KENYATAAN

1884 Words
Setelah sang tamu pulang, Rosa pun segera pergi ke kamar putrinya.  Suara isakkan tangis Aini yang mengembang ke seluruh penjuru ruang pun terdengan begitu menyakitkan di telinga Rosa. Untuk sebuah pemandangan yang sudah sangat lama tak pernah wanita itu lihat setelah kematian putri sulungnya. Akirnya hari ini Rosa pun kembali melihat kejatuhan putri bungsunya. Kejatuhan yang selalu membuat Rosa merasa sakit dan sedih. Sebenarnya, bukan hal ini yang Rosa inginkan. Dia membohongi Aini supaya Aini datang ke rumahnya itu hanya ingin memberitau Aini, bahwa keluarga Airlangga itu terus mencari cucunyan. Karena setidaknya  meski keluarga itu pernah bersikap jahat pada Alini dan menyiksa Alini. Tapi mereka juga bagian dari keluarga Alini. Alini telah menikahi putra mereka. Mereka juga punya hak untuk mengasuh anak Alini yang Aini asus. Dan juga, anak itu berhak tau siapa orang tua kandungnya, anak itu berhak tau siapa ayah, dan keluarga ayahnya. Karena selama ini yang anak itu tau dia adalah anak kandung Aini. Setelah kecelakaan itu, setelah Alini meninggal, Aini langsung membawa putra saudara kembarnya itu dan pindah ke luar kota guna menghilangkan jejak. Dia bahkan mengganti nama anak itu. Entah mengapa, wanita itu tak rela bila harus mengembalikan anak itu dan memasukan anak itu lagi ke keluarga yang sudah membunuh Alini. Maka dari itu, dia mengadopsinya, mengangkat anak kembarannya menjadi anaknya tanpa persetujuan dari ayah kandung anak itu yang masih hidup. Mungkin hal tersebut memang terdengar egois, karena Aini mengambil anak orang lain. tapi Aini melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Karena sebelum Alini meninggal, wanita itu meminta Aini untuk menjaga putranya sebagai permintaan terahir. Rosa memeluk tubuh Aini erat sembari mengelus punggungnya penuh kasih. Sebuah cara yang biasanya selalu berhasil untuk menenagkan putrinya dulu bila putrinya sedang sedih. Tapi sepertinya cara itu saat ini tidak ampuh,  karena buktinya tangis Aini bukan mereda namun malah semakin menjadi-jadi. "A.. Aku gak bisa, Bu.. Aku gak bisa..." Ucap Aini di tengah isakkan tangisnya." Aku gak bisa melepaskan anak itu begitu saja..Kak Alini menitipkan anak itu padaku.. Aku.." Kalimat Aini terhenti, wanita itu tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya yang membuat Rosa semakin mengeratkan pelukannya. "Iya sayang.. Ibu mengerti.." Ucap Rosa lembut berusaha menenagkan. **** Raka menoleh ke arah jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 7 malam. Sudah 4 jam tepatnya Raka di rumah Bian dan hingga kini Kelvin pun belum pulang. Ini sangat mengesalkan bagi Raka, padahal tadi Raka sudah me chat Kelvin, memberitau bahwa adiknya sakit. Tapi entah mengapa seperti tidak peduli dengan adiknya, dia hanya me- read pesan Raka dan tak kunjung pulang hingga saat ini. Sebenarnya hal ini agak aneh, biasanya Kelvin itu selalu over perhatian pada Bian. Tapi saat ini kenapa terasa seperti sangat cuek? Apa telah terjadi sesuatu di antara mereka? Raka berfikir sejenak. Kemudian menggelengkan kepalanya. Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hubungan Kelvin dengan Bian, karena saat ini yang terpenting adalah keadaan Bian. Demam Bian dari tadi siang belum juga turun, padahal anak itu sudah meminum obat.  Ah..  Kalau seperti ini ingin sekali rasanya Raka menyeret Bian ke rumah sakit,  tapi saat ini Raka tidak dapat melakukan hal itu karean Bian pasti akan murka nantinya. Raka mengambil benda pipih dari sakunya. Lalu mencari kontak tante Aini. Dia harus memberitau keadaan Bian pada wanita itu. Setidaknya meski tante Aini tidak langsung pulang tapi Raka pasti akan diberitau tindakan apa yang harus dia lakukan untuk merawat Bian. Tapi sebelum niatan Raka terlaksana handeponnya sudah direbut Bian. Dengan mata sayupnya, wajah pucatnya, dan suara lemahnya, Bian pun membuka mulut mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan menyuruh Raka pulang. Tapi Raka tidak bodoh yang akan percaya dengan ucapan Bian yang mengaku bahwa dirinya baik-baik saja. "Nanti kalu bokap lo tau, lo belum pulang dia pasti bakal marah. Gua gak mau lo di pukul lagi gara-gara gua." Lanjut Bian seraya memaksakan tubuh lemahnya bangkit dari tidurnya. Kini ada sorot kesedihan di mata Bian yang membuat Raka merasa bersalah. Raka memang memiliki nasip yang tidak jauh berbeda dengan Bian. Dia memiliki ayah yang kejam yang suka main tangan dan memukul Raka. Tapi meski begitu Raka masih lebih beruntung dari Bian. Karena Setidaknya pria yang menjadi ayah Raka tak pernah berusaha membunuh Raka dan masih memiliki cinta untuk Raka. Tidak seperti ayahnya Bian yang selalu marah tanpa alasan dan menyiksa Bian tanpa ampun. Itulah yang membuat mereka bisa sangat dekat. Karena mereka saling mengerti luka satu sama lain. Melihat Raka yang hanya diam membuat Bian berdecak kesal. Dia benci Raka yang terlalu peduli padanya. "Gua beneran udah gak papa.  Lagian sebentar lagi Kak Kelvin juga bakal pulang." Tutur Bian lagi dan kali ini dia turun dari tempat tidurnya. Raka berusaha melaran tapi Bian tetap batu." Ayo gua anter sampe pintu gerbang." Ajak Bian dan membuat Raka memutar bola matanya. "Jadi ceritanya lo ngusir gua?" Pertanyaan itu membuat Bian tersenyum geli. Kemudian cowo berambut sedikit pirang itu pun mengangguk. "Iya.. gua ngusir lo, kenapa? lo gak suka?" Saut Bian sedikit menantang dan di hadiahkan jitakan pelan oleh Raka. "Dasar sahabat gak tau diuntung. Udah dianterin pulang malah ngusir lagi. Sahabat gak tau diri." Maki Raka kesal. Kemudian matanya menatap Bian dengan seksama. "Lo beneran gak papa kalau gua tinggal?" tanya Raka sangat ragu. Dan bukan Bian kalau dia tak berbohong atas keadaanya. Bian menjawab pertanyaan Raka bahwa dirinya baik-baik saja dan menyuruh Raka untuk tidak kawatir. "Tenang aja, lo gak perlu kawatir kaya gitu, lo gak akan ngeliat bendera kuning di depan rumah gua besok, kok. Lagian gua udah biasa sakit kaya gini. ini cuman penyakit mag sama masuk angin biasa, bukan penyakit serius, jadi penyakit kaya gitu gak akan bikin gua mati." Celetuk Bian santai."Meski lo ninggalin gua sendirian gua akan baik-baik aja." Bian pun mendorong tubuh Raka dari belakang dan menganjak cowo itu untuk keluar dari kamarnya. Meski rasa pusing dan mual itu kembali muncul saat Bian bangkit dari tidunya tadi. Tapi dia berusaha untuk bersikap baik-baik saja. Setidaknya dia harus bisa menahan rasa sakit itu hingga raka sudah pergi dari rumahnya. **** Rumah mewah itu tampak sepi, meski banyak pelayan yang mengisinya tapi saat malam menjelang ruamah itu akan terasa seperti kubura. Untuk sesaat, Davino menatap pintu kamar Oma dan Opa nya yang tertutup rapat. Meski ini baru jam 8 tapi Oma dan Opa nya sudah masuk ke tempat persembunyian mereka. Apa mereka sudah tidur?  Jawabnya tidak. Opa pasti belum tidur dia pasti masih mengerjakan laporannya di dalam sana, dan Oma dia pasti sedang melakukan hobinya membuat switer atau syal rajutan untuk Davino. Ah Opa adalah orang yang sibuk, davino tau itu. Sejak kecil, sejak ayah Davino meninggal karena kecelakaan, Opa memang jadi orang yang paling sibuk di rumah ini. Sebenarnya Opa masih memiliki anak selain ayahnya Davino. Om Adrian anak bungsu keluarga Airlangga dan om Alvaro anak sulung keluarga Airlangga yang memiliki seorang anak lelaki seumuran dengan Davino. Tapi entah mengapa Opa seperti belum bisa percaya dengan mereka berdua dan lebih memilih untuk memegang kendali perusahanya seorang diri. Karena orang yang Opa percaya telah meninggal. Ayah Davino, dia adalah satu-satunya orang yang paling Opa percaya, seorang pria yang tidak lain adalah pewaris utama semua kekayaan keluarga Airlangga. Jadi bukan rahasia lagi kalau samapi sekarnga pun Opa masih memegang kendali perusahaan itu. Alasanya karena Opa ingin mewariskan semua kekayaannya pada anak dari anak kesayanganya. Karena itu Opa selalu bersikap over proktektif pada Davino. Davino memejamkan matanya, sesaat cowo itu menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ada rasa sesak di rongga dadanya yang dia rasakan saat melihat suasana rumah bagai kuburan seperti malam ini. Sebuah rasa kesepian yang muncul setelah keluarganya pergi. Ayah dan bundanya yang telah tiada dan adik kecilnya yang menghilang. Padahal dulu rumah besar