanggan yang di miliki perusahaanku kalau kau ingin tahu," ucap Jordan dengan bangganya yang membuat Lori mengeluarkan tawanya.
"Sayangnya meminta cuti di tempatku bekerja sangat susah. Mereka langsung memotong gajiku begitu banyak. Untung saja pernikahan mendadak kita sudah ada yang mengurus," ucap Lori seraya mendesah pelan.
"Dan sebaiknya setelah ini kau tidak usah bekerja lagi. Aku masih sanggup untuk menghidupimu," balas Jordan seraya memberikan senyumnya kepada seorang pelayan yang mengantar pesanan mereka. Begitu juga dengan Lori yang ikut melemparkan senyumnya kepada sang pelayan.
Lori diam sejenak, memikirkan perkataan Jordan barusan. Dia sangat ingin berhenti dari pekerjaan malam itu. Tetapi, dia tak tahu setelah ini akan membiayai pengobatan ibunya yang sedang di rawat di rumah sakit jiwa dan membiayai adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dengan apa. Tak mungkin dia meminta uang yang begitu banyak kepada Jordan setiap bulannya. Dan gajinya sebagai pelayan kafe hanya cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya selama sebulan. Pemilik kafe tempatnya bekerja sangat pelit. Sialnya, hanya kafe itu yang mau menerimanya.
"Hey! Kenapa diam?" tegur Jordan yang langsung membuat Lori tersadar dari lamunannya. "Perkataanku barusan tidak usah terlalu di pikirkan. Aku tidak akan mengekangmu setelah kita menikah nanti. Kau tetap boleh bekerja, tetapi usahakan untuk selalu menyisihkan waktumu untukku."
Lori menghela napas panjang sebelum menganggukkan kepalanya. Detik itu pula dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan malamnya. Dia tak ingin mengkhianati pernikahannya nanti. Dan malam ini juga, Lori akan langsung mengatakannya kepada Rosita. Dia ingin cepat berhenti sebelum Jordan mengetahui semuanya. Urusan ibu dan adiknya, akan ia pikirkan nanti.
"Ah iya, tadi malam kau pulang jam berapa?" tanya Jordan di sela-sela sarapannya.
Lori tampak mengerutkan keningnya bingung, namun setelah itu, dia teringat kalau tadi malam dia bertemu dengan Jordan saat ingin mengunjungi Rosita. "Setelah selesai berbicara dengan Rosita, aku langsung pulang," bohongnya.
"Memangnya apa yang kalian bicarakan sampai kau harus datang ke tempat itu."
Lori mengambil gelas yang berisi minuman yang ia pesan tadi lantas meminumannya dengan perlahan. Dia tampak gugup. Pasalnya, selama ini dia jarang sekali berbohong. Dan ketika bersama Jordan, dia seolah-olah sudah menjadi pembohong profesional. "Kami hanya membicarakan soal gaun pernikahan yang akan aku gunakan nanti," bohongnya lagi.
Jordan tampak mengangguk-anggukkan kepalanya seraya memasukkan sarapannya ke dalam mulutnya yang sudah kosong. "Bagaimana hasilnya? Kau sudah mendapatkan yang cocok untukmu?"
Lori menggeleng. "Belum. Aku tidak tahu model seperti apa yang cocok untukku," dan setelah mengatakan itu, Lori merutuki dirinya sendiri. Begitulah kalau dari awal kita sudah berbohong. Maka, seterusnya kita akan sibuk untuk memikirkan kebohongan lainnya agar kebohongan yang kita buat tak terbongkar.
"Mungkin besok kita bisa pergi ke butik untuk mencarinya. Aku juga belum menemukan pakaian yang cocok untukku. Kau bisa cuti? Hanya satu hari saja."
Lori tampak berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya, mengiyakan ajakan Jordan. Dan semoga saja, besok ia sudah tak lagi membohongi pria itu karena malam ini juga ia akan berhenti dari pekerjaan malamnya.