JENGGALA SENJA : Mayat Berdasi

1041 Words
Gestar masuk ke dalam Rumah Sakit Seravin dengan buru-buru. Setelah mendapati kedua temannya—Karen dan Rheas—yang sedang duduk di dekat tembok kaca, Gestar langsung menghampiri mereka. Pria itu pun mengambil duduk ditengah-tengah Karen dan Rheas, mengambil kotak s**u yang Karen pegang dan dengan tanpa ijin langsung meminumnya. Karen dan Rheas hanya diam, saling pandang karena bingung dengan kedatangan Gestar yang tidak diundang. "Kau memberitahunya?" Tanya Karen kepada Rheas yang hanya dijawab dengan gelengan kepala. Gestar mengatur napasnya setelah selesai menghabiskan s**u kotak milik Karen, "aku melihat berita orang bodoh yang terjun ke sungai untuk membantu orang lain. Betapa mulianya orang itu sampai-sampai rela menggadaikan nyawanya untuk orang lain. Apa jangan-jangan kau ingin bunuh diri?" "Hm, ... aku juga mengatakan hal yang sama sebelumnya." Imbuh Rheas dan setuju dengan ucapan Gestar. Lalu tidak lama kemudian datang lah Gigan yang langsung menyadari tiga orang di dekat tembok kaca sambil berbincang. "Mana orang bodoh yang terjun dari jembatan?" Tanya Gigan yang baru saja datang dan mengatakan hal yang sama, "Bodoh". Karen berdecak sebal, "kenapa aku yang menyandang nama Si Bodoh sekarang?" "Kau memang bodoh!" Tandas Rheas yang tidak menggunakan saringan sama sekali. "Jika kau tidak bodoh, kau tidak akan menyelematkan orang yang akan bunuh diri. Memangnya dia berharap kau selamatkan? Dia pasti membencimu sekarang." Sambung Rheas. Gestar merubah wajahnya menjadi serius, "kalian ingat tentang aplikasi menulis itu, Black-List?" Belum sempat mereka menjawab pertanyaan Gestar, tiba-tiba Rumah Sakit Seravin menjadi sangat ramai oleh beberapa wartawan yang masuk bersama dengan suara ambulance yang datang di depan rumah sakit. Fokus mereka terarah kepada suara beberapa orang petugas yang terus meminta para pemburu berita itu untuk menyingkir. Sebuah brangkar dengan seseorang yang ditutup kain pun masuk ke dalam rumah sakit, didorong oleh petugas medis dan langsung dibawa entah kemana. Gestar mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya. Membuka satu foto yang ada di dalam galerinya dan meletakkan ponselnya di atas meja, di depan teman-temannya. Mereka bertiga membulatkan mata mereka, dan Karen langsung buru-buru membalikkan ponsel Gestar dengan cepat. "Bagaimana kau bisa mendapatkan foto mengerikan seperti itu?" Tanya Karen dengan setengah berbisik. Rheas dan Gigan sendiri masih shock dengan apa yang mereka lihat baru saja. Keduanya berusaha untuk tidak terbayang-bayang dengan gambar itu, namun rupanya tidak bisa. Bahkan Gigan merasa cukup mual dengan mengingatnya saja. Pria itu langsung beranjak dari duduknya, buru-buru ke kamar mandi. "Apa yang terjadi padanya?" Tanya Gestar bingung. Rheas menoyor kepala Gestar dengan cukup kencang, "kau gila? Kau sudah menodai mata kami dengan sesuatu yang tidak indah seperti itu dan kau masih bertanya apa yang terjadi pada Gigan? Kau benar-benar tidak pernah belajar!" Gestar berdecak sebal, padahal dia hanya ingin berbagi kepada ketiga temannya. Namun rupanya, mental mereka belum kuat untuk melihat sesuatu yang rahasia namun cukup menyeramkan itu. Karen sendiri mencoba memberanikan dirinya, mengambil ponsel Gestar untuk melihat lebih jelas lagi foto yang ada di ponsel Gestar. "Aku menyadap salah satu ponsel penyidik dan beberapa komputer di kepolisian. Dengan tidak sengaja, aku menemukan beberapa foto tentang kematian Walikota itu. Mungkin kau mau melihat yang lainnya dan kita bisa menyambungkan dengan salah satu cerita yang ada di aplikasi itu." Tandas Gestar memberitahu Karen yang masih mengamati foto itu. Karen mengerutkan keningnya bingung, "apa yang sebenarnya terjadi dengan aplikasi itu? Aplikasi itu bukannya tempat untuk menulis biasa? Mengapa itu berbahaya?" Tidak lama kemudian Gigan datang dengan wajah pucat, mungkin baru saja memuntahkan seluruh makan siangnya. Mereka pun kembali duduk melingkar dalam satu meja yang sama. "Aplikasi Black-List ini mempunyai sistem yang aneh. Penulis memberi sebuah pilihan kepada pembacanya. Penulis memberikan pilihan untuk membuat cerita pembunuhan itu ditujukan kepada siapa. Lalu pada saat itu, voting begitu tinggi yang diberikan pembaca adalah sebuah cerita pembunuhan untuk seorang Walikota. Lalu penulis itu memberi pilihan selanjutkan. Meminta para pembaca untuk menentukan seperti apa alur pembunuhannya. Lalu voting terbanyak pun menuliskan bahwa Walikota itu harus kehilangan lidah karena sering membuat keputusan yang merugikan rakyatnya. Dan kalian tahu apa yang terjadi—" belum selesai Gestar menjelaskan sudah terdengar suara Gigan yang berlari kembali ke kamar mandi. Rheas menghela napas panjang dan beranjak dari duduknya, "lebih baik aku menyusul Gigan. Mungkin dia membutuhkan teman untuk muntah." Yang tersisa di sana hanya ada Karen dan Gestar yang sama-sama memilih diam. Karen menghela napas panjang dan kembali meletakkan ponsel milik Gestar di atas meja. "Kau yakin semuanya berhubungan satu sama lain? Maksudku si penulis cerita dengan kejadian pembunuhan Walikota?" Tanya Karen yang ingin memastikan lebih lanjut. Gestar mengangguk pelan, "bahkan judul yang tertera dalam tulisan si penulis pun sama dengan stampel yang ada di dahi korban." "Maksudmu?" Tanya Karen yang merasa kebingungan. Gestar memperlihatkan sebuah foto lain yang memperlihatkan dua foto yang digabungkan menjadi satu. "Foto yang kanan adalah judul dari cerita itu dan foto yang kiri adalah dahi korban." Jawab Gestar dengan gamang. H1-01L/0208019 CND —begitulah judul di Black-List dan stampel yang ada di dahi korban. "Apa kau tidak bisa melacak orang yang menulis itu?" Tanya Karen. Gestar menggeleng, "aku sudah berusaha, tapi rupanya sangat sulit. Beberapa tim IT pemerintah saja tidak bisa melacaknya. Jangankan melacaknya, memblokir kontennya pun tidak bisa. Aku tidak tahu orang seperti apa yang bisa melakukan semua itu. Dia pasti sangat-sangat berpengalaman dengan teknologi sampai semua ahli di negara ini pun tidak bisa mengatasinya." "Tapi, ... apa yang membuat Walikota sangat dibencinya rakyat? Bukankah dia sering berdonasi dan melakukan kegiatan amal di panti asuhan atau panti jompo? Itu tidak cukup baik?" Tanya Karen kembali. Gestar menghela napas panjang dan tersenyum, "kau tidak tahu seperti apa pemerintah kita. Kau tidak bisa mengatakan seseorang baik hanya karena dia sering berdonasi. Jangan menganggap semua orang itu baik, sepertimu. Mentang-mentang kau baik, semua orang juga kau anggap baik. Jangan percaya pada siapapun di dunia ini." "Hah, padahal aku baru pindah ke kota ini belum genap sebulan. Apa aku harus kembali keluar negeri saja? Di sana rupanya lebih aman." Ucap Karen yang menatap sekelilingnya. Gestar hanya tertawa pelan dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku setelah melihat kedua temannya kembali dari kamar mandi. "Lebih baik aku antarkan kalian pulang," ucap Karen dengan nada bercanda. "Sepertinya kalian datang ke rumah sakit bukan hanya untuk menjengukku. Tapi ingin berobat juga!" Sambung Karen yang membuat Gigan dan Rheas memukulnya. Rupanya, kota Candala tidak lagi menjadi kota yang nyaman. Candala berdarah dimulai... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD