SIANG begitu terik. Sari mematikan televisi. Dia berulang-ulang memindahkan channel, namun tak satupun program yang menurutnya bagus. Sari memang tidak terlalu suka menonton acara-acara televisi. Program sinetron yang pernah dia tonton menurutnya tetap saja kisahnya begitu-begitu saja hanya berganti judul dan pemainnya. Semua sinetron kebanyakan bercerita tentang anak orang kaya yang terbuang atau anak yang terpisahkan dari kedua orangtuanya. Begitupun dengan program yang lain seperti kuis, reality show, atau acara mistik, Sari tidak pernah suka. Meskipun dia seorang pembantu, dia memiliki pemahaman akan dasar-dasar agamanya. Waktu kecil dia memang pernah belajar di pesantren meskipun sekadar ikut pesantren kilat pada bulan Ramadhan. Dia mengikuti pesantren kilat di sebuah pesantren di luar kecamatan tempat tinggalnya.
Apalagi sekarang suasana hati Sari sedang tidak enak. Beberapa hari ini, ketidakbetahan Sari di rumah majikannya itu makin memuncak. Dia tidak betah karena majikannya selalu bertengkar tak kenal waktu. Sering dia menjadi sasaran kemarahan Ratna maupun Ferdi. Jelas sampai kapan pun dia tidak akan menerima jika menjadi korban amarah majikannya. Dia dibayar disitu untuk bekerja, bukan untuk menjadi sasaran kemarahan. Dia merasa begitu lelah berada kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis ini.
Sari tak habis pikir, mengapa di rumah yang bagus seperti ini, tidak ada kebahagian. Dulu dia pernah berpikir kalau kebahagiaan akan abadi dan takkan hilang jika uang banyak, rumah mentereng, kendaraan mewah, tanah luas, sawah yang luas, emas-berlian, dan segala kemewahan dunia lainnya. Dia baru sadar kini bahwa semua itu kebahagiaan yang semu setelah menyaksikan kehidupan majikannya kini. Dia paham sekarang, bahwa kebahagiaan sejati adalah hati yang merasa cukup, jiwa yang lapang yang semuanya bersumber dari ketinggian iman kepada Dzat Yang Mahatinggi. Semua kebahagiaan dunia akan selalu semu, kecuali disandarkan pada landasan cinta yang hakiki, yakni cinta kepada Allah Yang Mahasuci.
Sari sering membayangkan tentang kampungnya yang damai. Dia amat rindu kampung halamannya. Hidup di desa memang tentram. Masih banyak pohon-pohon. Hidup di desa dekat dengan tetangga, bisa saling membantu dan saling memberi. Sementara di kota, yang Sari rasakan hanyalah kesepian. Dia berteman hanya dengan benda-benda tak bernyawa. Dengan tetangga, di apartemen majikannya hanya sekadar tahu. Semua orang disibukkan dengan aktivitas pekerjaan dan kesibukan masing-masing.
Sejatinya ingin sekali Sari tidak meninggalkan kampung, hanya saja setelah bercerai, dia tidak bisa menggantungkan hidupnya sendiri pada ibunya. Dia merasa malu kepada ibunya jika masih membebankan hidup pada mereka. Lagi pula ibunya sudah renta. Sudah saatnya dia berbakti. Dia harus menghidupi ibunya. Ibunya yang sudah lanjut usia tidak mungkin bekerja menjadi buruh tani lagi. Dia sudah harus istirahat. Otot-ototnya sudah lemah. Pilihan dia satu-satunya adalah berangkat ke Jakarta.
Di kampong, peluang mencari pekerjaan masih terbilang susah. Paling banter menjadi buruh tani lagi seperti ibunya. Tapi Sari berikhtiar mencari yang lebih. Dia ingin mengubah hidup. Dia ingin memiliki masa depan yang tidak sekadar menjadi buruh dan terus menerus disuruh orang. Dia ingin mandiri dengan memiliki toko sendiri sehingga tidak perlu lagi bekerja pada orang lain.
*
SARI sudah tidak bisa menahan lagi keinginannya untuk keluar dari rumah majikannya. Dia beberapa kali minta izin kepada Ratna untuk tidak meneruskan bekerja. Seorang teman dari kampung yang juga bekerja di Jakarta memberikan informasi kepadanya mengenai peluang bekerja di tempat lain. Perempuan itu ingin mencobanya. Namun Ratna menahannya. Ratna memohon dengan sangat karena dia malas mencari pembantu lain. Dia sudah percaya kepada Sari, apalagi Rosa sudah begitu akrab dan nyaman diasuh Sari.
“Kamu bekerja di sini saja ya, Sari. Aku janji akan memberi kamu bonus dan kenaikan gaji asal kamu tetap bekerja di sini,” Ratna berusaha merayu.
“Tidak Nyonya. Saya sudah tidak betah.”
“Kenapa tidak betah. Kan tadi aku udah bilang mau menaikkan gaji.”
“Bukan itu nyonya masalahnya. Kalau mau naik gaji dan ada bonusnya ya syukur. Saya tidak betah karena nyonya dan tuan tidak pernah akur. Kan saya nya juga jadi nggak enak kerja di sini. Nggak tenang, Nyonya. Maaf sebetulnya saya tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tangga Nyonya, tapi berhubung saya bekerja pada Nyonya, jadi saya pun jadi kena batunya. Kalau Nyonya lagi bertengkar kan saya juga sering jadi kecipratan kemarahan Nyonya.”
Ratna tertunduk. Ada sedikit rasa malu yang dia sembunyikan. Dia mengumpulkan kata energi dan konsep kalimat yang tepat pada pembantunya yang memang sangat membantunya dalam merawat Rosa. Hati kecilnya menyadari bahwa untuk urusan putri kecilnya, dia sangat bergantung kepada pembantunya ini.
Dengan tersenyum, Ratna berkata, “Oouh itu alasan kamu mau keluar dari sini. Jangan kuatir itu nggak akan terjadi lagi. Aku janji. Tapi pliz, tolong kamu jangan keluar dari sini ya?”
“Asal Nyonya bisa menjamin. Saya tak peduli Nyonya masih bertengkar atau tidak, syukur-syukur selamanya akur, yang penting pertengkaran Nyonya dan tuan tidak membuat saya dan juga putri kecil Nyonya jadi sasaran. Dia kan masih kecil Nyonya, kasihan. Dia tidak punya dosa apa-apa, kenapa harus jadi sasaran kemarahan. Kalau dia sering menyaksikan pertengkaran Tuan dan Nyonya. Saya kuatir terganggu perkembangannya, Nyonya.”
“Iya.. iya aku paham, Sari. Ternyata aku baru nyadar kamu pintar juga. Kamu tahu tentang perkembangan anak?”
“Saya sering dengar dari televisi dan baca di majalah atau koran.”
“Ouh... bagus... bagus kamu harus rajin baca, Sari. Saya jadi tenang menyerahkan Rosa padamu, soalnya kamu tahu ilmunya.”
Hari-hari telah berganti. Ratna tidak bisa menunaikan jaminannya pada Sari. Semakin hari rumah tangga majikannya makin kacau. Pertengkaran sudah menjadi pertengkaran fisik. Dia sering melihat pipi Ratna Memar. Menurut Sari, keduanya sama-sama ingin menang sendiri dan tidak ada yang mau mengalah. Dia juga tidak suka dengan kelakukan majikan lelakinya yang sering terlihat mabuk-mabukan.
*
SARI meninabobokan Rosa. Setelah gadis kecil itu lelap tertidur, dia segera berkemas-kemas. Dia tidak terlalu mempunyai banyak barang. Beberapa potong baju dia lipat dan dimasukkan ke dalam kantong. Dia tidak membawa semuanya karena di kampung hanya untuk sementara, mungkin seminggu. Dia akan segera kembali lagi. Setelah pakaian beres. di atas lemari kecil dia lihat celengan plastik berwarna orange. Celengan berukuran sedang itu dia ambil. Dia gerak-gerakkan untuk memastikan apakah sudah penuh. Ternyata masih setengahnya. Sari berpikir, ah lumayan buat jajan ibunya di kampung. Bulan ini dia sudah menerima gaji dari majikan istrinya. Uang itu cukup untuk berbagi dengan kerabatnya di kampung.
Bersambung