Seperti biasa satpam membukakan pintu mobil dan melihat Marel keluar dari mobil menggunakan Kaca mata hitam.
Berdiri dengan tegap dan berlaku seperti seseorang yang bisa melihat seperti arahan Mr Park. Satpam yang melihat tampak sedikit terkejut tapi mereka cukup heran dengan CEO mereka ini. Mereka hampir tak berani bicara karena aura wibawa yang dibawa oleh Marel tetap sama.
Rupanya Mr Park sudah menghafal seluk beluk perusahaan ini dan memberitahu Marel sebelum mereka sampai di perusahaan.
Saat satpam membuka pintu, sepuluh langkah ke kanan, kamu akan menemui resepsionis, menyapalah seperti biasa ke arah jam dua, kemudian setelah itu berjalan lurus sekitar dua puluh lima langkah untuk sampai di depan lift. Mintalah asisten untuk menekan tombol lift, setelah itu langsung saja untuk pergi ke kantormu sendiri. Instruksi ini diingat jelas oleh Marel dan dia melakukannya dengan begitu lihai.
Semua orang yang melihatnya saat itu, sangat terkejut,
"Apa yang terjadi? ini tidak mungkin!" kata salah seorang resepsionis.
"Aku masih tidak percaya, CEO kita tidak ada perubahan, bahkan tanpa tongkat dia berjalan dengan begitu lancar," ucap beberapa orang yang duduk di sofa loby.
Semua satpam hampir berbisik.
"Apakah sebenarnya Pak Marel tidak buta?aku heran, tidak mungkin orang buta akan seperti itu," semua satpam terlihat menggelengkan kepala.
Karyawan diatas tepat disekitar ruangan milik Marel, jika biasanya mereka tanpa di perintah akan berdiri dan menyambut Marel. Namun, kali ini mereka cukup santai bahkan berani tetap ditempatnya tanpa berdiri sama sekali, saat melihat Marel keluar dari lift.
Mr Park, terkejut melihat keadaan kantor yang tidak ada rasa hormat terhadap seorang pemimpin.
"Lihat, dia datang!"
"Iya, CEO buta itu datang!"
"Dia tidak akan tahu, jika kita duduk, dan orang-prang disebelahnya pun. tidak akan berani membeirtahukan hal ini kepadanya,"
Setiap kalimat yang terucap benar-benar membuat Marel benar-benar naik darah. Dengan kaca mata hitamnya Marel membentak dengan suara keras.
"Siapa yang bilang aku tidak bisa melihat kalian duduk? Siapa yang bilang kalian bisa seenaknya disini! Jika memang kalian sudah bosan untuk bekerja di kantor ini, pintu keluar sangat terbuka untuk kalian!"
Seorang manager benar-benar menyepelekan keadaan ini dengan menyeduh kopi hangat di dekat dispenser, Marel mendengarnya dan Mr Park memberitahukan siapa yang sedang menyeduh kopi.
"Dia seorang manager," Mr Park langsung paham yang dimaksud Marel saat sedikit menoleh memberi kode.
"Pak Joan, apa aku harus melayangkan surat pemecatanmu hari ini juga?mungkin dengan cara itu, kamu akan selalu membuat kopi di jam kerja," kali ini semua karyawan terkejut.
"Bagaimana dia tahu, itu Pak Joan?Tidak ini tidak mungkin!"
Tiba-tiba seorang karyawati melewati Marel yang sedang berdiri tanpa menyapa.
"Haruskah seorang sekretaris tidak memberikan rasa hormat terhadap atasanya?" Marel hafal dengan ketukan sepatu Susi sekretarisnya yang seksi itu.
Susi berhenti,
Dengan terkejut Susi menyingkir dan berdiri membungkuk.
"Kalian mengira akan ada perbedaan jika aku buta atau tidak? Semua akan berjalan sama saja, tidak akan ada yang berubah. Aku tetap bisa melihat perilaku kalian,"
Marel berjalan cepat menuju ruangannya, diikuti Mr Park dan asistennya Piter
Ketika Marel menutup pintu, Marel membuang nafas dan berhenti.
"Mr bisakah tunjukkan padaku dimana mejaku?sepertinya mulai sekarang aku harus membeli headset untukmu dan untukku Mr, karena aku pasti membutuhkan bantuanmu, sewaktu-waktu," Marel membalikkan badan tapi salah arah.
"Berbaliklah 90 derajat kemudian lurus kedepan sepuluh langkah dan kamu akan menemukan mejamu!Headset? Aku sudah membelinya," kata Mr Park yang langsung duduk di sofa.
"Ternyata, kamu sudah mempersiapkan semuanya Mr, Berikan padaku!" Perintah Marel yang baru saja menemukan posisi duduk yang enak.
Mr Park beranjak dari sofa lalu meletakkan headset itu dimeja, Marel tanpa meraba langsung tahu headset itu di letakkan di sebelah mana,
"Piter, bantu aku menyiapkan proposal untuk kompetisi pembuatan banana Coffee!" Marel mulai melakukan misi pencariannya.
"Baik Tuan," Piter menyiapkan Laptopnya dan segera membuat proposal sesuai perintah Marel.
"Kompetisi pembuatan Banana Coffee? Apa kamu masih penasaran dengan minuman itu?" Mr Park mulai penasaran.
"Aku tidak bisa melupakan rasa Banana Coffee yang sangat memikat lidahku itu, rasanya sungguh membuatku tertarik, aku ingin tahu siapa yang menciptakan itu, aku ingin bekerja sama untuk mengganti minumanku yang kemarin terpaksa ditarik karena mengandung zat berbahaya," jelas Marel sambil membayangkan nikmatnya Banana Coffee.
"Kamu memang seorang CEO, lidahmu sangat jeli memilih menu, tapi bukannya Banana Coffee adalah minuman yang sudah terkenal dipasaran?" Tanya Mr Park mulai penasaran.
"Ini bukan Banana Coffee yang dicampur s**u dan buah pisang tapi hanya seperti minum kopi, ketika lidahmu menari ada rasa pisang yang sangat memikat disana, itu sangat berbeda, untuk mencari keseluruh Indonesia, aku pasti akan kesulitan, seperti katamu aku tidak bisa melihat. Jadi mungkin dengan cara seperti ini lidahku akan dengan mudah menemukannya," Marel tersenyum sambil memutar kursi kebesarannya.
Mr Park mulai paham mengapa, Marel dibilang jenius oleh kakeknya, Marel memang CEO yang punya banyak cara dan sangat pandai memutar otak untuk menemukan solusi.
"Ada satu masalah yang harus kamu selesaikan, dewan direksi sudah mengajukan dokumen untuk menurunkan kamu dari jabatan CEO, karena mereka tidak ada yang mau menerima CEO dengan kebutaannya, hari ini mereka masih diruang rapat, apakah kita harus kesana?" Mr Park menyampaikan pesan dari kakek Marel.
"Apakah sudah waktunya?Mr, apakah kamu sudah siap membantuku?" Marel tiba-tiba berdiri dari kursinya.
"Aku akan selalu siap!" jawab Mr Park
Marel dengan penuh percaya diri keluar dari ruang kantor dan melewati banyak karyawan di dampingi Mr Park dan Asistennya Peter, semua karyawan semakin bergunjing dan tidak mampu berpendapat. Tanpa mengetuk pintu, Marel masuk ke ruang rapat sambil tersenyum. Mr Park sudah memberikan aba-aba.
Melangkah kedepan tujuh langkah, balikan badan ke kanan dan tersenyumlah! Mereka sudah ada di depanmu.
Semuanya Dewan direksi terdiam sejenak, mereka menampakkan wajah tidak bersahabat dan hanya Mr Park yang melihatnya.
"Kenapa semua diam?" Marel bertanya dengan tegas.
Semuanya masih diam, wajah mereka tampak cemberut dan sangat tidak menyenangkan.
"Apakah menyingkirkan aku lebih penting dari pada masa depan perusahaan?" Marel sedikit menyimpan emosinya, karena dia sadar hawa tidak menyenangkan menusuk di telinganya.
"Kita tidak akan terima, memiliki CEO yang tidah berguna seperti kamu, tidak bisa melihat, sudah pasti tidak akan pecus mengelola perusahaan," jelas Pak Kerpe yang sangat ingin Marel lengser dari posisinya.
"Pak Kerpe, berkemeja biru dengan dasi kuning tela dan berjas hitam, sedang duduk dengan segelas kopi, " Marel mengutarakan sesuai instruksi dari Mr Park pelan di telinganya.
"Tidak mungkin, apa yang sebenarnya terjadi dengan Marel?" semua orang saling bergunjing.
"Pendapat dari kalian, sekarang tidak penting! Keadaan perusahaan kita sedang sangat genting, apakah mencopotku dari posisi CEO akan membantu kalian untuk menutup kerugian karena minuman yang ditarik?," jelas Marel.
Semua orang mulai berfikir,
"Lalu apa yang bisa kamu lakukan?" tanya salah seorang Dewan direksi.
"Minuman bersoda itu ditarik secara resmi dari pasaran baru empat bulan lagi, karena pasti mereka juga membutuhkan waktu untuk menarik produk kita, tapi mereka sudah mengumumkan sejak kemarin, Itu sudah membuat reputasi perusahaan kita menjadi buruk ini termasuk kerugian yang kita alami, aku punya ide untuk mencari produk baru yang pengolahanya dilihat oleh banyak orang karena itu untuk mengalihkan isu tentang reputasi perusahaan, walaupun tidak bisa menutup kerugian perusahaan secara financial setidaknya kita bisa memperbaiki citra perusahaan, sehingga minuman kita tetap diminati masyarakat," jelas Marel menurut analisanya.
Semua orang setuju dengan pemikiran Marel.
"Bagaimana mungkin, dalam waktu yang singkat kita bisa menciptakan minuman baru, itu Mustahil," ungkap dewan direksi yang lain.
"Iya, itu Mustahil," jawab yang lainnya juga berpendapat.
Marel tersenyum, mendengar hal itu.
"Percayakan semuanya kepadaku dan lupakan niat kalian untuk melengserkan aku dari posisi CEO!Jika kalian tetap dengan pendirian kalian, maka aku akan dengan senang hati, menyimpan rapat-rapat ide di dalam kepalaku, setelah itu, kalian akan mendapatkan kerugian besar dalam waktu dekat," Marel mulai bernegosisasi.
Mr Park cukup tersenyum mendengar cara Marel mempertahankan dirinya di perusahaan. Anak ini memang cerdas! Puji Mr Park.
Setelah mereka berunding,
"Jika rencanamu berhasil menyelamatkan perusahaan, maka kami tidak akan melengserkan kamu sebagai seorang CEO perusahaan ini, tapi jika tidak, kamu harus siap untuk turun dari jabatanmu!" Salah satu Dewan Direksi memberikan pertimbangannya.
"Baiklah, aku menerima tantangan itu!" Marel membungkukkan badan kemudian keluar dari ruangan itu.
Semua Dewan direksi di buat bengong seketika karena Marel bisa berjalan dengan begitu lancar tanpa menggunakan tongkat.
***
Proposal sudah jadi, proposal itu sudah ditanda tangani kakek dan dewan direksi, dalam waktu tiga hari kompetisi itu akhirnya di umumkan melalui siaran televisi, surat kabar dan memasang iklan di media sosial. Marel berharap perhitungannya sama sekali tidak meleset. Kompetisi itu akan di adakan tiga hari kemudian di gedung sebelah Universitas kedokteran. Ternyata, dalam hitungan jam saja, kompetisi itu masuk dalam Trending topik, alhasil pendaftaran secara online sangat full. Telpon perusahaan berdering terus-menerus.
Dan berita itu juga sampai ke telinga Felove.