ini tak pernah terasa sepi sampai malam. Karena saat itu, ada bunda yang selalu sibuk di dapur, ada ayah dengan tv besarnya di ruang keluarga, dan ada kembaran Davino yang setia menghabiskan waktunya untuk bermain di ruang keluarga bersama Davino Atau sekedar mengganggu ayahnya yang sedang asik menonton pertandingan bola. Dulu rumah mewah ini tampak hanggat saat mereka masih ada. Namun sekarang rumah ini bagai kan penjara bagi Davino yang terasa begitu dingin di setiap harinya. Sesuatu yang selalu menyiksa Davino. Davino melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menujuh lantai dua. Hingga kakinya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu dan Davino masuk ke dalamnya. Ruangan yang masih sama meski sudah di tinggal lama oleh pemiliknya. Itu adalah kamar ayah dan bundanya. Dulu setelah bunda dan adiknya menghilang Davino selalu tidur di sini bersama ayahnya. Karena setelah kehilangan dua orang yang Davino sayang, Anak itu jadi susah tidur. Tapi saat dia tidur di kamar ini bersama Sang Ayah, dia akan tertidur pulas sekali. Karena saat tidur di kamar ayahnya Davino dapat merasakan aroma tubuh bundanya. Davino membaringkan tubuhnya ke kasur emupuk milik kedua orang tuanya. Kemudian dengan pandangan yang masih menatap langit-langit kamar, tanganya merabah ke atas nakas dan meraih bingkai foto keluarganya. Mata sendu Davino pun kini beralih pada foto itu. Sebuah gambaran keluarga bahagia yang selalu dia rindukan. Sebuah gambaran Keluarga yang telah lenyap dan hanya sisakan dirinya dirumah ini. Kadang Davino merasa sedih saat memikirkan hal itu. Kenapa semua pergi tanpa mengajak Davino? Kenapa mereka tega meninggalkan Davino di rumah ini seorang diri? Mereka jahat dan davino marah pada mereka. Namun walau begitu, Davino tidak pernah bisa membenci mereka. Karena mereka sangat berharga bagi Davino. Davino menghapus air matanya yang mengalir tanpa dia sadari, Kemudian dia pun mengganti posisi tidurnya menjadi miring dengan bingkai foto yang dia jatuhkan ke dalan peluknya. Anak itu rindu, dia sangat rindu pada mereka. Lalu mata itu pun terpenjam saat rasa kantuk datang. ***** "Lo gak pulang?" Pertanyaan itu mengalihkan pandangan Ozil yang sebelumnya sedang fokus bermain game di handponya jadi menatap Kelvin yang masih termenung duduk di balkon sambil menikmati rokonya. Ozil jadi penasaran apa yang akan di jawab Kelvin. Karena anak itu sejak datang hanya mengasingkan diri duduk di balkon dan berteman dengan rokonya. Entah sudah berapa banyak batangan yang dia hisap tapi satu hal yang pasti, suasana hati Kelvin sedang tidak baik saat ini. Untuk satu menit pertama setelah Bagas bertanya, tak ada sautan dari Kelvin. Hingga cowo itu bangkit dari duduknya dan meraih jaket serta ranselnya yang semula dia letakan di atas sofa. "Gua balik." Pamit Kevin tiba-tiba  sembari berjalan menujuh pintu apartemen Bagas. Sedangkan Bagas yang melihat ekspresi kaku Kelvin langsung mendekati anak itu. Tadi saat ingin pergi ke apartemen Bagas, ada seorang pria datang menemi Kelvin. Pria yang tampak tidak asing di mata Bagas dan Ozil. Siapa lagi kalau bukan ayah Kelvin. Ya... memang Sudah lebih dari sebulan ini pria itu sering datang untuk menemui Kelvin. Entah apa yang pria itu inginkan. Tapi dia sangat sering menghubungi putranya dan meminta bertemu dengan Kelvin secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Aini dan Bian. Entah itu di area sekolah ataupun di luar. Dan Kelvin juga sering meminta bantuan Bagas dan Ozil untuk membuat alibi supaya bisa bertemu dengan Sang Ayah. Tapi entah mengapa, setelah Kelvin menemui ayahnya tadi wajah anak itu tampak muram yang membuat Bagas sedikit kawatir. Hal itu tidak seperti biasanya. Bagas yakin kalau telah terjadi sesuatu tadi. "Kemana?" Tanya Bagas penasaran. "Ke rumah bokap gua." Jawab Kelvin santai sembari memakai sepatunya. "Lo gak pulang ke rumah aja, adek lo sendirian di rumah." Tanya Bagas dan lagi-lagi tak di tanggapi Kelvin yang membuat Bagas menjadi jenggel. "Vin.. " Kelvin menepuk pundak Bagas pelan."Gua balik." ucapnya sembari keluar dari apartemen Bagas. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD