Marel sampai ke toilet, bajunya dilepas perlahan dan tanpa sengaja. cairan Banana Coffee itu masuk ke mulutnya, karena dia tidak melihat bagian mana yang parah terkena Banana Coffee. Marel sangat terkejut ketika merasakan sedikit banana Coffee tersebut.
"Tunggu! Banana Coffee ini rasanya begitu unik, tidak mungkin, ini tidak ada campuran s**u dan pisang. teksturnya tidak kental, tapi bagaimana bisa kopi ini ada rasa pisang?Apakah minuman ini memakai ektrak dari pisang untuk membuat kopi ini?" Marel mempercepat ganti bajunya.
Dengan perlahan dia menemui Mr Park,
"Bruk!" Marel menabrak Mr Park dari belakang.
"Apa kamu tidak bisa lebih berhati-hati?" Mr Park berbalik.
"Dimana wanita itu Mr? Apakah dia seorang penjual, atau baru saja membeli banana Coffee?" Marel tampak tergesa-gesa.
"Aku tidak tahu, mengapa kamu jadi memikirkan wanita itu?" Mr Park sedikit heran.
"Ini aneh, tapi banana coffee itu lain dari yang lain, aku harus bertemu dengan wanita itu!" Marel terlihat bersih keras.
Ketika Marel berjalan, Mr Park menarik kerah belakangnya.
"Jangan berbuat yang macam-macam, kamu saja tidak meminum Banana Coffee itu, mana mungkin kamu bisa menilainya!" Mr Park msih heran.
"Tapi Mr--"
"Sudah, pikirkan pelatihan ini dulu, jauh lebih penting! Masih banyak yang harus kamu pelajari, lagian belum tentu kamu bisa menemukan wanita itu, kamu saja tidak bisa melihat!" Mr Park merangkul dengan erat Marel dan membawanya untuk berjalan ke depan.
Marel akhirnya menurut, Betul juga kata Mr Park, aku adalah seorang pria buta, lalu bagaimana caranya aku bertemu dengan wanita itu?
***
"Kenapa aku jadi begitu kesal, pria itu benar-benar membuatku rugi! Sikutku terluka, minumanku tumpah semua, bajuku kotor!Sudah begitu, mau melecehkan aku juga, Pria itu sangat tidak waras,"Felove ngomong sendiri sampai di depan Carla yang baru saja selesai melayani pembeli.
"Kak, apa yang terjadi? Kamu terlihat kesal!" Carla penasaran.
"Aku baru saja bertemu seorang pria, kesan pertama dia terlihat begitu tampan, tapi kesan keduaku dia adalah pria m***m, sudah begitu dia menabrakku tadi sampai tumpah semua, badanku jadi lengket, Carla bantu aku membuatkan pesanan pelanggan dan antarkan kesana! Aku harus membersihkan diri ke kamar mandi!"jelas Felove sambil berjalan kebelakang menuju ke kamar mandi.
"Baik kak, Memangnya siapa pria itu?tampan tapi m***m? Setahuku orang m***m tidak ada yang tampan, kenapa aku memikirkan hal ini? Ah sudahlah!" Carla mulai membuat pesanan pelanggan tadi yang tumpah, kemudian bergegas untuk mengantarkannya.
Beberapa menit kemudian, Carla kembali ke Outlet. Carla melihat Felove sudah melayani banyak pembeli, lalu ikut membantunya.
"Terimakasih, kak,"
Akhirnya selesai tugas mereka karena Banana Coffee seperti biasa ludes terjual.
"Aku sebenarnya penasaran kak, siapa pria yang kamu bilang tampan tapi m***m itu?Setahuku, orang m***m tidak ada yang tampan," tanya Carla sedikit dengan pendapatnya.
"Aku tidak kenal siapa dia, dia menumpahkan semua pesanan pembeli tadi, setelah dia memegang pinggulku, aku langsung pergi begitu saja," jelas Felove masih sedikit kesal.
"Kakak pergi begitu saja, tanpa meminta ganti rugi?" Carla sedikit terkejut.
"Ahh, iya kenapa aku tidak minta ganti rugi, ya? Aku memikirkan pelanggan, jika terlambat memberikan pesanan itu, pelanggan pasti akan lebih kesal dan marah-marah, makanya tadi aku langsung pergi, besok saat bertemu pria itu lagi, aku akan meminta ganti rugi," Felove terlihat sangat menyesal, lalu mulai untuk membereskan outlet.
"Bagaimana cara kakak bertemu dengan pria itu lagi, nomor dan nama saja, aku yakin kakak tidak tahu?" komentar carla sambil membersihkan meja.
"Benar juga ya, La. Bodohnya aku! Ya, sudah ihklaskan saja! Lebih baik kita fokus dengan penjualan," Felove terlihat tidak mau mengambil pusing.
Malam itu juga mereka berdua pulang kerumah masing-masing dan beristirahat sejenak.
***
Malam itu Marel masih memikirkan tentang wanita yang dia temui tadi siang, dia penasaran, wanita itu penjual atau pembeli. Jika pembeli maka Marel harus bertanya dimana minuman itu dibeli tapi jika wanita itu penjual pikir Marel, ada kesempatan untuk mencari tahu rasa dari Banana Coffee.
Kapan aku bisa menemui wanita itu?kenapa aku tidak bisa melihat?aku baru ingat jika pemerintah baru saja meminta untuk menarik minuman bersoda yang kemarin baru saja dipasarkan karena ternyata mengandung zat berbahaya, jika minuman itu ditarik maka kerugian perusahaan juga besar karena sudah ada biaya pemasaran yang di keluarkan, untuk menutup segala kerugian, harus ada minuman pengganti. Nah aku rasa, minuman banana coffee ini sangat cocok untuk menjadi minuman pengganti. Tapi, aku harus mencari dimana? Indonesia itu kan luas? Marel kesal sendiri di dalam kamarnya.
"Baiklah, aku punya cara!" Marel tiba-tiba punya ide.
Keesokan harinya, Marel penuh semangat untuk masuk ke dalam perusahaan. Ini membuat kakeknya heran, karena dari kemarin Marel masih belum siap masuk ke perusahaan tapi pagi ini sudah berdandan rapi untuk masuk ke dalam perusahaan. Walaupun kakeknya memang sudah berencana untuk membuat Marel kembali keperusahaan hari ini tapi itu pun jika Marel tidak menolak.
"Baiklah, jika begitu kakek tidak usah bersusah payah untuk membujukmu masuk ke perusahaan, hanya saja suasana kali ini akan jauh dari prediksi sebelumnya, karena banyak dewan direksi merasa keberatan memiliki CEO yang buta. Untuk itu buktikan kalau Marel masih sama seperti CEO saat sebelum buta, ada dua asisten yang akan mendampingimu di perusahaan, yang satu adalah Piter dan yang satunya adalah Mr Park," jelas kakek.
"Apa aku tidak salah dengar, Mr Park jadi asistenku, kek?" tanya Marel sedikit heran.
"Apakah kamu keberatan Tuan Muda," jawab Mr Park.
"Astaga! Kamu mengagetkanku Mr, aku tidak keberatan, tapi pelatih sekelas Mr memang mau menjadi asistenku?" Marel merasa tidak enak.
"Tuan muda tidak usah khawatir, apapun yang Tuan muda perintahkan, akan saya laksanakan! Hanya saja, saya tetap akan melatih dengan tegas untuk keberhasilan Tuan," Kata Mr Park berbicara dengan sangat sopan.
"Aku tidak setuju, kek. Dia boleh pendamping, tapi tidak untuk menjadi asistenku, aku sangat menghormatinya sebagai pelatih," Marel mulai bertindak bijak.
Kakek tersenyum, heran melihat perubahan Marel yang begitu signifikan.
"Baiklah kalau begitu, terserah kamu saja!" kata kakek terlihat begitu senang.
"Satu hal lagi, aku ingin Mr memanggilku dengan nama, Marel atau kamu atau terserah Mr mau panggil aku dengan sebutan apa, dan berbicaralah seperti biasa aku sedikit geli mendengarkan Mr berbicara formal terhadapku, aku merasa seperti ada sekat diantara kita," Marek sedikit protes.
"Baiklah, aku menurut padamu, Marel. Apakah begini sudah benar?" tanya Mr Park sedikit bercanda.
"Ya, seperti itu juga bisa,"
Kakek tertawa
"Hahahhahahha,"
Anak ini memang sudah berubah, gumam kakek memainkan rambut dijanggutnya yang panjang.
Pagi itu Marel, Mr Park dan asistennya Peter berangkat ke perusahaan, menggunakan mobil pribadinya.
***
Dalam perusahaan tampak riuh karena untuk pertama kali sejak kecelakaan itu Marel belum pernah menampakkan dirinya di perusahaan, karyawan membicarakan Marek yang buta tapi tidak melepas jabatan sebagai CEO.
"Apa yang terjadi dengan perusahaan ini, jika CEO kita buta? bagaimana dengan perusahaan ini? Dia tidak akan bisa memimpin perusahaan tanpa melihat, bagaimana cara dia menyeleksi merk makanan yang layak? melihat saja tidak bisa, jalan juga pasti harus menggunakan tongkat, terlihat memalukan," kata salah seorang manager dibagian produksi.
"Aku juga bingung, mengapa Ketua tidak menggantikan dengan Gedi cucunya yang lain?banyak hal membutuhkan mata, tidak mungkin pemimpin perusahaan dalam keadaan buta?" kata salah seorang manager pemasaran.
"Dia dulu terkenal sangat galak, jika kita berbuat seenaknya di kantor dia juga pasti tidak akan melihatnya, dia tidak akan memeriksa pekerjaan kita lagi, atau bahkan memarahi kita saat minum kopi disaat jam kerja, dia juga tidak akan tahu mana minuman yang basi dan tidak basi, ada untungnya dia buta," Kata salah seorang karyawan produksi.
"Benar juga, katamu!" semua karyawan saling mengiyakan.
Saat Marel akhirnya sampai di depan Perusahaannya.